pencil

Shalat Tahiyatul Masjid yang Bernilai Kufur

Tauhid merupakan amalan sepanjang hidup yang harus terus dijaga dan dipelihara, sedangkan kemusyrikan merupakan dosa yang harus dijauhi dan dihindari selagi nyawa masih di kandung badan. Sebab, apabila seseorang tidak bertaubat dari dosa kemusyrikan hingga dibawanya meninggal, maka sekali-kali Allah tidak akan mengampuninya, sedangkan tempat kembalinya adalah neraka selama-lamanya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah kemusyrikan, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisa: 48]

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa di bawah kemusyrikan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [An-Nisa: 116]

Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi seorang muslim menjaga tauhidnya dengan ekstra ketat dan menjauhi segala ucapan dan tindakan, baik tindakan hati maupun badan yang membatalkan tauhid dan mencerumus ke arah kemusyrikan.

Di antara sekian banyak tindakan yang mengurai tauhid ialah niat yang keliru ketika mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid. Sebagian orang mengira bahwa shalat tahiyatul masjid ialah shalat yang dikerjakan untuk menghormati atau mengagungkan masjid. Padahal niat semacam itu justru mengarah kepada kemusyrikan. Sebab, shalat yang merupakakan salah satu ibadah yang sangat agung, menurut niat di atas diperuntukkan selain Allah, yaitu masjid. Sedangkan kita telah sepakat bahwa masjid adalah makhluk, sehingga tidak layak diibadahi.

Kiranya pemahaman berbahaya ini, yaitu mengartikan tahiyatul masjid dengan menghormati masjid, terlahir dari kedangkalan sebagian orang terhadap Bahasa ‘Arab atau kemalasan memeriksa penjelasan-penjelasan para ulama.

Di antara ulama Islam yang sangat berjasa menjelaskan permasalahan ini ialah Syaikh ‘Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali Kudus Al-Khatib Asy-Syafi’i –rahimahullah-. Di dalam Al-Anwar As-Saniyyah (hlm. 112) yang merupakan penjelasan kitab Ad-Durar Al-Bahiyyah karya Syaikh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi, beliau menuturkan sebagai berikut:

(و منها) أي من صلاة النافلة (تحية المسجد) أي تعظيمه إذ التحية شرعًا فعل ما يحصل به التعظيم فعلا كان أو قولا، و المراد تعظيم رب المسجد إذ لو قصد تعظيمه بها لم تنعقد، لكن لا تشترط ملاحظة المضاف، و هو رب، لكنها أولى و لو أطلق صح

“Di antara shalat sunnah ialah tahiyatul masjid. Artinya mengagungkan masjid. Sebab menurut Bahasa syara’, tahiyah bermakna tindakan mengagungkan sesuatu, baik itu perbuatan maupun ucapan. Yang dimaksud di sini ialah mengagungkan Rabb-nya masjid. Karena apabila seseorang mengagungkan masjid dengan cara mendirikan shalat, maka tentu tidak sah. Namun tidak diharuskan menoleh pada kata yang disandarkan, yang dalam hal ini ialah kalimat ‘Rab’, walaupun memperhatikannya dianggap lebih utama. Kalaupun ada orang yang mengatakan tahiyatul masjid saja, itupun tetap sah.”

Kemudian pada bagian footnote, beliau memberi tambahan penjelasan:

قوله: (إذ لو قصد تعظيمه)، أي المسجد، (بها) أي التحية (لم تنعقد) أي لأن المسجد من حيث ذاته لا يقصد بالعبادة شرعا، و إنما يقصد بإيقاع العبادة فيه لله تعالى، بل لو قصد استحقاقه لذلك لذاته كفر، و العياذ بالله. اهـ منه.

“Maksud ungkapan, ‘Karena apabila seseorang mengagungkan masjid dengan cara mendirikan shalat, maka tentu tidak sah,’ ialah karena masjid itu sendiri menurut syariat bukanlah target ibadah, akan tetapi tempat yang digunakan untuk menjalankan ibadah kepada Allah Ta’ala di dalamnya. Bahkan kalau ada orang yang bermaksud bahwa masjid itu berhak diibadahi, terntulah ia kufur. Semoga Allah melindungi kita dari kekufuran.”

Ringkasnya, niat shalat tahiyatul masjid yang benar ialah shalat yang dikerjakan dengan maksud mengagungkan Allah Ta’ala selaku ‘Tuan rumah’, bukan mengagungkan masjid dengan cara menegakkan shalat. Dua hal ini secara sambal lalu seakan remeh, namun pengaruh yang ditimbulkan amat sangat besar.

 

Wadi Mubarak, Jumat 29 Juni 2018