pencil

Menjual Rumah dan Sebongkah Emas Demi  Sebuah Buku

Terdengar aneh memang ketika sebuah rumah atau bongkahan emas harus dihargakan dengan satu buah buku atau beberapa buku bacaan sahaja. Disaat manusia era milenium sekarang berlomba-lomba mengumpulkan lembar kertas uang dan koin demi mencapai gelar hartawan dan jutawan dengan rumah bertingkat dan apartemen yang mewah, maka disaat lain ada sekelompok manusia sejarah para leluhur yang menjadi sosok-sosok pecinta buku, bukan  karena sampulnya yang indah dan menawan, bukan pula karena gelar yang mereka raih darinya, melainkan karena sebuah fakta bahwa hanya buku lah yang mampu menjadikan mereka sebagai sosok-sosok yang akan dikenang karena ilmu dan kebaikannya sepanjang masa. Merekalah para ulama rabbaniyyiin sang pecinta ilmu dan penikmat buku yang merupakan khazanah peninggalan para leluhur mereka yang paling berharga

Diantara bukti yang menunjukan betapa mereka sangat haus akan buku hingga rela menghabiskan hartanya demi mendapatnya.

Adalah Abul Alla’ Al-Hamadzani seorang pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal ( w. 569 H ), ia mengorbankan rumah yang ditempatinya demi mendapatkan beberapa buku. Diceritakan oleh  Ibnu Rajab dari Imam Thalhah Al-Atsli. Beliau berkata, “Suatu hari di Baghdad diselenggarakan bazar buku-buku Ibnu Al-Jawaliqi, maka Abul Alla’ pun mendatangi buku-buku yang tengah dijajakan hingga akhirnya ia membeli beberapa buku dengan harga 60 dinar dalam tempo satu minggu.”

Luar biasa sudah. Jika kita hitung satu dinar senilai Rp. 1.766.961,- saja (geraidinar.com, Desember 2015). Maka 60 dinar senilai  Rp. 106.017.660,- .

Kemudian Abul Alla’ pun pulang ke Hamadzan dan setelah sampai ia menawarkan rumahnya untuk dijual dengan taksiran harga 60 dinar..

Belum lagi seorang ahli nahwu ialah Abdullah bin Ahmad yang lebih tenar namanya dengan panggilan Ibnu Khasysyab (w. 567 H ), ia rela menjual rumahnya demi mendapatkan buku buku yang diidam-idamkan. Beliau pernah menceritakan bahwa dirinya telah membeli buku pada sebuah kesempatan hingga mencapai nilai 500 dinar. Tetapi karena tidak memiliki apa-apa terpaksalah ia harus menawarkan rumahnya hingga terjual 500 dinar sebanding dengan Rp. 888.480.500,-.

Sedangkan Ibnul Jauzi  pernah menyebutkan pada biografi Thahir bin Abish Shaqr (w. 476 H ) dalam bukunya, Al-Muntazham, “Ia adalah seorang yang senang mengembara ke segenap penjuru tempat dan banyak berguru kepada para ulama dari pelbagai negeri. Ia pernah mengatakan buku-bukuku lebih aku cintai daripada sebongkah emas.”

 

Sumber: Al-Musyawwiq Ila Thalab Al-‘Ilm karya ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah (w 1997 M) yang telah diterjemahkan.