pencil

Shalat Sunnah Rawatib

Seorang muslim yang taat terhadap agamanya sudah barang tentu dia menjaga perintah dan larangan agamanya, diantara perintah agamanya yang agung adalah mendirkan shalat yang lima waktu, siang malam silih berganti, seiring dengan hal itu silih berganti pula panggilan ilahi. Namun setiap shalat yang kita lakukan mungkin saja atau pasti terdapat kekurangan; sehingga mengurangi nilai pahala shalat kita, oleh karenya Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebuah solusi agar shalat-shalat kita yang kurang terebut bisa ditutupi, mari kita perhatikan hadits nabi berikut yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.” HR. Abu Daud no. 864. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Nah, ternyata Rasul kita tercinta memberikan solusi agar shalat kita tetap sempurna adalah dengan cara memperbanyak shalat tathawwu’ atau shalat sunnah. Pada kesempatan kali ini penulis mencoba menguraikan masalah tentang salah satu dari shalat sunnah ini, sudah tidak asing lagi ditelinga bahkan setiap kita masih terus mengerjakannya hingga saat ini (semoga Allah memberikan keistiqamahan kepada kita), shalat sunnah yang dimaksud adalah shalat sunnah rawatib.

Definisi Shalat Rawatib

Apa sih shalat sunnah rawatib itu? Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum atau sesudah shalat wajib yang lima (faridhah), jika dikerjakan sebelum shalat wajib maka disebut shalat sunnah qabliyyah, jika dikerjakan setelah shalat wajib maka disebut shalat sunnah ba’diyyah.

Jumlah Rakaat Shalat Rawatib

Okay, selanjutnya tahukah kamu jumlah shalat rawatib ini? Sebelumnya kita harus ketahui dahulu; bahwa shalat sunnah rawatib ini ada yang hukumnya sunnah muakkadah (ditekankan) karena sering Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengerjakannya, ada juga yang sunnah ghairu muakkadah (tidak ditekankan) karna tidak dirutinkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau bahkan ada yang hukumnya haram alias tidak boleh dikerjakan karena bertepatan dengan waktu yang dilarang melakukan shalat disana. Untuk shalat rawatib yang hukumnya sunnah muakkadah total keseluruhannya ada 12 rakaat. Nah, yang 12 rakaat ini yang perlu dijaga jangan sampai kelewat, hmm, kayaknya banyak banget ya, tapi tenang dulu, ini hanya total keseluruhanya, terus perinciannya? Coba perhatikan tabel berikut!

Sholat Sunnah Rawatib
Sholat Sunnah Rawatib

Penulis rasa dengan melihat tabel diatas sudah sedikit mencerahkan pembaca tentang jumlah rakaat shalat rawatib secara umum. Baik, sekarang penulis jelaskan lebih lanjut kenapa bisa ada yang sunnah muakkadah (warna biru), sunnah ghairu muakkadah (warna merah), atau yang dilarang (merah).

Shalat Sunnah Muakkadah

Kita mulai dari yang yang sunnah muakkadah yang mana shalat ini rutin dilakukan oeh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini berdasarkan hadits dari ‘Abdullah bin Syaqiq, bahwa dia bertanya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana shalat rawatib Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dijawab,

“كان يُصلِّي في بيتي قبلَ الظهرِ أربعًا، ثم يخرُجُ فيُصلِّي بالناسِ، ثم يَدخُلُ فيُصلِّي ركعتينِ، وكان يُصلِّي بالناسِ المغربَ، ثم يَدخُلُ فيُصلِّي ركعتينِ، ويُصلِّي بالناسِ العِشاءَ، ويدخُلُ بيتي فيُصلِّي ركعتينِ…. وكان إذا طلَعَ الفجرُ صلَّى ركعتينِ” رواه مسلم

Artinya: “dahulu Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam shalat sebelum dzuhur 4 rakaat, kemudian keluar rumah dan mengimami manusia, kemudian masuk lagi rumah dan shalat 2 rakaat, dan beliau juga mengimami manusia shalat magrib kemudian masuk rumah rumah lalu shalat 2 rakaat, dan mengimami manusia shalat isya dan masuk rumah lalu shalat 2 rakaat…. dan apabila telah terbit fajar beliau shalat 2 rakaat” HR. Muslim

Dan dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan dari Ummu habibah, bahsawannya dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ ، إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ .

Artinya: “tidaklah seorang hamba yang muslim shalat sunnah setiap hari 12 rakaat selain yang wajib, kecuali Allah akan bangunkan baginya sebuah rumah di surga”. HR. Muslim (728)

Pernah Dilakukan Hanya 10 Rakaat

Terkadang juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat rawatib hanya 10 rakaat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم سجدتين قبل الظهر وسجدتين بعد الظهر وسجدتين بعد المغرب وسجدتين بعد العشاء وسجدتين بعد الجمعة فأما المغرب والعشاء ففي بيته وحدثتني أختي حفصة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي ركعتين خفيفتين بعد ما يطلع الفجر وكانت ساعة لا أدخل على النبي صلى الله عليه وسلم فيها”

Artinya: “Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 2 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat setelah dzuhur, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat setelah isya, dan 2 rakaat setelah jum’at, adapun shalat rawatib maghrib dan isya beliau mengerjakannya di rumah, dan mengabarkan kepadaku saudariku Hafshah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat 2 rakaat ringan sete;ah terbit fajar, dan ini adalah waktu dimana aku tidak bisa menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” mutafaqun ‘alaih

Dan diriwayatkan dari Ibnu umar juga, dia berkata:

“حَفِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ”

Artinya: “Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh.” HR. Bukhari no. 1180.

Shalat Sunnah Ghairu Muakkadah

Sekarang kita berpindah ke shalat rawatib yang hukumnya sunnah ghairu muakkadah, diantara dalilnya adalah keumuman hadits yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“بَينَ كلِّ أذانينِ صلاةٌ، بينَ كلِّ أذانينِ صلاةٌ، بينَ كلِّ أذانينِ صلاةٌ، ثم قال في الثَّالثة: لِمَن شاءَ ”

Artinya: “diantara adzan dan iqamah ada shalat sunnah, diantar adzan dan iqamah ada shalat sunnah, kemudia beliau bersabda pada yang ketiga denga tambahan: bagi siapa yang ingin”. muttafaqun ‘alaih

Adapun dalil shalat 4 rakaat sebelum ashar adalah hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” ‏رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا ‏”.

Artinya: “semoga Allah melimpahkan rahmat kepada orang yang shalat sunnah 4 rakaat sebelum ashar” HR. Abu Daud (1271), At Tirmidzi (430), dan Ahmad (2/117)

Dan hadits yang diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

“كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي قبل العصر أربع ركعات يفصل بينهن بالتسليم على الملائكة المقربين ومن تبعهم من المسلمين والمؤمنين .”

Artinya: “dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 4 rakaat sebelum ashar yang dibatasi diantara keduanya dengan memberi salam kepada malaikat yang dekat dan orang-orang yang mengikutinya dari kaum muslimin dan mukminin”. HR Tirmidzi dan An Nasai

Sedangkan shalat 2 rakaat setelah dzuhur, dan perlu diingat bahwa setelah dzuhur itu ada 4 rakaat shalat sunnah, 2 rakaat sunnah muakkadah sedang sisanya ghairu muakkadah, dan ini yang sedang kita bahas, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu habibah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ”.

 

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah Zhuhur, maka akan diharamkan baginya neraka.” HR.Abu Daud no. 1269, An Nasa-i no. 1816, dan At Tirmidzi no. 428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Dilarang Shalat Sunnah Rawatib

Tersisa dua rakaat setelah ashar dan subuh, kedua shalat ini ternyata tidak boleh dikerjakan, alasannya adalah karena bertepatan dengan waktu yang dilarang didirikan disana shalat sunnah (walaupun ada perincian lain tentang shalat sunah apa saja yang tidak boleh dikerjakan pada waktu terlarang ini, dan bukan disini pembahasannya), perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“لا صلاةَ بعدَ الصُّبح حتى تطلعَ الشمس، ولا صلاةَ بعدَ العصر حتى تغيبَ الشمس”

Artinya: “tidak ada shalat setelah shalat subuh sampai matahari terbit, dan tidak ada shalat setelah shalat ashar sampai terbenam matahari” muttafaqun ‘alaih

Shalat Rawatib Yang Paling Ditekankan

Namun disini ada yang menarik, ternyata diantara shalat sunnah yang muakkadah ada yang lebih ditekankan dari yang lain, shalat ini senantiasa dijaga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“ إن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يكن على شيء من النوافل أشد معاهدة منه على ركعتي الفجر”.

Artinya: “sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan shalat sunnah lebih giat dari pada shalat 2 rakaat sebelum fajar” muttafaqun ‘alaihi.

Dalam hadits lain bahkan dikatakan 2 rakaat subuh lebih baik dari dunia dan seisinya, simak hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها”

Artinya: “dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya”. HR. Muslim

Sebaik-baik Shalat Sunnah Di Rumah

Kebanyakan orang atau mugkin kita sendiri biasa melakukan shalat rawatib ini dimasjid, tentu hal ini karena dimasjid lebih membuat jiwa ini bersemangat dalam beribadah atau juga karena lebih praktis, setelah shalat fardhu terus dzikir setelah itu shalat rawatib sehingga setelah itu kita melanjut ke aktivitas lain. Ternyata, shalat sunnah yang terbaik adalah shalat sunnah yang dikerjakan dirumah, sebagaimana yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

Artinya: “Sesungguhnya seutama-utama shalat adalah shalat seseorang di rumahnya selain shalat wajib.” HR. Bukhari no. 731 dan Muslim no. 781.

Semoga kita semua diberi taufiq dari Allah untuk melaksanakan shalat rawatib ini. Allahumma aamiin.

Sumber: mukhtashar fiqh islamiy fi dhaui al quran wa as sunnah karya Muhammad bin Ibrahim bin ‘Abdullah At Tuwaijiriy