pencil

Bencana Kemusyrikan

Ketahuilah bahwa sebagaimana tauhid merupakan ibadah yang paling tinggi nilainya, demikian juga sebaliknya kemusyrikan merupakan sebesar-besar dosa kemaksiatan. Bagaimana mungkin tidak demikian padahal Dialah yang telah menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani yang hina lalu kemudian menjadikanmu manusia yang sempurna dan dengan rupa yang paling indah dibanding rupa makhluk-makhluk lain ciptaan-Nya. Kemudian setelah Allah menciptakaanmu dengan rupa yang demikian itu, Dia tidak lantas meninggalkanmu begitu saja, bahkan memelihara dan menjamin rejekimu, melindungimu dari berbagai mara bahaya. Namun meski begitu, engkau malah berterimakasih dan menyembah selain Allah?![1]

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah menyatakan:

أنا و الثلقين في نبأ عظيم، أخلق عبدي و يعبد غيري، و أرزق و يشكر غيري، خيري إليهم نازل، و شرهم إلي صاعد

“Aku dan tsaqalain (baca: bangsa jin dan dan bangsa manusia) ada dalam satu berita yang besar.Aku ciptakan hamba-Ku, namun ia menyembah selain-Ku. Aku memberinya rezeki, namun justru ia berterimakasih kepada selain diri-Ku. Kebaikan-Ku kepadanya selalu turun, namun kejahatannya kepada-Ku malah senantiasa naik[2].”[3]

Kemudian, kemusyrikan ialah sebuah kesesatan yang tidak ada kesesatab lain yang melebihinya, sebagaimana penegasan Allah Ta’ala:

وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءٗ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِهِمۡ كَٰفِرِينَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka sama sekali tidak menggubris persembahan mereka itu. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka tersebut.” [QS Al-Ahqaf: 5-6]

Allah juga berfirman menceritakan pesan Luqman kepada putranya:

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” [QS Luqman: 13]

Sehingga perbuatan syirik dengan segela perinciannya nanti yang akan datang merupakan kemungkaran yang paling jelek dan sebesar-besarnya dosa mengingat hadits riwayat Al-Bukhari. Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Jawab beliau:

أن تدعو لله ندا و هو خلقك

“Apabila kamu menyembah tandingan Allah[4] padahal Dialah yang telah menciptakanmu.”

“Kemudian apalagi?” Tanya laki-laki tersebut.

“Apabila kamu membunuh anakmu karena khawatir kalua-kalau nanti makan bersamamu,” jawab beliau.

“Apalagi?” Tanyanya lagi.

“Apabila kamu menyetubuhi istri tetanggamu,” jawab beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Sebagai pembenaran jawaban Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tersebut, Allah pun menurunkan firman-Nya:

وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامٗا يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ مُهَانًا إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّ‍َٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan[5] yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Furqan: 68-70]

Masih menurut riwayat Al-Bukhari, Rasulullah menyebut perbuatan syirik sebagai dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar lainnya:

أكبر الكبائر الإشراك بالله، و عقوق الوالدين، و شهادة الزور، و شهادة الزور ثلاثا أو قول الزور

“Doa yang paling besar di antara dosa-dosa besar ialah menduakan Allah, mendurhakai kedua orangtua, persaksian palsu, persaksian palsu, persaksian palsu, atau ucapan palsu.”

Oleh karena melihat kenyataan-kenyataan di atas yang menunjukkan betapa fatalnya perbuatan menyekutukan Allah Ta’ala, maka tidak heran jika sampai ada seseorang yang meninggal dunia dengan membawa dosa kemusyrikan, belum sempat bertaubat entah itu karena ia menganggapnya remeh atau pun lainnya, tidak ada bagian Surga untuknya karena dosa kemusyrikannya itu tidak dapat terhapus dan terampuni.

Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [QS An-Nisa: 48]

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS An-Nisa: 116]

 

Syaikh ‘Abdurrahman Al-Qasim menjelaskan:

“Artinya Allah tidak akan mengampuni seorang hamba yang menjumpai-Nya dalam keadaan musyrik, yaitu menganggap Allah sama dengan selain-Nya pada perkara-perkara yang menjadi kekhususan bagi-Nya, memalingkan hak perogatif-Nya kepada selain-Nya, dan menyerupakan makhluk yang lemah dengan Dzat yang memiliki kesempurnaan yang mutlak dari segala sisi.

Dan apabila orang yang meninggal dengan masih memabwa dosa kemusyrikan tidak dapat dihapus dosanya, sudah tentu menjadi kewajibannya merasa khawatir akan dosa kemusyrikan yang demikianlah kedudukan di sisi Allah. Disamping kemusyrikan ialah sebesar-besar dosa di sisi Aallah Subhanah dan orang yang menjumpainyaa dalam kondisi membawa dosa syirik, kemusyrikan juga merupakan peruntuh kerububiyahan Allah, mengurangi keuluhiyahan-Nya, dan perasangka buruk kepada Rabbul ‘Alamin.”[6]

Kata-kata “hak preogatif” itu maksudnya ialah bahwa di sana ada perkara-perkara yang menjadi hak khusus bagi Allah Ta’ala sehingga tidak boleh diberikan kepada makhluk-makhluk selain-Nya. Hak-hak tersebut ialah yang berkaitan dengan ibadah, perbuatan Allah, ataupun nama dan shifat-Nya dengan segala bentuknya, semisal doa, nazar, berkurban, tawakkal, menyandarkan segala urusan, menciptakan, memberi manfaat, memberi mudharat, memberi rizki, menciptakan, dan lain sebagainya.

Adapun dosa-dosa yang kadarnya di bawah kemusyrikan yang dibawa mati seseorang, maka keputusannya akan diserahkan kepada Allah Ta’ala. Boleh jadi Allah mengampuninya tanpa membalasnya dengan siksa, dan tidak menutup kemungkinan akan Allah menyiksanya hingga ia bersih dari dosa-dosa tersebut.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

و غفر لمن لم يشرك بالله من أمته شيئا المقحمات

“Dan dosa-dosa besar seseorang dari umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun akan diampuni.”

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” [QS Al-Maidah:72]

Dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

من مات و هو يدعو لله ندا دخل النار

“Barangsiapa yang meninggal dalam kondisi membawa dosa kemusyrikan dengan beribadah kepada sekutu Allah, niscaya ia masuk Neraka.” [HR Al-Bukhari]

Beliau juga bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah:

من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة و من لقيه يشرك به شيئا دخل النار

“Barangsiapa yang berjumpa Allah dalam keadaan tidak membawa dosa kemusyrikan, niscaya akan masuk Surga. Dan barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam kondisi membawa dosa syirik, sudah pasti masuk Neraka.”

Kemudian ketahuilah bahwa sesungguhnya kemusyrikan itu ada dua macam, yaitu

Pertama syirik besar, yang ini berdampak seseorang keluar dari keislamannya dan segala amal kebaikan yang pernah ia kerjakan terhapus. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang diutus sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’” [QS Az-Zumar: 65]

Penjelasan mengenai syirik macam pertama ini telah disinggung di muka.

Kedua, syirik kecil[7], yang ini hanya menghapuskan amalan yang dikerjakan yang bercampur dengannya saja, tanpa mempengaruhi amalan-amalan lainnya yang bersih dari syirik kecil. Syirik ini pun ada beberapa jenis, seperti riya’, berharap agar amalan baiknya dilirik oleh orang lain; sum’ah, berharap agar perbuatan baiknya didengar oleh orang lain. Dan sayangnya banyak orang yang terjangkit penyakit syirik kecil ini, kecuali orang yang mendapatkan perlindungan dari Allah Ta’ala. Sebab, kalau syirik besar sudah jelas perkaranya, sedangkan syirik kecil ini dalam banyak kasus muncul tiba-tiba tanpa disadari oleh pelakunya. Boleh jadi ketika ada seseroang mengerjakan shalat yang kemudian dilihatnya orang yang dikaguminya, membuat shalat itu diperindah, padahal sebelumnya biasa-biasa saja eloknya. Atau ketika perbuatan baik seseroang diingkari orang lain kemudian merasa tersinggung dan sakit hati.

Pernah suatu ketika Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan seuatu masalah agama kepada murid-muridnya dengan penjelasan yang amat sangat memukau, sangat elok, dan indah. Tidak berapa lama kemudian Ibnu Rajab bersama muridnya menghadiri majelis yang diisi oleh raja. Di sana dijumpai seseorang yang tengah menjelaskan masalah yang sebelumnya dijelaskan oleh Ibnu Rajab di hadapan mrid-muridnya. Namun penjelasannya ini tidak sebanding dengan penjelasan Ibnu Rajab. Biasa-biasa saja. Meskipun demikian, Ibnu Rajab tidak pernah mau ikut campur, menyela, atau memberi catatan. Seusai mereka bubar dari majelis tersebut, muridnya bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat Ibnu Rajam terdiam seribu bahasa ketika mendengarkan penjelasan orang tadi. Bukankah penjelasan beliau lebih elok? “Majelisku bersama kalian adalah semata-mata untuk Allah Ta’ala, sementara majelis yang tadi hanya diperuntukkan dunia,” jawab Ibnu Rajab menjelaskan.[8]

Padahal mungkin oleh sebagian orang suasana tersebut merupakan kesempatan emas untuk memperoleh keuntungan yang banyak dari raja. Siapa tahu setelah penjelasan Ibnu Rajab, beliau akan memperoleh jabatan penting di negara atau mendapatkan hadiah besar. Tetapi hal tersebut tidak pernah terpikirkan dalam benak Ibnu Rajab. Karena seberapapun nilai dunia, tak ada bandingnya dengan nilai akhirat!

Oleh karena banyaknya orang yang terjerumus dalam kemusyrikan model ini, sampai-sampai Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر

“Sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadap kalian ialah syirik kecil.”

Manakala beliau ditanya tentang apa itu syirik kecil, jawabnya, “Riya.” [HR Imam Ahmad]

Syaikh Hamid bin Muhammad bin Hasan bin Muhsin –rahimahullah– berkata, “Ketahuilah bahwa di antara kebijaksanaan Allah Ta’ala dan keadilan-Nya, Dia memperlakukan orang yang beramal dan berbuat untuk selain-Nya dengan kebalikannya. Hal tersebut karena Allah Ta’ala akan melihat si pelaku. Apabila amal perbuatan murni karena Allah, niscaya Allah akan memberinya pahala. Namun apabila dia menyekutukan-Nya dengan selain-Nya, maka Allah akan menolak amalannya tersebut dan membuatnya hampa serta rugi. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَنَتِ ٱلۡوُجُوهُ لِلۡحَيِّ ٱلۡقَيُّومِۖ وَقَدۡ خَابَ مَنۡ حَمَلَ ظُلۡمٗا

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.” [QS Thaha: 111]

Demikian juga orang yang berlaku riya’, ia ingin agar dirinya dipandang besar di mata manusia dengan sebab amal atau ucapan baiknnya, namun Allah menjatuhkannya di mata Allah terlebih dahulu kemudian menjatuhkannya di mata manusia.”[9]

Maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim agar pada setiap saat memohon kepada Allah agar diselamatkan dari berbagai kemusyrikan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim –‘alaihissalam-:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Ya Allah, jauhkanlah diriku dan anak keterunanku dari praktik menyembah berhala.” [QS Ibrahim: 35]

Kalaulah Ibrahim –‘alaihissalam– yang jelas-jelas berstatus sebagai utusan Allah saja mengkhawatirkan diri dan anak-anaknya terjerumus ke dalam lubang kesyirikan, tentu orang-orang yang statusnya jauh di bawah beliau tentu lebih berhak memohon kepada Allah agar dihindarkan dari seluruh perbuatan kemusyrikan.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah –shallalahu ‘alaihi wa sallam– kepada umatnya agar terhindar dari kemusyrikan ialah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan diri-Mu padahal aku mengetahuinya, dan aku memohon ampunan pada-Mu dari kesyirikan yang kuperbuat padahal aku tidak mengetahuinya.”

[HR Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dinilai shahih oleh Al-Albani]

Sebelum beliau mengajarkan doa tersebut di atas, beliau berkata:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ ؟

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya kemusyrikan itu lebih samar daripada semut yang berjalan. Karena itu, maukah kutunjukkan sesuatu yang apabila engkau panjatkan, maka kemusyrikan yang kecil maupun yang besar akan enyah darimu?” Kemudian mengajarkan dosa di atas. []

[1] Fath Al-Hamid Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid hlm. 164.

[2] Hadits ini menunjukkan keberadaan Allah Ta’ala, yaitu di atas langit, bersemayam di atas ‘Arsy. Sebuah keyakinan yang diingkari oleh sekte Asy’ariyyah dan lainnya. Semoga Allah selalu melindungi kita dari berbagai pemikiran menyimpang.

[3] Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan, hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 4563, dari Abu Ad-Darda’ secara marfu’. Di dalam sanadnya terdpat perawi bernama Baqiyyah bin Al-Walid.

[4] Artinya menduakan Allah dengan sesuatu sehingga sesuatu tersebut menjadi seakan-akan tandingan Allah Ta’ala.

[5] Makna asal tuhan ialah segala sesuatu yang disembah, yang diibadahi.

[6] Hasyiyah Kitab At-Tauhid hlm. 48.

[7] Disebut syirik kecil karena memang statusnya yang teramat samar dan orang-orang pun menganggapnya remeh, sebagaimana keterangan Syaikh Ibnu Jibril (lihat Fawaid min Syarh Kitab At-Tauhid hlm. 16). Padahal sejatinya syirik kecil termasuk dosa besar yang membinasakan, bahkan dosa yang tidak terampuni apabila dibawa magti oleh pelakunya, sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ulama-ulama lainnya. Hanya saja tidak menyebabkan pelakunya mendekam di neraka selama-lamanya. Oleh karena itu, pelaku riya yang belum taubat hingga meninggal, tidak mungkin masuk surga tanpa didahului oleh siksa terlebih dahulu karena ia harus mampir ke dalam neraka terlebih dahulu sebelum akhirnya ia dimasukkan ke dalam surga. Wallahua’lam.

[8] Dikisahkan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh.

[9] Fath Al-Hamid Al-Majid hlm. 167.