pencil

Adakah Shalat Taubat?

Pertanyaan

Assalamualaikum..

Maaf mau bertanya, bagaimana tatacara sholat taubat, apakah sama dengan sholat fardu? Tlng jawabannya ust

Pertanyaan serupa berbunyi:

Bagaimana tata cara sholat taubat, apakah sama dengan sholat fardzu? Dan mau bertanya apa doa atau dzikir yg di anjurkan setelah sholat taubat

Jawab

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi was allam– bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ : وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ

“Tidak ada seorang hamba yang berbuat suatu doa kemudian ia memperindah wudhunya, lalu ia mendirikan shalat dua rakaat, dan kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya.”

Kemudian beliau membaca ayat (yang artinya), “Dan orang-orang yang apabila mereka berbuat suatu doa atau menzhalimi diri mereka sendiri, mereka segera ingat akan Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah,” hingga akhir shalat [QS Alu ‘Imran: 135]

Berdasarkan hadits-hadits semisal ini, para ulama dari kalangan madzhab yang empat bersepakat mengatakan bahwa dianjurkan bagi orang yang berbuat dosa segera mengerjakan shalat taubat. [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah XXVII/164]

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz menyatakan bahwa shalat taubah telah diriwayatkan secara valid dari Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kemudian beliau membawakan hadits di atas. [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XII/420]

Adapun pelaksanaannya, maka telah disinggung dalam hadits di atas bahwa ia dikerjakan dua rekaat pada waktu kapan pun selain tiga waktu yang terlarang mengerjakan shalat tanpa sebab, yaitu seusai shalat shubuh, ketika matahari berada persis di atas kepala (sebelum tergelincir), setelah shalat ‘ashar hingga shalat maghrib.

Kemudian tidak ada bacaab khusus yang dibaca dalam shalat ini. Artinya pelaksanaannya persisi seperti shalat-shalat pada umumnya. Oleh karena shalat taubah termasuk shalat sunnah yang tidak disyariatkan dilakukan secara berjam’ah, maka sudah sepantasnya dikerjakan dengan bentuk yang demikian itu (sendiri).

Setelah shalat itu, dianjurkan bersimpuh di hadapan Allah dengan beristighfar sebanyak-banyaknya, merendahkan diri, dan mengakui akan segala kesalahannya. Dan di antara teks doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ialah:

اللَّهمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كثِيرًا، وَلا يَغْفِر الذُّنوبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِر لي مغْفِرَةً مِن عِنْدِكَ، وَارحَمْني، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفور الرَّحِيم

“Ya Allah, aku telah menzhalimi diriku sendiri, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa melainkan Engkau. Oleh karena itu berilah diriku maghfirah dari-Mu dan rahmatilah dirimu. Sesungguhnya Engkau Mahapengampun Mahapenyayang.” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Wallahua’lam.