pencil

Fitnah Tidak Lebih Kejam dari Pembunuhan

Sering terdengar di tengah masyarakat ungkapan “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” atau “fitnah lebih dahsyat daripada pembunuhan.” Ungkapan itu biasanya dimunculkan ketika timbul tuduhan yang tidak benar, sehingga dibalas dengan aksi mengungkapkan kalimat tersebut di atas. Sebagian masyarakat meyakini bahwa kalimat tersebut bermuara dari Al-Quran. Keyakinan tersebut memang tidak meleset, akan tetapi maksud ayat yang dimaksud tidak seperti yang difahami oleh sebagian besar kaum muslimin, terkhusus yang berbahasa Melayu.

Diketahui bahwa ‘ayat’ fitnah lebih kejam daripada pembunuhan terdapat dalam dua ayat:

Pertama, ayat ke-191 dari surat Al-Baqarah:


وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.”

Kedua, ayat ke-217 dari surat Al-Baqarah juga:


يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh..’”

Walaupun kosakata fitnah ada dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab, namun maknanya pengertiannya tidak sama.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fitnah diartikan dengan, “Perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang).”

Menurut keterangan KBBI di atas, fitnah menurut Bahasa Indonesia sepadan dengan “buhtan بهتان” atau “iftira’ افتراء”dalam Bahasa Arab.

Sementara dalam Bahasa Arab, fitnah memiliki asal makna menguji dengan api, cobaan, mengagumi sesuatu, azab, dan sesat. [Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith hlm. 673]

Jika maka fitnah menurut etimologi sudah dimengerti, maka marilah kita memeriksa maknanya dalam kitab-kitab tafsir.

  • Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan:


يعني تعالى ذكره بقوله: “والفتنة أشد من القتل “، والشرك بالله أشدُّ من القتل.
وقد بينت فيما مضى أن أصل ” الفتنة ” الابتلاءُ والاختبار
فتأويل الكلام: وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجعَ عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشدُّ عليه وأضرُّ من أن يُقتل مقيمًا على دينه متمسكا عليه، مُحقًّا فيه

“Maksud firman Allah, ‘…dan fitnah lebih dahsyat dari pembunuhan,’ ialah menyekutukan Allah lebih dahsyat daripada pembunuhan. Sebelumnya telah saya jelaskan di muka bahwa asal makna fitnah ialah ujian dan cobaan. Sehingga tafsirnya ialah ujian seorang mukmin yang menimpa agamanya sampai ia meninggalkannya sehingga menjadi musyrik setelah sebelumnya mememulk agama Islam, lebih kejam dan berbahaya daripada dibunuh dengan tetap menggenggam dan berpegang teguh kepada agamanyya serta istiqamah di atasnya.”

  • Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi menjelaskan


ولما كان الجهاد فيه إزهاق النفوس وقتل الرجال ، نبه تعالى على أن ما هم مشتملون عليه من الكفر بالله والشرك به والصد عن سبيله أبلغ وأشد وأعظم وأطم من القتل ; ولهذا قال:” والفتنة أشد من القتل “ قال أبو مالك : أي : ما أنتم مقيمون عليه أكبر من القتل .

وقال أبو العالية ، ومجاهد ، وسعيد بن جبير ، وعكرمة ، والحسن ، وقتادة ، والضحاك ، والربيع بن أنس في قوله :” والفتنة أشد من القتل  “يقول : الشرك أشد من القتل


Ketika di dalam jihad terdapat pertumpahan darah dan pembunuhan, Allah Ta’ala mengingatkan bahwa kekufuran, kemusyrikan yang ada pada diri mereka, dan tindakan mencegah orang lain dari jalan-Nya lebih dahsyat dan besar dari pembunuhan. Oleh karena itu, Dia mengatakan, “Fitnah lebih dahsyat daripada pembunuhan.

Abu Malik mengatakan, “Apa yang ada pada diri kalian lebih dahsyat dari pembunuhan.”

Abul ‘Aliyah, Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Adh-Dhahhak, dan Ar-Rabi’ bin Anas berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih dahsyat dari pembunuhan’: kemusyrikan lebih kejam dari pembunuhan.’”

  • Imam Al-Baghawi mengatakan:


يعني شركهم بالله عز وجل أشد وأعظم من قتلكم إياهم في الحرم والإحرام

“Maksudnya ialah perbuatan kalian mensekutukan Allah ‘Azza wa Jalla lebih dahsyat dan lebih besar dari pembunuhan yang kalian lakukan terhadap kaum muslimin di Tanah Haram dan seketika berihram.”

  • Syaikh Muhammad Al-Khatib Asy-Syirbini berkata, “(Dan fitnah) maksudnya kemusyrikan yang mereka praktekkan (lebih dahsyat) yakni lebih besar (daripada pembunuhan yang mereka lakukan) di Tanah Haram dan ketika berihram yang kalian anggap mulia. Atau cobaan yang menimpa seorang insan seperti diusir dari kampong halaman lebih berat dari pembunuhan karena keletihannya dan peluhannya lebih lama.” [As-Siraj Al-Munir I/146]
  • Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani menulis, “Cobaan yang menimpa seorang insan seperti diusir dari kampong halaman lebih berat dari pembunuhan karena keletihannya dan peluhannya lebih lama. Ada yang menafsirkan, perbuatan kemusyrikan yang mereka praktekkan dan memuja berhala di Tanah Haram serta mengahalangi kalian dari Tanah Haram lebih buruk daripada kalian membunuh mereka.” [Tafsir Al-Munir I/64]
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menafsirkan:

“Fitnah ialah menghalang-halangi manusia dari menjalankan agama mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala, ‘Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.’ [Al-Buruj: 10]. Sehingga mencegah manusia dari menjalankan agama mereka merupakan fitnah yang lebih keji daripada membunuh mereka. Alasannya karena membunuh mereka berarti memutus kenikmatan duniawi dari mereka. Akan tetapi fitnah yang ini memutuskan kenikmati duniawi dan ukhrawi dari mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala, ‘…dan jika ia ditimpa oleh suatu fitnah, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.’ [Al-Haj: 11]” [Tafsir Al-Baqarah II/377]

Sedangkan mengenai ayat ke-217, maka berikut tafsirnya:

  • Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari menulis:


قد كانوا يفتنون المسلم عن دينه حتى يردوه إلى الكفر بعد إيمانه، وذلك أكبر عند الله من القتل

“Dahulu mereka biasa merusak agama orang Islam sampai berhasil mengembalikannya ke dalam kekufuran setelah sebelumnya beriman. Dan itu lebih dahsyat dari tindakan membunuh di sisi Allah.”

  • Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir menulis sama persis dengan apa yang ditafsirkan oleh Ibnu Jarir di atas.
  • Syaikh Muhammad Al-Khatib Asy-Syirbini menafsirkan fitnah di sini ialah kemusyrikan yang dilakukan kaum musyrikin lebih kejam daripada pembunuhan yang mereka praktikkan di Masjidil Haram. [As-Siraj Al-Munir I/162]
  • Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar menasirkan fitnah di sini dengan perbuatan merusak agama orang Islam yang dilangsungkan kaum musyrikin dengan cara menebar syubhat dan menyiksa orang Islam, seperti perbuatan mereka terhadap Bilal, Shuhaib, dan ‘Ammar bin Yasir, lebih kejam daripada pembunuhan yang mereka lakukan terhadap ‘Amr bin Al-Hadhrami. [Tafsir Al-Munir I/73]
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan:

“Yang dimaksud dengan fitnah ialah menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah, melarang kaum mukmin menempuhnya, dan menyakiti mereka. Fitnah yang berarti menyakiti kaum mukmin ada keterangannya dalam Al-Quran dalam firman Allah, ‘‘Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab.’”

Dari beberapa keterangan ulama tafsir di atas, dapatlah kiranya ditarik suatu kesimpulan bahwa fitnah yang disinggung dalam Al-Quran, terutama dalam dua ayat ini, berbeda jauh dengan kosakata fitnah menurut Bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, mengatakan fitnah, yaitu menuduh orang lain, lebih kejam dari pembunuhan, adalah suatu kesalahfahaman yang terlahir dari ketidaktahuan akan hakekat makna fitnah menurtut dua Bahasa tersebut. Wallahua’lam.