pencil

Tips Mudah Jodoh, Banyak Keturunan, dan Anti Paceklik

Tidak sedikit orang, bahkan dari kalangan umat Islam, yang mengeluhkan sulitnya mencari pasangan hidup, sukarnya memperoleh keturunan, dan seretnya rizki kehidupan. Seakan dunia ini hanya diperuntukkan orang-orang tertentu saja.

Mereka yang lama men-jomblo mengeluhkan betapa lamaran yang diajukan yang sudah kesekian kalinya ditolak atau minimal diberi harapan palsu oleh pihak yang lain. Sehingga terkadang timbul dalam benaknya, kurang apa aku? Jelek kah wajahku? Atau pertanyaan-pertanyaan yang menggelikan lainnya.

Mereka yang sulit memperoleh anak, ada sebagiannya yang kerjaannya hanya saling menyalahkan satu sama lain. Istri menyalahkan suami, sedangkan yang suamu menyalahkan istri. Saling melempar aib. Yang pada akhirnya membuat bahtera rumah tangga sering bocor di sana dan di sini. Sebagiannya malah justru menyebabkan larangan-larangan Allah diterjang. Datanglah kedua pasasangan suami istri tersebut ke rumah dukun-dukun yang dipercaya mampu memberi solusi hidup.

Adapun yang sudah lama hidup miskin, usaha tak kunjung maju, dan berbagai sebab jatuhnya kemiskinan mengeluhkan betapa hidup ini dipenuhi oleh duri-duri yang siap mencabik-cabik siapa pun.

Tahu kah kita apa solusi terbaik untuk kasus-kasus di atas? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan ialah banyak mentadaburi isi kandungan Al-Quran. Kalua boleh jujur, segala problematika kehidupan yang dialami oleh manusia sudah ada jalan keluarnya di dalam Al-Quran dan juga di dalam Sunnah. Allah sendiri menyatakan, “Tidak ada satu pun yang Kami luputkan dalam Al-Quran.”

Sebagai contoh 3 problem di atas, Al-Quran telah memberikan isyarat jalan keluarnya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا

يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا

وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا

Artinya, Nabi Nuh –alaihissalam– berkata kepada kaumnya yang membangkang, tidak mau mengimaninya, “Akupun berkata kepada mereka, mintalah ampunan dari Rab kalian dengan cara bertaubat, karena sejatinya Dia Mahapengampun kepada sesiapa yang mau bertaubat kepadanya.

Apabila kalian melakukan hal tersebut, tentulah Allah akan menurunkan hujan yang lebat setiap saat kalian membutuhkannya sehingga paceklik tidak akan menyapa kalian. Dia juga akan memberikan kalian harta berlimpah serta keturunan yang banyak, memberikan perkebunan yang dapat kalian manfaatkan hasilnya, membuatkan untuk kalian sungai yang airnya dapat kalian minum dan memberi minum perkebunan serta hewan peliharaan kalian.” [Nuh: 10, 11, dan 12/Al-Mukhtashar fi At-Tafsir]

Walhasil, istighfar yang terus-terus menerus dilantunkan dalam lisan dan hati akan menyebabkan terurainya masalah-masalah yang sebelumnya telah disinggung; paceklik, sulit memperoleh jodoh, dan sukar memperoleh keturunan. Oleh karena itu, mari perbanyak istighfar, memohon maghfirah dari Allah Ta’ala, baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian.

Seorang ulama pakar tafsir bernama Ibnu ‘Asyur menjelaskan mengenai ayat di atas dalam Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir:

وفي هذا دلالة على أن الله يجازي عباده الصالحين بطيب العيش قال تعالى

“Ayat ini sebagai bukti bahwa Allah akan mengganjar hamba-hambap-Nya yang shalih dengan kehidupan yang baik.”

Jika demikian maka ketahuilah bahwa tidak semua istighfar yang dilantunkan seorang hamba akan berbuah manis, sebab khasiat benar-benar akan dapat dirasa manakala memenuhi syaratnya. Al-Qurtubi dalam tafsirnya menuturkan ketika mengomentari ayat di atas:

وقد مضى في سورة ” آل عمران ” كيفية الاستغفار , وإن ذلك يكون عن إخلاص وإقلاع من الذنوب، وهو الأصل في الإجابة

“Telah berlalu dalam (tafsir) Surat Alu ‘Imran tatacara istighfar, yaitu dengan cara tulus ikhlas dan menyudahi dosa yang biasa dipraktikkan. Inilah pangkal daripada dikabulkannya doa.”