pencil

Masuk Surga Tanpa Hisab, Tanpa Azab

Tidak ada seorang pun yang fitrahnya masih sehat melainkan mendambakan surga dan enggan dicampakkan ke dalam neraka. Betapa Al-Quran dan As-Sunnah telah menceritakan bagaimana beratnya siksa api neraka dan nikmatnya hidangan Surga.

Allah Ta’ala berfirman:

وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى وُجُوهِهِمْ عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا

“Dan Kami mengumpulkan mereka orang-orang kafir pada hari kiamat dengan cara menyeret mereka secara terbalik, mereka buta, bisu, dan tulis. Tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam. Acap kali jilatan api neraka itu tenang, Kami akan menambahkannya lagi menjadi tambah menyala-nyala.” [Al-Isra’: 97]

Allah juga berfirman:

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

“Setiap kali kulit penduduk neraka itu masak, Kami menggantinya dengan kulit yang baru agar mereka merasakan siksa.” [QS An-Nisa’: 56]

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah bersabda:

نَارُكُمْ هَذِهِ، الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءاً مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ

“Api yang dinyalakan manusia ini satu banding tujuh puluh dari panasnya api neraka.”

Para shahabat berkata, “Demi Allah, Api dunia saja sudah cukup.”

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءاً، كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا

“Api neraka itu panasnya melampaui api dunia sebanyak enam puluh Sembilan kali yang mana masing-masingnya panasnya seperti panas api dunia.” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Bahkan karena sangking panasnya, sampai-sampai neraka mengadu kepada Allah sebagaimana kata Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا، فَقالتْ: رَبِّ أكَلَ بَعْضِي بَعْضاً، فَأذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَأشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الحَرِّ، وَأشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِ

“Neraka mengeluh kepada Rabb-nya, ‘Rabb-ku, diriku saling memakan satu sama lain.’ Allah pun kemudian memberinya izin untuk mengeluarkan dua nafas, yaitu satu nafas pada musim panas sementara nafas lainnya pada musim dingin. Kadar panasnya melebihi apa yang pernah kalian jumpai dan dinginnya melebihi dari musim yang sangat dingin.” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Oleh sebab itu sudah sepantasnya masing-masing di antara kita berusaha semaksimal mungkin membangun benteng yang kokoh agar terhindar dari jilatan api neraka meskipun hanya sebentar. Bintang yang kokoh tersebut tidak mungkin terbangun melainkan dengan benar-benar merealisasikan tauhid yang merupakan ibadah agung tiada duanya. Dan tauhid dapat direalisasikan dengan dua sisi:

Pertama, kadar wajib dalam merealisasikan tauhid, yaitu dengan cara memurnikan tauhid serta membersihkannya dari berbagai noda kemusyrikan, bid’ah, dan maksiat. Sebab noda kemusyrikan akan meluluhlantahkan bangunan tauhid secara keseluruhan, noda bid’ah akan mengurangi kesempurnaan tauhid, sementara dona maksiat akan mencederai tauhid dan mengurangi ganjaran pahalanya. Sehingga tidak mungkin seseorang dapat mewujudkan tauhid dan merealisasikannya kecuali jika ia selamat dari kemusyrikan, besar maupun kecil, perbuatan bid’ah, dan tindakan yang bernilai maksiat.

Kedua, kadar sunnah dalam merealisasikan tauhid yang ini merupakan amalan muqarrabin (hamba-hamba Allah yang dekat dengan-Nya). Mereka meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tidak mengapa dikerjakan karena khawatir terjerumus pada perkara-perkara yang terlarang.[1]

Di dalam Al-Quran, Allah Ta’ala telah menceritakan sifat-sifat luhur yang ada pada diri Ibrahim  -‘alaihissalam- sebagai imam para orang-orang yang bertauhid:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتاً لِلَّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim merupakan imam panutan dalam perkara-perkara kebaikan yang khusyu’ patuh kepada Allah Ta’ala yang lurus dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” [QS An-Nahl: 120]

Melalui ayat ini Allah Ta’ala ingin menunjukkan jalan merealisasikan tauhid dengan menjadikan sepak terjang kehidupan Nabi Ibrahim –‘alaihissalam- sebagai contohnya agar dapat diteladani. Sebab, di sini Allah menceritakan beberapa sifat luhur yang dimiliki olehnya, yaitu:

Pertama, sifat kepemimpinan. Yang mana pemimpin itu ialah orang yang pada dirinya terhimpun segala sifat kesempurnaan manusia dan sifat-safat kebaikan. Dan sifat agung ini tidak mungkin dapat diraih oleh Nabi Ibrahim melainkan dengan cara merealisasikan tauhid dengan sebenarnya.

Kedua, sifat qunut dan hanif. Qunut bermakna selalu mematuhi Allah Ta’ala sedangkan hanif ialah condong dari jalan orang-orang musyrik. Dua sifat ini saling berkaitan sehingga tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.[2]

Ketiga, selain dua sifat di atas, sebagai penyempurna tauhid Ibrahim telah sukses berlepas diri dari orang-orang musyrik tersebut.

Di lain ayat Allah ‘Azza wa Jalla mencontohkan penduduk surga yang telah sukses merealisasikan tauhid sehingga mereka mendapatkan surga:

وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لا يُشْرِكُونَ

“Dan orang-orang yang tidak menyekutukan Rabb mereka dengan sesuatu apapun, baik dengan kemusyrikan yang nampak maupun yang samar.” [QS Al-Mukminun: 59]

Seabagai pelengkap bahasan, maka berikut penulis akan bawakan sebuah hadits yang sangat agung yang memberikan jalan masuk Surga tanpa didahului oleh hisab maupun azab.

Hushain bin ‘Abdurrahman menceritakan:

كنت عند سعيد بن جبير فقال: أيكم رأى الكوكب الذي انقض البارحة؟ فقلت: أنا، ثم قلت: أما إني لم أكن في صلاة، ولكني لدغت. قال: فما صنعت؟ قلت: ارتقيت. قال: فما حملك على ذلك؟ قلت: حديث حدثناه الشعبي. قال: وما حدثكم؟ قلت حدثنا عن بريدة بن الخصيب أنه قال: “لا رقية إلا من عين أو حمة”3 4. قال: قد أحسن من انتهى إلى ما سمع.  ولكن حدثنا ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “عُرضت عليّ الأمم، فرأيت النبي ومعه الرهط والنبي ومعه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد. إذ رفع لي سواد عظيم فظننت أنهم أمتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب. ثم نهض فدخل منْزله، فخاض الناس في أولئك؛ فقال بعضهم: فلعلهم الذين صحبوا رسول الله صلى الله عليه وسلم. وقال بعضهم: فلعلهم الذين ولدوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا. وذكروا أشياء. فخرج عليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخبروه، فقال: هم الذين لا يَسْتَرقون، ولا يكتوون، ولا يتطيرون، وعلى ربهم يتوكلون. فقام عكاشة بن محصن فقال: ادع الله أن يجعلني منهم. قال: أنت منهم. ثم قام جل آخر فقال: ادع الله أن يجعلني منهم. فقال: سبقك بها عكاشة.

“Pernah suatu ketika aku berada di sisi Sa’id bin Jubair. Beliau mengajukan suatu pertanyaan, ‘Siapakah di antara kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam?’

‘Aku,’ jawabku. ‘Akan tetapi saat itu aku sedang tidak dalam kondisi shalat malam, akan tetapi terbangun lantaran tersengat,’ jelasku.[3]

‘Lalu apa yang kamu lakukan?’ Tanya Sa’id.

‘Aku meruqyahnya,’ sahutku.

Sa’id berkata, ‘Apa yang mendorongmu melakukan tersebut?’

‘Sebuah hadits yang disampaikan oleh Asy-Sya’bi kepada kami,’ jawabku.

‘Apa yang ia ceritakan pada kalian,’ selidik Sa’id.

Jawabku, ‘Beliau menyampaikan dari Buraidah bin Al-Hushaib, bahwa beliau berkata, ‘Tidak ada ruqyah melainkan karena penyakit ‘ain atau demam.’

‘Sungguh orang yang menyampaikan seperti apa yang didengarnya telah bersikap bijak.[4] Namun Ibnu ‘Abbas telah menceritakan kepada kami, dari Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

‘Aku pernah diperlihatkan umat-umat. Aku pun melihat seorang nabi yang bersamanya sekelompok pengikutnya, seorang nabi yang diiringi satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun yang membersamainya. Tiba-tiba dinampakkan padaku suatu gerombolan yang sangat besar sehingga aku menyangka itulah umatku. Namun diberitakan padaku bahwa itu merupakan umatnya Musa. Kemudian aku melihat ada gerombolan yang besar pula dan disampaikan padaku, itulah umatku. Bersama mereka ada 70.000 orang yang masuk Surga  tanpa hisab dan azab.

Nabi pun kemudian bangkit masuk ke kediamannya. Maka orang-orang pun geger memperbincangkan orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan azab tersebut. Ada yang mengatakan, mungkin mereka adalah shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Yang lain berkomentar, mungkin mereka ada orang-orang yang terlahir dalam kondisi berislam dan sama sekali tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Dan ada pula yang menyebutkan macam-macam.

Ketika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– keluar rumah, orang-orang pun menceritakan kepada beliau tentang kegaduhan yang terjadi. Beliau bersabda, “Mereka ialah orang-orang yang tidak pernah minta agar diruqyah, dikay, tidak bertathayur, dan hanya kepada Rabb mereka sajalah mereka bertawakal.”

Tiba-tiba ‘Ukkasyah bin Mihshan bangkit seraya berkata, ‘Rasulullah, doakan kepada Allah agar Allah menjadikanku termasuk golongan mereka itu.’

‘Kamu termasuk dari merekam,’ sahut beliau.

Kemudian ada orang lain yang juga bangkit dan berkata, ‘Doakan kepada Allah agar Allah menjadikanku termasuk golongan mereka itu.’

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, ‘Ukkasyah telah mendahului kalian.”[5] [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Hadits yang mulian ini memberikan pengertian bahwa orang-orang yang benar-benar mewujudkan tauhid dan merealisasikannya akan memperoleh Surga tanpa terlebih dahului menjalani perhitungan amal (baca: hisab) dan tanpa sebelumnya singgah di neraka. Keekstraan mereka dalam menjaga tauhid sangat luar biasa sampai-sampai mereka:

  • Tidak mau meminta orang lain agar diruqyah
  • Enggan meminta orang lain agar diberlakukan pengobatan kay pada dirinya

Sebab walaupun meminta ruqyah maupun kay diperbolehkan, namun segala bentuk meminta sesuatu pada makhluk aka nada unsur menghina dan mengemis kepada selain Allah Ta’ala. Orang yang bertauhid pantang memohon kepada selain Allah.

Salah satu cermin yang baik ini pernah dicontohkan oleh generasi shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi was allam-. Ada Sembilan, delapan, atau tujuh di antara shahabat yang membentangkan tangan mereka untuk berbaiat. Mereka berkata, “Atas apa kami berbaiat kepada engkau, Rasulallah?”

Beliau bersabda:

على أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئاً ، والصلوات الخمس ، وتطيعوا

“Agar kalian menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mengerjakan shalat yang lima, dan mematuhi.”

Dan beliau mengucapkan kalimat yang lirih:

ولا تسألوا الناس شيئاً

“Dan agar kalian tidak meminta sesuatu pun kepada manusia.”

‘Auf bin Malik Al-Asyja’i berkata:

فلقد رأيت بعض أولئك النفر يسقط سوط أحدهم فما يسأل أحداً يناوله إياه

“Sungguh aku melihat sebagian mereka ketika cambuknya terjatuh namun tidak meminta kepada siapapun untuk mengambilkannya untuknya.” [HR Muslim]

  • Tidak melakukan tathayur. Menurut kebiasaan orang Arab di masa jahiliyah, mereka biasa memanfaatkan burung untuk menentukan rencana. Mereka akan mengambil seekor burung untuk kemudian dilepasnya. Apabila burung tersebut terbang ke arah kanan, maka mereka akan meneruskan rencana tersebut dengan penuh optimis, sedangkan apabila burung itu terbang ke arah kiri, maka mereka akan mengurungkan rencana dengan penuh pesimis. Burung yang terbangnya ke kanan di sebut sanih, sedangkan yang terbang kea rah kiri disebut barih. Istilah thathayur ini kemudian mengalami perkembangan makna sehingga segala peristiwa yang dikait-kaitkan dengan sesuatu secara tidak ilmiah, dinamakan tathuyur. Sayangnya di tengah masyarakat kita banyak dijumpai hal semacam ini. Adakalanya mengaitkan peristiwa dengan burung, kupu-kupu, ataupun lainnya yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ilmiah di sini artinya baik secara kacamata syariat melalui Al-Quran dan As-Sunnah ataupun secara akal manusia yang biasa berlaku.
  • Bertawakal hanya kepada Allah. Orang-orang yang bertauhid dengan ketauhidan yang kokoh hanya akan menyandarkan segala urusannya kepada Allah semata. Dalam benak mereka sama sekali tidak ada terbetik meminta uluran tolong dari orang lain. Meski demikian, mereka tidak kemudian berhenti melakukan sebab agar keinginannya dapat terwujud.

Akhirnya, semoga Allah Ta’ala menggolongkan kita orang-orang yang masuk Surga tanpa hisab dan azab.

 

Wadi Mubarak, 10 Juli 2018

[1] Lihat Hasyiyyah Kitab At-Tauhid hlm. 37.

[2] At-Tamhid Syarh Kitab At-Tauhid hlm. 34, 35, dan 36.

[3] Imbuhan ini untuk mengantisipasi ada orang yang mengira bahwa Hushain bin ‘Abdurrahman bangun malam karena melakukan shalat malam, sehingga beliau tidak ingin dipuji karena sesuatu yang tidak beliau lakukan yang ini merupakan sifat orang-orang yang tidak akan selamat dari siksa neraka. Allah berfirman:

لَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡرَحُونَ بِمَآ أَتَواْ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحۡمَدُواْ بِمَا لَمۡ يَفۡعَلُواْ فَلَا تَحۡسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٖ مِّنَ ٱلۡعَذَابِۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” [QS Alu Imran: 188]

[4] Kalimat ini menunjukkan betapa sikap yang begitu lembut dari seorang guru terhadap muridnya. Ia tidak ingin menjatuhkan muridnya di hadapan kawan-kawannya. Demikianlah seyogyanya akhlak seorang guru.

[5] Lihatlah betapa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak mengatakan bahwa beliau tidak mau mendoakannya, namun lebih memilih kalimat bijak di atas agar orang yang meminta tidak kecewa dan untuk menutup celah orang lain yang akan melakukan hal yang semisal.