pencil

Abul Hasan Al-Karaji, Ulama Syafi’iyyah yang Enggan Qunut

Kemasyhuran Abul Hasan Al-Karaji sudah tidak perlu diragukan. Kepakaran dalam pelbagai ilmu pengetahuan diakui oleh semua orang, baik lawan maupun kawan. Oleh karena tidak heran jika banyak pelajar dari berbagai seantero alam berbondong-bondong ke pengajiannya.

Meskipun statusnya sebagai salah satu imam daripada imam-imam madzhab Syafi’i, namun hal tersebut tidak kemudian membuatnya fanatik buta terhadap pendapat-pendapat pendiri madzhab, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Bahkan beliau adalah seorang ulama yang sangat keras memegang dalil apabila bertentangan dengan pendapat para ulama. Ini sekaligus menunjukkan bahwa pada dasarnya bermadzhab dengan salah satu dari madzhab yang empat merupakan perkara yang diperbolehkan, bahkan semnjadi semacam sunnah dan tradisi para ulama salaf dengan menjadikannya sebagai sarana dalam mendalami ilmu fiqih, namun tidak mesti harus bersikap kaku dan fanatik buta. Oleh karena itu, anggapan sementara sebagian orang bahwa bermadzhab merupakan bid’ah besar lantaran tidak pernah dipraktekkan ulama salaf dan terlebih mengandung unsur fanatik, maka merupakan anggapan yang sama sekali tidak dapat diterima. Sebab, walaupun keyakinan bahwa para shahabat tidak pernah bermadzhab bisa jadi dibenarkan, akan tetapi madzhab hanyalah sebuah sarana dan jembatan menuju tafaqquh beragama serta usaha praktis memahami Al-Quran dan As-Sunnah. Sementara fanatik (baca: ta’ashub) merupakan produk di luar madzhab yang sengaja dikait-kaitkan dengan madzhab untuk menjatuhkan amalan ulama-ulama terdahulu, dari generasi ke generasi, yaitu bermadzhab.

Seabagai bukti apa yang penulis ungkapkan di atas adalah sosok ulama Syafi’iyyah yang akan segera kita telurusi sepak terjangnya dalam dunia intelektual. Para sejarawan menyatakan bahwa nama lengkap Abul Hasan Al-Karaji ialah Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Muhammad bin ‘Umar bin Muhammad Al-Karaji Asy-Syafi’i. Terlahir pada bulan Dzul Hijjah[1] tahun 458 H tanpa ada perbedaan pendapat di antara kalangan sejarawan dalam menentukan tahun lahirnya.

Masa kanak-kanak Imam Abul Hasan Al-Karaji dihabiskan di tempat asalnya dan mulai nyantri kepada ulama-ulama besar di kotanya tersebut, termasuk Syaikh Abu Manshur Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Karaji, Syaikh Makki bin Manshur Al-Karaji, dan kakeknya sendiri Syaikh Abu Manshur ‘Ali bin Muhammad bin Al-Hasan Al-Karaji.Karena hasrat belajarnya semakin menguat, Abul Hasan muda pun mulai mengembara ke berbagai seantero dunia untuk menghadiri majelis-majelis ilmu. Beberapa negeri yang ia singgahi antara lain Ashbahan. Di sana Abul Hasan berhasil nyantri kepada Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman Adz-Dzakwani. Di Baghdad belajar kepada Abul Hasan bin Al-‘Allaf dan Ibnu Bayan. Di Makkah belajar dari Abul Wafa’ Isma’il bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Akki dan lainnya. Sedangkan di Hamadzan berguru kepada Abu Bakar bin Fanjuwih Ad-Dinawari dan lainnya. Dari guru-gurunya itu Abul Hasan berhasil menamatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti fiqih syafi’i, hadits, tafsir, sastra, syair, dan lain sebagainya. Dan bahkan menurut salah satu muridnya, Abu Sa’d bin As-Sam’ani, beliau termasuk imam dalam bidang-bidang tersebut.

Dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra, Tajuddin Ibnu As-Subki menceritakan:

“Ibnu As-Sam’ani berkata tentangnya, Abul Hasan adalah salah satu penduduk Al-Karaj. Aku telah mendapatinya di kota tersebut. Beliau seorang imam, wari’[2],’aqil, pakar fiqih, pandai hadits, penyair, dan sastrawan. Belai bahkan memili satu kumpulan tulisan sastra yang indah. Umurnya dihabiskannya untuk kepentingan belajar dan mengajar.”

Penuturan Ibnu As-Sam’ani ini juga direkam oleh para sejarawan lainnya selain Ibnu As-Subki dalam Thabaqat-nya, termasuk yang merekamnya ialah Imam Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, Qadhi Syuhbah, Ibnu Ash-Shalah, dan lain sebagainya.

Keimaman Abul Hasan inilah yang menyebabkan para pelajar dari berbagai penjuru dunia nyantri kepadanya dan membuat para ulama menilainya positif dan menuai penuh sanjungan. Namanya harus semerbak di segenap alam, diperbincangkan oleh semua orang.

Selain sanjungan Ibnu As-Sam’ani selaku muridnya di atas, Ibnu Ash-Shalah menyebutnya sebagai salah seorang ulama mufti mulia di zamannya, Adz-Dzahabi menggelarinya sebagai ulamanya negeri Al-Karaj, ‘alim, dan muftinya sekaligus. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menggelarinya sebagai Syaikhul Haramain, guru dua Tanah Suci Makkah Madinah dan seorang syaikh panutan (imam).

Sebagai sosok imam besar madzhab syafi’i, Abul Hasan Al-Karaji telah memberikan tauladan yang sangat berharga kepada umat. Beliau telah membuktikan bahwa ketika seorang bermadzhab syaf’i, tidak harus mengikuti pendapat-pendapat madzhab paling banyak penganutnya tersebut dari A sampai Z. Seakan-akan beliau berpesan bahwa kesempurnaan hanya milik Allah saja, sedangkan lainnya tidak, termasuk madzhab syafi’i.

Bukti besar akan penjelasan di atas ialah riwayat Ibnu As-Sam’ani yang menegaskan bahwa meskipun bermadzhab syafi’i, namun beliau tidak bernah menyetujui qunut. Padahal sebagaimana telah diketahui bersama, qunut merupakan pendapat resmi dalam madzhab syafi’i. Imam Asy-Syafi’i sendiri telah menegaskannya dalam Al-Umm. Mayoritas pengikutnya pun mengamini pendapat beliau ini. Madzhab lain yang menyetujui qunut ini ialah madzhab Maliki. Hanya saja letak perbedaan antara kedua madzhab ini ialah bahwa qunut madzhab syafii terletak seusai ruku’ rakaat kedua shalat shubuh, sementara qunut madzhab maliki terletak sebelum ruku’ pada rekaat kedua shalat shubuh.

 

Ibnu As-Sam’ani meriwayatkan:

Abul Hasan Al-Karaji adalah seorang ulama bermadzhab syafi’i. Namun beliau tidak terbiasa berqunut pada shalat shubuh. Beliau mengatakan, imam panutan kita Asy-Syafi’i –rahimahullah- pernah berkata, ‘Kalau ada hadits shahih, tinggalkanlah perkataanku dan ambillah hadits itu.’ Dan menurut hematku, telah ada berita valid dari Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwa beliau tidak melakukan qunut dalam shalat shubuh.’”

Beliau juga pernah berkata, “Pernah pada suatu malam aku bermimpi berjumpa dengan Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi. Aku mengucapkan salam kepada beliau dan ketika aku hendak mencium tangannya, beliau justru menolak. Kataku padanya, ‘Tuanku, aku adalah salah satu  anak-anakmu. Aku mengajarkankan Al-Muhadzdzab karanganku di pengajianku.’

Beliau berkata padaku, ‘Lalu kenapa kamu tidak mau qunut setelah shalat subuh?’

Jawabku, ‘Sesungguhnya Asy-Syafi’i pernah berkata, ‘Apabila ada hadits yang telah datang valid dari Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, tinggalkanlah pendapatku, ambillah hadits nabi tersebut, karena sesungguhnya itulah madzhabku.’ Tidak melakukan qunut seusai shalat subuh pun pendapatnya Imam Asy-Syafi’i.’

Aku pun kemudian mulai menjabarkan hadits berkaitan dengan qunut bersama beliau, sementara beliau menyimak dengan baik hingga beliau tersenyum di wajahku.”

Riwayat ini kemudian dikuatkan oleh Ibnu As-Subki, ujarnya:

Aku berkata, ‘Demikianlah aku menjumpai beliau menyatakan dalam kitabnya yang berjudul Adz-Dzarai’, ‘Qunut yang dilakukan di shalat shubuh kualitas haditsnya tidak valid, bahkan terlarang!’”

Dari sinilah kita memahami bahwa tidak melakukan qunut shubuh bukan sesuatu yang tercela, shalatnya tetap sah, dan memang ada salafnya pula, baik itu dalam madzhab syafii maupun dalam madzhab yang lain. Demikian juga tidak mengamalkan pendapat madzhab karena ada dalil yang secara jelas berbenturan dengannya, juga merupakan tindakan yang terpuji dan bahkan wajib. Karena bagaimanapun, Al-Quran dan As-Sunnah lebih suci dari perkataan siapapun.

Kemudian di antara perkara yang patut disingkap di sini ialah bahwa Imam Abul Hasan Al-Karaji ini termasuk pembela ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang unggul. Di tengah lawannya, terkenal sebagai penebas kebatilan. Di antara yang menunjukkan hal ini ialah buku-buku yang pernah disusunnya, seperti Al-Fushul Fi I’tiqad Al-Aimmah Al-Fuhul.

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan dalam Thabaqat-nya, “Beliau memiliki sebuah kitab bernama Al-Fushul Fi I’tiqad Al-Aimmah Al-Fuhul. Di dalam kitab itu beliau meriwayatkan pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip ‘aqidah dari sepuluh imam salaf, yaitu Malik, Abu Hanifah, Al-Laits, Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahawih.”[3]

Sebagai sempel pembelaan beliau terhadap ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah Salafiyyah dalam kitab ini ialah sebagai berikut:

“Bahwasanya Allah Ta’ala berada di langit di atas ‘Arsy-nya, terpisah dari makhluk-Nya. Malik berkata, ‘Sesungguhnya Allah berada di atas langit namun Dia mengetahui segala sesuatu.’ ‘Abdullah bin Al-Mubarak berkata, ‘Kita mengenal Rabb kita bahwa Dia berada di atas langit ketujuh di atas ‘Arsy, berpisah dari makhluk-Nya. Kita tidak sependapat dengan pendapat sekte Jahmiyyah bahwa Allah berada di sini, maksudnya dunia. Sufyan Ats-Tsauri berkata mengenai ayat ‘…dan Dia bersama dengan kalian di mana pun keberadaan kalian’, ‘Maksudnya Dia mengetahui kalian di manapun kalian berada.’ Asy-Syafi’i berkata, ‘Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy di langit, dekat dengan makhluk-Nya  seperti yang Dia kehendaki.’ Ahmad berkata, ‘Sesungguhnya Allah bersemayam di atas ‘Arsy, mengetahui segala tempat.’”

Imam Abul Hasan Al-Karaji juga menggubah satu qasidah berisi pemaparan ‘aqidah Salaf bernama ‘Arus Al-Qashaid fi Syumus Al-‘Aqaid. Selain memuat ‘aqidah Ahlussunnah, di buku tersebut juga dijelaskan betapa batilnya ‘aqidah Asy’ariyyah dan menyanggahnya. Sayangnya untuk sementara ini, penulis belum memperoleh qashidah tersebut untuk dihidangkan di sini. Namun beruntung, Imam Adz-Dzahabi telah berkenan menyitir sebagian isi qashidah tersebut dalam bukunya Tarikh Al-Islam wa Wafiyyat Al-Masyahir Al-A’lam (XVI/579):

 

على عرشه مع علمه بالغوائب

عقائدهم أن الإله بذاته

Ulama Salaf beri’tiqad bahwa dzat Ilahi berada di atas ‘Arsy-Nya, mengetahui segala yang ghaib.

Abul Hasan Al-Karaji pada kesempatan lain mengajak umat Islam untuk senantiasa kembali giat mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah, beliau berkata:

Yang disebut ilmu adalah apa yang di sana terdapat kata-kata haddatsana, sedangkan selainnya hanyalah kesalahan dan kegelapan

Pokok pondasi Islam ialah ayat-ayat penerang, dan hadits-hadits yang jelas benderang seabagai penunjuk

Firman Ilahi dan sabda Nabi, keduanya merupakan penebas setiap ahli bid’ah

Beliau juga berkata:

 

Semua pengetahuan selain Al-Quran, Hadits, dan ilmu agama itu menyibukkan

Yang disebut ilmu ialah setiap yang terdapat perkataan haddatsana, sedangkan selain itu hanyalah waswas dari setan.

Sebagai penutup tulisan singkat ini, berikut beberapa daftar karangan beliau:

Kutipan kitab Al-Fushul yang masih bisa diselamatkan hingga hari ini
  • ‘Arus Al-Qashaid wa Syumus Al-‘Aqaid, berisi sekitar 200 bait
  • Al-Fushul fi I’tiqadh Al-Aimmah Al-Fuhul, namun Ibnu Taimiyyah menyebutkan Al-Fushul Fi Al-Ushul ‘An Al-Aimmah Al-Fuhul Ilzaman Lidzawi Al-Bida’ wa Al-Fudhul
  • Adz-Dzarai’ fi Ash-Syarai’, dalam disiplin fiqih

Imam Abul Hasan Muhammad bin ‘Abdul Malik Al-Karaji Asy-Syafi’i wafat pada bulan Sya’ban tahun 532 H. Semoga Allah merahmati dan memberinya Surga. Aamiin.

Refrensi:

  1. Thabaqat Al-Fuqaha’ Asy-Syafi’iyyah (I/215-217), karya Ibnu Ash-Shalah
  2. Tarikh Al-Islam (XI/578-579), karya Adz-Dzahabi, editor Dr. Basysyar ‘Awwad Ma’ruf, cet. Dar Al-Gharb Al-Islami 1424 H/2003 M
  3. Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (I/572-573), karya Ibnu Katsir, editor ‘Abdul Hafizh Manshur, cet. Dar Al-Madar Al-Islami 2004
  4.  Al-Bidayah wa An-Nihayah (XVI/317-318), karya Ibnu Katsir, editor Dr. ‘Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki, cet. Dar Hijr 1419 H/1998 M
  5. Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra (VI/137-147), karya Ibnu As-Subki, editor Dr. ‘Abdul Fattah Muhammad Al-Halu dan Dr. Mahmud Muhammad Ath-Thanahi, cet. Hijr 1413 H/1992 M
  6. Thabaqat As-Syafi’iyyah (I/310-312), karya Ibnu Qadhi Syuhbah, editor Dr. ‘Abdul ‘Alim Khan, cet. ‘Alam Al-Kutub 1407 H/1987 M
  7. Al-Quthuf Al-Majmu’ah Min Al-Fushul Fi Al-Ushul, karya Prof. Dr. Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Utsman Sindi

[1] Ibnu Shalah (/16)

[2] Pelakunya disebut wari’ sedangkan perbuatannya disebut wara’, artinya orang yang tidak mau tenggelam dalam perkara yang mubah apalagi syubhat karena khawatir terjerumus ke dalam keharaman.

[3] Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (hlm. 572) karya Ibnu Katsir