pencil

Agar Amal Ibadah Diterima oleh Allah

Setiap insan yang berakal tentu berharap agar amal kebajikan berupa shalat, puasa, zakat, haji, dan macam-macam ibadah lainnya yang ia lakukan selama di dunia ini kelak dapat ia tuai kelak di akhirat. Jangan sampai sudah berpeluh mengerjakan ketaatan, namun tidak diterima di sisi Allah dan malah menjadi boomerang baginya kelak di akhirat. Oleh karena itu, perlu diketahui bersama syarat-syarat supaya amal ibadah yang dikerjakan seorang muslim berbuah manis di akhirat.

Secara umum para ulama Islam menjelaskan bahwa agar ibadah dapat diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba’ah.

Ikhlas

Pengertian ikhlas ialah memurnikan segala ucapan dan perbuatan seorang hamba, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, hanya untuk Allah Ta’ala semata. Tidak ada sedikit pun unsur selain mengharap wajah dan ganjaran dari-Nya. Menjauhi riya’ (keinginan agar dilihat orang lain) serta sum’ah (keinginan supaya didengar kebaikannya oleh orang lain).

[Yang dimaksud dengan “mengharap Wajah Allah Ta’ala” adalah bahwa seorang mukmin berharap melalui amal ibadahnya itu dapat melihat Wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika di akhirat. Hal ini berdasarkan sebuah hadits, “Sesungguhnya kalian akan menyaksikan Rab kalian sebagaimana kalian melihat rembulan di bulan purnama, yaitu tidak ada penghalang apapun tatkala menyaksikannya.”]

Mengenai hal ini, Allah Ta’ala telah mengatakan dalam Al-Quran:


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al-Bayyinah: 5]

Dia juga berfirman menceritakan sifat-sifat penghuni surga:


إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا٩


“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan Wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” [Al-Insan: 9]

وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ ١٩
إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ ٢٠

“Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari Wajah Rab-nya yang Maha Tinggi.” [Al-Lail: 19-20]

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ  ١٥

أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ  ١٦


“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hud: 15-16]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khattab –radhiyallallahu ‘anhu-, beliau menceritakan, Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:


إنما الأعمال بالنيات، و إنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله و رسوله فهجرته إلى الله و رسوله، و من كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

“Amal perbuatan bergantung dengan niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. Sesiapa yang hijrahnya dari negeri kafir menuju negeri Islam karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya tersebut dihitung untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak ia gapai atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya dihitung kepada apa yang menjadi maksud tujuannya.” [HR Al-Bukhari]

Sementara itu Imam Muslim dalam Shahih-nya merekam sebuah sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dari Abu Hurairah –radhiyallallahu ‘anhu-:


قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكِ فِيْهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal perbuatan dengan mensekutukan-Ku dalam amalannya tersebut, maka Aku pasti akan meninggalkannya dan sekutunya itu.”

Mutaba’ah

Yang dimaksud dengan mutaba’ah ialah amal ibadah yang dikerjakan seorang hamba harus sesuai dan sejalan dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah –shalallallahu ‘alaihi wa sallam-. Oleh karena itu, dalam menjalankan ibadah sangat dilarang keras melakukan suatu inovasi dalam bentuk apapun.  Jika tetap ada yang berani berinovasi dalam suatu ibadah, tidak saja amal ibadahnya tertolak, bahkan berdosa besar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibunda ‘Aisyah –radhiyallallahu ‘anha-, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:


مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengerjakan suatu amal ibadah yang tidak ada contohnya dari kami, maka ia tertolak.” [HR Muslim]

Dalam redaksi lain disebutkan:


مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-ada suatu perkara dalam urusan kami (baca: agama) yang bukan darinya, maka tertolak.” [HR Al-Bukhari]

Imam Ibnu Rajab –rahimahullah- menjelaskan dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, “Hadits ini merupakan salah satu dari pondasi-pondasi Islam yang agung. Ia laksa barometer segala amalan ibadah pada sisi lahiriahnya, sebagaimana hadits ‘Amal perbuatan bergantung dengan niatnya…’ barometer untuk segala amal ibadah pada sisi batinnya. Maka sebagaimana amalan ibadah yang tidak dimaksudkan mengharapkan Wajah Allah tidak akan berbuah pahala, demikian pula setiap amal ibadah yang tidak sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya akan tertolak dikembalikan kepada pelakunya. Dan setiap orang yang mereka-reka suatu perkara yang berkaitan dengan agama yang tidak pernah ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka hal tersebut tidak terhitung sebagai agama.”

Persis seperti penjelasan di atas, Abu ‘Ali Al-Fudhail bin ‘Iyadh –rahimahullah- pernah menafsirkan ayat yang berbunyi:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ  ٢

“Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [Al-Mulk: 2]

Beliau menjelaskan, “Yang paling ikhlas dan yang paling benar.”

Mendengar penjelasan tersebut, ada yang kemudian bertanya, “Abu ‘Ali, apa maksud yang paling ikhlas dan yang paling benar?”

“Kalau suatu amalan tidak dikerjakan dengan ikhlas karena Allah Jalla wa ‘Ala, tidak akan diterima. Dan apabila amalan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka tidak diterima,” jawab Abu ‘Ali Al-Fudhail bin ‘Iyadh.

Dalam banyak kesempatan khutbah, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengecam dengan keras segala bentuk perbuatan bid’ah, yaitu amalan-amalan yang direka-reka lalu didakwa sebagai bagian dari Islam:


وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَات الأُمُوْرِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru, sebab semua bid’ah itu sesat!” [HR At-Tirmidzi]

Sebenarnya dua syarat diterimanya suatu amal ibadah di atas merupakan bentuk mewujudkan konsekuensi dua kalimat syahadat:


لا إله إلا
محمد رسول الله

Tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya melainkan Allah semata, Muhammad adalah utusan Allah.

Kalimat pertama berkonsekuensi memurnikan segala bentuk ibadah lahir batin hanya untuk Allah Ta’ala, tidak menduakan-Nya dalam beribadah, baik dengan malaikat, nabi, wali, manusia, ataupun makhluk lainnya. Sedangkan kalimat kedua berkonsekuensi “membenarkan segala yang diberitakan oleh Nabi Muhammad, menjauhi segala sesuatu yang beliau larang, dan hanya berpedoman dengan pedoman beliau dalam menjalankan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا  ١١٠
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” [Al-Kahfi: 110]

Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi –rahimahullah- menjelaskan:

“(…maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh) dialah yang sesuai dengan aturan syariat Allah, (dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya), dialah amalan yang dimaksudkan Wajah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ini merupakan dua rukun amalan yang diterima di sisi Allah, yaitu harus murni karena Allah, benar sesuai dengan syariat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” [Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim V/205]

Akhirnya semoga Allah Ta’ala senantiasa menerima semua amal shalih yang kita lakukan dan memberi pahala berlipat di akhirat. Aaamiin. []