pencil

Mewaspadai Tujuh Perbuatan Penduduk Neraka

Abu Hudzifah bin Al-Yaman pernah berkata:

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَهُ عَنْ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مخافةَ أن يُدركَني

“Adalah para shahabat Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– biasa bertanya kepada beliau tentang kebaikan, namun aku terbiasa bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir kalau-kalau aku terjerumus ke dalam keburukan tersebut.”

Dalam pada itu, seorang pujangga ‘Arab pernah bersenandung sebagai berikut:

عرفت الشر لا للشر لكن لتوقيه ،ومن لا يعرف الشر من الخير يقع فيه

“Aku tahu keburukan bukan untuk dilakukan, namun untuk menjauhinya…

Orang yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dimungkinkan akan terjerumus ke dalamnya.”

Berangkat dari sini, sudah sepantasnya kita mempelajari mana-mana yang bermanfaat dan mana-mana yang mencelakakan, seperti hadits shahih yang dirawayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim berikut:

 

Artinya:

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Kami (baca: para shahabat) bertanya, “Apa tujuh perkara tersebut, Rasulullah?” Beliau bersabda menjawab, Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali karena suatu alasan yang dibenarkan, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, kabur saat berkecamuknya peperangan, dan menuduh wanita suci yang tidak tengah lengah dengan perbuatan zina.

 

Hadits ini menjadi bukti jelas akan tingginya empati Rasulullah ♀ terhadap umatnya, sehingga tidak satu pun perkara yang mencelakakan melainkan akan beliau ingatkan, dan sebaliknya perkara-perkara kebaikan yang bermanfaat mendekatkan seorang mukmin kepada Surga, pasti telah beliau jelaskan.  Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud pernah mengabarkan, bahwa Rasulullah bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ ، لَيْسَ مِنْ شَيْءٍ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَيُبَاعِدُكُمْ مِنَ النَّارِ إِلا وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ ، وَلَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى النَّارِ ، وَيُبَاعِدُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ إِلا وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

“Wahai sekalian manusia, tidak satu perkara pun yang dapat mendekatkan kalian ke Surga dan menjauhkan dari Neraka, melainkan telah aku perintahkan kalian agar mengerjakannya. Dan tidak ada suatu perkara pun yang dapat menyebabkan kalian mendekati Neraka dan menjauhi Surga, melainkan aku telah melarang kalian agar jangan menerjangnya.” [HR Ibnu Abi Syaibah]

 

Adapun tujuh perkara yang membinasakan itu ialah:

Pertama, perbuatan syirik. Syirik artinya menduakan atau menyekutukan. Para ulama mendefinisikan syirik sebagai memalingkan segaka bentuk hak yang seharusnya khusus milik Allah kepada selain-Nya, seperti berdoa kepada selain Allah, bersumpah dengan makhluk, bernazar untuk selain-Nya, meyakini adanya pengatur alam semesta selain Allah, meyakini ada dzat lain yang dapat memberikan manfaat ataupun mudharat, meyakini dukun, meyakini jimat dapat memberi keselamatan, dan lain sebagainya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka Allah akan mengharamkan baginya Surga dan tempat kembalinya kelak adalah neraka. Dan orang-orang yang zhalim tidak akan memperoleh penolong.” [QS Al-Maidah:  72]

Firman-Nya pula:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu, Muhammad, dan kepada para nabi sebelum dirimu, bahwa apabila engkau berbuat menyekutkan Allah, niscaya segala amal kebajikanmu akan terhapus dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [QS Az-Zumar:  65]

Kedua, Sihir. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz menjelaskan:

والسحر من الشرك؛ لأنه عبادة للجن واستعانة بالجن في إضرار الناس، والساحر: هو الذي يتعاطى ما يضر الناس بواسطة الجن وعبادتهم من دون الله، فتارة يتعاطى ما يضرهم من أقوال وأعمال ونفث في العقد، وتارة بالتخييل حتى يرى الشيء على غير ما هو عليه.

“Sihir termasuk bentuk kemusyrikan karena ada penyembahan dan meminta tolong kepadanya untuk mencelaki manusia. Sedangkan penihir ialah orang yang berlaku mencelakai orang lain melalui perantara jin dan memuja selain Allah, yaitu jin. Kadang kala mereka mencelakai manusia dengan ucapan, perbuatan, atau sebulan pada buhul. Dan terkadang pula mencelakai dengan cara mengkhayalkan sesuatu tidak seperti kenyataan aslinya.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa melalui aktifitas sihir, seorang penyihir dapat menyebabkan orang lain meninggal, sakit, gila, suka, dan benci.

Beliau juga menerangkan bahwa sihir memiliki beberapa kategori yang kesemuanya berstatus haram, yaitu ada di antaranya yang sampai membuat pelakunya kafir, keluar dari Islam. Hal tersebut apabila sihirnya dilakukan dengan melalui pemujaan setan dan mematuhinya. Kedua, sihir yang tidak sampai batas kufur, yaitu apabila sihirnya tersebut dilakukan bukan dengan melalui pemujaan setan. Namun demikian, ini pun dosanya amat sangat besar.

Melihat besarnya dampak kejahatan penyihir, syariat Islam menetapkan hukum mati bagi pelakunya, baik ia sudah bertaubat ataukah belum. Padahal orang yang murtad saja, sebelum dijatuhkan hukum mati, diberi kesempatan untuk bertaubat dan kembali memeluk agama Islam. Apabila ia mau bertaubat, maka hukum mati tidak dilaksanakan, namun jika tetap bersikeras keluar dari agama Islam, maka hukum mati harus ditegakkan. Sedangkan penyihir, tidak diberi kesempatan bertaubat terlebih dahulu. Melainkan langsung dijatuhi hukum mati.[1]

Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab ◙ diriwayatkan pernah mengirim surat wakil-wakilnya yang ditugaskan di Syam:

أن يقتلوا كل ساحر وساحرة

“Agar setiap penyihir laki-laki maupun perempuan dihukum mati.”

Ketiga, membunuh. Membunuh juga termasuk kejahatan tingkat tinggi, namun statusnya tetap di bawah syirik, karena tidak ada dosa yang lebih besar dari syirik dan kufur. Di dalam Al-Quran, Allah berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمً

“Barangsiapa yang membunuh seorang muknin dengan sengaja, maka balasannya kelak ialah neraka jahanam kekal di dalamnya, murka Allah atasnya, laknat-Nya untuknya, dan Allah sediakan baginya azab yang pedih.” [QS An-Nisa’: 93]

Di antara sekian banyak hadits yang menunjukkan besarnya dosa membunuh ialah sabda Rasulullah ♀ berikut:

والذي نفسي بيده لقتل مؤمن أعظم عند الله من زوال الدنيا

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh membunuh satu jiwa orang yang beriman itu lebih berat di sisi Allah daripada lenyapnya dunia.” [HR An-Nasa’i]

Sedangkan membunuh orang lain karena suatu alasan yang dibenarkan, maka tidak masuk dalam ancaman di atas, dan bahkan adakalanya wajib dan berpahala besar. Rasulullah  bersabda:

لا يَحلُّ دمُ امرىءٍ مسلم إلاّ بإحدى ثلاث : كَفَرَ بعدَ إسلامهِ ، أو زَنَى بعد إحصانهِ ، أو قَتَلَ نفساً بغير نفس

“Tidak dihalalkan darah seorang muslim melainkan karena salah satu dari tiga alasan berikut, yaitu: kufur setelah sebelumnya berislam, berzina setelah menikah, atau menumpahkan darah tanpa alasan yang benar.” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah]

Keempat, riba. Mengenai hal itu, Allah berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” [QS Al-Baqarah: 275]

Dalam pada itu, riba merupakan satu-satunya dosa yang karenanya Allah mengumumkan peperangan antara Allah dan Rasul-Nya dengan pelaku riba. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa riba apabila kalian benar-benar beriman. Namun jika kalian enggan meninggalkan transaksi riba, maka umumkanlah peperangan dari Allah dan Rasul-Nya.” [QS Al-Baqarah: 278-279]

Baginda Rasulullah ♀ bersabda:

الرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا ، أَيْسَرُهَا : مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ ، وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا : عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

“Riba memiliki 73 bentuk, dosa terkecilnya ialah seperti dosa orang yang menikahi ibu kandungnya sendiri. Dan Sesungguhnya riba yang paling riba ialah mencederai kehormatan seorang muslim.” [HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak]

Sementara itu Imam Ahmad dalam Al-Musnad mengeluarkan hadits –yang sebagian ulamanya menilainya hasan dan sebagiannya lagi menilainya munkar-berikut:

دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ، أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً

“Satu dirham hasil riba yang dikonsumsi seseorang padahal dia mengetahui akan hal tersebut, lebih berat dosanya daripada melakukan zina sebanyak 36 kali.”

Meskipun beratnya dosa riba, namun sayangnya di zaman sekarang ini kehidupan manusia hampir tidak bisa selamat dari transaksi riba. Bahkan orang yang berusaha menjauhi praktik riba sekalipun terkena pula imbas riba.

Bentuk-bentuk riba yang jelas nampak di depan mata kepala kita, misalnya, transaksi bank konvensional dengan berbagai jenisnya –termasuk KPR rumah-, sistem denda manakala terlambat membayar iuran, koprasi yang marak di Tanah Air, asuransi dengan berbagai modelnya, dan lain sebagainya.

Kelima, memakan harta anak yatim. Yatim ialah sebuah istilah yang diberikan kepada setiap orang belum baligh yang sudah ditinggal meninggal ayahnya. Sehingga anak yang ditinggal pergi ayahnya tidak masuk dalam ketegori anak yatim.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

“Dan janganlah mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik hingga ia berusia dewasa.” [QS An-Nisa’: 10]

Keenam, kabur tatkala peperangan sedang berkecamuk, kecuali karena alasan yang dapat dibenarkan, yaitu dalam ayat berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ زَحۡفٗا فَلَا تُوَلُّوهُمُ ٱلۡأَدۡبَارَ وَمَن يُوَلِّهِمۡ يَوۡمَئِذٖ دُبُرَهُۥٓ إِلَّا مُتَحَرِّفٗا لِّقِتَالٍ أَوۡ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٖ فَقَدۡ بَآءَ بِغَضَبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأۡوَىٰهُ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” [QS Al-Anfal: 15-16]

Ketujuh, menuduh seorang wanita suci yang tidak tahu menahu dengan perbuatan zina. Menuduh di sini bisa terjadi dengan berbagai cara, entah dengan kalimat tegas maupun lainnya, melalui lisan atau tulisan. Objek tuduhan di ini tidak disyaratkan harus wanita, bahkan laki-laki pun termasuk di dalamnya. Sehingga apabila ada seseorang yang menuduh laki-laki berbuat zina padahal tidak benar, maka terancam pula dengan hadits ini.

Allah berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” [QS An-Nur: 23-24]

Firman-Nya pula:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا  وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita suci kemudian tidak dapat mendatangkan empat saksi, maka cambuklah penuduh tersebut sebanyak delapan puluh cambukan dan jangan terima persaksiannya selama-lamanya. Mereka itu orang-orang yang fasik.” [QS An-Nur: 4]

Firman-Nya pula:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” [QS An-Nur: 19]

Oleh karena itu, gosip-gosip yang bertebaran di masyarakat yang belum jelas kebenarannya, apalagi berkaitan dengan aib dan kehormatan seorang muslim, harus dibendung agar tidak menjurus pada tindakan menuduh orang lain berbuat sesuatu yang tidak pernah ia buat. Namun sayangnya di akhir zaman ini aktifitas gosip dan ghibah malah justru digandrungi oleh tidak hanya kaum wanita, bahkan kaum laki-laki pun turut menikmatinya. Malahan diubah menjadi penghasilan yang besar, seperti acara-acara media masa.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi kita dari semua kebinasaan.

[1] Syarh Riyadh Ash-Shalihin (VI/573).