pencil

Untukmu yang Mendambakan Ampunan dan Surga

Tauhid meruapakan suatu kewajiban yang wajib ditunaikan pertama kali dan seutama-utama ibadah yang harus direalisasikan sepanjang hidup. Oleh karena itu, sebagaimana kaidah yang telah berlaku bahwa balasan itu berbanding lurus dengan perbuatan, maka Allah Ta’ala telah menyiapkan pahala yang begitu besar untuk siapa saja yang melaksanakan kewajiban ini.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka tersebut dengan kezhaliman, maka bagi mereka rasa aman dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” [QS Al-An’am: 82]

Kezhaliman menurut kosakata yang masyhur bermakna meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Namun kezhaliman yang dimaksud dalam ayat ini ialah kemusyrikan yang merupakan kezhaliman yang paling keji. Hal tersebut karena ibadah yang seharusnya hanya diperuntukkan Allah Ta’ala semata, malah dipalingkan untuk selain-Nya.

Dalil yang menunjukkan bahwa yang kezhaliman di sini ialah kemusyrikan ialah hadits Ibnu Mas’ud, beliau mengisahkan bahwa tatkala ayat ke-82 dari Surat Luqman ini diturunkan, para shahabat merasa keberatan sehingga mengadukannya kepada baginda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Mereka berkata, “Rasulullah, adakah di antara kami yang tidak mencampuri keimanannya dengan kezhaliman?” Mendengar keluhan tersebut, beliau kemudian menanggapi:

ليس الذي تذهبون إليه، الظلم: الشرك، ألم تسمعوا لقول العبد الصالح: إن الشرك لظلم عظي

“Tidak seperti yang kalian fahami. Kezhaliman di sini maksudnya ialah kemusyrikan. Tidakkah kalian mendengar pernyataan seorang yang shalih (baca: Luqman), ‘Sejatinya kemusyrikan merupakan kezhaliman yang teramat besar.’” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Kemudian ayat di atas memberi pengertian bahwa balasan orang yang menjaga tauhidnya dari berbagai kemusyrikan, entah itu syirik besar maupun syirik kecil, akan mendapatkan rasa keamanan dan ketentraman. Dari situ maka semakin tauhid seseorang sempurna tak ternodai oleh kemusyrikan, maka rasa aman dan ketentraman dalam hatinya akan semakin sempurna, sedangkan orang yang kadar serta kualitas tauhidnya menyusut, maka dikala itu pula rasa aman dalam hatinya turut berkurang. Karena sekali lagi “الجزاء من جنس العمل”, yaitu bahwa balasan itu berbanding lurus dengan perbuatan.

Di antara ganjaran yang Allah janjikan kepada siapa saja yang mewujudkan tauhid dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan ialah seperti yang diterangkan dalam hadits ‘Ubadah bin Ash-Shamit, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، والجنة حق والنار حق، أدخله الله الجنة على ما كان من العمل

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya, ‘Isa merupakan hamba Allah dan utusan-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu kalimat kun) diberikan-Nya kepada Maryam dan ruh ciptaan-Nya, Surga benar adanya, dan neraka benar adanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga seberapa pun amalannya.” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Hadits yang agung ini memberikan pengertian bahwa janji surga akan diberikan kepada siapa saja yang bersaksi dan mengakui empat perkara, yaitu:

Pertama, bersaksi dan mengakui bahwa tidaka ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Ta’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya

Kedua, bersaksi dan mengakui bahwasanya Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muttalib Al-Hasyimi Al-Qurasyi merupakan hamba Allah Ta’ala sekaligus utusan-Nya

Ketiga, bersaksi dan mengakui bahwa ‘Isa bin Maryam ialah hamba dan utusan Allah Ta’ala, dan bahwa Allah menciptakan ‘Isa tersebut hanya dengan ucapan kun yang Allah lontarkan kepada ibundanya, yaitu Maryam, serta ruh ciptaan Allah. Persaksian berkaitan dengan ‘Isa bin Maryam di sini meliputi tiga pokok penting, yaitu:

  • Statusnya sebagai hamba Allah ‘Azza wa Jalla, yang ini merupakan sanggahan terhadap orang-orang yang beragama Nasrani yang meyakini bahwa ‘Isa bin Maryam itulah Allah, putra Allah, satu dari dzat yang tiga (trinitas). Apa yang mereka yakini pada diri ‘Isa yang sekaligus tuduhan keji terhadap Allah Ta’ala (karena berarti mereka menuduh bahwa Allah membutuhkan istri –maha suci Allah dari segala apa yang mereka tuduhkan), hampir-hampir langir pecah berkeping-keping dan pegunungan luluh lantah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِنۡهُ وَتَنشَقُّ ٱلۡأَرۡضُ وَتَخِرُّ ٱلۡجِبَالُ هَدًّا  أَن دَعَوۡاْ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٗا وَمَا يَنۢبَغِي لِلرَّحۡمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا

 

“Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” [QS Maryam: 90-92]

 

  • Statusnya sebagai penyampai risalah Allah ‘Azza wa Jalla kepada masyarakatnya, yang ini merupakan sanggahan terhadap keyakinan orang-orang Yahudi, dimana mereka mengingkari kerasulan ‘Isa –‘alaihissalam- dan menodai kehormatannya.
  • Bahwa ‘Isa bin Maryam diciptakan melalui firman-Nya, “Kun,” yang artinya adalah jadilah, kalimat tersebut kemudian dikirim-Nya melalui salah satu malaikat-Nya yang paling mulia bernama Jibril –‘alaihissalam– kepada Maryam, seorang gadis yang sangat menjaga kehormatan dirinya, lalu ditiupkanlah pada diri gadis suci tersebut ruh ciptaan Allah. Di dalam Al-Quran, Allah menjelaskan bahwa model penciptaan ‘Isa ini persis seperti model penciptaan Adam –‘alaihissalam-:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَۖ خَلَقَهُۥ مِن تُرَابٖ ثُمَّ قَالَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” [QS Alu ‘Imran: 59]

Baik digaris bawahi di sini bahwa jika Allah menginginkan sesuatu, Allah tinggal berfirman, “Kun”, saja. Tidak seperti anggapan sementara orang yang beranggapan bahwa kalimat yang Allah firmankan ketika menginginkan sesuatu ialah “Kun Fayakun.” Ini tentu sebuah perasangka yang jauh daripada kebenaran.

Keempat, bersaksi dan mengakui bahwa Surga dan Neraka benar adanya, bukan sesuatu yang fikif. Surga diperuntukkan orang-orang yang mau beriman kepada Allah dengan segala konsekuensinya, sementara Neraka dijanjikan untuk orang-orang yang enggan mengimani-Nya. Poin keempat ini sebenarnya bagian dari iman akan adanya hari akhir. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sengaja menyebutkan pada hadits ini secara khusus berdasarkan pertimbangan bahwa Surga dan Neraka merupakan muara terakhir bagi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang enggan beriman.

Dalam hadits lain riwayat Al-Bukhari dan Muslim juga, Rasulullah –shallalahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله، يبتغي بذلك وجه الله

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka dari orang yang berkata laa ilaaha illallah dengan mengharapkan wajah Allah.”

Tentu saja dengan mengamalkan segala konsekuensi persaksian tadi. Adapun orang yang hanya mengucapkannya dengan lisan tanpa ia buktikan dengan anggota badannya yang lain, maka sudah barang tentu tidak akan memberinya manfaat apa pun.

Kalimat, Allah akan memasukkannya ke dalam surga seberapa pun amalannya,” memberi pengertian bahwa selama seseorang menjaga tauhidnya dari segala noda-noda kemusyrikan, baik sekala besar maupun kecil, masih ada harapan baik di akhirat. Dan harapan baik yang dimaksud ialah surga sebagai tempat tinggalnya yang kekal abadi, walaupun boleh jadi ia akan dihantarkan ke neraka terlebih dahulu untuk menyucikan dosa-dosa yang ia perbuat (lain dari kemusyrikan). Sehingga boleh jadi ada tipe seroang muslim yang dikenal masyarakat sebagai pecandu barang-barang haram, menggemari judi, bahkan memakan riba, atau perbuatan-perbuatan dosa lain yang bukan termasuk dalam ketegori syirik –selama tidak menganggapnya halal-, maka tempat akhirnya kelak adalah surga. Namun mungkin juga ada tipe manusia yang lahiriahnya nampak sangat baik; shalat lima waktunya tidak pernah apsen, berhaji berulang kali, banyak bersedekah, namun di samping itu ternyata melakukan dosa kemusyrikan, seperti rajin datang ke kuburan agar hajatnya terpenuhi karena yakin bahwa penghuni kubur dapat memberikan untung sekaligus buntung, maka tempat akhirnya kelak ialah neraka jika ia tidak bertaubat sebelum ajal menjumpainya.

Kemudian di antara dalil lain yang menunjukkan betapa istimewanya tauhid dibanding amalan-manal lainnya ialah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau menceritakan:

قال موسى: يا رب علمني شيئا أذكرك وأدعوك به. قال: قل يا موسى: لا إله إلا الله ; قال: يا رب كل عبادك يقولون هذا. قال: يا موسى لو أن السموات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفة، مالت بهن لا إله إلا الله

“Musa berkata, ‘Rabb-ku, ajarilah diriku akan sesuatu yang dapat kumanfaatkan untuk mengingat dan memanjatkan doa kepada-Mu.’

Allah berfirman, ‘Musa, ucapkanlah laa ilaaha illallah.’

Musa berkata, ‘Rabb-ku, semua hamba-Mu mengucapkan kalimat tersebut.’

Allah berfirman, ‘Musa, seandainya langit yang tujuh lapis beserta penduduknya selain diri-Ku dan bumi yang tujuh langit itu diletakkan pada satu daun timbangan sedangkan laa ilaaha illallah diletakkan pada daun timbangan yang lainnya, tentulah laa ilaaha illallah akan lebih berat.” [HR Ibnu Hibban dan Al-Hakim]

Kisahnya ini menunjukkan bahwa Nabi Musa –‘alaihissalam– menginginkan agar Allah Ta’ala mengajarinya suatu kalimat khusus untuk diamalkannya sehingga ada sisi keistimewaannya. Namun ternyata tidak ada kalimat yang lebih istimewa, lebih utama, lebih agung, dan lebih tinggi nilainya dari kalimat tauhid, laa ilaaha illallah.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa seandainya seseorang menabung dosa yang beratnya seberat langit yang tujuh lapis beserta isinya –selain Allah- dan bumi yang tujuh lapis beserta isinya, namun ia masih bersyahadat dengan syahadat yang agung ini, tentulah dosa-dosanya tersebut masih terkalahkan dengan kalimat tauhid yang ia persaksikan ketika di dunia. Kenyataan ini akan semakin jelas manakala kita menyimak sebuah hadits yang biasa dikenal dengan hadits kartu.

Mutiara lain yang dapat dipetik dari hadits Nabi Musa –‘alaihissalam– di atas yang itu tidak kalah pentingnya dari beberapa kesimpulan di atas ialah bahwa kalua saja Nabi Musa yang jelas-jelas manusia paling mulia di masanya, bergelar kalimullah, dan berbagai keistimewaan yang beliau gapai di sisi Allah, terkadang bisa lalai akan kemuliaan kalimat tauhid ini, apalagi manusia biasa seperti kita. Oleh karena itu, sangat penting sekali mempelajari tauhid dan mengulang-ngulangnya agar tidak lalai dalam diri kita. Maka jangan pernah dicela orang-orang yang tema kajiannya selalu ‘aqidah tauhid, karena memang lalai merupakan tabiat manusia. Terkadang ketika ia mempelajari suatu masalah keagamaan yang baru, seluruh kemampuannya dikerahkan untuk memikirkan masalah tersebut sehingga menyebabkan masalah-masalah yang lain terlupakan.

Sementara itu, Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, aku pernah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

قال الله تعالى: يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Anak cucu Adam, sekiranya kamu menjumpaiku dengan membawa dosa seberat dunia namun tidak dalam kondisi membawa dosa kemusyrikan, pastilah Aku akan mendatangimu dengan ampunan seberat bumi pula.’” [HR At-Tirmidzi]

Hadits tersebut di atas juga menunjukkan betapa besarnya pahala tauhid dan betapa beratnya pula dosa kemusyrikan.

Akhirnya, semoga Allah Ta’ala senantiasanya menyelamatkan kita dari segala bentuk kemusyrikan dan meneguhkan hati kita di atas tauhid hingga ajal menjemput. Aaamiin. []