pencil

Syaikh Muhammad Humaedi AK, Lc., Guru Ulama-ulama Indonesia

Ustadz Humaedi, demikian kami selaku murid-murid menyapanya. Sosok ulama karismatik, rendah hati, sederhana, dan luas ilmu pengetahuannya. Rasanya lisan ini tidak mampu mengungkapkan lagi ketinggian kedudukan beliau dalam banyak sisi keilmuan dan kepribadiannya.

Semangatnya menghidupkan sunnah yang banyak dilupakan banyak orang, sungguh sangat luar biasa. Tidak saja melalui lisan, namun juga melalui suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, hasratnya dalam membumikan tauhid tidak dapat dipungkiri oleh siapapun yang pernah berjumpa dengannya. Suatu saat ada yang pernah bercerita kepada penulis, dalam sebuah perjalanan di suatu pesisir pantai beliau mendapati ada orang yang memasang sesajen. Sejurus kemudian, tanpa ada rasa ‘tidak enak’ seperti umumnya watak orang Indonesia, beliau langsung mendatanginya untuk memberikan nasehat, menjelaskan betapa sesajen termasuk perbuatan menyekutukan Allah Ta’ala.

Adalah Ustadz Anas Al-Hazimi, salah satu guru penulis, juga pernah meriwayatkan bahwa suatu saat beliau masuk ke sebuah rumah makan atau restoran yang kala itu sedang memutar musik. Tidak berapa lama beliau masuk restoran itu, yang kali pertama beliau lakukan ialah mencari sumber suara setan tersebut dan memadamkannya. Sebuah tindakan amar makruf nahi mungkar yang sangat luar biasa. Tentu hal tersebut beliau lakukan bukan tanpa pertimbangan. Sudah sewajarnya beliau cerna akibatnya. Dan manaka beliau yakin bahwa tidak ada mudharat yang lebih besar yang muncul dengan tindakan yang beliau rencanakan itu, beru beliau mengekskusinya. Buktinya tidak ada penolakan dari pihak restoran, atau minimal tidak ada kegaduhan hebat yang muncul.

Seketika awal-awal kami para murid di pesantren, pelajaran yang beliau berikan kepada kami ialah tata cara shalat sesuai sunnah Rasulullah –shalallallahu ‘alaihi wa sallam-, baik secara teori maupun praktik. Secara umum, pelajaran utama yang kami terima dari beliau ialah pelajaran ‘aqidah tauhid Ahlussunnah wal Jama’ah. Di Masjid Istiqamah, yang merupakan masjid pesantren, beliau menjelaskan Syarh Tsatsah Al-Ushul karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah-. Sehabis ‘ashar tiap Ramadhan th. 2006, kami menerima pelajaran kitab Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah karya Syaikh Muhammad Jamil Zinu –rahimahullah-. Dari dua pelajaran ini kami benar-benar terbelalak akan urgensinya tauhid dan betapa pentingnya memahami manhaj (baca: metode) beragama yang baik berdasarkan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Di muka telah penulis singgung bahwa pengajaran yang beliau berikan kepada para muridnya selain melalui lisan, juga praktik tauladan yang baik. Dalam hal ini kami menyaksikan betapa beliau mengajari para muridnya untuk rajin mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat-shalat sunnah dan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Pukul tiga dini hari seusai beliau membangunkan para murid, beliau kemudian bergegas menuju masjid untuk melakukan shalat malam secara rutin. Shalat-shalat rawatib juga biasa beliau lakukan di masjid di hadapan para muridnya untuk dicontoh tentunya.

Sikap-sikap yang demikian itulah yang membuat para muridnya begitu segan. Hal tersebut tercermin, misalnya, ketika beliau membangunkan para murid. Baru saja mengucapkan salam di muka kamar, serentak kami para murid bergegas bangun dan merapikan alas tidur masing-masing. Tidak ada dijumpai ada murid yang malas-malasan bangun apabila beliau yang bertindak membangunkan kami. Lain ceritanya apabila yang membangunkan orang lain. Salah satu pegawai pesantren kami yang begitu galak, jangankan salam, bahkan dengan jambuk yang dipukulkannya ke lemari samping pintu pun, takut pun tidak. Sehingga menjadi bertimbangan di sini ialah kharismatik yang membuat kami para murid segan dan hormat.

Sebagai tambahan informasi bahwa beliau termasuk ulama yang mahir dalam bidang ilmu alat, termasuk nahwu dan ushul fiqih. Dalam ilmu nahwu, kami telah diajar oleh beliau di bangku MTs dengan kitab An-Nahwu karya Syaikh Dr. ‘Abdurrahman Ra’fat Basya (penulis Shuwar Min Hayat Ash-Shahabat dan Shuwar Min Hayat At-Tabi’in). Sedangkan dalam bidang ushul fiqih, penulis mendengar dari para senior bahwa beliau mengampu pelajaran ushul fiqih untuk tingkat MA (Madrasah Aliyah).

Atas jasa-jasa beliau tersebut, penulis merasa sangat perlu menuliskan biografi singkat beliau meski secara ringkas sebagai tadzkirah bagi kami para murid dan penyambung staved tradisi para ulama, yaitu meriwayatkan para guru. Tradisi semacam ini yang sesungguhnya mulai ditinggalkan oleh kita yang notabene sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah. Lihat saja sederet ulama kita saat ini, tidak banyak yang tahu selain nama dan kajiannya. Syaikh Husni Lombok –pengibar panji Ahlussunnah di Lombok-, Ust. Abu Sa’ad Muhammad Nur Huda Jogja, MA., Ust. Armen Halim Naro, Ust. Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas, Ust. ‘Abdul Hakim bin ‘Amir ‘Abdat, Ust. Aris Munandar Jogja, Dr. Muhammad Arifin Badri, Dr. Musri Semjan Putra, Dr. Muhammad Nur Ihsan, Ust. Muhammad Elvi Syam, Dr. Dasman Ma’ali, dan lain sebagainya.

Kembali kepada tema utama, berikut penulis nukilkan profil ringkas guru kita yang bernama lengkap Muhammad Humaedi bin ‘Abdul Karim bin Syaibah –hafizhahullah ta’ala– yang pernah termuat di Majalah Swara Quran Yogyakarta:

Menjalankan hal baik tanpa disertai sikap dan cara yang baik dan pas belum tentu menangguk sukses. Bahkan sebaliknya, tidak sedikit yang menuai hambatan: dimusuhi, dibenci. Atau, akhirnya surut dan hilang dari peredaran.

Demikian juga dalam menyebarluyaskan kebenaran Islam. Hal ini harus disertai metode yang tepat tanpa mengurangi sedikit pun kebenaran nilai-nilai Islam tersebut. Untuk itulah diperlukan cara yang kreatif, inovatif, penuh penghormatan, kesabaran, ketelatenan, kearifan, dan kerendahan hati.

Itulah yang selama ini dilakukan Ustadz Humaedi, Lc. Pengasuh sekaligus Pimpinan PP [Pondok Pesantren-pent] asy-Syifa Bantul ini memang sudah memiliki tradisi hebat sejak muda. Sejak remaja di kota kelahirannya, Cirebon, ia sudah mengasah naluri dakwahnya. Bahkan Humaedi muda semasa kuliah di Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Gunung Jati ini menggunakan panggung musik seabagai media dakwahnya. Musik dari panggung, menurutnya mampu menyedot perhatian anak muda akan nilai-nilai.[1]

Sejak kecil cita-citanya memang ingin mengajar di pondok pesantren sendiri. Untuk itulah sejak sekolah PGA selama 6 tahun hingga kuliah, waktu senggangnya digunakan untu mengajar Madrasah Ibtidaiyah di kampungnya. Dan di malam harinya digunakan untuk mengajar dan menyelenggarakan majelis taklim di rumahnya.

Setelah lulus dari Lembaga Bahasa Arab Universitas Islam Madinah, waktunya dimanfaatkan untuk mengajar di SMP al-Irsyad dan Perguruan Tinggi Islam Cirebon. “Selama mengajar ini saya tanpa honor, bahkan sering keluar dana dari kantong pribadi jika ada perayaan hari besar Islam,” paparnya.

Keikhlasan dan ketekunannya dalam membangun jaringan majelis taklim suatu saat justru dijauhi masyarakat. Pasalnya, tatkala neneknya meninggal dunia, Ustadz yang berpikiran polos ini sengaja tidak hadir dalam peringatan 3 hari kematiannya. Dari sinilah akhirnya masyarakat menggunjing dirinya karena ternyata pemahaman agama sang ustadz berbeda dengan paham yang dianut masyarakat kebanyakan.

Ketekunannya mengembangkan sunnah tidak lepas dari semboyan hidupnya sendiri. “Agar bisa jadi orang yang berguna maka jangan hanya jadi orang yang melihat, melainkan jadilah orang yang dilihat. Dan kunci sukses adalah memperbanyak teman dan rajin shalat jamaah di masjid.”

“Sedangkan untuk meluruskan perilaku bid’ah kaum Islam tradisional jangan diserang terus kyainya. Tetapi sanjunglah mereka di mana ibadah dan muamalahnya bagus. Soal bid’ahnya diluruskan perlahan. Untuk meluruskan kyainya, harus berbekal penguasaan kitab dengan baik,” tegasnya.

Perjalanan Ust. Humaedi berlanjut dengan menerima tawaran mengajar di lingkungan Al-Irsyad Salatiga. Meskipun banyak tawaran dari berbagai tempat. Hari-hari di PP al-Irsyad Salatiga dilalui bersama Ustadz Ja’far ‘Umar Thalib dan Ustadz Yazid [bin ‘Abdul Qadir Jawas]. Untuk mengenalkan ajaran Islam ke masyarakat sekitar pesantren memang mengalami berbagai kendala. Banyak takmir masjid yang langsung menolak kedatangan kami tatkala kami menawarkan mengadakan majelis taklim. Ada juga yang piker-pikir dulu. Namun tidak sedikit yang menyambutnya dengan tangan terbuka.

Memang, ada juga sikap tidak suka bahkan memusuhi pada ajaran sunnah yang diajarkan di Pesantren al-Irsyad tersebut. Sampai-sampai pintu masjid pesantren itu hilang dicuri orang. Namun setelah kami membenahi pola pendekatan pesantren terhadap penduduk sekitar, akhirnya masyarakat luas di 16 masjid disa menerima.

Pola aktif dan jemput bola diterapkan antara pesantren dan lingkungan terus dijalin silaturahmi, pada setiap kesempatan. Jika perlu keterlibatan pun penting untuk ditonjolkan, misalnya dalam pemberian bantuan dana atau sumbangsih lainnya. “Ini bukan riya, melainkan metode dakwah juga,” papar Ustadz Humaedi mengingatkan.

Dimungkinkan pesantren banyak memberi ke masyarakat sekitar dan bukan sebaliknya. Untuk itulah, ungkap alumnus Fakultas Hukum Islam Universitas Islam Madinah ini, setiap hari raya kurban berusaha mendatangkan kambing kurban untuk dibagi-bagikan ke masyarakat sekitar.

Pola itulah yang kini diterapkan pula di Asy-Syifa, pesantren yang diasuh Ust. Humaedi. Asy-Syifa, yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang dulu menjadi basis krsiten, kini dapat membawa pengaruh penting dan diterima dengan sukacita masyarakat Bantul. Memang ebnar apa yang diungkapkan Ust. Humaedi, bahwa membawa kabar gembira dan baik bagi umat juga memerlukan manajemen yang baik. Cara yang jitu agar menuai sukses.

[Sumber: Majalah Swara Quran No. 02 TH1 / Jumadil Ula 1422 H/ Agustus 2001][2]

Sebagai penutup, di sini akan penulis sebutkan beberapa murid-murid Ustadz Humaedi, Lc yang banyak di antaranya sudah menjadi ulama-ulama besar di Tanah Air. Mereka ialah Dr. Muhammad Arifin Badri, Ust. Muhammad Thayib Badri, Lc., Ust. Zaid Susanto,[3] Lc., Ust. Jalal, Lc., Ust. Hari Setiawan, Lc., Ust. Zainal Abidin, Lc., Ust. Mus’ab, Dr. Ridlo Abdillah, MA., Ust. Ahmad Ansori, Lc., Ust. Rusman Dimyati, Lc., Ust. Dody Chandra, Lc., Ust. Taryono bin Syukri, Lc., dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan tulisan yang ringkas ini menjadi langkah awal kembalinya tradisi ulama yang penah penulis singgung di muka dan bermanfaat bagi kita semua. Aamiin

 

Wadi Mubarak, 6 Juli 2018 M

[1] Tentu ini sikap beliau ketika belum belajar di Universitas Islam Madinah. Adapun setelah beliau lulus dari universitas tersebut, maka penulis mendengar beliau berkali-kali mengingatkan akan keharaman musik. Antara lian beliau membawakan ungkapan Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin bahwa tidak mungkin dalam hati seseorang mencintai dua hal yang bertentangan, yaitu Al-Quran dan musik!

[2] Dalam hal ini penulis menyampaikan terimakasih banyak atas jasa sahabat penulis, Pak Muhroji, yang telah berkenan mengirimkan profil Ust. Humaedi yang termuat dalam Majalah Swara Quran via jpg.

[3] Seluruh murid-murid Pesantren Al-Irsyad Tengarang angkatan Dr. M. Arifin Badri dan adik kelas merupakan murid dari Syaikh M. Humaedi. Sebab keberadaan beliau di pesantren unggulan ini sekitar 10 tahun lamanya. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa beliau sebagai syaikhul masyayikh, gurunya para guru di Indonesia.