pencil

Manusia Diciptakan Untuk Hidup Kekal Selamanya

Sepintas lalu topik ini seperti tidak lojik, sebab kita biasa dengar orang berkata bahwa kita hidup hanya untuk sementara. Sila baca nota ini hingga habis niscaya anda sebagai orang yang beriman pasti yakin akan kebenarannya. Para Salafus Soleh berkata:

خُلِقَ النَّاسِ لِلْأَبَدِ، وَ لَكِنَّهُمْ يَنْتَقِلُوْنَ مِنْ دَارٍ إِلَى دَارٍ

“Manusia dicipta (oleh Allah) untuk (hidup) selama-lamanya, tetapi mereka mesti berpindah dari satu negeri ke suatu negeri berikutnya.”

Setiap manusia mesti melalui lima alam, iaitu: Alam Roh, Alam Rahim, Alam Dunia, Alam Barzakh, Alam Akhirat.

1. Alam Roh

Allah Maha Pencipta sendiri menegaskan bahwa Dia pernah bertanya kepada manusia pada Alam Roh: Bukankah Aku Ini Tuhan kamu semua, lalu semua Roh menjawap : Benar (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. Kisah ini tertera di dalam ayat 172 Surah al-A’raf.

 

Dan alam roh tersebut tidak seorangpun manusia yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala sebab ia termasuk perkara ghaib. Allah berfirman :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang Roh, maka katakan : Roh itu urusan Tuhanku, sebab kamu tidak diberi ilmu pengetahuan kecuali sangat sedikit sekali.” (Al-Isra’ : 85)

2. Alam Rahim

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan urutan kejadian manusia dengan lengkap di dalam firman-Nya :

“Dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.” [Al-Hajj: 5]

Keumuman Alam Rahim dalam ayat ini dijelaskan lagi oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lebih rinci bahwa pertemuan mani suami dengan telor wanita dalam rahim wanita itu 40 hari pertama dipanggil dengan “nutfah” (sperma), 40 hari kedua disebut “m’allaqa” (segumpal darah), dan 40 hari ketiga dipanggil “mudhghah” (segumpal daging). Dan genap umur janin 120 hari barulah malaikat diutus untuk meniup Roh dan menentukan rezkinya dan lain-lain. [Ringkasan HR  Bukhari dan Muslim – Lihat Himpunan Hadis 40 Imam Al-Nawawiy]

3. Alam Dunia

Di alam dunia ini manusia sebagai Khalifah Allah mempunyai tugas utama, iaitu agar mereka beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.

Oleh itu Allah Yang Maha Adil telah mengangkat para Rasul silih berganti dan menurunkan Kitab dari langit supaya dijadikan contoh teladan dan panduan hidup. Hakikat ini Allah jelaskan di dalam firman-Nya : Al-Baqarah : 37

[فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٖ فَتَابَ عَلَيۡهِۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”]

Sesiapa dari kalangan manusia yang bersedia menjadikan Rasul dan Kitab yang diturunkan itu, maka dia akan mendapat bimbingan Allah dan tidak akan sesat untuk selama-lamanya. Tetapi jika mereka menentang ajakan Rasul dan enggan menuruti panduan Kitab, maka mereka akan hidup menderita.

4. Alam Barzakh

Barzakh maknanya dinding yang tidak boleh ditembusi. Alam Barzakh terletak di antara dua alam, iaitu Alam Dunia dan Alam Akhirat. Insan yang berada di alam barzakh, bukan saja tidak boleh memasuki alam akhirat, sebab alam akhirat bermula setelah kiamat, tetapi mereka juga tidak boleh kembali lagi ke alam dunia. Hakikat ini ditegaskan sendiri oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya :

ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ

“Kemudian setelah itu, sesungguhnya kamu pasti mati. Kemudian, sesungguhnya kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada Hari Kiamat.” [Al-Mukminun : 15-16]

Pengajaran Ayat:

Dari ayat ini dapatlah diambil pengajaran bahwa kebangkitan manusia dari kuburnya hanya akan berlaku pada Hari Berbangkit, yakni Hari Kiamat. Ini secara tersirat bermakna tiada kebangkitan sebelum kiamat terjadi. Adapun dakwaan kononnya roh orang mati hidup kembali bukan ajaran Islam, tetapi pengaruh ajaran Hindu yang disebut dengan Re-inkarnasi.

5. Alam Akhirat

Inilah alam yang terakhir yang menjadi destinasi setiap insan, apakah dia moslem atau non muslem. Atas dasar itulah jika ada kematian kita selalu mengucapkan: “Kita semua milik Allah dan kepada-Nya kita semua akan kembali.” Di alam inilah amalan kita akan dihisab di padang mahsyar.

Di alam akhirat ini manusia akan terbagi dua, iaitu: Penghuni Syurga dan Penghuni Neraka, sesuai dengan kegiatan mereka dulu di Alam Dunia. Keyakinan kepada Hari Berbangkit termasuk ke dalam salah satu rukum Iman yang utama setelah beriman kepada Allah. Itulah sebabnya di dalam dua sumber utama Islam, iaitu Al-Quran dan Al-Sunnah sangat banyak disebut dua rukun iman itu secara bergandingan. Dengan meyakini dua rukun iman tersebut membuat setiap mukmin yakin dari mana dia bermula dan ke mana dia akan berakhir.

Hidup dan Mati Sebagai Ujian

Kematian bagi mukmin bukanlah pertanda berakhirnya segala sesuatu. Tetapi kematian hanya sekedar perpindahan dari alam amal kepada alam pembalasan. Sila renung firman Allah kepada orang-orang kafir di akhirat nanti :

“Wahai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu telah kerjakan.” [Al-Tahrim : 7]

Sebenarnya kehidupan kita yang bersifat sementara di dunia ini yang kemudian disusuli dengan kematian, hanyalah sekadar ujian daripada Allah. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Allah dalam firman-Nya:

“(Allah) yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun. [Al-Mulk : 2]

 

Amal yang Baik, Bukan Amal yang Banyak

Dalam ayat dua surah Al-Mulk di atas Allah menjadikan mati dan hidup semata-mata ingin menguji manusia, Siapakah di atara mereka yang paling baik amalannya. Allah tidak menyebut: Siapakah di antara mereka yang paling banyak amalannya.  Apakah perbedaannya? Allah hanya menerima amal yang baik walaupun sedikit. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah adalah baik dan Allah tidak menerima kecuali sesuatu yang baik.” [HR Muslim]

Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Amalan yang sedikit tetapi mengikuti sunnah adalah lebih baik daripada amal yang banyak tetapi dicampuri dengan bid’ah.”

Syarat sesuatu amalan itu dikatakan sebagai amalan yang baik adalah sama denga syarat amalan yang diterima oleh Allah, iaitu : Ikhlas karena Allah dan amalan itu dilakukan mengikuti cara Rasulullah SAW. Tanpa memenuhi kedua-dua syarat ini atau salah satu daripadanya, maka amalan tersebut akan ditolak dan tergolong  sebagai amalan yang tidak baik. Sungguh tepat kata-kata sahabat Nabi -shallalahu ‘alaihi wa sallam- di atas Ubay bin Ka’ab –radhiyalllahu ‘anhu-.

 

Kehidupan yang Hakiki

Jika urutan tertib kehidupan manusia sebagaimana disebut di atas kita renung secara jujur dengan kacamata agama dan iman, bukan dengan kacamata dunia dan nafsu syahwat, maka dapatlah kita kesimpulan bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di akhirat, bukan kehidupan di dunia yang sementara ini.

Oleh sebab itu, berpada-padalah ketika di dunia yang bersifat sementara ini. Ikutilah panduan syara’ (Agama) selagi hayat dikandung badan supaya mendapat bahagia hakiki di akhirat nanti. Dunia adalah kebun akhirat. Di dunia kita bercocok tanam dan di akhirat kita akan memetik hasilnya.

Itulah sebab itu para ulama’ membagi hukum kepada dua jika ditinjau dari sudut tempat, yaitu:

  1. Hukum Syara’ (Hukum Agama) berlaku di dunia, yaitu: Wajib, Sunat, Haram, Makruh dan Mubah.

  2. Hukum Jazaa’ (Hukum Pembalasan) akan berlaku di akhirat, yaitu: Syurga dan Neraka.

 

Kesimpulan

  1. Selagi hayat dikandung badan tambahlah ilmu pengetahuan agama dari sumber yang tepat, yakni Al-Quran dan Al-Sunnah. Tanpa merujuk kepada dua sumber tersebut besar kemungkinan amalan kita akan ditolak.
  2. Utamakan amalan yang baik walaupun sedikit daripada amalan yang banyak tetapi dicampur-baurkan dengan bid’ah yang semata-mata rekaan akal dan nafsu.
  3. Pergunakan masa sebaik-baiknya selagi masih ada kesempatan dan badan sihat. Setiap manusia pasti menyesal menjelang kematiannya. Jika dia banyak dosa dan tidak beramal soleh, dia akan menyesal mengapa tidak segera bertaubat dan melakukan amal soleh, jika dia seorang yang banyak melakukan amal soleh, dia tetap akan menyesal mengapa kurang banyak amal solehnya.

Sila share dengan rakan-rakan dan saudara mara tersayang agar mereka juga mendapat nasihat ikhlas ini.

UDAY ; Mekah Al- Mukarramah ; 4hb Syawwal 1439 / 18hb Juni 2018

Topik :
Tentang Penulis
Dr. Abdullah bin Yasin
Dr. Abdullah bin Yasin
Pendidikan : BA - Pendidikan (1970) Institut Agama Islam Pekan Baru Indonesia.
LC - Dakwah Dan Usuluddin (1976) Universiti Islam Madinah Arab Saudi.
MA - Perbandingan Ilmu Fiqh (1980) Universiti Imam Mohammad Ibnu Sa'ud - Riyadh - Arab Saudi.
PhD - Islamic Study (1994) American Coasaline University New Orleans, Lousiana

Lihat Semua Tulisan Dr. Abdullah bin Yasin ›