pencil

Mampu Menghafal Banyak Kitab, Meski Seorang Buruh

Tidak mengherankan apabila ada mahasiswa di Universitas Madinah, Al-Azhar, LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Isalam dan Bahasa Arab) mampu menghafal banyak hadits atau matan-matan ilmu syar’i, bahkan sebaliknya jika kita dapati ada mahasiswa yang tidak punya hafalan hadits atau matan ilmu syar’i ini merupakan sebuah “AIB” tersendiri. Tentunya ini semua tidak lain berkat taufiq dan hidayah dari Allah semata.

Nah, kali ini penulis akan sedikit sharing dengan teman-teman pembaca safinah.id tentang seorang buruh pabrik yang mampu menghafal matan ilmu syar’i di program menghafal matan secara online dari masjid nabawi yang mana program ini diasuh oleh Syaikh Abdul muhsin bin Muhammad Al-Qasim –hafidzahullah-, bahkan mampu menyelesaikan 4 tingkat yang total keseluruhan matan yang dihafal adalah 15 matan dari berbagai cabang ilmu syar’i, tentunya ini bukan pencapaian yang mudah terelebih beliau ini hanya seorang buruh pabrik, dan yang lebih mencengangkan lagi adalah saat beliau bercerita kalau beliau ini salah satu dari tiga orang yang telah menyelesaikan 4 tingkat tersebut se-negeri tercita Indonesia. Allahu akbar.

Menghafal adalah tradisi ulama salaf yang saat ini sudah mulai memudar, terlebih dikalangan para penutut ilmu kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah saja. sebetulnya penulis menulis tulisan ini dengan rasa sedikit malu dan kagum yang bercampur baur, karena belum mampu seperti beliau yang hanya seorang buruh dan dikhawatirkan masuk kedalam golongan orang-orang yang ikut andil dalam memudarkan budaya menghafal ditengah-tengah kaum muslimin. Allahul musta’an.

Siapa sih beliau ini? Iya beliau adalah Abu Salim Iman Kustiman seorang ayah kelahiran Pangandaran, pekerjaan sehari-hari adalah karyawan pabrik, saat ini beliau tinggal di Perum Telaga Pesona Cikarang Barat, Kab Bekasi. Okay, sekarang penulis paparkan sedikit percakapan penulis dengan beliau, semoga setelah membca wawancar singkat ini bisa memotivasi diri kita semua untuk mengikuti jejak beliau.

 

Saya                       : Apa yang mendorong anda untuk mengikuti program menghafal matan secara online?

Abu Salim            : Awalnya pengen menghafal untuk membantu memudahkan tahapan dalam belajar, walaupun waktu itu ada broadchase bahwa yang lulus program menghafal matan secara online sampe tingkat 4 ada hadiah umrah, tapi saya kurang tertarik karena sadar diri bahwa itu sangat jauh dari kemampuan saya karena harus hafal 15 matan kitab. Dan ternyata Allah Ta’ala mudahkan saya dalam ujian tingkat 1 ( ada 4 matan) bersama syaikh penguji, dan yang mengagetkan adalah ternyata saya peserta pertama dari Indonesia yg dapat nilai 100 dari indonesia di grup yang saya ikuti, setelah ini mulailah semangat untuk meraih umrah itu timbul.

(terkadang kita semua ini punya potensi untuk melakukan perubahan, hanya saja motivasi dan semangat ini kerap kali redup bahkan menghilang)

Saya                       : Kapan anda mulai menghafal matan pada program ini?

Abu Salim            : Saya lupa tepatya, pokoknya sekitar bulan Mei/Juni 2016.

(subhanallah, kurang lebih sudah 2 tahun menghafal, sebuah konsistensi yang perlu diapresiasi)

Saya                       : Berapa tingkat yang sudah anda lewati?

Abu Salim            : Alhamdulillah, bulan April kemaren sudah tamat ujian mustawa 4 (mustawa terakhir sebagai syarat untuk meraih umrah) katanya 🙂

(kita doakan bersama, semoga harapannya dikabulkan oleh Allah ta’ala, Aamiin)

Saya                       : Apa perasaan anda setelah melewati beberapa tingkat tersebut?

Abu Salim            : Alhamdulillah senang banget, tentunya tidak menyangka bisa meraih nilai 100 pada tiap tingkatnya. Ini semata-mata kemudahan dari Allah Ta’ala.

(saya pun turut senang, bangga, bahkan malu yang bercampur menjadi satu)

Saya                       : Bagaimana cara anda menghafal?

Abu Salim            : Saya punya target harian (kalo lagi tidak malas tentunya). Dalam menghafal, Saya kerja narik barang dipabrik, jadi selama seharian bolak-balik narik, alhamdulillah saya bisa menghafal dan murajaah. Tentunya sekali lagi kalo tidak lagi malas, hehe.

(ternyata tidak ada resep khusus, masih seperti metode menghafal pada umumnya yang menitik beratkan pada pengulangan bacaan, hmm, mungkin beliau bisa ratusan mengulang kali yak)

Ket. Foto: keseharian beliau di pabrik

Saya                       : Apa hambatan yang anda alami saat menghafal?

Abu salim             : Aduh jujur gak ya..hehe. Saya pernah operasi otak tahun 2015 karena nabrak mobil jadi jujur kadang lemot loadingnya, apalagi suasana pabrik yg campur baur antara laki-laki dan perempuan, fitnahnya banyak banget. Anllahul mustaan

(maa syaa Allah ternyata walaupun punya cidera yang cukup vital, tapi hal ini tidak membuat beliau patah semangat.)

Saya                       : Apa tips dari anda untuk menjaga semangat dan keistiqamahan dalam menghafal?

Abu Salim            : Berteman dengan orang yg semangat dalam menghafal dan murajaah, alhamdulillah digrup kami diprogram hifdzul mutun Online Masjid nabawi banyak yg seperti itu, dan tentunya yg paling penting banyak berdoa Kepada Allah ta’ala supaya dimudahkan.

(teman memang punya pengaruh besar terhadap karakteristik seseorang, oleh karenanya baik-baiklah dalam memilih teman.)

Saya                       : Bagaimana tanggapan keluarga anda terutama istri ketika anda mengikuti program ini?

Abu Salim            : Mendukung sekali, adakalanya tatkala ujian atau lainnya yg berkenaan dengan hifdzul mutun istri dan anak ngungsi ke rumah teman, hehe.

(wah, kalau seperti ini keadaanya, berarti dukungannya totalitas ya. Semoga kita dikaruniai oleh Allah ta’ala istri yang shalihah, Aamiin)

Saya                       : Apa nasihat anda untuk segenap kaum muslimin terkhusus para penuntut ilmu?

Abu Salim            : Menghafal adalah aktifitas yang tidak bisa dilepaskan dari penuntut ilmu, maka teruslah bersemangat dalam menghafal.

(gimana para penuntut ilmu, siap menerima tantangan?!)

Saya                       : Apa harapan anda setelah menyelesaikan program ini?

Abu salim             : Bisa paham dan mengamalkan apa yang dihafal dan semoga bisa tetap memurajaah apa yg telah dihafal.

(baarakallahu fiik, memang tujuan dari apa yang kita hafal dan fahami bukan sekedar menyelesaikan target saja, namun tujuan akhirnya adalah mengamalkan apa yang kita telah pelajari.)

Inilah sekilah wawancara saya dengan beliau, semoga yang sedikit ini bisa memotivasi diri penulis pribadi maupun para pembaca. Akhir kata saya ucapkan rasa terima kasih kepada Pak Abu Salim Iman Kustiman yang telah besedia berbagi pengalaman disini, jazaakallahu khairan katsiraa.

Berikut ini penampakan Ijazah yang beliau peroleh dari program ini:

 

Ijazah Semester I

Ijazah Semester II

Ijazah Semester III

 

Ijazah Semester IV