pencil

Dua Anak Cukup, Banyak Lebih Baik

Sesungguhnya di antara tujuan penting diberlangsungkannya pernikahan ialah melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi staved perjuangan orangtua. Bahkan untuk tujuan mulia ini, Islam mengajarkan pemeluknya agar mencari sebab-sebab yang mendatangkan banyaknya anak dan keturunan, salah satunya ialah dengan memilih pasangan yang terindikasi subur.

Kenyataan ini ternyata juga dijumpai pada para nabi dan rasul terdahulu. Di dalam Al-Quran, Allah banyak menceritakan betapa mereka sangat mendambakan keturunan yang banyak.

Lihatlah di antara doa Nabi Ibrahim –‘alaihissalam– yang beliau panjatkan kepada Allah ialah agar diberi keturunan yang shalih, sebagaimana dalam ayat ke-100 dari Surat Al-Shaffat:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ الصَّالِحِينَ

“Wahai Rabb-ku, karuniakan kepada diriku keturunan-keturunan yang shalih.”

Tentang Nabi Zakariya, Allah menceritakan:

إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيّٗا

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا

وَإِنِّي خِفۡتُ ٱلۡمَوَٰلِيَ مِن وَرَآءِي وَكَانَتِ ٱمۡرَأَتِي عَاقِرٗا فَهَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيّٗا

يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنۡ ءَالِ يَعۡقُوبَۖ وَٱجۡعَلۡهُ رَبِّ رَضِيّٗا

يَٰزَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَٰمٍ ٱسۡمُهُۥ يَحۡيَىٰ لَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ مِن قَبۡلُ سَمِيّٗا

“Tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya´qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” [QS Maryam: 3-7]

Dahulu kaum Nabi Syu’aib terhitung sedikit, namun kemudian Allah memperbanyak jumlah mereka sehingga Allah mengingatkan agar mereka selalu mensyukuri nikmat agung tersebut:

وَاذْكُرُوا إِذْ كُنتُمْ قَلِيلا فَكَثَّرَكُمْ

“Dan ingatlah tatkala jumlah kalian masih sedikit kemudian Allah memperbanyak jumlah kalian.” [QS Al-A’raf: 86]

Di antara iming-iming yang dijanjikan Nabi Nuh –‘alaihissalam- kepada umatnya agar mereka mau beriman kepada risalah yang beliau bawa dan beristighfar dari segala dosa keburukan ialah dibanyakkannya keturunan. Allah berfirman:

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا

يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا

وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا

Artinya, Nabi Nuh –alaihissalam– berkata kepada kaumnya yang membangkang, tidak mau mengimaninya, “Akupun berkata kepada mereka, mintalah ampunan dari Rab kalian dengan cara bertaubat, karena sejatinya Dia Mahapengampun kepada sesiapa yang mau bertaubat kepadanya.

Apabila kalian melakukan hal tersebut, tentulah Allah akan menurunkan hujan yang lebat setiap saat kalian membutuhkannya sehingga paceklik tidak akan menyapa kalian. Dia juga akan memberikan kalian harta berlimpah serta keturunan yang banyak, memberikan perkebunan yang dapat kalian manfaatkan hasilnya, membuatkan untuk kalian sungai yang airnya dapat kalian minum dan memberi minum perkebunan serta hewan peliharaan kalian.” [Nuh: 10, 11, dan 12/Al-Mukhtashar fi At-Tafsir]

Hal tersebut menunjukkan bahwa cita-cita memiliki banyak keturunan merupakan fitrah umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, jika ada manusia-manusia yang justru mengkhawatirkan berketurunan banyak, berarti fitrahnya telah rusak digerogoti media-media propaganda yang dipelopori oleh negara-negara kafir!

Selain itu, Allah juga memuji dan menyanjung doa hamba-hamba-Nya yang shalih yang berisi agar diberi keturunan yang banyak:

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS Al-Furqan: 74]

Sebagaimana telah disinggung di muka, bahwa Islam pun mengajarkan pemeluknya agar mencari sebab-sebab agar diperbanyak keturunan. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Shahabat Ma’qil bin Yasar, bahwasanya ada seorang laki-laki yang mendatangi Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Ia melaporkan, “Sesungguhnya diriku telah memperoleh seorang wanita yang mulia dan cantic jelita. Akan tetapi ia mandul. Apakah aku harus menikahinya?”

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menajwab, “Tidak.”

Ketika laki-laki tersebut mendatangi beliau untuk kali keduanya, beliau tetap melarangnya. Dan pada kali ketiganya, beliau bersabda kepadanya:

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الأُمَمَ

“Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan banyak keturunan. Sebab, diriku akan membanggakan kalian di hadapan umat-umat terdahulu.”

Perhatikan betapa kecantikan menjadi tidak penting ketika kecantikan tersebut justru tidak mendatangkan keturunan. Karena apalah arti sebuah tampilan, namun jumlahnya sedikit. Apatah lagi manfaat yang akan diperoleh oleh seorang suami dari istrinya yang cantik namun tidak berketurunan, tidak sebarapa besar. Bahkan hanya sementara saja oleh karena kecantikan pun akan pudar pula dimakan usia. Berbeda halnya dengan istri yang subur.

Rasulullah –shallalahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal, maka segala amal kebajikannya terputus melainkan tiga hal, yaitu sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan keturunan shalih yang selalu mendoakan kebaikan untuknya.”

Dan ketika orangtua sudah berada di masa tuanya, seluruh anggota tubuhnya telah melemah, maka anak-anaknya lah yang akan bertanggungjawab merawatnya. Atau setidaknya, ada anak keturunannya menemaninya hingga tutu usia. Bukankah keinginan orangtua di masa senjanya hanya satu, yaitu kehadaran anak keturunannya di sekitarnya, bukan uang atau kabar berita kesuksesannya di luar sana!

Apabila keterangan di atas sudah dimengeti dengan baik, maka ketahuilah bahwa semboyan-semboyan yang akhir-akhir ini digalakkan yang intinya meminta agar kaum muslimin membatasi anak dengan mencukupkan dua anak saja, maka sesungguhnya merupakan propaganda yang sengaja dimunculkan oleh dunia Barat yang kafir. Mereka sangat mengkhawatirkan pertumbuhan kaum muslimin di seluruh dunia.

Kalau kita mau melihat realita, ternyata propaganda ini hanya disuarakan di tengah kaum muslimin, sedangkan orang-orang kafir sebaliknya. Mereka dimotivasi terus agar memperbanyak keturunan.

Propaganda-propaganda yang hanya menguntungkan orang-orang kafir tersebut, ada kalanya disamarkan dengan berbagai alasan yang dianggap masuk akal, salah satunya ialah masalah rezeki. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa memiliki banyak anak hanya akan mengurangi perhatian terhadap mereka, entah dalam segi pendidikan maupun yang lainnya. Celakanya, alasan ini diamini oleh kaum muslimin. Padahal sesungguhnya alasan inilah yang sangat Allah cela dalam Al-Quran. Allah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena khawatir miskin. Kamilah yang memberi rizki anak-anak itu dan juga kalian.” [QS Al-Isra’: 31]

Allah juga berfirman:

يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ

“Mereka berperasangka yang tidak benar terhadap Allah, layaknya perasangka orang-orang Jahiliyah.” [QS Alu ‘Imran: 154]

Kemudian mengkhawatirkan kemiskinan karena banyak keturunan merupakan tindakan yang sangat-sangat tidak terpuji. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa ada perasangka buruk kepada Allah, bahwa Allah akan meninggalkannya dan tidak memberinya kecukupan rezeki. Kalau saja perasangka ini dipelihara oleh seseorang, maka kejadiannya akan seperti yang ia sangkakan. Sebab, Allah akan mengikuti perasangka hamba-Nya, sebagaimana yang Allah katakana dalam sebuah hadits qudsi yang masyhur:

أنا عند ظن عبدي بي؛ إن ظن بي خيراً فله، وإن ظن شراً فله

“Aku akan bersama perasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Apabila ia berperasangka baik terhadap-Ku, maka itulah baginya. Namun jika ia berperasangka buruk terhadap-Ku, maka itulah bagiannya.” [HR Imam Ahmad]

Karena itu, sudah sepantasnya bagi seorang hamba agar senantiasa berperasangka baik terhadap Rabb-nya, karena itulah yang akan ia peroleh.

Apabila demikian, maka sesungguhnya program KB yang mungkin digalakkan oleh pemerintah, wajib diselisihi karena bertentangan dengan syariat Allah Ta’ala. Walaupun hukum asalnya pemerintah wajib ditaaati, namun jika berlawanan dengan undang-undang Allah Ta’ala, wajib dilanggar. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak boleh mentaati makhluk pada perkara-perkara yang bernilai bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Imam Ahmad]

Namun apabila tetap ada orang yang ngotot untuk tetap mentaati aturan-aturan pemerintah yang berlawanan dengan syariat Allah, maka berarti ia telah menjadikan pemerintahnya tersebut sebagai thaghut dan menjadikannya tandingan Allah Ta’ala.

Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, meriwayatkan dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa beliau pernah ditanya tentang hukum ‘azl, yaitu mengeluarkan air seperti di luar rahim wanita, maka beliau menjawab:

ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ

“Itu merupakan penguburan hidup-hidup yang samar-samar.”

Imam An-Nawawi mengomentari kenapa ‘azl disebut mengubur hidup-hidup yang samar, karena perbuatan tersebut merupakan sebab terputusnya keturunan, persisi seperti mengubur anak hidup-hidup, sebagaimana kebiasaan masyarakat Jahiliyah.

Kalau ‘azl saja dinyatakan demikian, apalagi program KB dengan –misalnya- sampai mengangkat rahim, suntik KB, dan atau cara-cara yang semisalnya.

Akhirnya, marilah kita selaku kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak keturunan dengan maksud supaya kelak mereka dapat menegakkan syariat Allah di atas muka bumi dan memperjuangkan kebenaran!

Wadi Mubarak, 1 Juli 2018