pencil

Nasihat Untuk Para Pengajar Al-Quran

Menjadi guru dan pengajar Al-Quran  merupakan sebuah profesi yang paling mulia, di saat manusia berlomba meraih profesi menjadi seorang dokter atau seorang dosen ilmu pengetahuan umum dan segenap profesi yang identik dengan perkara duniawi. Maka menjadi pengajar Al-Quran merupakan sebuah profesi yang erat kaitannya dengan saham-saham akhirat, adakah yang lebih mulia bagi seorang muslim daripada meraih kemuliaan dan kesuksesan di akhirat kelak? Walaupun demikian kita tidak mengingkari akan kebikan serta maslahat yang kita rasakan dari ilmu  dan propesi duniawi yang ada. Akan tetapi kita berbicara tentang sesuatu yang lebih baik dan mulia. Bagaimana tidak? Berkaitan dengan profesi menjadi guru Al-Quran  telah mendapatkan apresiasi secara khusus oleh manusia yang paling tinggi kedudukannya disisi Allah yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Beliau bersabda :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري)

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Al-Bukhari)

Maka, adakah rekomendasi yang lebih mulia daripada rekomendasi beliau shallallahu alaihi wa sallam?

Wahai para pengajar kitabullah sesungguhnya kalian adalah manusia pilihan Allah. Betapa tidak Allah telah memberikan kepercayaan untuk menyampaikan amanah risalah agung yang dibawa oleh Jibril kemudian diturunkan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Maka dengan demikian sudah semestinya para pengemban amanah  ini memperhatikan perkara-perkara yang wajib dimiliki oleh seorang pengajar Al quran.

Inilah point-point yang wajib dimiliki oleh para pengajar Al-Quran:

  1. Pribadi yang ikhlas dan tulus

Sesungguhnya ikhlas merupakan pilar sebuah kesuksesan, dan kesuksesan sebuah pendidikan sudah semestinya menjadi sesuatu yang paling dicita-citakan karena ia adalah  estapet kejayaan sebuah umat yaitu karya ilmiah yang diwariskan secara turun temurun.

Seorang pengajar Alquran harus menyadari dan memposisikan diri bahwa ia adalah sebagai tombak kesuksesan akan lahirnya orang-orang yang mengemban risalah Al quran setelahnya.

Keikhlasan seorang pengajar Al-Quran adalah dengan meniatkan untuk mengabdi sebagai para khadimul quran pembantu kitabullah yang mulia.

Sungguh-sungguh lahirnya sosok-sosok para ulama besar seperti para Aimmatu   Al-Madzhab dan para Qurra’ adalah buah daripada keikhlasan dan ketulusan mereka dalam mengabdi kepada agama Allah. Bukan semata-mata karena keilmuan mereka yang terlalu hebat.  Karena jika demikian tentu guru-guru mereka lah yang lebih berhak untuk lebih tersohor sebagaii wasilah atau perantara kesuksesan para imam-imam madzhab tersebut. Tidaklah demikian itu kecuali disebabkan oleh keikhlasan dan ketulusan mereka bahkan lahirnya mereka pun bisa dipastikan karena ketulusan para guru sehingga mampu mencetak generasi orang-orang yang hebat. Kendati demikian keikhlasan seseorang adalah bertingkat-tingkat  hanya Allah lah yang berhak menilainya.

 

  1. Pribadi yang lembut dan berakhlak

Sesungguhnya kelembutan adalah senjata yang paling ampuh dalah segala hal. Kelembutan tidak mengenal medan tertentu sebagaimana Nabi Musa diperintahkan untuk berkata lembut menghadapi bengisnya seorang raja Fir’aun. Sedangkan Rasulullah diperintahkan untuk berlaku lemah lembut kepada orang-orang di sekitar beliau saat itu.

Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ

“Maka atas karunia dari Allah lah engkau berlaku lembut kepada mereka,seandainya engkau keras dam kasar niscaya mereka akan benar-benar berpaling darimu,maka maafkanlah mereka dan mintakanlah ampunan untuk mereka.” (Alu Imran: 159)

Selain kelembutan secara khusus, maka para pengajar Al-Quran dituntut untuk memilki akhlak dan sifat-sifat yang mulia. Mengajarkan dengan penuh kasih sayang, memaafkan setiap kesalahan yang dilakukan oleh anak didiknya, dan mendoakan mereka dalam bentuk ampunan dan kebaikan lainnya.

Bagaimana mungkin sebuah ilmu akan ditransfer kepada seorang murid jika gurunya tidak ridha kepadanya? Dan bagaimana mungkin kasih sayang Allah akan turun kepada orang0orang yang tidak berkasih sayang sesama mereka?

Ingatlah dalam mengajarkan Al-Quran bukan semata-mata mentransfer pelajar huruf hijaiyyah dan intonasi bacaan. Tetapi lebih dari itu adalah mampu menyampaikan makna daripada isi Al-Quran kepada anak didik kita sehingga mampu membentuk sebuah karakter pribadu qurani yang mampu di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bukanlah sebuah hal yang mustahil karna Rasulullah pun telah sukses menjadi pribadi qurani bahkan beliaulah gambaran dari isi seluruh Al quran sebagaimana pernah disampaikan oleh ibunda kita Aisyah radiyallahu anha sedangkan Rasulullah adalah sebagai tauladan yang wajib kita contoh.

 

  1. Pribadi yang jujur dan amanat

Tidak ada kejujuran dan amanah yang paling berat bagi seorang guru melainkan amanah waktu.

Mungkin anda adalah seorang yang tidak terikat dengan sebuah lembaga atau yayasan,tetapi ketika anda sudah membuat sebuah akad dibawah naungan sebuah lembaga maka disaat itu juga anda bekewajiban menunaikan hak-hak lembaga tersebut.

Seorang pengajar Al-Quran berkewajiban memberikan waktu,perhatian dan pengorbanannya untuk kepentingan lembaga Dan murid karna mereka adalah amanah yang harus ditunaikan sehingga ia dituntut untuk membedakan antara kepentingan yang bersifat pribadi dan kepentingan yang bersifat umum sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

Seorang pengajar Al-Quran memahami bahwa yang ia ajarkan adalah al quran yang dibawa oleh para al-umanaa yaitu sosok-sosok yang amanah, Jibril alaihi salaam dan nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Maka sudah seharusnya pengajar Al quran menjadi sosok yang terpercaya dalam menyampaikan materi dan pesan-pesan yang ada dalam Al-Quran sehingga melahirkan kejujuran sikap dan akhlak, jauh dari sifat pura- pura serta mampu menjadi seorang qudwah orang pertama yang menerapkan Al-Quran dalam setiap sisi kehidupannya.

Dengan izin Allah hal ini akan melahirkan sosok sosok murid yang dapat diharapkan pribadi dan keilmuannya.

 

  1. Tombak kesuksesan seorang murid

Inilah point terakhir yang harus dimiliki oleh seorang pengajar Al-Quran. Bahwasanya ia dituntut untuk memaksimalkan seluruh kemampuan yang ia miliki dan seluruh pengetahuan yang ia punya. Hal ini dikarenakan setiap murid memiliki tingkat kempuan serta karakter yang berbeda-beda sehingga ia harus memahami cara yang cocok yang mendukung kepada kesuksesan setiap anak yang beragam karakternya.

Murid yang memerlukan bimbingan khusus tidak bisa disamakan dengan murid yang sudah mandiri. Lebih jauh lagi ia harus mampu membuat suasana dimana seorang murid dengan berbagai tingkatan dan perbedaan yang ada mampu bersam-sama untuk belajar membaca dan menghafal Al-Quran.

Inilah inti dan hasil dari seluruh komitmen yang ada yaitu ikhlas serta ketulusan yang tercerminkan dalam pribadi seorang guru berakhlak baik yang kemudian melahirkan kerja keras dan sungguh- sungguh dalam mendidik para muridnya.

 Wallahu ta’ala ‘alam