pencil

Akar Pemurnian Ajaran Islam di Indonesia (Bag. 2)

 

[Lanjutan dari tulisan “Gerakan Wahhabi Masuk Keraton Mataram (± 1790)”]

Pada tahun 1788 Pakubuwono III mangkat. Sebagai penggantinya naiklah puteranya Pangeran Adipati Anom dengan gelar Pakubuwono IV. Lebih terkenal dengan Sunan Bagus.

Pada zaman pemerintahan bagindalah, yaitu kira-kira pada tahun 1790 datang beberapa ulama dari Tanah Arab menyebarkan ajaran ‘baru’, tetapi kembali kepada ajaran yang lama, membersihkan ‘aqidah dan ‘ibadah daripada khurafat dan bid’ah. Ajaran tauhid yang telah bercampur dengan ajaran Tashawwuf  yang telah amat menyimpang dari pokoknya hendaklah dikembalikan kepada keasliannya, yaitu hubungan yang langsung antara makhluk kepada Allah.

Pembangkit ajaran ini ialah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab. Ajaran ini dikenal dengan Wahabi.

Memuja-muja kubur secara berleb-lebihan, yang ditimbulkan oleh guru ilmu Tashawwuf adalah syirik. Apatah lagi jika meminta dan memohon pula kepada yang di dalam kubur itu.

Memuja-muja benda seumpama keris dan pedang, atau pohon beringin atau barang-barang yang lain yang bersifat benda adalah peninggalan zaman jahiliyah, wajib diberantas. Mesjid-mesjid yang sunnat diziarahi, karena dia masjid hanyalah tiga:

  1. Baitullah Alharam yang di Mekah
  2. Masjid Rasulullah ﷺ di Madinah
  3. Mesjid Al-Aqsha di Baitul Maqdis

Mesjid yang lain tidaklah mencapai martabat yang demikian.

Mereka mengajarkan bahwa kerajaan “Jawi”, sebagai Darul Islam haruslah membersihkan Islam dari bekas-bekas ajaran Hindu. Dengan ajaran Hindu atau Budha kita hanya pasrah pada alam, sedang dengan ajaran Islam kita langsung berhubungan dengan Allah.

Kita boleh bekerja sama dengan kaum kafir asal mereka tidak merugikan Islam. Tetapi kita wajib berjihad mengusir kafir kalau mereka sengaja menganggu kemerdekaan agama kita. Dan Belanda jelaslah kafir yang memusuhi Islam.

Dengan ajaran Tauhid yang sejati, jiwa kita jadi bebas. Sebab tidak ada tenpat kita takut melainkan Allah. Kita tidak usah memakai azimat-azimat (jimat) ke medan perang agar kebal dari peluru. Tetapi pasanglah azimat, yang berarti kemauan keras, berapa iman, dan taqwa dalam jiwa; yang dengan sebab demikian kita tidak takut mati, bahkan bersedia mati sebagai syahid.

Sejarah menyatakan bahwa guru-guru ini langsung datang dari tanah Arab. Oleh karena berlainan bahasa, mereka sampaikan ajaran ini dengan perantaraan ulama-ulama orang Jawa sendiri, dan tersebar segala ke mana-mana. Ajaran ini masuk sejak Jawa bagian barat yaitu Banten dan telah sampai ke dalam kerajaan Cirebon, dan sampai ke Timur yaitu pulau Madura.

Apabila ajaran ini tersebar, semangat Islam pasti dipengaruhi. Apatah lagi karena kebencian kepada Belanda, yaitu telah mempreteli kekuasaan raja-raja tanah Jawa, sejak dari Banten, dengan dikalahkannya Sulthan Ageng Tirtayasa; Cirebon, Surakarta dan Yogyakarta, juga kalahnya Surapati, dan dibuangnya Cakraningrat ke Tanjung Pengharapan (di wilayah  Afrika, -pent), dan anak-anaknya ke pulai Sailan. Semua dianggap kejahat kafir Belanda.

Semua ini telah menanamkan kebencian yang merata. Semangat jihad Islam mesti dibangkitkan kembali. Kembali kepada ajaran Islam murni menurut Wahabi ini harus dikembangkan.

Dengan tidak diduga dari semula guru-guru atau ulama-ulama Wahabi ini mendapat sambutan baik dalam Kraton Surakarta sendiri. Sri Susuhanan Pakubuwono IV, atau Sunan Bungsu, tertarik kepada ajaran itu. Dan telah mulai kelihatan tanda-tandanya ke luar. Upacara-upacara adat yang masih mewarisi Majapahit yang tidak sesuai dengan Islam mulai dirombak.

Di antaranya yang sangat penting ialah mulai dikurangi upacara  sujud kepada Baginda sendiri!

“Orang-orang Arab” guru Wahabi itu telah leluasa masuk Keraton. Pada hal kekuasaan Belanda telah masuk menjepit Kerajaan.[1]

Epilog

Kenyataan yang dikemukakan oleh Buya Hamka di atas menunjukkan bahwa kemurnian ajaran Agama Islam justru didakwahkan oleh gerakan yang oleh sebagian orang disebut sebagai kelompok Wahhabi atau Salafi-Wahhabi. Gerakan yang banyak disalahfahi oleh kebanyakan orang ini justru yang sudah sejak dahulu kala membuat penjajah Belanda khawatir dan takut karena ketika Islam yang murni dipraktikkan oleh masyarakat Islam di Indonesia, akan banyak kerugian yang mereka dapati. Sehingga antek-antek penjajah Belanda berusaha menyebarkan isu buruk terhadap gerakan ini. Kadang kala dikatakan sebagai gerakan radikal, terkadang pula disebut sebagai kelompok yang menyalahi mayoritas orang.

Beberapa orang yang penghidupannya berasal dari ritual-ritual bid’ah dan syirik, turut andil dalam melumuri gerakan ini dengan berbagai fitnah dan tuduhan keji. Sehingga tidak heran apabila usaha untuk memadamkan cahaya Tauhid ini terus digalakkan karena pada umumnya dilatarbelakangi oleh keduniaan, bukan semata-mata karena Allah Ta’ala.

Namun ingat, Allah pernah mengatakan:

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” [Al-Shaff: 8]

Poin berikutnya yang dapat kita simpulkan dari pemaparan Buya Hamka di atas ialah bahwa kesejahteraan NKRI, dan begitu pula negara-negara lainnya, akan benar-benar tercapai apabila cahaya Tauhid dikobarkan sehingga menjadi syiar utama negara. Lihatlah betapa tentara-tentara “Wahhabi” di masa penjajahan yang diwakili oleh tentara Padri berhasil membuat penjajah Belanda kualahan mengahdapi mereka. Berapa banyak kerugian yang mereka alami lantaran peperangan yang tak kunjung padam. Tidakkah kita ingat betapa “Hikayat Perang Sabi” yang dikarang seorang Wahhabi dapat membangkitkan semangat juang umat Islam di Aceh untuk melawan penjajah Belanda kala itu? Bahkan sangking besarnya kekhawatiran Belanda akan naskah buku tersebut, mereka tidak segan-segan menghukum siapa saja yang kedapatan menyimpannya.

Kalua begitu, gerakan Wahhabi merupakan gerakan pemurnian ajaran Islam yang sudah dikotori oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab, menegakkan kesejahteraan dalam bernegara sepanjang syiar Tauhid terus dikumandangkan.

Wallahua’lam.

 

[1] Gerakan Wahhabi dalam “Perkembangan Kebatinan di Indonesia (Bulan Bintang 1971, hal. 69-71) karya Fadhilatul Ustadz Dr. ‘Abdul Malik [bin] ‘Abdul Karim [bin]  Amrullah Al-Minangkabawi atau yang lebih terkenal dengan sapaan Buya Hamka –semoga Allah merahmatinya-