pencil

H. S. A. Al Hamdani, Faqih al Irsyadiyyin

S. A. Al Hamdani adalah seorang ulama Al Irsyad berpaham pembaharu yang senantiasa berdakwah menyerukan pemurnian ajaran Islam di Indonesia. Beliau bernama lengkap Haji Sa’id bin Abdullah bin Thalib al Hamdani. Murid-murid dan sahabatnya memanggilnya Ustadz Sa’id Thalib. Dalam berbagai karyanya Beliau lebih banyak memperkenal diri dengan nama pena H. S. A. Al Hamdani. Nama lain yang juga pernah Beliau gunakan dalam karya Beliau adalah Said bin Thalib al Hamdani.

Al Hamdani lahir di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah pada 31 Agustus 1903 bertepatan dengan tanggal 7 Jumadil Akhir tahun 1321 Hijriyah.

Pada usia delapan tahun Beliau dibawa oleh orang tuanya ke negeri leluhurnya di Hadhramaut. Di sana Beliau sempat belajar membaca, menulis, dan mengaji Al Qur’an. Pada tahun 1919 Beliau kembali ke Banjarmasin dan setahun kemudian pindah ke Pekalongan.

Pada rentang tahun 1920 sampai dengan 1924 Beliau belajar di Madrasah Ibtida’iyah milik organisasi Al Irsyad. Di sekolah ini pula, berkat kecerdasannya, Beliau diminta untuk mengajar meski belum menyelesaikan masa belajarnya oleh Guru Kepala yang menjabat saat itu yang bernama Ustadz Umar Najie.

Selain mengajar, Al Hamdani ikut aktif dalam organisasi Al Irsyad yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Surkati. Sejak dibentukanya Majelis Fatwa dan tarjih pada tahun 1940 dalam Muktamar Al Irsyad di Pekalongan, Beliau bersama dengan Ustadz A. Hassan Bangil ditunjuk menjadi anggota Lajnah Tarjih dan sampai akhir hayatnya Beliau menjadi Ketua Majelis Fatwa dan Tarjih DPP Al Irsyad.

Selama beraktivitas di Al Irsyad, Beliau bertemu dengan Syaikh Ahmad Surkati (wafat tahun 1943). Selain otodidak, Beliau juga mendapat bimbingan langsung dari Syaikh Ahmad Surkati dalam memperdalam dan mengembangkan ilmu agama.

Pada tahun 1945 sampai dengan masa pensiunnya pada tahun 1958 Beliau mengajar pada sekolah-sekolah agama di Yogyakarta. Beliau juga tercatat pernah mengajar pada Perguruan Persatuan Islam di bangil Jawa Timur, sebelum kemudian pindah ke Surakarta untuk menjabat sebagai Dekan Fakultas Dakwah Universitas Al Irsyad Surakarta.

Beliau juga tercatat sebagai dosen Ilmu Fiqih dan mengajar pada tingkat doktoral  Jurusan Fiqih dan Qadha’ Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Fakultas Syari’ah Universitas Islam Sultan Agung Semarang sampai dengan tahun 1972.

Al Hamdani terkenal juga dengan karya-karyanya yang sangat bekualitas. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. “Sanggahan Terhadap Tashawuf dan Ahli Sufi”. Karya ini selesai ditulis di Pekalongan pada bulan Muharram 1388 H (1968 M) dan pertama kali terbit pada tahun 1969 serta kemudian dicetak ulang pada tahun 1971 oleh penerbit P. T. Al Ma’arif Bandung. Karya ini diberi kata pengantar oleh Buya Mohammad Natsir rahimahullah.

Dalam karya ini H. S. A. Al Hamdani mengkritik habis-habisan praktik kepercayaan dan amaliyah menyimpang dari paham tasawuf. Buya Natsir memuji karya ini sebagai sebuah karya yang dihasilkan dari sebuah ketelitian dan kesungguhan serta analisis yang tajam dengan berdasarkan penelitian yang cermat. Dalam karya ini H. S. A. Al Hamdani menggunakan 9 kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan 14 kitab Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah sebagai referensi pokok.

  1. “Sorotan terhadap Kissah Maulid, Nisfu Sya’ban, dan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani”. Karya ini terbit pada tahun 1971 dan diterbitkan sendiri oleh Al Hamdani di Pekalongan. Seperti terlihat dalam judulnya, karya ini memberikan kritik tajam terhadap kitab yang berkisah tentang Maulid Nabi Muhammad yang dianggap Beliau terlalu ghuluw, keterangan tentang bid’ahnya shalat dan doa Nisfu Sya’ban, dan kritik terhadap kitab Manaqib Syaikh Abdul Qadir al Jailani.
  2. “Bantahan Singkat terhadap Kelantjangan Tashawuf dan Tarekat”. Karya ini terbit pada tahun 1973 dan diterbitkan sendiri oleh H. S. A. Al Hamdani di Pekalongan. Karya ini merupakan bantahan atas tulisan Syaikh H. Jalaluddin asal Medan yang mengkritik buku Beliau Sanggahan terhadap Tashawuf dan Ahli Sufi”. Syaikh H. Jalaluddin sendiri merupakan Ketua Umum seumur hidup Pengurus Besar Persatuan Pembela Tharekat Islam (PPTI) di Medan. Karya Syaikh H. Jalaluddin yang membantah buku Al Hamdani diberi judul “Buku Penutup Umur”.

Sebagai tambahan informasi, buku “Sanggahan terhadap Tashawuf dan Ahli Sufi” juga mendapat bantahan dari Syaikh Abdul Qadir Jailani bin Darman dari Kampung Melayu, Banjarmasin. Buku Syaikh Abdul Qadir Jailani bin Darman tersebut diberi judul “Kebenaran Tasawwuf dan Ahli Sufi” dan konon naskahnya sempat diserahkan kepada Buya HAMKA untuk diterbitkan. Namun saat itu Buya HAMKA menolak untuk menerbitkan buku tersebut dengan alasan buku Al Hamdani akan ditarik dari peredaran. Wallahu a’lam atas kelanjutan cerita tersebut.

  1. “Risalah Janaiz”. Risalah ini ditulis oleh Al Hamdani pada sekitar tahun 1970-an dan diterbitkan oleh Penerbit Al Ma’arif Bandung. Risalah ini berisi uraian mengenai hukum-hukum pengurusan jenazah. Sebagai seorang yang mendakwahkan pemurnian ajaran Islam, tak lupa Al Hamdani menyisipkan dalam karyanya ini peringatan atas berbagai bid’ah yang sering dilakukan oleh masyarakat dalam pengurusan jenazah dan ziarah kubur.
  2. “Risalatul Jum’ah”. Karya ini aslinya berbahasa arab dan selesai ditulis pada bulan Muharram 1373 H (1953 M) di Pekalongan. Risalah ini kemudian diterjemahkan H. A. Muhadjir Bakri dan kemudian dicetak pada tahun 1973 serta diterbitkan oleh C. V. Pelita Bandung. Risalah ini ditulis oleh Al Hamdani sebagai persembahan untuk mengenang jasa 3 orang Pemimpin Islam terkemuka di Indonesia, yakni Syaikh Ahmad Surkati, Kyai Haji Ahmad Dahlan, dan Ustadz Ahmad Hassan rahimahumullah.

Risalah ini berisi penjelasan mengenai seluk beluk hukum shalat Jum’ah. Di sela-sela pembahasannya, Al Hamdani tak lupa menyisipkan penjelasan tentang bid’ah-bid’ah yang sering dilakukan oleh masyarakat dalam pelaksanaan shalat Jum’at.

  1. “Hukum-Hukum Shalat Safar dan Menetap”. Risalah ini dicetak pertama kali pada tahun 1973. Tidak ada keterangan nama penerbit. Ada kemungkinan risalah ini dicetak sendiri oleh H. S. A. Al Hamdani. Risalah ini berisi uraian hukum-hukum shalat pada saat mukim dan safar.
  2. “Hukum dan Tata-Cara Shalat Berjama’ah”. Risalah ini selesai disusun pada bulan Dzulhijjah 1357 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Februari 1939 M. Namun risalah ini baru diterbitkan oleh C. V. Publicita di Jakarta pada tahun 1975. Risalah ini berisi seluk-beluk hukum dan cara pelaksanaan shalat berjama’ah. Yang menarik, risalah ini diberikan kata pengantar oleh Syaikh Ahmad Surkati di Bogor pada bulan Muharram 1358 H (1939 M).
  3. “Shalat-Shalat Sunnah”. Risalah ini merupakan terjemahan dari risalah Beliau dalam Bahasa arab yang berjudul “al La-aalil Maknuunah fii Shalawaatil Masnuunah”. Risalah ini diterjemahkan oleh Ustadz drs. Agus Salim dan diterbitkan oleh Penerbit al Ma’arif Bandung tahun 1982.
  4. “Wasiat Imam Ahmad bin Hanbal tentang Shalat Paripurna”. Risalah ini merupakan terjemahan atas karya Imam Ahmad bin Hanbal yang dikerjakan oleh Al Hamdani dan diterbitkan oleh Penerbit Peladjar Bandung. Tidak ada keterangan kapan terjemahan ini selesai dikerjakan. Hanya saja ada keterangan bahwa risalah ini merupakan kutipan dari lampiran sebuah buku dengan judul “al Fiqhun Nabawi (Fiqih Nabi)” karya Al Hamdani yang sedang dipersiapkan dan akan diterbitkan oleh C. V. Peladjar Bandung. Juga terdapat keterangan bahwa kitab Al Fiqhun Nabawi tersebit merupakan buku fiqh bahasa Indonesia yang paling lengkap dan cukup luas yang memuat semua aliran dalam madzhab Sahabat dan ulama fiqh terkemuka.
  5. “Gambar dan Patung dalam Islam”. Karya ini aslinya berbahasa arab dan kemudian diterjemahkan oleh Drs. Agus Salim serta diterbitkan oleh P. T. Al Ma’arif Bandung. Tidak ada keterangan mengenai kapan kitab ini selesai disusun dan Secara umum kitab ini berisi uraian tentang hukum gambar, termasuk foto dan film, dan patung dalam Islam.
  6. “Risalah Nikah”. Karya ini merupakan salah satu karya Al Hamdani dalam bahasa arab. Ustadz d Agus Salim kemudian menerjemahkan kitab ini dan kemudian diterbitkan pertama kali pada tahun 1980 serta telah empat kali cetak ulang. Pada tahun 2000, Ustadz drs. Agus Salim mengeluarkan edisi kedua terjemahan ini dan diterbitkan oleh Pustaka Amani, dengan melakukan tata ulang kembali serta menambahkan catatan kaki berkenaan dengan masalah ihdad atau berkabung bagi janda yang ditinggal wafat oleh suami dan masalah pencatatan rujuk sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Utadz drs. Agus Salim juga menambahkan pula beberapa catatan kaki berupa ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada dan berlaku pada saat itu yang relevan dengan masalah yang sedang dibahas.

Karya-karya yang dihasilkan di atas menunjukkan kedalaman ilmu, luasnya penelitian, dan kecermatan Beliau. Maka tak ada yang meragukan kelayakan Beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Fatwa dan Tarjih DPP Al Irsyad hingga akhir hayat.

Tak heran pula, oleh sebagian kalangan Beliau dijuluki sebagai “Faqih al Irsyadiyyin”, Ahli Fiqih-nya Organisasi Al Irsyad.

S. A. Al Hamdani sendiri wafat pada usia 80 tahun pada bulan Maret 1983 di Pekalongan, Jawa Tengah.

Semoga Allah merahmati Beliau.

 

Referensi :

Koleksi pribadi karya-karya H. S. A. Al Hamdani