pencil

Syaikh Abdul ‘Aziz At-Tharifi, Sosok ‘Alim Rabbani yang Berakhir di Balik Jeruji Besi

Merupakan sunnatulloh yang tak dapat dipungkiri bahwasannya Al-Haq akan selalu bertentangan dengan Al-Batil. Keniscayaan ini selalu datang dan pergi setiap masa dan zaman. Ulama adalah pewaris Para Nabi, menyuarakan kebenaran dan melawan kebatilan adalah salah satu profesi utama, mereka berdakwah menyebarkan kebenaran Risalah ilahi walau banyak hadangan dan rintangan. Sebagai lawannya kebatilan akan muncul dan menjadi tandingan di saat kebenaran disuarakan lantang.

Cercaan, intimidasi, hinaan, hingga ancaman jeruji besi dan bahkan tak jarang yang berujung pada kematian adalah konsekuensi dan resiko menyuarakan kebenaran.

Dalam dinamika sejarah, kriminalisasi Ulama bukanlah hal baru. Betapa banyak Ulama yang demi kebenaran berani mengkritik dan meluruskan para penguasa yang menyimpang. Mereka inilah Ulama-Ulama lurus yang tidak silau dengan iming-iming penguasa dan kepentingan duniawi. Tanpa kompromi, yang benar mereka katakan benar, dan yang salah mereka katakan salah. Akibat dari keteguhan ini, mereka mengalami kriminalisasi dan penyiksaan.

Adalah Syeikh Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi sosok ulama akhir zaman dan figur umat islam abad ini, beliau merupakan salah satu dari sekian banyak Ulama Rabbani yang berani memegang teguh prinsip kebenaran dan berani menyuarakannya tanpa takut akan konsekuensi dan “ganjaran” yang akan didapat. Spontan saja tepat pada hari Sabtu sore tanggal 23 April 2016 Syeikh Abdul ‘Aziz merasakan dampak dari “harga sebuah kejujuran” yang selama ini beliau simpan di saku imannya, beliau ditangkap oleh otoriter keamanan Arab Saudi di rumahnya di Riyadh. Beberapa khutoba mengonfirmasi penangkapannya dari penuturan seorang puteranya bahwa pasukan keamanan telah menangkap ayahnya. Namun  ia tidak merinci alasan penangkapannya.

Merespon kasus penangkapan beliau, sejumlah aktivis media mengatakan bahwa penangkapan Syaikh At-Tharifi tidaklah mengejutkan. Beliau diperkirakan akan ditangkap dalam beberapa hari terakhir setelah penangkapan Dr. Muhammad Hudhaif, dan pemecatan Sulaiman Duwaish.

Komentar dan kritikan beliau yang diduga membuat beliau harus berujung di balik jeruji besi adalah kritikan terhadap penguasa di akun  Twitternya. Meskipun tidak secara spesifik penguasa negara mana yang dimaksud. Beliau mengatakan:

يظن بعض الحكام أن تنازله عن بعض دينه إرضاء للكفار سيوقف ضغوطهم، وكلما نزل درجة دفعوه أخرى، الثبات واحد والضغط واحد فغايتهم (حتى تتبع ملتهم).

“sebagian penguasa berpikir bahwa menghapuskan sebagian (ajaran) agama untuk memuaskan orang-orang kafir akan menghentikan tekanan  mereka. Ketika turun derajat, orang-orang Kafir tersebut akan mendorongnya lagi, menstabilkan dalam satu urusan, dan menekan pada satu urusan lain, maka itulah tujuan mereka, (sampai mengikuti agama mereka).”

Diantara kritikan beliau yang paling “pedas”  sebelum kritikannya terhadap penguasa tersebut adalah serangannya terhadap chanel televisi sekuler Al-Arabiya:

“Seandainya (Al-Arabiya) berada di zaman Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka tidak ada orang munafik kecuali berkumpul di dalamnya, dan tidaklah kekayaan Bani Quraidhah dikumpulkan kecuali untuk itu.”

Kritikan tersebut beliau publikasikan di Twitter dan telah di-retweet hingga ratusan ribu.

Lalu siapakah sosok ulama pemberani tersebut yang patut bagi Ummat ini tuk dijadikan teladan dan panutan?

Beliau adalah Abdul Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi lahir di Kuwait 7 Dzulhijjah 1396 H bertepatan dengan 29 November 1976. Sering dipanggil Abu Umar atau Abu Yusuf. Beliau adalah lulusan fakultas syari’ah Universitas Muhammad ibn Su’ud, Riyadh. Beliau juga pernah aktif sebagai peneliti resmi di Kementrian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Kerajaan Arab Saudi.

Ulama saudi ini memiliki pengetahuan dan wawasan yang sangat luas dalam ilmu Islam dan Syari’at, ditambah hobinya suka mentelaah dan meringkas banyak  kitab-kitab warisan Ulama Salaf yang jarang digandrungi para Thullabul ‘ilmi di zaman sekarang ini.

Kehidupannya diliputi kecintaan terhadap ilmu dan dakwah, hal tersebut telah tertanam sejak beliau masih kecil. Di usianya yang baru beranjak remaja (13 tahun), beliau telah banyak menghafal matan ilmiah, seperti matan Usul ats-Tsalasah, kasyfu syubhat, Kitabut-Tauhid, dan Fadhlul Islam karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-‘Atsqalani, dan juga ratusan bait sya’ir.

Menginjak usia 15 tahun beliau mulai mengambil kitab-kitab induk dalam berbagai bidang dan membacanya, diantaranya Tafsir Ibn Katsir, Zaadul Ma’ad, Siroh Ibn Hisyam dan Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah. Masuk usia 16 tahun, Syaikh Ath-Tharifi mulai meringkas semua buku yang pernah ia baca. Beliau mulai meringkas Tafsir Ibn Katsir dan Zaadul Ma’ad hingga selesai, lalu beberapa jilid dari kitab Al-Mughni (Fiqh Hanbali) karya Ibn Qudamah Al-Maqdisi, juga beberapa jilid Fatawa Ibn Taimiyyah, dan setengah kitab Al-Istidzkar karya Ibn Abdil Barr. Dirinya merasakan manfaat yang lebih ketika meringkas kitab-kitab tersebut, hafalan semakin menjadi kuat dan pemahaman semakin mendalam.

Pada usia 18 tahun, Ath-Tharifi mulai menghafal kitab-kitab hadits dimulai dari Shahihnya Al-Bukhari dan Muslim kemudian kitab-kitab Sunan, seperti Sunan Abi Dawud. Selain itu beliau juga membaca Sunan Al-Baihaqi, Sunan Said bin Manshur, Shahih Ibn Khuzaimah, Shahih Ibn Hibban, Mushannaf Abdur-Razzaq, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, kesemua ini beliau baca lebih dari sekali. Lalu Al-Muhalla-nya Ibn Hazm (berkali-kali), Al-Ausath-nya Ibnul Mundzir, Ma’rifat As-Sunan wal Atsar-nya Al-Baihaqi, Sunan Daruquthni, Al-Mathalib Al-‘aliyah bi Zawaid Al-Masanid Ats-Tsamaniyah, dan kitab-kitab lainnya yang berisi pendapat fiqih Salaf.

Di bidang fiqh selain yang telah disebutkan di atas, beliau juga telah membaca kitab Al-Hujjah ‘ala Ahlil Madinah wal Atsar (Fiqh Hanafi) dan riwayat-riwayat Fiqh Imam Ahmad pada umumnya.

Masih banyak lagi kitab-kitab yang beliau baca, yang tak cukup dipaparkan di sini, kesemua ini menunjukan tentang keluasan wawasan ilmu beliau dan ijitihad tingkat tinggi yang melekat pada jiwa sang ulama rabbani.

Guru dan Para Masyaikhnya Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi

Syekh Ath-Tharifi meskipun beliau lebih suka menghabiskan waktunya untuk mentelaah kitab, beliau juga sibuk menuntut ilmu dari para ulama. Diantara guru-guru beliau:

  1. Fahilatus-syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
  2. Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz bin Uqail
  3. Syaikh Muhammad Hasan As-Syanqiti
  4. Syaikh Saleh Ali Hasan
  5. Syaikh Muhadits Abdul Karim Al-Khudhair
  6. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, dan para ulama lainnya.

Beliau juga menziarahi berbagai negara demi cintanya pada ilmu dengan tujuan tuk berguru dengan para ulamanya. Diantara negara yang sempat beliau singgahi adalah Maroko, Mesir, Somalia, India dan negara-negara lainnya.

Karya-karya Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi

Selain dikenal sebagai pencari ilmu yang gigih, beliau dikenal juga sebagai penulis dan da’i super aktif baik di dunia nyata maupun maya. Beberapa buah karya yang telah diterbitkan dan dipublikasikan:

  • Al-Fashlu bainan-nafsi wal ‘aqli
  • Al-Maghribiyah fii syarhi Al-‘Aqidah Al-Qoirowaniyyah
  • Al-Khurosaniyyah fi syarhi ‘aqidah Ar-Raziyyin
  • Tauhidul kalimah ‘ala kalimatit-Tauhid
  • Al-‘Ilam bi taudhihi nawaqihil-islam
  • At-tafsir wal bayan li ahkamil-Qur’an
  • Zawaid sunan Abi Dawud ‘ala as-Shahihain wal kalam ‘ala ‘ilal ba’dhi haditsihi
  • Al-hijab fi as-Syar’i wal fithrati bainad-dalil wal qoul ad-dakhiil
  • Sifatu sholat an-Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam
  • Al-‘Ulama wa Al-Mitsaaq
  • Al-‘Aqliyyah Al-Libiroliyyah fi washfil-‘aqli wa washfin-naqli

Dan masih banyak karya-karya beliau lainnya berupa risalah ilmiyah dan muhadhoroh yang dirangkum dalam sebuah buku.

Di antara karya ilmiah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath-Thuraifi

Sebagai  penutup dari artikel ini, penulis akan memaparkan beberapa kata-kata mutiara Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi – semoga Alloh menjaga dan segera membebaskannya- yang mengandung nasehat ketulusan, taujihat, dan irsyadat.

Ujian terhadap Pembela Kebenaran

perjuanganmu dalam membela kebenaran tidak akan bisa ditempuh kecuali melalui ujian dan gangguan dari manusia. Betapa banyak para Nabi telah dibunuh, seperti halnya Yahya dan Zakariya, terusir seperti halnya Musa, dipenjara seperti halnya Yusuf, dan terasing, diboikot,dan diganggu secara fisik seperti halnya Sayyidul Anbiya, Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Barulah kemudian kebenaran menang.”

 

Prinsipnya Orang-Orang Dzalim

Orang-orang dzalim itu memiliki prinsip bahwa mereka tidak akan bisa menguasai dan menaklukan suatu kaum, kecuali dengan cara memecah belah manusia menjadi golongan-golongan, partai-partai, kemudian menyibukan mereka dalam urusan pribadi masing-masing. “Sesungguhnya Fir’aun telah sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka.” (Qs. Al-Qashash: 4).”

 

Antara Sabar dan Tergesa-gesa

Sifat tergesa-gesa dan sabar tidak mungkin bersatu. Dengan kesabaran akan tercapai tujuan dan tergesa-gesa akan membuat mati cita-cita. “Maka bersabarlah sebagaimana bersabarnya ulul-azmi (orang yang memiliki keteguhan hati) dari para Rasul, dan janganlah kamu meminta disegerakan (adzab) bagi mereka.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35).”

 

Nasehat bagi Para Da’i

Wahai Al-Mushlih! Wahai orang-orang yang melakukan perbaikan! Allah ingin menjaga agama-Nya melalui dirimu, bukan menjaga duniamu dengan menggunakan agama-Nya. Karenanya jika hilang sesuatu dari duniamu di jalan agamamu, maka itu adalah konsekuensi dari perjanjianmu dengan Rabb-mu. Karena sungguh Allah telah membeli jiwamu.”

 

Sumber Kehancuran Suatu Negeri

Aku cermati sejarah 30 negeri yang telah hancur, dan aku dapati bahwa kehancuran negeri-negeri tersebut berawal dari penyakit yang dihembuskan dari dalam melalui tangan kaum munafiqin, kemudian barulah musuh-musuh dari luar melemahkan dan menguasai negeri-negeri tersebut.”

 

Ujian dalam Kebaikan

Manusia diuji dengan kebaikan, sebagaiman ia diuji dengan keburukan. Maka jika engkau mendapat suatu kebaikan , namun engkau lihat kebaikan itu justru menjauhkanmu dari Rabb-mu, maka sungguh engkau tengah diuji, dan ketahuilah bahwa kebaikan itu sejatinya ialah keburukan. “Dan kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan).” (Qs. Al-Anbiya: 35).”

 

Wallohu a’lam bis showwab.