pencil

Keterangan yang Berkaitan dengan Bid’ah

Pengantar

Tulisan ini kami cuplik dari salah satu bab yang ada kitab karangan Mbah Kyai Mishbah bin Zainal Mushtafa Bangilan Tuban yang berjudul “Nuz-hatul Afkar”, yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan huruf arab pegon. Kitab Nuzh-hatul Afkar sendiri secara umum berisi kritik dan nasihat yang disampaikan oleh Mbah Mishbah atas beberapa amaliyah keagamaan yang dilakukan oleh sebagian penganut thariqah yang dipandang oleh Beliau kurang sesuai dengan tuntunan agama.

 

Mbah Mishbah sendiri merupakan salah seorang murid dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliau pada beberapa kesempatan dalam karyanya sering mengkritik amaliyah/tradisi yang biasanya dilakukan oleh masyarakat awam pada umumnya, dan penganut thariqah pada khususnya.

 

Beliau masyhur sebagai ulama kalangan tradisional yang tidak membolehkan kegiatan musabaqah tilawatil qur’an, program Keluarga Berencana (KB), penggunaan pengeras suara dalam shalat dan dzikir. Beliau juga menentang pendirian Bank Perkreditan Rakyat yang didirikan oleh organisasi NU dan bahkan menulis buku khusus tentangnya yang diberi judul “BPR NU dalam Tinjauan Al Qur’an”. Beliau juga mengkritik tradisi haul, prosesi pelaksanaan tahlilan, ziarah, sanjungan berlebihan terhadap guru mursyid thariqah, dan lain-lain. Beliau juga merupakan salah seorang dari sedikit kyai tradisional yang tidak ikut-ikutan mencela Ibnu Taimiyyah dan bahkan membelanya seperti yang Beliau tulis dalam Masa-il ar Rijal dan Nurul Mubin.

 

Meskipun demikian, Beliau tetaplah seorang ulama yang sangat berpegang pada madzhab. Beliau menganjurkan untuk bermadzhab dan mengkritik sebagian kalangan yang menolak/anti madzhab. Bahkan pada beberapa kesempatan Beliau mengkritik Majelis Tarjih Muhammadiyah yang menurutnya belum memenuhi persyaratan untuk berijtihad sendiri. Selain itu, Beliau sendiri – meskipun kritis terhadap amaliyah thariqah – kabarnya masih tetap saja merupakan seorang penganut thariqah, yakni thariqah Syadziliyyah.

 

Kesimpulannya, Mbah Mishbah ini merupakan kyai yang unik dan independen. Pandangan-pandangan Beliau seolah-olah berada pada posisi tengah, antara golongan tradisional dengan golongan reformis. Karena posisi inilah, Beliau tidak memihak dan kritis terhadap kedua golongan tersebut.

 

Dalam tulisan Beliau tentang bid’ah yang kami terjemahkan ini akan nampak dengan jelas bagaimana keunikan pandangan Beliau tersebut. Untuk mempermudah pemahaman, kami menambahkan judul sub-bab dalam kurung. Selamat membaca.

 

Keterangan Yang Berkaitan dengan Bid’ah

Oleh Mbah Kyai Mishbah bin Zainal Mushthafa Bangilan Tuban

 

(Kewajiban Berpegang Teguh Kepada Al Qur’an dan Sunnah Dan Celaan Terhadap Bid’ah)

Setiap orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan, wajib berpegang pada Kitab Suci Al Qur’an dan SunnahSunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, baik dalam i’tiqad, ucapan, perbuatan, maupun akhlak. Hal ini dikarenakan Allah berfirman :

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا

(QS. Ali Imran ayat 103)

Maknanya : “Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah – yakni Al Qur’an -, dan jangan sampai saling berpecah belah meninggalkan Al Qur’an”.

 

Dan Allah berfirman :

تُرْحَمُونَ لَعَلَّكُمْ وَاتَّقُوا فَاتَّبِعُوهُ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ كِتَابٌ وَهَذَا

(QS. Al An’am ayat 155)

Maknanya : “Yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini adalah kitab yang Aku turunkan kepada Muhammad, Kitab yang membawa berkah, oleh karenanya kalian semua hendaknya mengikuti Al Qur’an, agar kalian semua dianugerahi rahmat yang khusus oleh Allah”.

 

Dan Allah berfirman :

تَهْتَدُونَ لَعَلَّكُمْ وَاتَّبِعُوهُ وَكَلِمَاتِهِ بِاللَّهِ يُؤْمِنُ الَّذِي الْأُمِّيِّ النَّبِيِّ وَرَسُولِهِ بِاللَّهِ فَآمِنُوا

(QS. Al A’raaf ayat 158)

Maknanya : “Oleh karenanya kalian semua wajib beriman kepada Allah dan utusan Allah, yakni seorang Nabi yang lahir di Makkah yang telah beriman kepada Allah dan perkataan-perkataan Allah dan kalian semua wajib mengikuti Nabi tersebut agar kalian semua mendapat petunjuk dari Allah”.

 

Adapun yang dimaksud dengan “sunnah” adalah perkataan Nabi Muhammad, perbuatannya, dan ketetapannya.

 

Imam Bukhari meriwayatkan dari Siti ‘Aisyah radhiyallahu’anha, Beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ اى مردود

yang artinya : “Barang siapa mengada-ada dalam agama kami suatu urusan yang bukan termasuk agama kami, maka urusan tersebut harus ditolak”.

 

Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Jaabir radhiyallahu’anhu, Beliau berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ « صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ ». وَيَقُولُ « بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ ». وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثٍ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

Maknanya :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam apabila berkhutbah kedua matanya terlihat memerah, dan suaranya semakin keras, dan sangat marah, seolah-seolah seperti seorang komandan yang sedang menakut-nakuti tentaranya yang berkata : ‘Musuh akan segera menyerang dalam waktu dekat, musuh akan segera menyerang dalam waktu dekat’. Dan Rasulullah berkata : ‘Aku diutus pada masa yang antara aku dengan hari kiamat itu seperti dua jari ini (jari telunjuk dan jari tengah)’. Rasulullah berkata : ‘Amma ba’du. Ketahuilah ! Perkataan yang paling baik adalah Kitab Allah (Al Qur’an), petunjuk yang paling baik adalah petunjuknya Nabi Muhammad, perkara agama yang paling jelek adalah urusan yang diada-adakan (baru), setiap urusan agama yang diada-adakan (baru) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.’”

 

Imam Thabarani meriwayatkan dari Ghudhaif bin Harits, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

ما من امة ابتدعت بعد نبىها فى دينها بدعة الا اضاعت مثلها من السنة

Maknanya : “Setiap umat yang mengadakan bid’ah di dalam agamanya setelah ditinggalkan oleh Nabinya dalam agamanya, umat tersebut pasti meninggalkan sunnah Nabinya sepadan dengan bid’ah yang diada-adakan itu.”

 

Imam Thabrani meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Beliau berkata :

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

Maknanya : “Ketahuilah ! Allah Ta’ala menghalangi taubat dari setiap orang melakukan bid’ah sampai orang tersebut meninggalkan bid’ah-nya.”

 

Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, Beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

ابى الله ان يقبل عمل صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

Maknanya : “Allah Ta’ala tidak menerima amalan orang yang melakukan bid’ah, – baik itu amalan puasa, haji, umrah, perang, sunat maupun fardhu -, semua tidak diterima. Orang yang melakukan bid’ah itu keluar dari Islam seperti rambut yang dikeluarkan dari adonan roti.”

 

Imam Malik rahimahullah berkata : “Barang siapa mengadakan perkara baru, suatu urusan yang tidak dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu (sahabat Nabi), maka jelas orang tersebut mempunyai anggapan bahwa Nabi Muhammad telah mengkhianati tugas kenabian sebagai utusan Allah.”

 

Ulama-ulama zaman dahulu menjelaskan bahwa bid’ah apabila diadakan/dilakukan maka akan berjalan terus menerus. Berbeda dengan melakukan maksiat, karena kadang-kadang (orang yang melakukannya) bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala.

 

Sayyid Abdullah al Haddad berkata : “Sebagian dari perkara yang paling aku khawatirkan untuk umat Islam adalah perkara bid’ah di dalam agama Islam, dan menyembunyikan keraguan berkaitan dengan hukumnya Allah dan utusan-Nya serta adanya Hari Akhir.”

 

(Pembagian Bid’ah menurut Ahli Fiqih)

Para ulama ahli fiqih berkata bahwa bid’ah itu ada yang mubah (dibolehkan) seperti membuat dan menggunakan ayakan tepung agar roti lebih enak dimakan. Ada yang mustahab seperti membangun menara dan madrasah, mengarang kitab agama. Bahkan ada yang wajib seperti menyusun dalil-dalil untuk menyanggah dan menghilangkan kesamaran yang dilontarkan oleh orang-orang yang menyeleweng.

 

Perkatan seperti tersebut di atas bertentangan dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة (setiap bid’ah itu sesat). Perkataan Rasulullah ini menunjukkan bahwa semua bid’ah itu haram, semua bid’ah itu jelek. Karena setiap yang disebut “dhalalah” itu pasti haram.

 

(Bid’ah dalam Makna Umum)

Oleh para ulama dijelaskan bahwa bid’ah itu ada yang menggunakan makna umum dan ada yang menggunakan makna khusus.

 

Bid’ah yang menggunakan makna umum didefiniskan sebagai :

ما لم يكن فى عهد رسول لله ولا فى عهد الصحابة عبادة او عادة

Maksudnya : semua perkara yang tidak ada pada zaman Rasulullah dan para sahabat, baik berupa perkara ibadah maupun adat.

 

Bid’ah yang menggunakan makna umum inilah yang dibagi oleh para ulama menjadi wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram.

 

Ketetapan penempatan tiap-tiap bid’ah yang lima ini adalah menurut kaidah-kaidah wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram. Akan tetapi, menempatkan bid’ah dalam kaidah-kaidah hukum yang lima tersebut adalah sangat sulit dan orang yang menetapkannya haruslah seorang mujtahid.

 

(Bid’ah Dalam Makna Khusus)

Adapun bid’ah yang menggunakan makna khusus didefinisikan sebagai :

الزيادة و النقصان منه الحادثان بعد عصر الصابة بغير اذن الشرع لا قولا و لا فعلا و لا صريحا و لا اشارة كما فيه اعانت للدين

Maksudnya bahwa yang disebut bid’ah adalah mengadakan penambahan dan pengurangan dalam agama, yang muncul setelah zaman para sahabat, tanpa ada izin dari Syari’ – yakni tidak bersesuaian dengan dalil agama -, baik dalil yang berupa perkataan maupun yang berupa perbuatan, baik secara jelas maupun secara isyarat.

 

Contohnya adalah shalatnya seseorang dengan menghadapkan gambar gurunya dihadapannya seperti yang terdapat pada sebagian orang-orang thariqat, doa atau membaca Al Qur’an menggunakan pengeras suara, lebih-lebih pada acara Musabaqah Tilawatil Qur’an. Namun apabila penambahan dan pengurangan itu ada izin dari Syari’ – maksudnya dalil dari agama meskipun secara isyarat -, maka hal tersebut tidak termasuk bid’ah.

 

Bid’ah yang menggunakan makna khusus ini tidak mengenai perkara adat (kebiasaan). Yang dimaksud dengan perkara adat adalah perkara yang menurut asalnya ditujukan untuk mendapatkan apa yang menjadi keperluan hidup di dunia, seperti mesin jahit, sepeda, dan lainnya.

 

Bid’ah yang menggunakan arti khusus ini terkhususkan pada sejumlah i’tiqad dan sebagian dari cara-cara beribadah. Bid’ah yang menggunakan arti khusus inilah yang dimaksud oleh perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam : وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة.

 

Dalilnya adalah perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam :

فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين

Maknanya : “Kalian semua hendaknya menetapi sunnah-ku dan sunnah-sunnah para Khalifah yang memberikan petunjuk kepada perkara yang benar”, karena sunnah Rasulullah itu tidak termasuk di dalamnya perkara adat.

 

Selain dalil ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda :

انتم اعلم بدنياكم

Maknanya : “Kalian semua itu lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.”

 

Hadits kedua ini memberikan isyarat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam itu membolehkan segala perkara yang diadakan (baru) yang berkaitan dengan urusan dunia.

 

Selain itu ada juga dalil lain yakni perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Maknanya : “Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru di dalam agama kami yang bukan termasuk perkara agama, perkara tersebut harus ditolak.”

 

Arti مَا لَيْسَ مِنْهُ yakni perkara yang tidak didasarkan pada agama Islam. Jadi, perkara yang diada-adakan (baru) yang ada pada selain perkara agama maka tidak boleh ditolak. Dan setiap perkara yang tidak boleh ditolak maka perkara tersebut tidak boleh disebut bid’ah.

 

Ringkasnya : kata bid’ah yang disebut di depan adalah bid’ah yang menggunakan arti khusus.

 

Adapun kata bid’ah yang ada di dalam perkataan ulama ahli fiqih yang dibatasi dengan :

ما لم يكن فى عهد رسول لله ولا فى عهد الصحابة عبادة او عادة

atau bid’ah yang dibagi menjadi lima macam, maka itu bid’ah yang menggunakan arti umum.

 

Bid’ah yang menggunakan arti khusus itu pasti sayyi’ah (jelek), namun bid’ah yang menggunakan arti umum itu tidak selalu jelek.

 

(Penjelasan Lebih Lanjut Tentang Pembagian Bid’ah)

Bid’ah itu adakalanya di dalam perkara i’tiqad, yang disebut dengan bid’ah i’tiqaadiyyah. Adakalanya di dalam perkara adat, yang disebut dengan bid’ah ‘aadiyyah. Dan adakalanya di dalam perkara ibadah, yang disebut dengan bid’ah ‘ibaadiyyah.

 

Adapun yang dimaksudkan dengan kata bid’ah dalam hadits Ibnu Majah tersebut di atas :

ابى الله ان يقبل عمل صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

maka ini adalah bid’ah i’tiqad, yaitu bid’ah yang bertentangan dengan kaidah-kaidah ulama Ahlus Sunnah.

 

Bahkan sebagian ulama berkata : “Apabila ada kata bid’ah yang disebut dalam hadits yang bersifat mengancam, maka itu pasti bid’ah i’tiqad” (lihatlah Kitab Tahdzibul Furuq karangan Syaikh Ali Maliki).

 

Kemudian, sebagian dari bid’ah i’tiqad ada yang dianggap kufur oleh para ulama, seperti meng-i’tiqad-kan sifat jisim bagi Allah, maksudnya meng-i’tiqad-kan bahwa Allah mempunyai jisim yang serupa dengan jisim lainnya (selain Allah). Sebagian bid’ah i’tiqad ada juga yang tidak termasuk dalam kekufuran, seperti mengingkari adanya pertanyaan dalam qubur. Namun orang tersebut berdosa besar yang dosanya lebih besar daripada sebagian dosa yang berkaitan dengan amal selain i’tiqad, dan lebih besar daripada dosa membunuh dan dosa zina.

 

Lawan dari bid’ah i’tiqad adalah i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yakni i’tiqad yang ditetapkan oleh para ulama Ahlus Sunnah (ulama yang berpegangan pada sunnah Nabi) dan sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

 

Adapun bid’ah dalam perkara ibadah (bid’ah ‘ibaadiyyah), maka walaupun berada di bawah bid’ah i’tiqad di dalam kesesatannya, namun juga munkar dan dhalalah menurut madzhab Imam Hanafi, lebih-lebih apabila berbenturan – yakni bertentangan – dengan sunnah mu’akkadah. Apabila tidak bertentangan dengan sunnah mu’akkadah maka juga termasuk munkar menurut madzhab Hanafi. Namun menurut madzhab Imam asy Syafi’i hal tersebut tidak termasuk munkar, hanya makruh.

 

Lawan dari bid’ah ‘ibaadiyyah adalah yang disebut dengan sunnatul huda, yakni perbuatan sunnah yang rutin dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dan termasuk ke dalam jenis ibadah. Termasuk pula didalamnya perbuatan yang kadang-kadang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad dan Beliau tidak mengingkari orang yang meninggalkannya, seperti i’tikaf, shalat hari raya, adzan, iqamah.

 

Adapun bid’ah dalam adat (bid’ah ‘aadiyyah) adalah perbuatan yang menurut asalnya tidak ditujukan untuk mendapatkan pahala, seperti mengendarai sepeda. Hal ini apabila dilakukan maka tidak dianggap dhalalah (sesat). Lawan bid’ah ‘aadiyyah adalah sunnah yang melebihi ibadah, yakni kebiasaan (adat) yang rutin dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, seperti memulai perkara yang baik menggunakan anggota tubuh sebelah kanan, seperti makan, minum. Juga seperti memulai dengan menggunakan anggota tubuh sebelah kiri terhadap kebiasaan (adat) yang jorok dan hina, seperti cebok, mengeluarkan ingus, dan semisalnya. Ini semua disebut sunnah zaa-idah.

 

Jadi sudah jelas, bahwa bid’ah menggunakan arti umum ما لم يكن فى عهد رسول لله ولا فى عهد الصحابة itu ada tiga jenis, yakni Bid’ah i’tiqaadiyyah, bid’ah ‘ibaadiyyah, dan bid’ah ‘aadiyyah. Di depan juga sudah dijelaskan bahwa bid’ah yang menggunakan arti khusus tidak bisa mengenai adat (kebiasaan).

 

(Contoh-Contoh Perbuatan Yang Dianggap Bid’ah Dan Yang Bukan Bid’ah)

Jadi apabila sudah dipahami penempatan bid’ah seperti yang sudah disebutkan di depan, maka perbuatan membuat menara untuk adzan itu termasuk bid’ah mustahab, karena membangun menara dapat membantu mengetahui masuknya waktu shalat. Dimana hal tersebut merupakan maksud dari adanya adzan. Begitu pula, adzan dengan menggunakan pengeras suara juga termasuk bid’ah mustahab.

 

Akan tetapi, memutar kaset Al Qur’an sebelum adzan, apalagi shalat dan doa dengan menggunakan pengeras suara, bisa termasuk bid’ah, karena bertentangan dengan firman Allah :

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

(QS. Al Anfal ayat 205).

 

Begitu juga, mengucapkan niat juga termasuk ke dalam bid’ah mustahab, karena dapat membantu memantapkan apa yang diniatkan. Namun ada juga yang menyebutnya sebagai bid’ah dhalalah, dengan alasan bid’ah mengucapkan niat itu menghilangkan fardhu. Hal ini dikarenakan kebanyakan kaum muslimin merasa cukup hanya dengan mengucap secara lisan saja tanpa memantapkan niatnya di dalam hati dan tidak peduli pada apa yang ada di dalam hatinya. Jadi perbuatan tersebut dianggap termasuk ke dalam perbuatan yang meninggalkan salah satu fardhu shalat, yaitu niat dengan hati. Sudah pasti pihak yang menyebut perbuatan tersebut sebagai bid’ah mustahab juga mempunyai dalil yang tidak perlu dijabarkan.

 

Membangun madrasah, mengarang kitab agama dan alat-alatnya serta menerjemahkannya, seperti kitab dalam ilmu nahwu dan sharaf, semua itu dapat membantu dalam mengajarkan Al Qur’an dan Hadits serta tabligh atau dakwah. Kedua-duanya termasuk ke dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah yang dimaksud oleh syara’. Sedang menurut kaidah fiqih : الوسيلة للقربة قربة, yang artinya bahwa setiap hal yang menjadi sebab qurbah – maksudnya pendekatan diri kepada Allah – maka itu bisa dianggap qurbah pula.

 

Begitu pula tentang perbuatan membantah orang-orang ahli bid’ah dengan menyusun dalil-dalil, maka itu berarti mencegah hal yang munkar. Semua itu diizinkan oleh Syara’, bahkan diperintahkan. Karena semua itu bisa bermanfaat untuk hamba-hamba Allah dalam bab ibadah.

 

Namun perlu diingat, para ulama ahli fiqih berkata : “Apabila kita ragu-ragu dalam melakukan satu perbuatan, apakah itu termasuk sunnah atau bid’ah, maka itu wajib ditinggalkan”. Karena melakukan bid’ah itu lebih merugikan agama ketimbang meninggalkan sunnah. Karena yang umum terjadi pada orang yang melakukan bid’ah adalah orang tersebut berkeyakinan bahwa perbuatan bid’ah tersebut merupakah sunnah. Namun apabila seseorang meninggalkan sunnah, maka orang tersebut tidak berkeyakinan taat pada hal yang ditinggalkannya tersebut.

 

(Peringatan Pertama : Tidak Mudah Menentukan Suatu Perbuatan Menjadi Bid’ah)

Selanjutnya, adalah tidak mudah dalam menentukan suatu perbuatan itu termasuk ke dalam bid’ah. Karena hadits-hadits dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam yang ada di dalam dada para ulama itu tidak hanya seribu atau dua ribu saja, namun ratusan ribu hadits.

 

Saridin membenci Sukijan, karena Sukijan apabila telah selesai shalat kemudian wiridan. Sukijan dianggap ahli bid’ah, وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة. Kemudian Sukijan mendatangkan hadits-hadits yang menerangkan anjuran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam ketika selesai shalat fardhu untuk membaca tasbih 33 kali, hamdalah 33 kali, dan takbir 33 kali, serta hadits-hadits lainnya yang berkaitan dengan apa saja yang diwiridkan setiap selesai shalat.

 

Selanjutnya, Saridin memberikan fatwa bahwa membaca Al Qur’an pada waktu malam hingga pagi itu bid’ah dan haram, karena Allah Ta’ala menjadikan waktu malam untuk beristirahat. Allah berfirman : وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا. Begitu pula membaca shalawat dan dzikir bersama-sama itu semua bid’ah, وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة.

 

Namun itu semua dijawab oleh Sukijan dengan hadits-hadits yang bisa dipertanggungjawabkan, seperti hadits :

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

 

Ringkasnya, kita tidak perlu ramai. Lebih-lebih ada hadits :

من سن في سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة

Maknanya : “Barang siapa yang melakukan suatu perkara yang baik, orang tersebut mendapat pahala kebaikan itu dan pahala orang yang melakukan kebaikan itu hingga hari kiamat”.

 

Namun perlu diingat juga bahwa melakukan perkara yang dianggap baik itu juga tidak mudah. Karena dapat juga bertentangan dengan sunnah Nabi yang sah. Dalam hadits lainnya dikatakan :

من سن سنة سيئة ً فعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِل بها إلى يوم القيامة

Maknanya : “Barang siapa yang melakukan perkara yang jelek, orang tersebut akan mendapatkan dosa kejelekan tersebut dan dosa orang yang melakukan kejelekan tersebut hingga hari kiamat”.

 

(Peringatan Kedua : Kritik Atas Sikap Sekelompok Orang Yang Bermudah-mudahan Dalam Tabdi’)

Sungguh ! Membuat-buat bid’ah itu mudah, karena cocok dengan nafsu. Namun menentukan suatu tindakan sebagai bid’ah juga sangat susah. Apalagi orang yang menentukannya termasuk orang yang ucapan dan amaliyyahnya didorong oleh nafsu, bukan didorong oleh iman. Nafsu ingin menjadi orang yang menonjol, nafsu merebut pengaruh, nafsu bisa mendapatkan kedudukan terhormat di kalangan masyarakat.

 

(Sebagai contoh adalah) seperti sekelompok orang di zaman sekarang yang telah menuduh orang-orang yang menjalankan agama dengan menggunakan madzhab itu salah, atau menuduh orang yang taqlid kepada salah satu dari Imam Empat itu salah, dan bahwa semua itu termasuk ke dalam apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala : اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ .

 

(Mereka juga mengatakan bahwa) taqlid kepada salah satu madzhab empat itu haram, bahkan ada yang menyebutnya kufur. Setiap orang Islam wajib mencari hukum langsung dari kitab Al Qur’an atau hadits. Orang-orang tersebut mengganggap bahwa madzhab-madzhab yang telah ada sejak zaman Imam Empat hingga sekarang ini – yang telah ada lebih dari seribu tahun, semua itu adalah bid’ah yang timbul setelah zamannya Nabi. Jadi semua madzhab itu dhalalah, وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة. Madzhab-madzhab empat itu semua bertentangan dengan madzhabnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Orang-orang tersebut juga mengatakan bahwa umat Islam wajib mengikuti madzhabnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, kemudian madzhabnya khalifah-khalifahnya Nabi Muhammad ar Rasyidin.

 

Namun anehnya, apabila orang-orang tersebut libur kerja, maka mereka mengikuti madzhabnya orang-orang Nasrani, yakni libur di hari Ahad. Tidak mau libur di hari Jum’at yang menjadi sunnah-nya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Orang yang demikian itu apabila membuat tanggal dalam surat-suratnya, mereka menggunakan madzhabnya orang-orang Nasrani, yakni tanggalan Masehi, tidak mau menggunakan madzhabnya Sahabat, yakni tanggalan Hijrah Nabi, sunnatul khulafaa-ir rasyidin.

 

Orang-orang yang demikian itu juga bisa dituduh oleh orang-orang yang mengakui madzhab sebagai orang-orang yang mendewa-dewakan ulama-ulamanya sendiri, yang tersebar di Negara-Negara Arab, seperti Mesir dan lain-lainnya. Golongan anti madzhab ini juga bisa dianggap اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ. Golongan anti madzhab ini juga mudah dibuat takjub saat memandang pemimpin/atasannya yang pintar membuat dalil. Golongan anti madzhab ini juga bisa dianggap sebagai Ahli Bid’ah.

 

Penulis dalam bab ini tidak campur tangan. Hanya saja Penulis ingin melihat agar masyarakat Islam ini diberikan kebebasan berpikir. Jangan selalu didikte, sehingga dalam seluruh persoalan agama dan perjuangan jangan sampai hanya “apa kata bapak”, “apa kata bapak kyai”. Dan masyarakat Islam dapatlah ditingkatkan ilmu dan pengalamannya terhadap………… *(naskah terhenti sampai disini)

Wallahu a’lam.

 

Dinukil dari Kitab Nuz-hatul Afkar karya Mbah Kyai Mishbah bin Zainal Mushtafa, halaman 44 – 62. Tambahan Judul sub-bab dari kami.