pencil

Apabila Semangat Ibadah Menurun, Fenomena Futur dan Penanggulangannya

Futur, demikian istilah para ulama Islam, merupakan suatu penyakit yang selalu menghantui setiap mukmin. Ia bukan saja sebagai pewarna kehidupan, namun juga musibah terbesar yang hanya disadari oleh orang mukmin sejati. Oleh karena itu, di antara doa yang selalu dipanjatkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ialah agar musibah itu tidak menimpa pada agama. Sebab apabila musibah itu menimpa agama, merugilah di dunia dan di akhirat. Lain halnya dengan musibah-musibah keduniaan yang akan segera berhenti seiring nyawa dicabut oleh malaikat maut.

Futur oleh para ulama didefinisikan sebagai surutnya semangat beribadah setelah sebelumnya bersemangat. Fenomena futur bisa terjadi melalui beberapa wujud, antara lain:

  1. Malas menunaikan ibadah shalat atau ibadah-ibadah lainnya
  2. Malas membaca Al-Quran dan mentadaburinya
  3. Malas menghadiri majelis-majelis ilmu yang di sana diajarkan firman-firman Allah Ta’ala dan sabda-sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam
  4. Tidak memiliki andil dalam menyampaikan dakwah dan kegiatan-kegiatan kebaikan lainnya
  5. Bertubi-tubinya kesempitan dalam dada dan kesedihan yang berlarur-larut
  6. Berani menerjang larangan-larangan Allah dan merindukan masa lalu yang penuh dengan kegelapan
  7. Membengkaknya masalah-masalah yang dihadapi

Sebetulnya pasang surut itu adalah fase yang amat sangat lumrah pada diri manusia. Hanya saja perbedaannya ialah seorang mikmin akan merasa gelisah mana kala semangat ibadannya surut dan segera menyadari akan hal tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa kepada Allah apabila mereka diwas-wasi oleh setan sehingga melakukan dosa kesalahan, mereka akan segera ingat akan Allah Ta’ala dan segera tersadarkan.” [QS Al-A’raf: 201]

Oleh karena itu, ketika surut ibadah itu muncul, harus segera ditindaklanjuti dan diiobati sebelum akhirnya berstatus kronis sehingga akibat buruknya semakin menjadi-jadi.

Dan biasanya surutnya ibadah bisa disebabkan karena dosa.

جاء رجل إلى الحسن البصري رحمه الله فسأله قائلًا: يا أبا سعيد، إني أبيت معافى، وأحب قيام الليل، وأعد طهوري، فما بالي لا أقوم؟، فقال: “ذنوبك قيدتك

Pernah suatu kesempatan ada orang yang mengadu kepada Abu Sa’id Al-Hasan Al-Bashri, “Abu Sa’id, sesungguhnya diriku ketika malam dalam kondisi sehat, aku suka kalau mengerjakan shalat malam, dan wudhupun sudah kupersiapkan, tapi kenapa aku tak juga bangun malam?”

“Dosamu lah yang mengikatmu,”jawabnya.

Imam An-Nawawi pernah berkata:

حرمت قيام الليل مرة بذنب أذنبته

“Pernah suatu saat aku nggak mengerjakan shalat tahajud karena dosa yang kulakukan.”

Sementara itu Sulaiman Ad-Darani berkata:

لا تفوت أحدًا صلاة الجماعة إلا بذنب

“Tidak ada seorang pun yang terluput dari shalat jama’ah melainkan karena dosa.”

Dan perlu diingat bahwa dosa selain menyakitkan juga merupakan sarana untuk dapat bersimpuh dengan penuh ketundukan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Karena dengan dosalah air mata akan berlinang menyesalinya. Karena karena dosalah Allah menampakkan rahmat dan karunia-Nya. Bahkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan memunahkan kalian dan akan mengganti dengan suatu kaum yang berdosa kemudian mereka beristighfar minta ampun, sehingga Allah ampunkan mereka.” [HR Muslim]

Di antara sebab yang juga dapat menyebabkan seseorang terjangkit penyakit futur ialah terlalu disibukkan oleh dunia sehingga dunialah yang memperbudaknya. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

تعس عبد الدينار والدرهم والقطيفة والخميصة

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian qathifah, dan hamba khamishah.” [HR Al-Bukhari]

Apabila sebab penyakit ini sudah diketahui, maka sekarang kita tinggal mencari penawarnya, yaitu dengan membuang jauh-jauh sebab tersebut, kecuali dunia. Karena mencari dunia pada dasarnya tidaklah tercela, akan tetapi pencari dunia dianggap tercela apabila terlalu sehingga pikirannya hanya tertuju pada dunia. Padahal dunia itu tidak terlepas dari dua kemungkinan, kalau dia tidak meninggalkanmu, maka kamulah yang akan meninggalkannya.

Kemudian beberapa hal berikut dapat dipraktikkan untuk memperkuat daya tahan keimanan dari penyakit futur:

Pertama, mencari sahabat-sahabat soleh yang selalu mendukung ketaatan kepada Allah Ta’ala. Karena sahabat-sahabat soleh itulah yang akan mengingatkan kita manakala kita lupa, tanpa ada rasa nggak enak.

Kedua, menjauhi kawan-kawan yang hanya mengajak kepada hal-hal yang tidak bermanfaat dan bahkan berbahaya atau yang orientasinya bukan akhirat. Walaupun ketika kita memutuskan hubungan dengan kawan-kawan itu, tentu akan banyak hubungan kita yang terputus. Namun ingatlah bahwa:

من ترك شيئا لله عوضه الله خيرا منه

“Sesiapa yang mau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan ganti untuknya sesuatu yang lebih baik dari sesuatu yang ia tinggalkan tersebut.”

Ketiga, banyak membaca Al-Quran dan mentadaburinya. Karena Al-Quran menawarkan solusi semua problematika yang dihadapi umat manusia. Allah berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan dalam Al-Quran.”

Keempat, memperbanyak menghadiri majelis-majelis ilmu. Karena di situlah akan dijumpai orang-orang soleh dan solusi lemahnya iman.

Kelima, memperbanyak kegiatan-kegiatan yang menyebabkan iman bertambah.

Keenam, bertanya kepada ulama-ulama Islam yang pakar dalam bidangnya agar mendapatkan solusi yang terbaik.

Dan yang lebih terpenting dari semua itu ialah bersimpuh di hadapan-Nya untuk memohon agar selalu diberikan jalan hidayah, diberi istiqamah di atasnya, dan dijauhi dari berbagai macam sebab-sebab kebinasaan. Karena sekuat dan semaksimal apapun usaha kita yang kita lakukan akan tetapi jika tidak ada campurtangan Allah Ta’ala, tentu hanya akan sia-sia dan malah justru membuat kita merugi. Dan di antara doa terbaik yang diajarkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah:

 

“Ya Allah, bagikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menjadi penghalang antara kami dan perbuatan maksiat, ketaatan pada-Mu yang akan menyampaikan kami ke Surga-Mu, dan keyakinan yang membuat ujian dunia terasa ringan bagi kami. Dan berilah nikmat kepada kami berapa pendengaran, penglihatan, dan kekuatan selama Engkau masih menakdirkan kami hidup, dan jadikanlah nikmat-nikmat tersebut tetap ada hingga kami mati. Dan pembalasan kami kepada orang-orang yang telah menzhalimi kami dan tolonglah kami atas orang-orang yang memusui kami. Dan janganlah Engkau jadikan musibah itu menimpa agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, bukan pula sebagai puncak pengetahuan kami. Dan jangan Engkau jadikan kami terkuasai oleh orang-orang yang tidak menyayangi kami.”

[HR At-Tirmidzi, dan dinilai sebagai hadits hasan oleh Al-Albani, dari Umar bin Al-Khattab bahwa doa tersebut selalu dipanjatkan oleh Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk para shahabatnya sebelum bergegas meninggalkan majelisnya]