pencil

Antara Fiqih Madzhab dan “Fiqih Dalil”

Soalan: Bagaimana cara memanfaatkan kitab Nailul Authar selaku fiqih dalil?

Jawaban: Seakan-akan melihat si penanya bahwa ia tidak menganggap fiqih madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) sebagai fiqih dalil. Oleh karena itu ia menanyakan Nailul Authar karya Asy-Syaukani dan menganggapnya sebagai contoh kitab yang menganut fiqih dalil.

Apakah benar jika dikatakan bahwa madzhab yang empat tidak dapat mewakili fiqih dalil?

Kenyataan yang lenyap darri pikiran sebagaian di antara kita lantaran mendakwakan ittiba’ dan mengenal dalil ialah bahwa madzhab yang empat itulah fiqih dalil yang benar. Adapun isu ta’ashub, maka itu merupakan suatu masalah yang tidak ada satu madzhab pun yang selamat darinya. Sampaipun ahli hadits ditemukan juga ta’ashuh dan taqlid pada ahli-ahli hadits yang awam, bahkan yang senior sekalipun.

Karena itu, tidak benar jika dikatakan bahwa fiqih Abu Hanifah, fiqih Malik, fiqih Asy-Syafi’i, fiqih Ahmad, fiqih Ats-Tsauri, fiqih Al-Auza’i, dan fiqih imam-imam mujtahid lainnya tidak mencerminkan fiqih dalil. Bahkan mungkin kitab-kitab yang dianggap sebagai fiqih dalil, malah justru tidak memperhatikan pokok-pokok pendalilan (ushul al-istidlal) dan pengurutan dalil-dalil (tartib al-adillah), sebagaimana yang diperhatikan oleh ulama-ulama madzhab.

Ambillah contoh permisalan:

Masalah pertama ialah asas fiqih.  Fiqih dalil mengatakan memahami Al-Quran dan As-Sunnah harus berdasarkan pemahaman ulama salaf shalih. Apakah Asy-Syaukani dalam kitab-kitab karangannya memperhatikan hal tersebut?!

Bagaimana Asy-Syaukani menyikapi pendapat seorang shahabat? Asy-Syaukani menganggap bahwa pendapat seorang shahabat tak ubahnya seperti pendapat ulama lain dalam suatu kasus masalah. Oleh karena itu, beliau tidak menganggap pendapat seorang shahabat seabai standar dalam memahami ayat atau hadits, atau dalam suatu kasus masalah. Dan hal semacam ini menjadin semacam problem!

Ijma’, yaitu konsesus dan kesepakatan ulama, merupakan salah satu dari pondasi mengambil dalil menurut Ahlussunnah wal Jama’ah. Sehingga dalil-dalil yang mereka sepakati adalah Al-Quran, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Sedangkan Asy-Syaukani –rahimahullah- dengan beralasan bahwa  ada orang-orang yang mendakwakan ada suatu ijma’ah pada beberapa kasus masalah (yang mana dakwaan tersebut tidaklah valid), maka beliaupun –dengan dalihnya tersebut- menolak ijma’ yang sudah dinukil itu. Berbeda dengan Madzhab Zhahiriyah dan ulama lainnya, yang masih ada beberapa ulama dalam tubuh Madzhab Zhahiriyah yang tidak menggubris pendapat-pendapat yang menyelisihi ijma’. Ini problem kedua yang dijumpai dalam fiqih Asy-Syaukani.

Dalam sejumlah kasus masalah, Anda mendapati Asy-Syaukani menyikapi lahiriah lafal dalil dengan kaku (baca: jumud), layaknya kaku Azh-Zhahiriyah yang dicela oleh para ulama.

Walaupun Asy-Syaukani adalah seorang ulama mujtahid –semoga Allah membalasnya dengan kebaikan-. Beliau telah melayani ilmu dan telah membahas banyak masalah dengan pembahasan yang sangat ahli dan pandai. Namun demikian fiqihnya tidak bisa dikatakan sebagai fiqih dalil. Justru senyatanya fiqih madzhab fiqih yang empat itulah fiqih dalil.

Perhatikan Asy-Syaukani wafat pada tahun 1250 M, apakah fiqih hasil produksinya mendapatkan pelayanan ilmiah, baik pokok (ushul) maupun cabangnya (furu’), seperti pelayanan yang didapat oleh fiqih madzhab yang empat dengan rentang waktu 1000 tahun?!

Fiqih madzhab yang empat telah diselidiki dan dikoreksi, kitab karangan dalam setiap cabang masalah, baik ushul maupun furu’nya, terdapat kitab-kitab tersendiri. Semua kasus masalah telah diperbincangkan oleh para ulama untuk menyelesaikannya berdasarkan dalil Al-Quran, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas dengan tetap memperhatikan pondasi-pondasi keilmuan yang menjadi dasar penyimpulan (istinbath), yang mana Asy-Syaukani –rahimahullah– sendiri banyak atau sebagiannya terluputkan.

Pelajarilah fiqih madzhab dan jauhi sikap ta’ashub. Apabila Anda dihadapkan oleh suatu kasus masalah dalam madzhab tersebut yang ternyata jelas bertentangan dengan dalil, maka tinggalkan masalah itu, sebaliknya ikutilah dalil, berbaiksangkalah dengan para ulama, tentu Anda akan menjumpai bahwa ilmu bagaikan perbendaharaan-perbendaharaan (yang berharga). Dan di antara kunci perbendaharaan-perbendaharaan ini ialah bertanya. Termasuk kuncinya juga ialah  berbaik sangka dengan para ulama. Kami telah pengalaman dalam hal tersebut.

Diterjemahkan dari makalah Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Umar Bazmul pada tautan berikut https://t.co/FGFtbZjcTZ. Beliau merupakan ulama Ahlussunnah yang melahirkan banyak kitab dan bertugas sebagai dosen di Universitas Ummul Qura Makkah Al-Mukarramah.