pencil

Mengenal Enam Induk Kitab Hadits & Tingkatan Hadits Shahih

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [An-Nahl: 44]

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa di antara tugas Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ialah menjelaskan isi kandungan Al-Quran Al-Karim. Tugas tersebut –alhamdulillah– telah beliau laksanakan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang kurang sama sekali. Oleh karena itu, untuk memahami Al-Quran, harus bersandingan dengan penjelasan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang dikenal dengan hadits-haditsnya.

Melihat betapa pentingnya fungsi hadits, para ulama yang telah Allah siapkan berlomba-lomba mengambil tugasnya dengan mengkodifikasi hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dari sekian banyak kitab hadits yang ada, sekurang-kurangnya ada enam kitab induk yang penting, yaitu:

Shahih Al-Bukhari yang memiliki nama lengkap:

الجَامِعُ المُسْنَدُ الصَّحِيْحُ المُخْتَصَرُ مِنْ أُمُوْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ سُنَنِهِ وَ أَيَّامِهِ

Dihimpun dan disusun oleh Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Al-Mughirah bin Syu’bah Al-Bukhari Al-Ju’fi (194-256 H). Dalam kitab ini, beliau konsisten hanya memasukkan hadits-hadits yang berkualitas shahih saja, sebagaimana tercermin dalam judul yang beliau berikan.

Shahih Muslim yang memiliki judul lengkap:

المُسْنَدُ الصَّحِيْحُ المُخْتَصَرُ مِنَ السُّنَنِ بِنَقْلِ العَدْلِ عَنْ العَدْلِ عَنْ رَسِوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dihimpun dan disusun oleh Imam Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (204-261 H).

Jumlah hadits yang terkandung dalam Shahih Muslim ialah 4000 buah hadits tanpa pengulangan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam An-Nawawi. Sementara itu jika hadits-hadits yang berulang dihitung, maka jumlahnya melebihi hadits Shahih Al-Bukhari.

Sunan Abu Dawud

Dihimpun oleh Al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syaddad Al-Azdi As-Sijistani (202-275 H).

Jami’ At-Tirmidzi

Ditulis oleh Al-Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa As-Sulami At-Tirmidzi (209-279 H). Imam Adz-Dzahabi mengatakan bahwa beliau mengalami kebutaan di masa tuanya setelah melakukan banyak perjalanan intelektual ke berbagai penjuru dunia dan setelah menuliskan ilmu yang diperolehnya.

Sebagian ulama mendudukkan Jami’ At-Tirmidzi di atas Sunan Abu Dawud sehingga berada pada urutan ketiga dari enam buku induk. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Muhammad ‘Abdurrahman Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi dan Haji Khalifah dalam Kasyf Azh-Zhunun.

Sunan An-Nasa’i yang memiliki nama asli Al-Mujtaba atau As-Sunan Al-Kubro.

Ditulis oleh Al-Imam Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Bahar An-Nasa’I (215-303 H).

Sunan Ibnu Majah

Dihimpunkan oleh Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah Al-Qazwaini (209-272 H).

Selain Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, empat kitab dibawahnya tidak hanya memuat hadits yang berkualitas shahih, namun juga ada di antaranya  ada yang kualitas hasan dan bahkan dha’if. Semoga Allah merahmati Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang telah berusaha memisahkan antara hadits-hadits shahih (juga hasan) dan hadits-hadits dha’if, yaitu dalam karya-karya berikut:

  • Shahih Sunan Abi Dawud
  • Dha’if Sunan Abi Dawud
  • Shahih Sunan At-Tirmidzi
  • Dha’if Sunan At-Tirmidzi
  • Shahih Sunan An-Nasa’i
  • Dha’if Sunan An-Nasa’i
  • Shahih Sunan Ibn Majah
  • Dha’if Sunan Ibnu Majah

Secara berurutan, kualitas hadits-hadits yang ada dapat dikatakan sebagai berikut mengikuti penjelasan ulama-ulama pakar hadits:

  • Hadits-hadits yang periwayatannya disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam dua kitab shahih mereka[1]. Riwayat ini biasa diistilahkan dengan Muttafaq ‘Alaih[2] (artinya yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim) atau riwayat Syaikhan (artinya dua syaikh, maksudnya Syaikh Al-Bukhari dan Syaikh Muslim).

Belakangan hadits-hadits yang memiliki kualitas paling tinggi ini telah dibukukan oleh sejumlah ‘ulama, antara lain:

  • Al-Lu’lu’ wa Al-Marjan Fima Ittafaqa ‘Alaih Asy-Syaikhan yang dihimpun oleh Al-Ustadz Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi –rahimahullah-.

Buku ini telah mendapatkan perhatian dari beberapa ulama Islam, termasuk ulama Indonesia. Di antaranya apa yang dilakukan oleh Prof. Dr. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy –rahimahullah-. Beliau telah berusaha menerjemahkan 2002 buah hadits dari kitab tersebut (dari total keseluruhan 1906 buah hadits) dan memberinya syarah atau penjelasan yang cukup panjang dan lengkap. Buku tersebut kemudian terbit dengan judul “2002 Mutiara Hadits”[3] oleh Penerbit Bulan Bintang. Sedangkan pada th. 2003, buku tersebut terbit dengan judul “Mutiara Hadits” tanpa imbuhan “2002” dan telah mengalami perbaikan Bahasa melalui jasa putra penulis, H. Z. Fuad Hasbi Ash-Shiddieqy. Namun sayangnya penyunting tidak memiliki amanah ilmiah yang baik. Sebab ada banyak penjelasan penting yang dibuangnya begitu saja tanpa merasa berdosa. Salah satu yang ia buang ialah tafsir kosakata pelik yang termaktub dalam syarah sang ayah. Kenyataan pahit ini juga dialami oleh semua buku-buku karya Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy yang disunting oleh H. Z. Fuad Hasbi tersebut yang diterbitkan oleh Pustaka Rizki Putera Semarang.

Usaha lain yang diberikan kepada buku Al-Lu’lu’ wa Al-Marjan ini ialah apa yang dilakukan oleh Al-Ustadz Wafi Marzuki ‘Ammar, Lc., MA dalam bukunya Syarah Al-Lu’lu’ wa Al-Marjan yang didasarkan pada kitab-kitab berikut: Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari karya tulis Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin Al-Hajjaj karya Imam Muhyiddin An-Nawawi, Umdatul Qari Syarah Shahih Al-Bukhari karya Badruddin Al-Aini Al-Hanafi, Syarah Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Baththal, Syarah Shahih Al-Bukhari karya Syamsuddin As-Safiri, Faidhul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari karya Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri, Al-Mufhim Limaa Asykala Min Talkhish Kitabi Muslim karya Imam Abu Hafsh Umar bin Ibrahim Al-Qurthubi, Ikmaal Al-Mu’lim Syarah Shahih Muslim karya Qadhi Iyadh, Tuhfatul Ahwadzi Bisyarhi Jami’ At-Tirmidzi karya Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri, Syarah Sunan Abi Dawud karya Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, dan Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud karya Muhammad Asyraf bin Amir bin Ali bin Haidar Al-Adhim Abadi. Buku ini terbit dalam 4 jilid oleh Pustaka Sukses Surabaya.

Untuk versi terjemahan bahasa Indonesia, silahkan download di sini: Hadits Bukhari Muslim.

  • Zaad Al-Muslim Fima Ittafaqa ‘Alaihi Al-Bukhari wa Al-Muslim karya Syaikh Muhammad Habibullah bin ‘Abdullah bin Ahmad Ma Ya’ba Al-Jikani Asy-Syinqithi. Kitab ini memuat 1200 hadits, lebih sedikit daripada jumlah hadits yang dimuat oleh Al-Lu’lu’ wa Al-Marjan. Buku tersebut kemudian dibubuhu keterangan singkat oleh penyusunnya sendiri dalam bukunya yang bertajuk Fathul Mun’im Bibayan Ma Ihtija Libayanihi.
  • Hadits-hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.
  • Hadits-hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim.
  • Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari dan Muslim namun memiliki keriteria sama dengan keriteria hadits-hadits Al-Bukhari dan Muslim.
  • Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari dan Muslim namun memiliki keriteria yang sama dengan keriteria hadits-hadits Al-Bukhari saja.
  • Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari dan Muslim namun memiliki keriteria yang sama dengan keriteria hadits-hadits Muslim saja.
  • Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari dan Muslim yang tidak memiliki keriteria sama dengan salah satu dari keriteria hadits-hadits Al-Bukhari ataupun hadits-hadits Muslim

Penjelasan di atas antara lain dipaparkan oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad –hafizhahullah-.

Demikian, semoga bermanfaat.

 

Sumber:

  • Tadwin As-Sunnah An-Nabawiyyah Nasy’atuh wa Thathawuruh, karya Syaikh Dr. Muhammad bin Mathar Az-Zahrani
  • Al-Lu’lu’ wa Al-Marjan, karya Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi
  • Zaad Al-Muslim, karya Syaikh Muhammad Habibullah Asy-Syinqithi
  • Mutiara Hadits, karya Prof. Dr. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy
  • Pelajaran dari Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad.

[1] Yang menjadi pertimbangan di sini ialah kitab Shahih karya Imam Al-Bukhari dan kitab Shahih karya Imam Muslim. Sehingga kitab-kitab selain shahih Al-Bukhari dan shahih Muslim, walaupun termasuk karangan mereka berdua, tidak dimaksudkan. Karena pada kenyataannya mereka berdua memiliki beberapa kitab lain selain kitab shahih ini yang kesemuanya memuat banyak hadits. Namun tidak semua hadits yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut bernilai shahih.

[2] Istilah ini misalnya banyak digunakan dalam kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An-Nawawi, Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, dan lainnya.

Meskipun demikian, perlu diketahui bahwa apabila istilah Muttafaq ‘Alaih ini dibawakan oleh Imam Al-Baghawi, maka maknanya ialah hadits-hadits yang periwayatannya disepakati oleh Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari, dan Imam Muslim.

[3] Buku ini sekurang-kurangnya didasarkan pada 31 kitab-kitab besar, sebagaimana yang beliau jelaskan pada Daftar Pustaka di akhir kitab.