pencil

Mutiara Bidayatul Mujtahid

Selayang pandang terkait buku karangan imam besar yang ahli fiqih, ushul dan ilmu manthiq Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd Al-Andalusy akrab disapa dengan Ibnu Rusy al-Hafiid asal Andulisia (sekarang spanyol) dan bermadzhab Maliki. Beliau lahir tahun 520 H dan wafat tahun 595 H, disebutkan bahwa beliau telah menulis kitab sebanyak 50 kitab, diantaranya ialah kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya fenomenal beliau dalam bidang al-Fiqhul Khilafy yang sekarang disebut sebagai al-Fiqhul Muqaaran (Fiqh Perbandingan Madzhab), dan dengan izin Allah kitab inilah yang akan menjadi pembahasan kita kali ini, sedikit banyaknya tentang kitab itu beserta isinya merupakan sesuatu yang perlu kita ketahui, diantaranya ialah:

  1. Kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid ini beliau tulis untuk kalangan pribadi sebagai pedoman dan pengingat cabang-cabang masalah hukum fiqih manakala beliau menjabat Qadhi (Hakim Pengadilan), dari sini maka kita memahami bahwa kebanyakan masalah-masalah hukumnya ialah masalah yang rumit yang membutuhkan pondasi dan ilmu alat yang kuat untuk memahaminya dan banyak ungkapan kitab yang tidak difahami dengan baik sehingga perlu adanya penyesuaian dengan merujuk kepada kitab-kitab lain yang jadi rujukan utama beliau dalam menyusun kitab ini kemudian kitab-kitab induk madzhab yang menjadi pegangan.
  2. Kitab ini dipenuhi dengan persepsi / pendapat-pendapat ulama’ yang dikenal madzhabnya pada masa itu sehingga beberapa nama imam pemilik madzhab mungkin terkesan asing, seperti Al-Auza’i, Abu Tsaur, Ats-Tsaury, Al-Laits, dst. Untuk merujuk nama tersebut silakan merujuk pada muqoddimah kitab syarah yang sudah dikaji dan dikoreksi, diantaranya ialah tahqiiq Syaikh Ali Muhammad Mu’awwadh dan Syaikh ‘Adil Ahmad Abdul Maujud cetakan Daar al-Kutub al-Ilmiyyah Beirut dalam 6 Jilid.
  3. Kitab ini memuat banyak perselisihan pendapat dan salah satu keunggulannya ialah penyebutan sebab terjadinya khilaf tersebut, hal ini karena beliau termasuk orang yang ahli ijtihad sehingga perlu kiranya berupaya sesuai dengan kapasitas beliau mencari ‘illah (sebab hukum) agar dapat mengambil kesimpulan dan memutuskan statusnya dalam fiqih Islam. Dari sini kita mesti faham bahwa kebanyakan sebab khilaf yang beliau nukil dalam masalah bukan berarti tidak ada sebab lain selain itu, karena yang beliau sebutkan merupakan hasil pemikiran beliau sehingga masih memungkinkan ada penyebab lainnya yang belum tertulis dari sudut pandang ulama lain.
  4. Kitab ini juga menyusun masalah-masalah fiqh yang tidak berurutan dan tidak beraturan, seringkali suatu masalah tidak disebut, dan terkadang pembahasan tidak diperjelas, dan kadang kala beliau mengulangi penyebutan khilaf, atau adakalanya menjadikan bagian dari masalah tertentu sebagai judul utama atau menjadikan judul utama sebagai bagian dari cabang pembahasan tema lain. Hal ini akan tampak jelas ketika kita merujuk kitab-kitab fiqih lain.
  5. Tujuan utama dari disusunnya kitab ini ialah melatih kemampuan ijtihad[1] seseorang yang ingin memperdalam hukum syari’at, dan membuka wawasan pembaca serta menjauhkan diri dari sikap fanatik buta terhadap suatu pendapat ataupun suatu madzhab yang dibanggakannya, karena sesungguhnya “Seseorang itu dikenal berdasarkan kebenarannya, bukan Kebenaran itu dikenal berdasarkan orangnya”. Dari sini maka kitab ini belum tepat dicerna langsung oleh para pemula yang duduk di bangku sekolah, bahkan beberapa perkuliahan jurusan keislaman pun menghindari kitab ini karena begitu rumitnya permasalahan yang bercabang di dalamnya. Namun itu bukan berarti kita tidak boleh membaca dan mempelajarinya, bahkan ini dikaji di tingkat magister dan doktoral, sebagai tahap pembentukan dan pembangunan pola pikir yang terstruktur ketika menghadapi perselisihan pendapat.

Mungkin itulah lima poin penting yang harus kita pegang sebelum menyelami bahtera ilmu yang ada dalam kitab ini, dan perlu diketahui bahwa alasan kitab ini diterjemahkan adalah bukan karena ilmu yang sudah mendahului atau sebanding dengan mereka yang kompeten dalam bidangnya, melainkan agar kita memiliki gambaran yang cukup untuk memahami suatu persoalan yang terkadang kita menganggapnya sebagai suatu hal yang disepakati, ternyata tidaklah demikian adanya, karena itu hendaknya kita senantiasa berusaha belajar dan bertanya kepada mereka yang telah mendalami bidang ini dengan baik agar tidak mengabaikan sikap bertanya dan belajar sebelum berbicara dan menulis, karena itu dalam upaya alih bahasa akan ada beberapa tambahan atau penjelasan atau penyesuaian yang diperoleh dari kitab rujukan lain demi menjaga karya ilmiah ini agar tetap berada pada porosnya. Itulah sekelumit penjelasan yang terkait dengan kitab dan motivasi dalam mempelajarinya.

 

BAB WUDHU’

  1. Jenis-Jenis Thaharah:

Telah sepakat kaum Muslimin bahwasannya bersuci dalam syari’at Islam ada dua macam, yaitu:

  1. Suci dari hadats (baik kecil atau pun besar), dan disebut dengan Thaharah Hukmiyyah
  2. Suci dari kotoran/najis, disebut dengan Thaharah Haqiqiyyah

Sebagaimana mereka juga bersepakat bahwasannya bersuci dari hadats itu ada tiga macam:

  1. Wudhu’
  2. Mandi
  3. Tayammum (debu pengganti air)

 

  1. Benda – Benda Untuk Thaharah

Asal dalam thaharah ialah menggunakan air, namun jika tidak ditemukan atau tidak sanggup menggunakannya, maka boleh diwakilkan dengan debu tanah (tayammum), atau batu seperti pada istijmar, atau dikikis dengan benda suci lainnya seperti membersihkan mani dari pakaian dan yang lainnya, atau cukup digosokkan pada tanah seperti pada bagian bawah sandal/sepatu yang terinjak najis hingga yankin telah bersih. Masing-masing akan datang penjelasannya, namun yang akan dijelaskan pada kesempatan ini adalah air.

 

  1. Landasan Hukum Thaharah
  • Al-Quran firman Allah -subhanahu wa ta’aala- surat Al-Maa-idah ayat 6:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ … وَإِنْ كُنتُم جُنُباً فَاطّهّرُوْا…٦

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku… dan jika kalian junub (berhadats besar) maka bersucilah (thaharah)”. (QS: Al-Maaidah: 6).

Kaum Muslimin sepakat bahwa mengikuti perintah ini adalah wajib bagi siapa saja yang terkena kewajiban shalat ketika telah masuk waktunya.

  • Dalil dari sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“لا يقبل الله صلاة بغير طهور ولا صدقة من غلول” (رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه).

“Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci, dan tidak pula sedekah dari khianat (harta yang bukan hak nya)”. (HR: Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan yang lainnya).

  • Dan dalil dari Ijma’ (konsensus) yaitu tidak ada seorang pun yang menukil perbedaan pendapat dikalangan ulama muslimin dalam hal ini sehingga menjadi hukum yang disepakati.

 

  1. Orang Yang Wajib Thaharah

Orang yang wajib thaharah ialah mereka yang telah baligh dan berakal, berdasarkan sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

“رُفع القلم عن ثلاثٍ، عن النائم حتى يستيقِظ وعن الصبي حتى يحتلِم، وعن المجنون حتى يَفيق”.

“Diangkat pena (catatan amal) dari tiga; dari orang tidur hingga ia bangun, dan anak kecil sampai ia dewasa, dan orang gila hingga ia berakal”. (HR: Imam Ahmad, Abu Daud, dll).

Landasan ijma’ nya yaitu tidak disebut khilaf (perbedaan) diantara para ulama dalam masalah ini.

Para ahli fiqih berbeda pendapat apakah Islam itu termasuk syarat wajibnya thaharah atau tidak. Hal ini berasal dari perselisihan ulama dalam masalah ushul “Apakah non-Islam termasuk dalam pembicaraan syari’at untuk masalah cabang agama ?”, beberapa menilainya Islam merupakan syarat sah karena berpendapat mereka termasuk dalam khithob (pembicaraan), sedangkan sebagian lainnya menilai itu syarat wajib karena mereka menganggap non-Islam tidak dibebani cabang syari’at. Hal ini tidak kita jelaskan disini karena bukan dalam pembahasan fiqih.

 

  1. Waktu Wajibnya Thaharah

Thaharah wajib hukumnya ketika sudah tiba waktu shalat berdasarkan kesepakatan ulama, atau tatkala seseorang ingin ibadah yang mana wudhu merupakan syarat dari ibadah itu. Dalilnya adalah surat Al-Maaidah ayat 6 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ…

Dari sini maka wajib hukumnya berwudhu sebelum mendirikan shalat, dan termasuk syarat mendirikan shalat ialah ketika telah masuk waktunya.

Adapun dalil wajib nya thaharah (wudhu) untuk Ibadah yang disyaratkan padanya wudhu akan datang penjelasannya pada pembahasan tersendiri beserta perselisihan ulama padanya.

 

  1. Tata cara Pelaksanaan Thaharah / Berwudhu

Dasar yang menjadi acuan dalam tata cara pelaksanaan wudhu ialah firman Allah -subhanahu wa ta’aala- surat Al-Maa-idah ayat 6 di atas dan beberapa hadits dan atsar yang menjelaskan wudhunya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yaitu mencakup beberapa masalah yang terkenal sebagai inti dari pembahasan dalam bab ini, yaitu:

 

Masalah Pertama: Terkait Syarat Thaharah

Para Ulama berbeda pendapat dalam hal apakah niat termasuk syarat sahnya wudhu atau bukan setelah mereka bersepakat bahwa ibadah murni disyaratkan padanya niat, sehingga yang tidak termasuk ibadah murni tidak disyaratkan padanya niat. atas dasar firman Allah -subhanahu wa ta’aala- :

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ …٥

 

“Tidaklah mereka disuruh melainkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”.

Dan hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ…

“Sesungguhnya amalan-amalan itu adalah dengan niatnya…” (HR: Bukhari dan Muslim)

Beberapa ulama menilai niat itu adalah syarat, diantara mereka yaitu madzhab Imam Syafi’iy, Malik, Ahmad, Abu Tsaur, dan Daud -rahimahumullah-, sedangkan sebagian lainnya menilai yang demikian itu bukanlah syarat dalam wudhu (thaharah).

Perbedaan ini disebabkan oleh makna dan perbuatan wudhu apakah dia itu merupakan ibadah murni (bukan konsumsi akal) karena tujuannya adalah tunduk dan taat, ataukah dia bukan ibadah murni (dapat dikonsumsi akal).

Jika kita perhatikan thaharah atau wudhu ini memiliki keserupaan antara ibadah ini dan ibadah itu, karena dalam wudhu tergabung makna ibadah dan kebersihan yang mana kebersihan itu dimaksudkan tidak hanya untuk ibadah sehingga tidak dapat dikatakan murni ibadah. Point utama dalam bahasan ilmu fiqih adalah mengikutkan makna yang lebih kuat dan dekat kepada maksud daripada perintah thaharah / wudhu tersebut.

 

Masalah Kedua: Terkait Hukum Thaharah

Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang cuci tangan sebelum memasukkannya dalam bejana wudhu, lantas beberapa dari mereka berpendapat bahwa hal itu termasuk bagian dari sunnah wudhu walaupun yakin kebersihannya, dan ini yang terkenal dalam madzhab Imam Malik dan Imam Syafi’iy.

Disebutkan dalam riwayat lain madzhab Imam Malik hal itu dianjurkan bagi yang ragu terhadap kebersihan tangannya. Sedangkan madzhab Daud dan para sahabatnya menukilkan hal itu wajib bagi orang yang sadar dari tidurnya. Beberapa yang lainnya membedakan antara tidur malam dan tidur siang, lalu mewajibkannya untuk yang tidur malam dan tidak wajib untuk yang tidur siang sebagaimana yang dinukil dalam madzhab Imam Ahmad.

Dasar hukumnya ialah hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dari Abi Hurairah bahwasannya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا الْإِنَاءَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ. وَفِي بَعْضِ رِوَايَاتِهِ: فَلْيَغْسِلْهَا ثَلَاثًا.

“Jika salah seorang dari kalian bangun tidur maka cucilah tangannya sebelum memasukkannya ke bejana, karena sesungguhnya dia tidak tau kemana berkelana tangannya saat tidur”. Dalam beberapa riwayat disebutkan: “Cucilah ia tiga kali”. (HR: Bukhari, Muslim, dan yang lainnya).

Bagi yang tidak melihat adanya pertentangan antara ayat wudhu (thaharah) diatas dengan tambahan yang ada pada hadits ini maka mereka mengatakan cuci tangan itu wajib sebagaimana asalnya perintah itu adalah wajib. Adapun mereka yang melihat adanya pertentangan dari dua dalil tersebut maka mereka menilai bahwa perintah yang asalnya wajib dalam hadits telah berubah dan melemah statusnya menjadi manduub (sunnah) karena dalam ayat sudah terkumpul kewajiban wudhu, sehingga tidak ada lagi yang wajib selain itu melainkan sunnah saja. Dan siapa yang memahami lafadz البيات dari باتت dalam hadits ini sebagai malam, maka mereka membedakan antara tidur malam dan siang hari. Adapun yang tidak memahami demikian mereka mewajibkan bagi siapa saja yang tidur baik siang ataupun malam. Dan bagi yang kuat keyakinannya bahwa nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- senantiasa giat dan bersemangat mengamalkannya maka menilai ini termasuk sunnah, namun yang tidak demikian menilainya ini adalah nadb dan mustahabb (anjuran). Hal ini mereka yang berpendapat sunnah dan mustahab yakini jika tangan dalam keadaan bersih.

Nampaknya dari hadits ini tidak bermaksud hukum tangan dalam berwudhu, namun yang dimaksud ialah hukum air yang digunakan untuk berwudhu, karena air merupakan syarat dalam thaharah. Semua itu tidak terlepas dari beberapa kecenderungan yang terkandung dalam memahami makna dan maksud hadits.

 

Masalah Ketiga: Terkait Rukun Thaharah

Para ulama berselisih faham tentang kumur-kumur dan menghirup air ke hidung dalam 3 pendapat:

  • Imam Malik, Syafi’iy dan Abu Hanifah berpendapat bahwa keduanya termasuk sunnah wudhu
  • Ibnu Abi Laila dan beberapa sahabat daud (Ahlu Zhahir) berpendapat bahwa keduanya adalah fardhu dalam wudhu.
  • Abu Tsaur, Abu ‘Ubaid dan sekelompok ahlu zhahir mengatakan: Memasukkan air ke hidung fardhu (Istinsyaaq) dan kumur-kumur itu sunnah.

Sebab perselisihan disini sama dengan sebab perselisihan yang tersebut dalam masalah cuci tangan sebelum wudhu, hanya saja bagi yang membedakan antara kumur-kumur dan menghirup air ke hidung mereka meyakini bahwa perkataan dalam menetapkan hukum syariat lebih kuat daripada perbuatan saja, sehingga mereka menilai kumur-kumur itu sunnah karena landasan hukumnya berupa perbuatan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti hadits Utsman bin Affan dan Maimunah binti Harits -radhiallahu ‘anhuma-:

… ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ…

“…Kemudian beliau berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung…”. (HR: Imam Bukhari, dll).

sedangkan memasukkan air ke hidung landasannya ada yang berupa perintah (perkataan) dan ada pula contoh dari perbuatan Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Diantaranya hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- yang dikeluarkan oleh Imam Malik dalam Muwaththa’ nya dan Imam Bukhari dalam Shahih nya:

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً، ثُمَّ لْيَنْثُرْ، وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ.

“Apabila salah seorang dari kalian berwudhu maka jadikanlah air dalam hidungnya, kemudian hempaskan, dan siapa yang ber-istijmar (bersuci dengan batu) maka ganjilkanlah (batunya)”.

 

Bersambung pada sesi berikutnya…

 

Written By: Abu Hatim Hanifuddin

[1] Berupaya sebaik mungkin untuk menentukan hukum dari sejumlah petunjuk dengan bekal pengetahuan yang memadai