pencil

Menyikapi Masalah Mengusap Wajah Setelah Berdoa

Banyak kita saksikan ditengah-tengah kaum muslimin praktik amalan mengusap wajah setelah berdoa, dan bisa jadi dahulu atau saat ini kitapun merupakan salah satu dari mereka yang mengamalkan hal ini. Dalam permasalahan fiqh tidak sedikit terjadi silang pendapat diantara para ulama fiqh, tentunya untuk tahu pendapat yang terkuat atau RAJIH diperlukan beberapa perangkat ilmu alat untuk bisa sampai kesana, mudahnya adalah kita mengikuti pendapat ulama yang dikenal keilmuannya.
Nah pada kesempatan ini, penulis mencoba memaparkan alasan atau dalil yang dipegang oleh ulama akan disunnahkannnya mengusap wajah setelah berdoa, penulis hanya mengalih bahasakan saja dari bahasa arab ke bahasa indonesia, secara pasti yang menyusun tulisan ini saya tidak tahu, hanya saja besar kemungkinan ini adalah tulisan Syaikh Yahya Al Ghotsani.

Perlu diketahui bahwa titik permasalahannya ada pada shahih dan tidaknya sebuah hadits tentang mengusap wajah, yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa haditsnya tidak bisa dijadikan dalil karena lemahnya riwayat tentang mengusap wajah, sehingga beliau berpendapat bahwa ini tidak disunnahkan, hal ini sebagaimana diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ: فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ وَأَمَّا مَسْحُهُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ فَلَيْسَ عَنْهُ فِيهِ إلَّا حَدِيثٌ أَوْ حَدِيثَانِ لَا يَقُومُ بِهِمَا حُجَّةٌ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

“adapun mengenai Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengangkat tangan dalam berdoa, ini telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Sedangkan mengusap wajah, maka tidak ada kecuali satu atau dua hadits saja yang tidak bisa menjadi hujjah. Wallahu a’lam” (Majmu’ Al Fatawa, 22/519).
Demikian pula pedapat Syaikh Al Albani rahimahullah:

وأما مسحهما به خارج الصلاة فليس فيه إلا هذا الحديث والذى قبله ولا يصح القول بأن أحدهما يقوى الآخر بمجموع طرقهما ـ كما فعل المناوى ـ لشدة الضعف الذى فى الطرق , ولذلك قال النووى فى ” المجموع “: لا يندب ” تبعا لابن عبد السلام , وقال: لا يفعله إلا جاهل. ومما يؤيد عدم مشروعيته أن رفع اليدين فى الدعاء قد جاء فيه أحاديث كثيرة صحيحة وليس فى شىء منها مسحهما بالوجه فذلك يدل ـ إن شاء الله ـ على نكارته وعدم مشروعيته

“adapun mengusap wajah (setelah doa) di luar shalat, maka tidak ada hadits kecuali ini dan yang sebelumnya. Dan tidak benar bahwa hadits-haditsnya saling menguatkan dengan banyaknya jalan (sebagaimana dikatakan oleh Al Munawi) karena terlalu beratnya kelemahan yang ada pada jalan-jalannya. Oleh karena itu Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ mengatakan: ‘hukumnya tidak disunnahkan‘, juga dikuatkan oleh perkataan Ibnu Abdissalam (ulama Syafi’iyyah): ‘tidak ada yang melakukannya kecuali orang jahil‘.

Dan yang lebih menguatkan lagi bahwa hal tersebut tidaklah disyariatkan adalah bahwasanya mengangkat tangan dalam doa telah ada dalam banyak hadits shahih, namun tidak ada satupun di dalamnya yang menyebukan tentang mengusap wajah. Maka ini insya Allah menunjukkan pengingkaran terhadap perbuatan tersebut dan menunjukkan itu tidak disyariatkan” (Irwa Al Ghalil, 2/182).

Namun kita perlu menelik juga perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dan juga Syaikh Shalih Al Fauzan yang mengisyaratkan agar tidak mengingkari orang yang melakukann hal ini dan mengatakan bahwa perkaranya luas, artinya pendapat yang mengatakan disunnahkannya mengusap wajah masih memiliki dalil atau hujjah yang tidak begitu lemah jika tidak bisa dikatakan kuat, atau bisa jadi keduanya memiliki kekuatan hujjah yang sama.

 

وقال الشيخ صالح فوزان: (من مسح فلا ينكر عليه، ومن ترك فلا ينكر عليه، فالأمر واسع).

Asy Syaikh Shalih Fauzan: “Barangsiapa yang mengusap wajah maka janganlah diingkari, dan barangsiapa yang meninggalkan mengusap wajah jangan diingkari juga, karna permasalahannya luas”

 

• وقال الشيخ ابن عثيمين: (ﻓﺎﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻤﺴﺢ، ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﻧﻨﻜﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻣﺴﺢ؛ اﻋﺘﻤﺎﺩاً ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺴﻴﻦ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ اﻟﻮاﺭﺩﺓ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ؛ ﻷﻥ ﻫﺬا ﻣﻤﺎ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻓﻴﻪ اﻟﻨﺎﺱ). [لشرح الممتع، (٤/ ٤١)].

Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Yang lebih utama adalah tidak mengusap, akantetapi kita tidak mengingkari orang yang mengusap wajah, karena bersandar pada penghasanan hadits-hadits yang datang tetntang hal itu, karena masalah ini termasuk permasalahan yg diperselisihkan para ulama” [Asy Syarh Al Mumti’ (41/4)]
Kita langsung saja lihat dan perhatikan dalil dan alasan ulama yang menghukumi akan kesunnahan mengusap wajah setelah berdoa.

(استحباب مسح الوجه بعد الدعاء)

DISUNNAHKANNYA MENGUSAP WAJAH SETELAH SHALAT

• عن عمر –رضي الله عنه- قال: كان رسول الله -ﷺ- إذا مدّ يديه في الدعاء، لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه. رواه الترمذي، حديث رقم: (٣٣٨٦).

Diriwayatkan dari ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata: “dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangan saat berdoa, tidak menurunkannya sampai beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya tersebut”. HR. At Tirmidzi (3386)

 

• وعن ابن عباس –رضي الله عنهما-، أن رسول الله -ﷺ- قال: ((سلوا الله ببطون أكفكم، ولا تسألوه بظهورها، فإذا فرغتم فامسحوا بها وجوهكم)). رواه أبو داود، حديث رقم: (١٤٨٥).

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-, bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “berdoalah kepada Allah dengan perut telapak tangan kalian (mengangkat kedua tangan dan bagian dalam/depan telapak tangan menghadap langit), dan janganlah berdoa dengan punggung telapak tangan kalian (kebalikan dari keadaan yang sebelumnya), apabila kalian telah selesai dari berdoa maka usaplah wajah-wajah kalian dengan telapak tangan kalian” HR. Abu Daud (1485)

 

• قال ابن حجر: (ومجموعهما يقضي بأن الحديث حسن).

Ibnu Hajar berkata: “dua riwayat ini jika digabungkan berkonsekwensi menjadikan hadits tersebut HASAN”

 

• وقال العلّامة البسام: (والحديث قوي بمجموع طرقه، وممن قواه: إسحاق، والنووي، وابن حجر، والمناوي، والصنعاني، والشوكاني). [توضيح الأحكام، (٧/ ٦١٢)].

Syaikh Al ‘Allamah Al Bassam berkata: “dan hadits tersebut derajatnya kuat bila seluruh jalan-jalan periwayatannya dikumpulkan menjadi satu, dan diantara ulama yang menguatkannya adalah: ISHAQ, AN NAWAWI, IBNU HAJAR, AL MANAWI, ASH ASHAN’ANI, DAN ASY SYAUKANI”. [taudhihul ahkam (612/7) ]

 

• وقال عبدالرزاق: (باب مسح الرجل وجهه بيده إذا دعا):
(٣٢٥٦): عن ابن جريج، عن يحيى بن سعيد: أن ابن عمر كان يبسط يديه مع العاص، وذكروا أن من مضى كانوا يدعون، ثم يردون أيديهم على وجوههم ليردوا الدعاء والبركة.

‘Abdurrazzaq berkata: (Bab Seorang mengusap wajahnya dengan tangannya setelah berdoa)
(3256) Diriwayatkan dari Juraij, dari yahya bin said: bahwa Ibnu ‘Umar bersama Al ‘Ash mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Dan mereka menyebutkan bahwa orang-orang yang terdahulu mereka berdoa, kemudian mengembalikan tangan-tangan mereka ke wajah untuk mengembalikan doa dan keberkahannya.

 

قال عبد الرزاق: رأيت معمراً يدعو بيديه عند صدره، ثم يرد يديه فيمسح وجهه.

‘Abdurrazzaq berkata: “Aku melihat Ma’mar berdoa dengan mengangkat kedua tangannya sebatas dadanya, kemudian menurunkannya, lalu mengusap wajahnya”.

 

وقال في باب رفع اليدين في الدعاء:
(٣٢٣٤): عن معمر، عن الزهري، قال: كان رسول الله -ﷺ- يرفع يديه عند صدره في الدعاء، ثم يمسح بهما وجهه.
وفعله معمر، وأنا فعلته. [مصنف عبد الرزاق].

‘Abdurrazzaq juga berkata pada Bab mengangkat kedua tangan ketika berdoa:
(3234) Diriwayatkan dari Ma’mar, dari az Zuhri, dia berkata: “Dahulu Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam- mengangkat kedua tangannya sebatas dada saat berdoa, kemudia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dan ma’mar pun melakukannya, dan aku turut melakukannya juga”. [Mushannaf ‘Abdurrazzaq]

 

• وأخرج البخاري عن وهب قال: (رأيتُ ابن عمر، وابن الزبير يدعوان، يديران بالراحتين على الوجه). [الأدب المفرد، ص: (٦٠٩)].

Al Bukhari meriwayatkan dari Wahb, dia berkata: “aku melihat Ibnu ‘Umar dan Ibnu Zubair dalam keadaan berdoa, keduanya mengusapkan kedua tangannya ke wajah”. [Al Adabul Mufrad (609)]

 

• وقال المعتمر بن سليمان: (رأيتُ أبا كعب يدعو رافعاً يديه، فإذا فرغ مسح بهما وجهه، فقلت له: من رأيتَ يفعل هذا؟ قال: رأيت الحسن يفعله). [فض الوعاء، للسيوطي، ص: (٥٩)].

Al Mu’tamir bin Sulaiman berkata: “Saya melihat Abu Ka’ab berdoa seraya mengangkat kedua tangannya, maka apabila beliau telah selesai dari berdoa, beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya”, maka akupun berkata kepadanya: “Siapa yang engkau lihat melakukan seperti ini?”, beliau berkata: “Saya melihat Hasan melakukan hal tersebut”. [Fadhdhul wi’a’ karya As Suyuthi (59)]

• وقال الصنعاني: (وفي الحديث دليل على مشروعية مسح الوجه باليدين بعد الدعا)ء. [سبل السلام، (٤/ ٦١٤)].

Ash Shan’ani berkata: “Didalam Hadits tersebut ada dalil yang menunjukkan akan disyariatkannya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan setelah berdoa” [Subulussalam (613/4)]

 

• وقال عبدالله: (قلتُ لأبي: يمسح بهما وجهه؟ قال: أرجو ألا يكون به بأس). [مسائل الإمام أحمد لابنه عبدالله، ص: (٣٣٢)].

‘Abdullah (salah seorang anak Imam Ahmad bin Hanbal) berkata: “Aku berkata kepada Ayahkku: “Apakah mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa?”, ayahnya menjawab: “Aku berharap tidak mengapa melakukan hal terbsebut”” [Masail Al Imam Ahmad karya Anaknya ‘Abdullah (332)]

 

• وقال ابن قدامة: (وإذا فرغ من القنوت، هل يمسح وجهه بيده؟ فيه روايتان: الثانية يستحب؛ لأنه دعاء يرفع يديه فيه، فيمسح بهما وجهه، كما لو كان خارجاً عن الصلاة). [المغني، (٢/ ١١٥)].

Ibnu Qudamah berkata: “dan apabila telah selesai dari qunut, apakah mengusap wajahnya dengan kedua tangannya?. Didalam permasalahan ini ada dua riwayat dari Imam Ahmad: riwayat yang kedua adalah disunnahkan, karena qunut adalah sebuah doa yang mengangkat kedua tangan ketika itu, oleh karenanya mengusap wajah dengan kedua tangannya, sebagaimana jika dilakukan diluar shalat”. [Al Mughni (115/2)]

 

• وقال المرداوي: (رواية المسح هي المذهب، وفعله الإمام أحمد، وقال المجد، وصاحب مجمع البحرين: هذا أقوى الروايتين، وقال في الكافي: هذا أولى. ويكون المسح خارج الصلاة أيضاً).
[الإنصاف، (٢/ ١٧٣)].

Al Mardawai berkata: “Rawayat dari Imam Ahmad tentang mengusap wajah adalah pendapat mu’tamad madzhab, dan Imam Ahmad pun melakukannya, Al Majd penulis kitab Majma’al Bahrain berkata: “Ini adalah riwayat yang paling kuat dari dua riwayat yang datang dari Imam Ahmad, dan berkata juga penulis kitab Al Kafi: “pendapat ini lebih utama, dan mengusap wajah dilakukan juga diluar shalat”. [Al Inshaf (173/2)]

 

• وقال ابن مفلح: (ويمسح وجهه بيديه، فعله أحمد). [الفروع، (٢/ ٣٦٤)].

Ibnu Muflih berkata: “dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, hal ini yang dilakukan Imam Ahmad” [Al Furu’ (364/2)]

 

• وقال الشيخ مرعي الحنبلي: (ويقنُتُ بعد الركوع ندباً، …، ثم يمسح وجهه بيديه هنا، وخارج الصلاة).

Syaikh Mar’i Al Hanbali berkata: “dan melakukan qunut setelah ruku’ hukumnya sunnah, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya disini (setelah berdoa qunut) dan juga pada doa diluar shalat”

 

– قال ابن ضويان: (لعموم حديث عمر، وقوله في حديث ابن عباس). [منار السبيل، (١/ ١٠٩)].

Ibnu Dhuyan berkata: “karna keumuman hadits lUmar, dan perkataannya di dalam hadits Ibnu ‘Abbas”. [Manarussabil (109/1)]

 

• وقال النووي: (وأما مسح الوجه بعد الدعاء في القنوت، ففيه وجهان: أشهرهما أنه يستحب، جزم به الجويني، وابن الصباغ، والغزالي). [المجموع، (٣/ ٤٩٩)].

An Nawawi berkata: “Adapun mengusapnwajah setelah doa ketika qunut, maka ada dua wajh (dua pengambilan hukum menurut kaidah dan ushul madzhab) didalam madzhab syafi’i: yang paling dikenal dianatara kedua pendapat adalah bahwq hal tersebut hukuknya sunnah, dan Al Juwaini Ibnu Ash Shabbagh dan Al Gazzali menguatkan pendapat ini”. Al Majmu’ (499/3)

 

• وقال النفراوي: (ويستحب أن يمسح وجهه بيديه عقب الدعاء، كما كان يفعله رسول الله -ﷺ-). [الفواكه الدواني، (٢/ ٢٣٥)].

An Nafrawi berkata: “Disunnahkan mengusapkan wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah -shallalahu ‘alaihi wa sallam”. [Al Fawaqih Ad Dani (235/2)]

 

• وفي الفتاوى الهندية: (وكثير من مشايخنا اعتبروا مسح الوجه بعد الدعاء، وهو الصحيح، وبه ورد الخبر). [الفتاوى الهندية، (٥/ ٣١٨)].

Didalam kitab Al Fatawa Al Hindiyyah: “Kebanyakan dari kalangan guru-guru kami menganggap disyariatkannya mengusap wajah setelah berdoa, dan ini adalah pendapat yg shahih, karna ada hadits yang datang [Al Fatawq Al Hindiyah (318/5)].

 

• وقال الشيخ ابن باز: (مسح الوجه بعد دعاء القنوت مستحب؛ لما ذكره الحافظ في البلوغ أنه ورد في ذلك عدة أحاديث مجموعها يقتضي أنه حسن).

Asy Syaikh Ibnu Baaz berkata: “mengusap wajah setelah berdoa qunut adalah sunnah, sebagaimana yang disebutkan Al Hafidz didalam kitab Bulughul Maram, karna ada beberapa hadits tentang masalah ini yang bila dikumpulkan menjadikan status haditsnya hasan”

 

– قال محقق الفتاوى الشيخ محمد الشويعر: (سؤال شخصي أجاب عنه الشيخ في: ١٢/ ٩/ ١٤١٩ هـ). [الفتاوى، (٢٦/ ١٤٨)].

Muhaqqiq fatwa ini Asy Syaikh Muhammad Asy Syuwai’ir: “pertanyaan pribadi yang dijawab oleh Asy Syaikh pada tanggal 12/09/1419 H” [Al Fatawa (148/26)]

 

• وقال الشيخ صالح فوزان: (من مسح فلا ينكر عليه، ومن ترك فلا ينكر عليه، فالأمر واسع).

Asy Syaikh Shalih Fauzan: “Barangsiapa yang mengusap wajah maka janganlah diingkari, dan barangsiapa yang meninggalkan mengusap wajah jangan diingkari juga, karna permasalahannya luas”

 

• وقال الشيخ ابن جبرين: (ورد المسح بعد الدعاء في حديث فيه ضعف، ولكن له شاهد من طرق أخرى، ويعمل بذلك، فقد حسنه ابن حجر في البلوغ، وتبعه الشارح، ويمسح بعد القنوت أيضاً، وهو يعم، فيكون المسح خارج الصلاة وداخلها).

Asy Syaikh Ibnu Jibrin: “mengusap muka setelah berdoa telah datang penjelasannya di dalam sebuah hadits, namun didalam riwayatnya ada kelemahan, akantetapi hadits ini memiliki syahid dari jalan yang lain, sehingga hadits ini bisa diamalkan, Ibnu Hajar telah menghasankan hadits ini didalam kitab bulughul maram, begitu pula pensyarah kitab mengikuti pendapat beliau, begitu juga mengusap wajah setelah qunut, karna hadits ini umum, sehingga diambil kesimpulan mengusap wajah itu dilakukan didalam shalat dan diluar shalat”.

 

• وقال الشيخ ابن عثيمين: (ﻓﺎﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻤﺴﺢ، ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﻧﻨﻜﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻣﺴﺢ؛ اﻋﺘﻤﺎﺩاً ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺴﻴﻦ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ اﻟﻮاﺭﺩﺓ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ؛ ﻷﻥ ﻫﺬا ﻣﻤﺎ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻓﻴﻪ اﻟﻨﺎﺱ). [لشرح الممتع، (٤/ ٤١)].

Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Yang lebih utama adalah tidak mengusap, akan tetapi kita tidak mengingkari orang yang mengusap wajah, karena bersandar pada penghasanan hadits-hadits yang datang tetntang hal itu, karena masalah ini termasuk permasalahan yg diperselisihkan para ulama” [Asy Syarh Al Mumti’ (41/4)]

 

• وقال الشيخ حماد الأنصاري: (مسألة مسح الوجه باليدين بعد الدعاء، فيها ثلاثة أحاديث تصل إلى درجة الحسن). [المجموع في ترجمة العلامة الأنصاري، (٢/ ٤٨٧)].

Asy Syaikh Hammad Al Anshari berkata: “permasalahan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, didalam masalah ini ada 3 hadits yang derajatnya sampai derajat hasan (jika dikumpulkan)” [ Al Majmu’ fi tarjamati Al ‘Allamah Al Anshari (487/2)]

والله الهادي إلى سواء السبيل.

Dan Allah ta’ala adalah maha pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus.