pencil

Setiap Manusia Ada Dua Umur

Mungkin sesetengah orang merasa heran jika dikatakan bahwa setiap manusia ada dua umur. Bukankah umur seseorang berakhir jika sudah meninggal dunia ? Memang benar jika umur diartikan sedemikian. Tetapi jika umur diartikan sebagai tempo yang setiap manusia layak dan berhak menerima ganjaran pahala atau sebaliknya dosa, maka terdapat dua tempo tersebut, iaitu di Alam Dunia dan di Alam Barzakh.

Hakikat ini diperkuat oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sungguh, Kamilah yang menhidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuz).” [Yasiin : 12]

Di antara pengajaran yang dapat diambil daripada ayat di atas, ialah :

1.  Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencatat dua perbuatan manusia, iaitu perbuatan yang mereka lakukan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Maksudnya: Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan saja menyuruh malaikat bertugas agar menulis amal-amal baik manusia, tetapi juga menyuruh agar ditulis kesan-kesan amal soleh orang tersebut walaupun orang telah nmeninggal dunia. Demikian juga sebaliknya jika seseorang melakukan dosa atau maksiat.

  1. Para Mufassirin ketika menafsirkan (آثَارَهُمْ) “bekas-bekas (baca: jejak-jejak -pent) yang mereka tinggalkan”, kepada dua maksud, yaitu:

1- Bekas atau kesan langkah-langkah mereka ketika berjalan ke masjid

2- Bekas atau kesan amalan mereka yang masih dimanfaatkan oleh orang-orang yang masih hidup walaupun pelakunya sudah wafat.

Dalil Adanya Umur Kedua

Selain hujah di atas ayat 12 Surah Yasin, juga sangat banyak hujah di dalam hadis Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- antaranya:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika meninggal dunia anak cucu Adam, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara, iaitu : Sadakah Jariyah, Ilmu yang dapat diambil manfaat daripadanya, dan anak soleh yang mendoakannya.” [HR Muslim]

Hadis sahih ini hanya menyebut beberapa contoh saja. Pada perinsipnya apa sahaja amal baik yang kita pernah lakukan semasa masih hidup, maka kita juga berhak dan layak mendapat ganjaran berterusan selagi kesan amal kebaikan itu dinikmati oleh orang-orang yang masih hidup.

Untuk menguatkan lagi hujah di atas Uday akan bawa beberapa dalil berikut, antaranya :

“Barangsiapa yang menganjurkan dalam Islam sunah yang baik, maka baginya pahala penganjuran tersebut dan juga baginya pahala orang-orang yang mengamalkan anjurannya itu setelah itu tanpa dikurangi pahalanya walaupun sedikit. Dan barangsiapa yang menganjurkan di dalam Islam sunah yang buruk, maka ke atasnya dosa penganjuran tersebut dan dosa orang-orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa dikurangi dosa itu walaupun sedikit.” [HR Muslim]

Pengajaran yang dapat diambil dari hujah-hujah di atas, antaranya: Manusia layak mendapat pahala atau dosa ketika di dunia saja akibat perbuatannya itu, tetapi juga dia akan terus menerus akan mendapat pahala atau dosa berterusan walaupun sesudah matinya. Inilah yang kita maksudkan bahwa umur manusia ada dua, yaitu:

(1) Umur di dunia sejak dia lahir hingga matinya;

(2) Umur di barzakh sejak matinya hingga dibangkitkan dari kubur.

Perbandingan Antara Dua Umur

Pada dasarnya perbandingan antara dua umur tersebut sangat nyata. Sebagai contoh : Imam Syafi’i lahir pada tahun 150H dan wafat pada tahun 205H sedangkan sekarang 1439H. Umur pertama Syafe’i hanya 54 tahun, sedangkan umur keduanya pula sudah 1234 tahun. Dan tempo tersebut akan berkepanjangan selagi belum tiba masanya kiamat terjadi.

Bayangkan berapa banyak pahala yang Imam Syafi’i akan terima setelah beliau wafat ? Jika pada umur pertama beliau mendapat ganjaran mungkin sekitar 54 tahun tetapi pada umur kedua beliau menikmati pahala lebih 1434 tahun selagi kitab-kitab karyanya dibaca oleh manusia yang masih hidup. Allah Akbar!

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ وَ السَّبْعِيْنَ، وَ أَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 ke 70 tahun dan sedikit sekali yang melampaui umut itu.” [HR Tarmidzi – Hasan menurut Syaikh Al-Albaniy]

Siapa Manusia yang Bijaksana?

Jika kita memahami konsep umur dalam Islam sebagaimana

uraian di atas, maka tidaklah mengherankan jika Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Orang-orang beriman yang bijaksana atau panjang akal ialah mereka yang paling banyak ingat mati dan mereka yang paling banyak membuat persiapan bekal setelah dia mati.” [HR Ibnu Majah di dalam Sunannya]

Pengajaran Hadis:

Dalam hadis tercantum dengan jelas dua sifat orang beriman yang bijaksana, yaitu :

  1. Mereka yang banyak ingat kepada kematian.

  2. Mereka yang sentiasa rajin berbuat baik sebagai persiapan bekal setelah matinya.

Sila share kepada kawan-kawan yang disayangi. Semakin ramai yang mendapat manfaat akan semakin panjang umur kedua anda.

UDAY ; Mekah Al-Mukarramah ; 5hb Syawwal 1439 / 19hb June 2018

Tentang Penulis
Dr. Abdullah bin Yasin
Dr. Abdullah bin Yasin
Pendidikan : BA - Pendidikan (1970) Institut Agama Islam Pekan Baru Indonesia.
LC - Dakwah Dan Usuluddin (1976) Universiti Islam Madinah Arab Saudi.
MA - Perbandingan Ilmu Fiqh (1980) Universiti Imam Mohammad Ibnu Sa'ud - Riyadh - Arab Saudi.
PhD - Islamic Study (1994) American Coasaline University New Orleans, Lousiana

Lihat Semua Tulisan Dr. Abdullah bin Yasin ›