pencil

Konsekuensi Takwil Asya’irah; Menganggap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Berkhianat

Mazhab Asya’irah berkenaan dengan sifat-sifat dzatiyah khabariyah ialah mentakwil sifat-sifat tersebut, karena mereka beranggapan bahwa memaknai sifat-sifat tersebut secara lahiriyah mengharuskan tasybih (baca: penyerupaan) Allah dengan makhluk.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua;[1]

Pertama: dzatiyah, yakni sifat-sifat yang terkait dengan Zat Allah. Allah senantiasa disifati dengan sifat-sifat ini sejak dahulu, dan demikian seterusnya. Seperti sifat ilmu, ketinggian, hikmah, pendengaran, wajah, dua tangan.

Kedua: fi’liyah, yakni sifat-sifat yang terkait dengan masyi’ah (kehendak) Allah. Jika berkehendak Allah akan melakukannya, dan jika berkehendak lain Allah tidak akan melakukannya. Seperti sifat istiwa di atas Arsy, sifat turun, dan datang bagi Allah.

Untuk sifat dzatiyah, ia terbagi menjadi dua;

Pertama; dzatiyah khabariyah, yakni sifat-sifat yang terkait dengan Zat Allah, yang dalam penetapannya terhenti kepada kabar dari nash. Semisal wajah, dua tangan, kaki, jari, dua mata bagi Allah Azza wa Jalla.

Kedua; dzatiyah ma’nawiyah, yakni sifat-sifat yang terkait dengan Zat Allah, yang menunjukkan makna. Semisal ilmu, hayah (kehidupan), wujud bagi Allah Azza wa Jalla.

Pokok perbincangan kita di sini, tentang penolakan Asya’irah dalam menetapkan sifat-sifat dzatiyah khabariyah bagi Allah. Dimana mereka lebih memilih takwil (baca: memalingkan dari makna aslinya) dalam penetapannya.

Diantara argumen yang mendorong mereka untuk melakukan takwil ialah, mereka ingin menyucikan Allah dari sifat-sifat yang menyerupai makhluk. Oleh karena itulah mereka tetapkan sifat-sifat mustahil bagi Allah seperti ‘adam, jihah (Allah tidak memiliki arah), jism (anggota badan), jauhar, hayyiz (Allah tidak bertempat), Allah tidak terikat dengan waktu, dan semisalnya.

Setiap zhahir nash baik dari Al-Qur’an ataupun sunah yang berpotensi untuk dimaknai dengan makna-makna yang terikat dengan hal-hal diatas, maka nash-nash tersebut akan mereka takwilkan.

Misalkan; sifat istiwa bagi Allah.

Allah berfirman:

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ

Ar-Rahman beristiwa di atas Arsy.” (QS. Thaha : 5)

Mereka beranggapan bahwa istiwa tidak bisa dimaknai secara zhahirnya, karena hal tersebut melazimkan tahayyuz (yakni Allah menempati ruang) dan mengharuskan adanya jihah (arah) bagi Allah.

Imamul Haramain al-Juwaini mengatakan, “Dan dalil akan kerusakan pernyataan mereka (yakni orang yang menetapkan istiwa) ialah bahwa sesuatu yang terikat dengan arah, maka mungkin baginya untuk bertempat dengan raganya, dan setiap tempat yang dijadikan ruang oleh raganya, boleh jadi tempat tersebut sesuai dengan besaran raganya, atau sesuai dengan besaran sebagian daripada raganya. Setiap pernyataan yang memperkirakan Allah sebagai suatu Zat yang memiliki anggota badan merupakan kekufuran yang nyata.” (Lihat al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah, hal. 44. Maktabah ats-Tsaqafah ad-Diniyah)

Terkait sifat dua tangan, dua mata, dan wajah bagi Allah yang merupakan sifat dzatiyah khabariyah beliau berkata, “Sebagian imam kita berpendapat bahwa dua tangan, dua mata, dan wajah adalah sifat yang tetap bagi Allah; metode yang dijadikan acuan dalam menetapkan hal ini adalah nash, tanpa memberikan ruang bagi akal. Dan yang shahih menurut kami ialah; membawa makna dua tangan kepada makna qudrah (kemahakuasaan), makna dua mata kepada makna bashar (sifat pengawasan), dan makna wajah kepada makna wujud (keberadaan).” (Lihat al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah, hal. 137)

Terkait ayat-ayat yang serupa, beliau yang merupakan Imam dari Mazhab Asya’irah mengatakan, “Dan hal yang mendorong kita untuk memaknai ayat-ayat tersebut secara zhahirnya tidaklah relevan. Jika zhahir ayat lengser, maka sudah barang tentu kita harus membawa makna ayat dengan makna yang benar, sesuai akal, sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam syariat.” (Lihat al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah, hal. 46)

Padahal sejatinya, dalam menetapkan sifat-sifat Allah tidaklah serumit, dan berbelit-belit seperti yang mereka kaidahkan. Dalam penetapan sifat-sifat Allah cukuplah bagi kita untuk menetapkan, sebagaimana yang Allah tetapkan di dalam Al-Qur’an, dan sebagaimana yang Rasulullah tetapkan di dalam hadits yang shahih, tanpa tahrif (memelesetkan makna), ta’thil (memalingkan makna), takyif (membagaimanakan sifat Allah) dan tamtsil (menyerupakan sifat-Nya dengan makhluk).

Cukuplah bagi kita untuk menyatakan; bahwa Allah, seperti yang Allah sifatkan untuk diri-Nya. Dan sifat-sifat tersebut, tidak serupa dengan sifat makhluk. Bahkan sifat-sifat tersebut sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Jika Allah menetapkan bahwa Ia memiliki dua mata, maka kita menetapkan demikian, tanpa menyerupakan mata Allah dengan mata makhluk. Jika sesama makhluk saja, mata yang mereka miliki tidaklah sama, maka bagaimana halnya dengan mata Sang Khalik? Maka tentu, lebih jauh lagi perbedaannya.

Pembahasan masalah sifat Allah, harus disetarakan dengan pembahasan masalah Zat. Asya’irah menetapkan bahwa Zat Allah berbeda dengan makhluk, kenapa mereka tidak menetapkan bahwa sifat Allah juga berbeda dengan makhluk?.

Sebuah konsekuensi yang tidak ringan dari mazhab mereka; ketika mereka menyatakan bahwa memahami konteks ayat yang berkaitan dengan sifat dzatiyah khabariyah tidak boleh dipahami secara lahiriyah, karena hal tersebut berpotensi menjerumuskan orang kepada kekufuran, maka ini sungguh merupakan tuduhan kepada Nabi shallallahu ‘alahi wasallam. Tuduhan bahwa beliau tidak amanah dalam menyampaikan risalah.

Kenapa demikian?. Karena ayat-ayat yang berpotensi dipahami secara lahiriyah ini, harusnya dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; bahwa memahaminya secara lahiriyah merupakan kekeliruan, dan bahwa ayat-ayat semisal ini harus ditakwil. Padahal ta’khirul bayan ‘an waqtil hajah (menangguhkan penjelasan dari waktu yang dibutuhkan) tidak boleh hukumnya bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Terlebih lagi ayat-ayat ini merupakan pokok akidah muslim yang harus diketahui dengan baik.

Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqihti berkata dalam Tafsir Adhwa`ul Bayan (II/375-376) berkenaan dengan ayat istiwa Allah di atas Arsy yang tertera dalam surah Al-A’raf;

“Ketahuilah, banyak manusia dari generasi akhir keliru dalam persoalan ini; mereka menyatakan bahwa zhahir ayat yang sebenarnya langsung bisa dipahami, dari makna istiwa dan tangan misalnya, yang tertera di dalam Al-Qur`an, menurut mereka menyerupai sifat-sifat makhluk. Mereka berkata, ‘Kita harus mengalihkan nash-nash ini dari bentuk zhahirnya.’

Orang yang memiliki sekelumit akal pun pasti tahu, bahwa hakikat pernyataan mereka terkait sifat-sifat Allah ini, yang seharusnya langsung bisa dipahami oleh akal berdasarkan zhahir ayatnya, adalah pengingkaran terhadap kitabullah, dan berbicara tentang Allah dengan sesuatu yang tidak patut bagi-Nya.

Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasllam yang diwahyukan kepada beliau:

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

 “Dan Kami turunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl : 44). Tidak menjelaskan satu huruf pun tentang hal itu. Dan berdasarkan ijma’ ulama yang dijadikan acuan, bahwa tidak boleh bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk ta’khirul bayan ‘an waqtil hajah (menunda penjelasan pada saat diperlukan), terlebih terkait persoalan akidah, dan apalagi hal ini menyangkut ayat-ayat yang diklaim oleh ahli ta’thil sebagai ayat yang secara zhahir menunjukkan kekufuran dan kesesatan.” Selesai nukilan.

Maka teranglah bahwa, kaidah yang mereka bangun, ternyata mengilzam diri mereka sendiri, untuk menyatakan tuduhan tersebut. Wallahu a’lam.

 

Kranggan, 4 Dzulqa’dah 1439

[1] Lihat pemaparan hal ini dalam al-Mujalla fi Syarhi al-Qawa’id al-Mutsla; Dr. Kamilah al-Kawari hal. 198-199