pencil

Manusia-manusia Hebat Tauladan Umat

Oleh Allah Ta’ala manusia diberikan waktu 24 jam sehari-semalam. Namun demikian, sikap yang diberikan manusia terhadap waktu tersebut tidak saling mufakat. Ada di antara mereka yang menganggapnya sebagai modal utama dalam mengarungi kehidupan di dunia agar kelak ketika sampai di negeri akhirat tak menanggung peluh, selayaknya ketika di dunia. Namun banyak di antara manusia yang justru menyelekan dan menganggapnya remeh.

Dua model manusia ini boleh Anda samakan dengan diri Anda. Di manakah posisi Anda antara dua karakter ini? Jika dikisahkan kepada Anda bahwa di sana ada banyak orang yang nyarih tidak menggubris gemerlapnya dunia. Hari-hari mereka penuh dengan aktifitas yang berorientasi ke akhirat. Merekalah tauladan yang patut diikuti dan dicontoh.

Dan berikut ini adalah serpihan kisah yang patut Anda simak dengan seksama –semoga dapat menggugah semangat Anda di suatu waktu-.

Ibnu Abi Ad-Dun-ya, Ibnu ‘Asakir, dan Ibnu Syahin

Ibnu Abi Ad-Dun-ya meninggalkan 1000 karangan, Ibnu ‘Asakir mengarang kitab sejarahnya dalam 80 jilid. As-Suyuthi mengatakan, “Karangan terbanyak adalah Ibnu Syahin. Beliau mengarang 330 karangan, di antaranya tafsir dalam 1000 juz, Al-Musnad dalam 1500 juz.” Berkata As-Suyuthi, “Ini termasuk keberkahan zaman, seperti juga tempat. Termasuk di antara para pewaris isra’ dan malam lailatul qadar.” Dinukil dalam Al-Minah Al-Badiyyah.

Ibnu Hazm dan Ibnu Abi Hatim Ar-Razi

Imam Abu Muhammad ‘Ali bin Hazm telah meninggalkan 400 jilid karangan yang mencakup 80000 lembar.

Imam Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi telah mengarang sejumlah kitab dalam fiqih, hadits, tarikh. Di antaranya adalah kitabnya, Al-Musnad, dalam 1000 juz. Disebutkan dalam Ath-Thabaqat As-Subkiyyah.

Al-Hakim An-Naesaburi

Abu ‘Abdillah Al-Hakim yang dikenal dengan Ibnul Bayyi’, penulis Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, telah mengarang sampai 1500 juz. Di antaranya adalah Takhrij Ash-Shahihain, Al-‘Ilal, Al-Amali, Fawaid Asy-Syuyukh, Tarikh Naesabur, dan selainnya.

Abul Hasan Al-Asy’ari

Kitab-kitab Imam Abul Hasan Al-Asy’ari mencapai 50 kitab, kecil dan besar. Mayoritasnya untuk membantah kelompok-kelompok sesat. Ini termasuk sesuatu yang sulit dalam mengarang yang membutuhkan banyak waktu.

Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan Al-Baehaqi

Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah telah mengarang 300 karangan dalam pelbagai disiplin ilmu yang terkumpul dalam sekitar 500 jilid. Sementara santrinya, Ibnu Qayyimil Jauziyyah, telah mengarang sekitar 50 jilid, besar dan kecil. Sedangkan Imam Al-Baehaqi telah mengarang 1000 juz. Seluruhnya karangan hebat, jarang bandingannya, berfaidah banyak. Beliau berpuasa selama 30 tahun.

Muhammad bin Sahnun Al-Maliki

Muhammad bin Sahnun Al-Ifriqi, yang masyhur, telah meninggalkan kitabnya yang besar dalam 100 juz dalam fiqih, sirah (perjalanan hidup), tarikh, beberapa disipilin ilmu, kitab Ahkam Al-Quran juga, dan selainnya.

Abu Bakar bin Al-‘Arabi Al-Ma’afiri

Telah mengarang Imam Abu Bakar bin Al-‘Arabi Al-Ma’afiri, yang dimakamkan di Fas, tafsirnya yang besar dalam 80 juz. Beliau memiliki beberapa karangan lainnya, seperti Syarah At-Tirmidzi (‘Aridhah Al-Ahwadzi), Syarah Al-Muwaththa’, Ahkam Al-Quran Al-Kubra, Ahkam Al-Quran Ash-Shughra, Al-Qawashim wa Al-‘Awashim, Al-Mahshul fi Al-Ushul. Seluruhnya termasuk karangan-karangan tingkatan (thabaqat) tertinngi. Ini jarang adanya.

Abu Ja’far Ath-Thahawi

Abu Ja’far Ath-Thahawi telah mengarang bantak karangan dan telah menulis dalam satu masalah, yaitu Apakah Hajinya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- itu Qiran atau Ifrad?, dalam 1000 kertas (halaman).

Abu ‘Ubaedah, Ibnu Suraij, Ibnu Habib Al-Andalusi

Karangan-karangan Abu ‘Ubaidah –Ma’mar bin Al-Mutsanna- telah menyampai 200 dalam pelbagai macam disiplin ilmu. Sementara karangan-karangan Ibnu Suraij mencapai 400, dan Al-Qadhi yang mulia mencapai 101. Dan karya-karya ‘Abdul Malik bin Habib, ulamanya Sepanyol, mencapai 1000 kitab. Disebutkan dalam Nafh Ath-Thiib.

[Dinukil dan diterjemahkan dari Qimah Az-Zaman ‘Inda Al-‘Ulama (87-89), karya Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah –rahimahullah-]