pencil

Praktik Kemusyrikan dalam Tarekat Samman

Tarekat Samman merupakan satu dari sekian tarekat yang masyhur di Tanah Air. Banyaknya Tarekat di Indonesia, atau bahkan di Asia Tenggara, membuat antara satu dengan yang lainnya saling mendakwa ialah yang paling benar, sedangkan yang lainnya bathil. Oleh karena itu agar mereka memiliki pengikut tetap, dimunculkanlah istilah baiat yang menjadi pengekang para pengikutnya agar tidak menduakan tarekat. Baiat sendiri bisa diartikan menurut Bahasa sehari-hari sebagai sumpah setia.

Tarekat Samman memiliki pengaruh yang cukup meluas di tengah kaum muslimin karena selain sudah mengakar lama di Bumi Pertiwi, di kemudian hari didaulat sebagai salah satu dari 43 tarekat mu’tabarah (baca: tarekat yang memenuhi standar)[1], menurut versi salah satu organisasi besar di Indonesia. Bahkan secara tidak sadar, kebiasaan-kebiasaan yang dipraktikkan pengikut tarikat ini secara perlahan diikuti oleh masyarakat awam lainnya tanda disadari. Sehingga walaupun mereka tidak tahu menahu apa itu Tarekat Samman, namun ajarannya mereka praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tarerkat Samman sendiri didirikan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Karim As-Samman (1130-1189 H/1716-1773 M). Dari namanya itulah kemudian disematkan nama Tarekat Samman, atau menurut lisan Arab As-Samaniyyah. Dalam tarekatnya yang baru ini ia telah meracik beberapa tarekat-tarekat yang lebih awal muncul, yaitu Khalwatiyyah, Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, dan Syadziliyyah. Sehingga lengkap sudahlah racun yang terkandung di dalamnya. Sedangkan orang yang paling bertanggungjawab atas tersebarnya tarekat ini ialah muridnya yang bernama Ahmad Ath-Thayyib Al-Basyir As-Sanari As-Sudani sehingga di kemudian hari nama tarekat tersebut menjadi Samaniyyah Thayyibiyyah.

Di Indonesia, Tarekat Samman pertama kali dibawa ke Aceh di penghujung abad ke-18 M. Dari sana kemudian merambah ke beberapa wilayah Nusantara, khususnya Palembang dan Banjarmasin. Hingga saat ini, tarekat ini masih lestari diamalkan di daerah-daerah tersebut dengan konsep yang telah dimodernkan.

Tarekat Samman, demikian juga tarekat-tarekat pada umumnya, memiliki banyak ajaran yang kesemuannya adalah bentuk dari modofikasi ajaran Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Betapa tidak, karena masing-masing tarekat tersebut menghendaki adanya ritual-ritual khusus yang tidak dimiliki oleh tarekat lain. Oleh karena itu, mau tidak mau harus ada modifikasi ajaran Islam dan kemudian dilabeli nama tarekatnya. Entah itu lafal zikirnya, cara zikirnya, atau yang lainnya. Padahal baginda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Sesiapa yang mengada-ada dalam perkara agama padahal bukan dari agama tersebut, maka ia tertolak.” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Sebelumnya, Allah telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agama kalian dan nikmat-Ku atas kalian telah Aku lengkapi, dan Aku telah meridhai Islam sebagai agama kalian.” [QS Al-Maidah: 3]

Dari sinilah kemudian Imam Malik berkata bahwa ajaran-ajaran dan ritual-ritual yang tidak ada di masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– akan terus senantiasa bukan bagian dari agama Islam hingga kapan pun.

Kemudian di antara modifikasi-modifikasi yang dilakukan dalam tarekat-tarekat tersebut adakalanya berstatus bid’ah dan ada kalanya berstatus syirik, tidak ada yang keluar dari dua kemungkinan tersebut. Dan salah satu darim sekian amalan tarekat Samman yang mendarahdaging di tengah masyarakat ialah ajaran meminta pertolongan (baca: istighatsah) kepada selain Allah.

Uala besar Indonesia bernama Prof. Dr. Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah yang masyhur dikenal dengan sapaan Buya HAMKA pernah menulis:

“Di Palembang ada satu tarikat namanya Syekh Saman. Gurunya mengajarkan kalau dapat bahaya hendaklah panggil “Ya Saman” niscaya terlepas dari bahaya. Kalau berlayar dan kapal hampir karam, panggil saja “Ya Saman” akan selamat.”

“Menyeru dan meminta kepada yang selain Allah,” lanjut Buya Hamka, “Baik kepada kubur atau kepada nama seseorang sangatlah bertentangan dengan rukun iman. Yang pertama bertentangan dengan yang setiap hari kita baca di dalam shalat, yaitu: إياك نعبد و إياك نستعين.” [Dikutip dari Teguran Suci & Jujur Terhadap Mufti Johor hlm. 60, cet. Pustaka Dini Selangor 1430 H.]

Ketika penulis mengunggah sejarah ini di akun FB, salah seorang kawan menulis di kolom komentar, “Owh ini toh sejarahnya. Sampe ke kampong-kampung kalau orang lagi kagum atau melihat yang ow sering ngomong ‘ya saman’.

Kemudian yang lain menulis mengabarkan bahwa di Kalimantan Selatan hal semacam di atas banyak dijumpai.

Al-Ustadz Habibi Ihsan –rahimahullah– bahkan menceritakan –dan beliau termasuk mantan ustadz yang pernah tenggelam di dunia tarekat-, “Di Kal-Sel tarekat Sammaniyah ini disebarkan oleh KH. Zaini Ghani (Guru Sekumpul) dan memang di ajarkan memanggil Nama “Syaikh Samman” saat kita dalam kesulitan. Dan ada manakib Syaikh Samman yg saat ini sering dibaca saat ini ketika ada hajatan.”

Padahal kaum muslimin selalu mengucapkan minimal 17 kali dalam sehari, “Hanya kepada-Mu ya Allah aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.” Sebagaimana yang disinggung oleh Buya HAMKA –rahimahullah- di atas. Tapi kenapa mereka masih tertipu oleh bualan orang-orang tak bertanggungjawab itu? Adakah ucapan manusia lebih mulia daripada firman Allah? Ataukah mereka mendustakan bacaan yang sehar-hari mereka lantunkan?!

Sedangkan pada ayat ke-62 dari Surat An-Naml, Allah berfirman:

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

“Siapakah yang dapat mengabulkan orang yang berada dalam kesempitan apabila ia mau berdoa kepada-Nya dan yang menyingkap mara bahaya?”

Bandingkanlah prilaku yang diajarkan oleh dedengkot-dedengkot tarekat tersebut dengan perilaku kaum musyrikin di zaman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimna yang Allah rekam dalam Al-Quran:

فإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Apabila orang-orang musyrikin tersebut tengan menaiki kapal  dengan kondisi yang sempit, mereka hanya akan berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya. Namun tatkala Allah menyelamatkan mereka hingga ke daratan, mereka kembali lagi melakukan kemusyrikan.” [QS Al-‘Ankabut: 65]

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, bahwa ‘Ikrimah bin Abu Jahal –radhiyallahu ‘anhu– mengkisahkan masa lalunya sebelum kemudian ia memeluk agama Islam:

أنه لما فتح رسول الله – صلى الله عليه وسلم – مكة ذهب فارا منها ، فلما ركب في البحر ليذهب إلى الحبشة ، اضطربت بهم السفينة ، فقال أهلها : يا قوم ، أخلصوا لربكم الدعاء ، فإنه لا ينجي هاهنا إلا هو . فقال عكرمة : والله إن كان لا ينجي في البحر غيره ، فإنه لا ينجي غيره في البر أيضا ، اللهم لك علي عهد لئن خرجت لأذهبن فلأضعن يدي في يد محمد فلأجدنه رءوفا رحيما ، وكان كذلك

“Bahwa tatkala Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berhasil menakhlukkan kota Makkah dari tangan orang-orang musyrik, ia kemudian kabur meninggalkan Makkah menuju Habasyah. Tatkala ia menaiki kapal untuk tujuan tersebut, tiba-tiba kapal yang ia naiki oleng tidak seimbang. Awak kapal pun berseru, ‘Wahai orang-orang, berdoalah hanya kepada Allah saja. Sebab tidak ada yang dapat menyelamatkan pada saat seperti ini kecuali Dia. Ikrimah berkata, ‘Demi Allah, kalau di lautan ini tidak ada yang mampu menyelamatkan selain daripada Allah, maka di daratan pun tidak ada yang dapat menyelamatkan selain Dia juga. Ya Allah, aku berjanji kepada-Mu, sekiranya aku dapat keluar dari mara bahaya ini, niscaya aku akan pergi menemui Muhammad untuk meletakkan tanganku di tangannya, dan aku akan menjumpainya sebagai sosok yang lembut nun penyayang.” Kenyataannya pun demikian adanya.

Kalaulah orang-orang musyrik saja dalam keadaan genting hanya ingat kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi pertolongan kecuali Dia, akan tetapi sebagian orang Islam ketika dalam kondisi sempit dan butuh justru mengingat segala sesuatu selain Allah.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Sulaiman At-Tamimi –rahimahullah– dalam Al-Qawa’id Al-Arba’:

“Kaedah keempat: bahwa orang-orang musyrik di zaman kita sekarang ini lebih parah kemusyrikannya dibanding kaum musyrikin awal-awal. Sebab kaum musyrik awal-awal mereka hanya akan berbuat kemusyrikan di waktu lapang saja, sedangkan di waktu genting mereka akan memurnikan ibadah kepada Allah. Sementara orang-orang musyrik di masa kita sekarang ini kemusyrikannya terus-menerus, baik di waktu lapang maupun sempit.”

Kemudian beliau membawakan ayat ke-65 dari surat An-Naml di atas.

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِي ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu (orang-orang musyrik) ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” [QS Al-Isra’: 67]

Firman-Nya pula:

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوۡجٞ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka” [QS Luqman: 32]

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mencontohkan kepada umat Islam agar senantiasa menanampak aqidah Islam yang benar kepada kanak-kanak sedari dini mungkin. Dalam hal ini beliau beliau bersabda kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas yang kala itu masing sangat belia:

إذا سألت فاسأل الله، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فاسْتَعِنْ باللَّهِ؛ وَاعْلَمْ أنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ على أنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا على أنْ يَضُرُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُوكَ إِلا بِشَيءٍ قد كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأقْلامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

 

“Apabila kamu meminta, memintalah kepada Allah, dan apabila kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa sekiranya umat manusia bersatu padu untuk memberimu sesuatu yang bermanfaat, maka mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu. Dan apabila mereka bermufakat untuk mencelakaimu, niscaya mereka tidak akan dapat melakukan itu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena penulis takdir sudah diangkat dan lembaran-lembaran takdir sudah mongering tintanya.” [HR At-Tirmidzi]

Kalau demikian adanya, marilah kaum muslimin kita buka hati kita, kita buka pikiran jernih kita, apa gerangan yang membuat kita lebih menyukai berdoa lewat perantara, memanggil-manggil makhluk yang lemah untuk memenuhi hajat kita? Bukankah Allah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya?

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu, wahai Muhammad, tentang diri-Ku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan doa orang yang memanjatkan doa apabila ia berdoa dengan penuh ikhlas memurnikan ibadah hanya untuk-Ku. Oleh karena itu, hendaknya mereka tunduk pada-Ku dan pada aturan-aturanKu dan tetap teguh di atas iman mereka agar mereka mendapatkan petunjuk.” [QS Al-Baqarah: 186]

Bahkan Allah Ta’ala yang bersemayam di atas ‘Arsy-Nya lebih dekat dengan hamba-Nya daripada urat lehernya, sebagaimana firman-Nya:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepada hamba daripada urat leherlnya sendiri.” [QS Qaf: 16]

Akhirnya, semoga Allah memberikan kita rizki untuk dapat membedakan mana yang hak dan dan mana yang batil.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقَّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ وَلاَ تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلُّ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

“Ya Allah, perlihatkanlah yang haq kepada kami sebagai sesuatu yang haq dan berilah kami rizki untuk dapat mengikutiya. Dan perlihatkanlah kebatilan kepada kami sebagai sesuatu yang batil dan berilah rizki kepada kami untuk dapat menjauhinya. Janganlah Engkau menjadikannya samar di mata kami sehingga kami tersesat dan jadikanlah kami sebagai panutan orang-orang yang bertakwa.” [Doa Umar bin Al-Khattab sebagaimana kata Al-Buhuti dalam Syarh Muntaha Al-Iradat]

 

Refrensi:

Al-Qawaid al-Arba’ beserta Syarah-nya, karya Syaikhul Islam Muhammad bin Sulaiman At-Tamimi dan Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan

Teguran Suci & Jujur Terhadap Mufti Johor, karya Buya Hamka

Tarekat Sammaniyah di Palembang, karya Zulkarnain Yani

[1] Secara lengkap tarekat mu’tabarah itu sebagai berikut: Rumiyah, Rifa’iyah, Sa’diyah, Bakriyah, Justiyyah, ‘Umariyyah, Alawiyyah, ‘Abbasiyyah, Zainiyyah, Dasuqiyyah, Akbariyyah, Bayumiyyah, Malamiyyah, Ghaiyyah, Tijaniyah, Uwaisiyyah, ‘Idrisiyyah, Sammaniyah, Buhuriyyah, Ushaqiyyah, Kubrawiyyah, Maulawiyyah, Jaltawiyyah, Bairumiyyah, Ghazaliyyah, Hamzawiyyah, Haddadiyyah, Madbuliyyah, Sumbuliyyah, ‘Idrusiyyah, ‘Uthmaniyyah, Shadhiliyyah, Sha’baniyyah, Qalqashaniyyah, Khadiriyyah, Shattariyyah, Khalwatiyyah, Bakdashiyyah, Shuhriwiyyah, Ahmadiyyah, ‘Isawiyyah, Turuq al-Akabir al-Awliyyah, Qadiriyyah, wa Naqsyabandiyyah, dan Khalidiyyah wa Naqsyabandiyyah.