pencil

4 Metode Pendidikan Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wassalam

Diera yang serba maju ini kita dapati bahwa pendidikan adalah hal yang sangat menentukan baik dan buruknya suatu bangsa, maju atau keterbelakangannya suatu negara, oleh karnanya para pakar dalam bidang pendidikan kian hari merumuskan metode pendidikan yang baru yang cocok dengan zaman ini. Namun tidakkah kita sadar wahai kaum muslimin bahwa Rasul kita adalah sebaik-baik pendidik, beliau tidak meninggalkan kita dalam keadaan terlantar tanpa bekal ilmu, oleh karenanya kita dapati tindak tanduk beliau mengandung faidah yang bisa dipetik. Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam: 4).

Saat ini penulis berusaha mengulas sebuah hadits yang cukup populer, yaitu hadits tentang adab makan, dalam hadits yang akan disebutkan nanti sekurang-kurangnya ada tiga adab yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pertama mengucapkan basmalah sebelum, kedua makan dengan tangan kanan, dan ketiga makan makanan dari yang dekat terlebih dahulu. Mari kita simak bunyi haditsnya,

عن عمر بن أبي سلمة رضي الله عنهما قال: كنت غلامًا في حجر رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكانت يدي تطيش في الصحفة، فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((يا غلام، سمِّ اللهَ، وكُلْ بيمينك، وكُلْ مما يليك))، فما زالت تلك طُعمتي بعد؛ متفق عليه

Artinya:

Dari umar bin Abi salamah radhiayallahu ‘anhu ia berkata: dahulu saat aku kecil berada dalam pengawasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pada suatu ketika tanganku berpindah-pindah dipiring (untuk mengambil makana), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “wahai anakku, ucapkanlah bismillah, makan dengan tanganmu, dan makanlah dari apa yang ada didekatmu”, maka hal itu terus menerus menjadi cara makanku setelah kejadian ini. Muttafaqun ‘alaih

Nah, dari hadits diatas bisa terlihatkan bawa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengajarkan anak tiri beliau yang bernama ‘Umar bin Abi Salamah adab atau tatacara makan yang baik dan benar, namun yang menjadi fokus penulis kali ini bukan pada adab makannya, tapi lebih kepada bagaimana metode pendidikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga uraian yang singkat ini bisa membantu atau sedikit mencerahkan para pendidik.

1. Memanggil dengan panggilan yang baik

Siapapun dari kita tentu tidak senang atau bahkan marah jika dipanggil dengan panggilan yang buruk, bahkan bisa memunculkan rasa tidak suka terhadap orang yang memanggil tersebut, demikian juga anak didik kita yang sedang belajar dengan kita atau anak kandung kita yang berada dalam pengawasan kita pun enggan dipanggil dengan sebutan yang jelek, oleh sebab itu Allah melarang kita untuk memberi julukan yang buruk bagi saudara kita, Allah berfirman:

وَلاَتَنَابَزُوا بِاْلأَلْقَابِ

Artinya: “Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujarat: 11).

Dan dalam hadits ini perawi yaitu ‘Umar bin Abi Salamah ketika melakukan kekeliruan saat makan tidak lantas diberikan gelar-gelar yang buruk, misal: anak tidak tahu sopan santun, atau bodoh, atau dungu dan lain sebagainya, bahkan dia mendapat perlakuan yang baik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu memanggilnya dengan panggilan yang menunjukkan rasa sayang dan cinta.

2. Mempraktekkan secara langsung.

Diantara metode pendidikan paling diakui pengaruhnya adalah mengajarkan sesuatu dengan cara mempraktekkannya secara langsung didalam kehidupan sehari-hari, dan ini mungkin saja sudah menjadi kesepakatan bersama tanpa ada perselisihan didalamnya. Dari sini kita bisa simpulkan kenapa biasanya seorang anak yang diajarkan sesuatu dan menolak untuk mengikutinya, dengan spontan dia akan mengatakan: “tapi ayah kok tidak melaksanakannya” atau “ tapi kakak saya dirumah masih mengerjakannya”, alasannya tentu karena apa yang dia lihat dalam kehidupan sehari-hari lebih mudah diterima dari pada hal-hal yang berupa teori semata.

Maka pada hadits ini kita saksikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya memberikan arahan tentang bagaimana adab makan yang baik, namun lebih dari itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempraktikannya terlebih awal. Dan pengaruhnya kita saksikan juga setelah kejadian itu perawi hadits tersebut yaitu Umar bin Abi Salamah senantiasa makan dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Tidak hanya meluruskan yang salah, tapi memberikan faidah yang lainnya.

Nah, coba perhatikan saat ‘umar bin Abi salamah melakukan kesalahan, apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ya, tentu tidak hanya dilihat dan dibiarkan saja, namun secara langsung beliau memberikan arahan yang benar, tapi sadarkah kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya meluruskan yang salah? Ya, ternyata selain meluruskan yang salah, beliau memberikan faidah yang lain tentang tatacara makan yang baik dan benar.

Mungkin saja –Allahu ‘alam- hal ini dilakukan selain memberikan faidah tambahan, namun juga agar beliau tidak menyinggung perasaan, karena sudah menjadi rahasia bersama orang yang mendapat kritikan atau masukan karena melakukan kesalahan akan sedikit merasa tersinggung, akan tetapi disini beliau meminimalisir hal tersebut, memang saat itu ‘Umar bin Abi Salamah masih kecil, tapi kalau anak yang masih kecil saja harus kita jaga perasaannya, maka orang yang sudah lebih matang umurnya lebih lagi untuk dijaga.

4. Menahan emosi

Masih ingatkan tentang seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta nasihat, dan dijawab oleh beliau: “jangan marah”, dan sahabat tadi mengulang perkataannya beberapa kali, namun jawaban yang didapat masih sama, hadits ini diriwayatkan oleh imam bukhari dari sahabat Abu Hurairah. Dari hadits ini bisa dipetik faidah bahwa kita hendaknya menahan marah, dan diantara momen yang pas untuk menahan marah adalah tatkala kita melihat kesalahan dari anak yang kita didik.

Coba perhatikan tatkala Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam melihat dihadapannya kesalahan yang dialakukan ‘Umar bin Abi Salamah tidak lantas marah dengan membentak atau bahkan memukul, akan tetapi perhatikan yang dilakukan beliau kebalikannya 360 derajat, malah yang terjadi beliau memulai nasihatnya dengan panggilan yang mengisyaratkan kalau beliau itu sayang dan cinta.

Sekiranya 4 poin ini bisa diambil manfaat bagi penulis secara khusus maupun pembaca dan para pendidik secara umum, dan 4 poin yang bisa dipetik ini bukan pembatasan, bisa jadi para pembaca menemukan faidah yang lain setelah membaca dan merenungi tulisan ini. Allahu ‘alam.