pencil

Empat Pesan Pokok Surat Al-‘Ashr Sebagai Dasar Islam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَٱلۡعَصۡرِ

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ

“Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Surat yang oleh para ulama dikategorikan sebagai surat Makkiyyah yang terdiri dari 3 ayat, 14 kalimat, dan 68 huruf ini mengandung empat pesan pokok yang layak direnungi oleh setiap muslim. Empat pesan pokok itu bisa dikatakan sebagai pondasi dasar tegaknya agama Islam. Oleh karena itu, orang yang tidak memahaminya berarti statusnya sebagai seorang muslim patut dipertanyakan. Empat pokok tersebut ialah sebagai berikut:

Pertama, pengetahuan. Yang dimaksud dengan pengetahuan di sini ialah pengetahuan yang meliputi tiga hal:

  1. Pengetahuan tentang Allah Ta’ala melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya seperti pergantian siang dan malam yang sangat teratur, sehingga siang tidak akan mungkin mendahului malam, dan demikian pula sebaliknya. Sedangkan di antara sekian makhluk ciptaan Allah yang sangat indah ialah matahari dan rembulan. Masing-masing dari dua makhluk besar tersebut juga tidak akan saling mendahului satu sama lain. Keduanya akan berjalan teratur. Allah Ta’ala berfirman:

وَءَايَةٞ لَّهُمُ ٱلَّيۡلُ نَسۡلَخُ مِنۡهُ ٱلنَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظۡلِمُونَ

وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِي لِمُسۡتَقَرّٖ لَّهَاۚ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ

وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَٰهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِيمِ

لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ وَكُلّٞ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yasin: 37-40]

Di samping ayat-ayat kauniyah di atas, mengenal Allah Ta’ala juga dapat terwujud dengan cara merenungi dan mentadaburi ayat-ayat Quraniyah. Sebab, di dalamnya dijelaskan dengan gamblang identitas Allah ‘Azza wa Jalla, Rab semesta alam. Bahkan Al-Quran mengajarkan mansusia cara membaca ayat-ayat kauniyyah dengan metode terbaik. Ringkasnya, Al-Quran telah menyajikan berbagai hal tentang Allah yang seyogyanya diketahui. Selagi kita mau membaca Al-Quran, kita akan mengenal-Nya; nama, sifat, dan perbuatan-Nya.

  1. Pengetahuan tentang Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Keurgenan mengenal sosok Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dapat tersingkap manakala kita memahami betul betapa beliaulah satu-satunya makhluk yang memerantai antara Allah dan manusia sekalian. Beliaulah yang diberi tugas menyampaikan semua pesan Allah kepada segenap manusia dan jin selaku makhluk mukallaf.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ وَإِن لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُۥۚ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” [Al-Maidah: 67]

Oleh karena itu, kalau sampai ada seorang yang mengaku muslim mencari suri tauladan dalam mengerjakan ibadah dan jalan menuju Allah Ta’ala dari selain dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bukan dengan tujuan mencari penjelasan petunjuk ibadah beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti tingkah laku kaum tarekat dari kalangan shufiyyah yang mana antara satu tarekat dengan tarekat lainnya memiliki tata cara sendiri dalam menempuh jalan menuju Allah, maka itu artinya ia telah membatalkan persaksiannya sendiri bahwa Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai utusan Allah Ta’ala walaupun lisannya fasih mengucapkan syahadat tersebut.

Dan mengenal Nabi Muhammad – shallallahu ‘alaihi wa sallam- meliputi pengetahuan tentang sejarah hidupnya baik secara global maupun rinci, memahami bagaimana wahyu Allah sampai kepadanya, dan yang lebih penting dari itu ialah mengetahui dengan baik hadits-haditsnya.

  1. Pengetahuan tentang agama Islam. Islam merupakan agama seluruh para nabi dan rasul. Secara prinsip agama kaum terdahulu dengan kaum Nabi Muhammad – shallallahu ‘alaihi wa sallam – sama, hanya yang menjadi titik perbedaan ialah soal-soal yang menyangkut dengan amalan fiqih atau syariahnya.

Namun demikian, Islam yang dibawa oleh Rasululullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – memiliki banyak keistimewaan dibanding dengan agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul sebelumnya. Pada periode nabi akhir zaman ini, Islam telah disempurnakan, sehingga siapa saja yang enggan mengikuti agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -, maka kelak di akhirat ia akan mengalami kerugian yang tak berkesudahan.

Allah berfirman:

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah: 3]

Dia juga berfirman:

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Alu ‘Imran: 85]

Kesimpulan pesan pertama ini terambil dari firman Allah Ta’ala:

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ

“…kecuali orang-orang yang beriman..”

Kenapa demikian? Karena beriman tidak mungkin terwujud melainkan jika berpengetahuan dan mengilmui apa yang diimani, yang dalam hal ini adalah Allah, Rasul-Nya, dan Islam.

Pesan kedua, mengaplikasikan pengetahuan yang mencakup tiga hal tersebut di atas.

Ilmu pengetahuan akan bermanfaat jika dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun jika tidak dipraktekkan dan diaplikasikan, maka tak ubahnya pohon tak berbuah; dedaunannya lebat dan ranting menjulang tinggi, namun ada buah yang dihasilkannya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2382), Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ مَنْ أَوَّلُ مَنْ تُسَعَّرُ بِهِمُ النَّار يَوْمَ القِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَعْمَلْ بِعِلْمِهِ

“Sesungguhnya orang yang kali pertama menjadi bahan bakar api neraka ialah orang yang berpengetahuan namun tidak mempraktekkan pengetahuannya tersebut.”

Seorang penyair pernah bersenandung:

مُعَذَّبٌ مِنْ قَبْلِ عُبَّادِ الوَثَنِ وَ عَالِمٌ بِعِلْمِهِ لَمْ يَعْمَلَنْ

“Orang berpengetahuan yang tidak mengamalkan ilmunya, akan diazab terlebih dahulu sebelum pemuja berhala.”

Karenanya, mengerti akan kebenaran Islam namun enggan mengikrarkan dan mengamalkannya, akhirnya hanya akan seperti Abu Thalib. Dia pernah bersenandung:

مِنْ خَيْرِ أَدْيَانِ البَرِيَّةِ دِيْنَا وَ لَقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِيْنَ مُحَمَّد

 

لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِيْنَا لَوْ لَا المَلَامَة أَوْ حِذَارَ مَسَبَّة

“Aku benar-benar mengerti bahwa agama Muhammad itu termasuk agama makhluk yang terbaik.

Kalaulah bukan karena celaan dan mewaspadai cacian, tentu kamu akan menjumpai diriku berlapang dada menerimanya secara terang-terangan.”

Pesan kedua ini terambil dari firman Allah Ta’ala:

وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ

“…dan mengerjakan amal saleh…”

Pesan ketiga, mengajak orang lain agar mengikuti dua pesan sebelumnya.

Ketika seorang mengetahui jalan keberuntungan yang abadi, maka termasuk keegoisan tingkat akut ialah manakala ia tidak memberi tahu orang lain tentang jalan keberuntungan tersebut. Apalagi jika ia mengetahui dengan jelas bahwa orang di sekitarnya justru menempuh jalan yang menyimpang dari kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.’” [Fusshilat: 33]

Dia juga berfirman:

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’” [Yusuf: 108]

Pesan ketiga ini terambil dari firman Allah Ta’ala:

وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ

“…dan saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran..”

Pesan keempat, bersabar ketika mengajak orang lain agar mengerjakan pesan-pesan sebelumnya.

Ketika seseorang mengajak orang-orang lain melakukan kebaikan dan menegah dari kemungkaran yang biasa mereka lakukan, tentu aka nada pro dan kontra. Dan umumnya kontra lebih mendominasi daripada pro-nya. Sebab dalam diri manusia terdapat amarah yang selalu mengajak kepada keburukan. Apalagi jika isi ajakan itu bersebrangan dengan budaya yang sudah sejak lama terukir dalam masyarakat. Kondisinya akan kebih genting lagi. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada kita agar senantiasa bersabar dalam menghadapi itu semua.

Oleh karena bersabar itu tidak mudah, maka untuk memicu kaum muslimin Allah memotifasi mereka melalui firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [Az-Zumar: 10]

Pesan keempat ini tersimpul dari firman Allah Ta’ala:

وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡر

“…dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

 

Karena betapa besarnya kandungan pesan yang termuat dalam Surat Al-‘Ashr ini, sampai-sampai Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i –rahimahullah- berkata:

لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلَّا هَذِهِ السُوْرَةَ لَكَفَتْهُمْ

“Kalaulah Allah tidak menurunkan hujjah atas makhluk-Nya melainkan Surat Al-‘Ashr ini, tentu itu sudah memadai.”

Artinya surat ini sudah dapat menutup segala alas-alasan yang mungkin disampaikan orang yang ketika di dunia tidak menempuhkan jalan keselamatan seperti yang dijelaskan dalam surat Al-‘Ashr ini secara global sehingga ia dicampakkan ke dalam nereka. Sebab melalui surat ini Allah telah menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan dan demikian juga sebab-sebab yang menyengsarakan.

Wallahua’lam. []