pencil

Doa Istighfar yang Paling Ampuh

Berbuat dosa kesalahan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dari makhluk Allah yang bernama manusia, sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Setiap anak Adam pasti banyak salahnya. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah ialah yang mau bertaubat. Bahkan dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits, “Kalau seandainya kalian tidak berbuat dosa, pasti Allah akan melenyapkan kalian dan Dia akanmendatangkan makhluk yang berbuat dosa lalu kemudian mereka beristighfar, sehingga Allah ampunkan mereka.”

Oleh karena itu, seberapa pun dosa yang dilakukan seorang hamba, pintu ampunan Allah masih terus terbuka lebar selama nyawa belum sampai di kerongkongan dan sebelum matahari terbit dari arah Barat. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri dengan banyak melakukan dosa, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa kesalahan. Sesungguhnya Dia Mahapengampun Mahamengasihi” [Az-Zumar: 53]

Ayat ini memberi pengertian bahwa dosa yang dilakukan oleh seorang manusia, akibat buruknya akan ia terima sendiri kelak di akhirat. Betapa tidak? Dia sendirilah kelak yang akan mempertanggungjawabkannya di akhirat. Kekayaan, banyaknya keturunan, dan melimpahnya handai taulan tidak akan bermanfaat untuknya kelak, kecuali jika Allah mengizinkan. Namun yang jelas, masing-masing dari kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Antara kita dengan Allah, tidak ada petugas yang bertugas menerjemahkan ucapan Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, sebelum masa genting tersebut terjadi, marilah mulai detik ini bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya, banyak mengucapkan istighfar, dan mengimbangi perbuatan-perbuatan jahat yang telah lampau dengan perbuatan-perbuatan yang baik.

Kemudian, dalam beristighfar ada beragam bentuk yang dapat dipraktikkan. Tentu dengan banyaknya ragam itu kita dapat memilih mana yang kita suka atau masing-masing kita pakai. Akan tetapi yang lebih utama ialah manakala kita memilih doa istighfar yang paling afdhal dibanding doa-doa istighfar yang lainnya. Para ulama mengatakan, termasuk Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari –penyusun Kitab Al-Jami’ ash-Shahih-, bahwa doa istighfar yang paling utama ialah doa Sayyidul Istighfar. Redaksi doa tersebut sebagai berikut:

Artinya:

“Ya Allah, Engkaulah Tuhan-ku, tidak ada tuhan yang berhak disembahkan kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Akulah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu semampuku. Aku berlindung pada-Mu dari segala keburukan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa melainkan Engkau.”

Doa istighfar ini diriwayatkan melalui jalur shahabat Syaddad bin Aus, dari Nabi Muhammad –shallalahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Sayyidul Istighfar adalah kamu mengucapkan:…” (kemudian beliau menyebutkan doa di atas).

Syaddad berkata, Rasulullah bersabda:

قال ومن قالها من النهار موقنا بها فمات من يومه قبل أن يمسي فهو من أهل الجنة ومن قالها من الليل وهو موقن بها فمات قبل أن يصبح فهو من أهل الجنة

“Barangsiapa yang mengucapkan doa tersebut di waktu pagi dengan penuh meyakini isinya, kemudian ia meninggal pada hari itu sebelum sore hari, niscaya ia termasuk penduduk Surga. Dan barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dengan penuh meyakini isi kandungannya, kemudian ia meninggal sebelum pagi hari, niscaya ia digolongkan sebagai penduduk Surga.” [HR Al-Bukhari, Kitab Doa-doa, Bab Doa Istighfar yang Paling Afdhal]

Berangkat dari hadits ini, sudah sepantasnya kita membaca doa ini minimal dua kali dalam sehari. Sekali seusai shalat shubuh, dan sekali seusai shalat maghrib. Tentu setelah membaca zikir-zikir yang biasa dibaca selepas shalat fardhu.

Kenapa doa istighfar ini oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dikatakan sebagai penghulunya doa-doa istighfar? Sebab sebagaimana kita ketahui bersama, doa tersebut memuat pengakuan seorang hamba akan keesaan Allah Ta’ala dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat-Nya. Kemudian pengakuan yang jujur seorang hamba akan segala kekurangan dan doa-dosanya. Karena kemahasempurnaan Allah itulah, hanya Dia jualah yang mampu mengampunkan segala dosa kesalahan hamba-Nya tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan sebagai berikut:

Hadits ini memuat banyak pengetahuan agung yang karenanya menyebabkan berhak mendapatkan predikat sayyidul istighfar, yaitu penghulunya doa istighfar. Doa ini diawali dengan pengakuan seorang hamba akan kerububiyahan (baca: ketuhanan) Allah, kemudian dengan pengakuan tauhid uluhiyah melalui ungkapan لا إله إلا الله, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata. Lalu disebutkan bahwa Allah jualah yang menciptakannya dan mengadakannya dari ketiadaan menjadi ada. Sehingga dialah yang berhak berbaik kepada hamba tersebut dengan memberikannya maghfirah terhadap segala dosa kesalahannya, sebagaimana Dia telah mengawali kebaikan-Nya kepadanya dengan menciptakannya.

Kemudian kalimat “akulah hamba-Mu” merupakan bentuk pengakuan kepada Allah bahwa ia benar-benar hamba. Allah telah menciptakan manusia untuk-Nya dan untuk beribadah kepada-Nya. Dalam sebuah atsar disebutkan, Allah berfirman, “Manusia, Aku telah menciptakanmu untuk diri-Ku. Dan telah Kuciptakan segala sesuatu untukmu. Oleh karena itu, janganlah kamu tersibukkan dari maksud tujuan Aku menciptakanmu.”

Karenanya, apabila ada seorang hamba yang enggan mematuhi-Nya, tidak mau mencintai-Nya, dan menjauhi-Nya, tentulah ia dicap sebagai hamba yang lari dari Tuan-nya. Dan kalau nanti ia bertaubat dan kembali kepada-Nya, tentulah Allah sangat senang akan hal tersebut. Bahkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Allah lebih senang dengan taubat hamba-Nya daripada senangnya seseorang yang menemukan kembali hewan tunggangannya yang membawa makan minumnya setelah sebelumnya ia berputus asa di suatu daerah yang membinasakan.” [Dikutip dari Jami’ Al-Masail vol. 1]

Mudah-mudahan keterangan yang singkat ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian. Aamiin…