pencil

Haji Abdul Karim Amrullah dan Polemik-Polemiknya (Bag. 1)

Syaikh Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (selanjutnya disingkat dengan HAKA), atau sering juga dikenal dengan Haji Rasul, lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat pada 10 Februari 1879 M). Ayah dari Buya HAMKA ini adalah seorang ulama Minang beraliran Kaum Muda, yang dikenal teguh pendirian, kuat dalam mempertahankan pendapatnya, serta memiliki keberanian yang mengagumkan. Kisah hidup Beliau telah banyak ditulis, diantaranya oleh putera Beliau sendiri dalam bukunya yang berjudul “Ayahku”.

Salah satu yang dikenang dari HAKA adalah tulisan-tulisan Beliau yang berisi polemik dengan beberapa tokoh dan ajaran yang menurut Beliau telah menyimpang dari garis agama. Namun sayangnya – tidak seperti karya-karya puteranya – karya HAKA agaknya luput mendapat perhatian. Sedikit sekali peninggalan karya Beliau yang masih bisa dinikmati oleh generasi masa kini.

Dari beberapa sumber yang kami miliki tercatat Beliau beberapa kali menulis karya polemik mengenai berbagai masalah agama.

Diantaranya adalah kitab “Izh-ha Asathir al Mudhallin fi Tasyabbuhihim bil Muhtadin” (1907) dan kitab “As Suyuf al Qathi’ah fi ad Da’awiy al Kadzibah” (1907). Kedua kitab ini merupakan bentuk dukungan HAKA terhadap pendirian gurunya – Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi – ketika mengecam keras ajaran tarekat Naqsyabandiyyah yang dianut oleh Kaum Tua di Minangkabau. Pendirian Syaikh Ahmad Khatib tersebut ditulis dalam kitab yang berjudul “Izh-haru Zaghlil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bi ash Shiddiqin”.

Kitab Syaikh Ahmad Khatib tersebut kemudian banyak dibantah oleh ulama-ulama Kaum Tua, diantaranya oleh Syaikh Sa’ad Mungka dalam kitabnya berjudul “Irghamu Unifi al Muta’annitin”. Syaikh Ahmad Khatib membalas kitab Syaikh Sa’ad Mungka tersebut dengan menulis kitab “al Ayatul Bayyinat lil Munshifin Izalati Khurafati Ba’dhi al Muta’ashshibin”, namun kemudian dibantah kembali oleh Syaikh Sa’ad Mungka melalui kitabnya berjudul “Tanbihul ‘Awwami ‘ala Taghrirati Ba’dhi al Anam”.

HAKA membela gurunya dengan menulis kedua kitab di atas. Dalam kitab “Izh-har Asathir” HAKA menyebut bahwa tarekat tidak berasal dari syara’. Ajaran-ajaran tarekat, seperti rabithah, tawajjuh, larangan makan daging, dan lain-lain, juga tidak pernah diperbuat oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.

Sedangkan dalam kitab “as Suyuf al Qathi’ah” HAKA membantah habis-habisan Syaikh Sa’ad Mungka, bahkan menyebutnya sebagai “Mu’anid” (Si Pembangkang). Setidaknya ada 36 masalah yang sampaikan oleh Syaikh Sa’ad Mungka yang dibantah oleh HAKA.

Dalam polemik tentang tarekat Naqsyabandiyyah ini, selain kedua kitab di atas, HAKA juga melontarkan kecamannya melalui kitabnya yang disusun dalam bentuk nazham (puisi) yang berjudul “Syamsul Hidayah” (1912). Selain itu, kecaman tersebut dapat juga dijumpai dalam kitab Beliau yang berjudul kitab “Sendi Aman Tiang Selamat” (1922) dan “Pedoman Guru” (1930)

Selanjutnya, dalam polemik tentang melafazhkan niat dalam shalat, HAKA menulis dua kitab : “Dar-ul Mafasid” (1909) dan “al Fawaa-idul ‘Aliyyah” (1912). Dalam “al Fawaa-idul ‘Aliyyah” HAKA kali ini membantah pendapat gurunya sendiri (Syaikh Ahmad Khatib) yang memandang kesunnahan melafazhkan niat dalam kitabnya yang berjudul “al Khuththah al Mardhiyyah”.

Dalam polemik tentang masalah amalam berdiri dalam pembacaan Maulid, HAKA menulis kitab berjudul “Iqazhun Niyam fi Maa Ubtudi-a min Amril Qiyam” (1912). Dalam kitab ini HAKA menolak pendapat Kaum Tua di Minangkabau yang men-sunnahkan untuk berdiri tegak ketika membaca riwayat kelahiran Nabi Muhammad dalam peringatan Maulid Nabi.

Terkait dengan polemik di sekitar adat Minangkabau, HAKA menulis kitab berjudul “Pertimbangan Adat Limbago Urang Alam Minangkabau” (1918). Karya ini dimaksudkan untuk membantah buku “Curai Paparan Adat Limbago Alam Minang” karya Datuk Sangguno Dirajo. HAKA membantah dengan cara mengutip pasal demi pasal secara runtut dalam buku “Curai” kemudian membahas dan membantahnya. Gaya penulisan HAKA yang demikian itu berbuntut panjang. Pada tahun 1919, HAKA dan Perguruan Sumatera Thawalib selaku penerbit digugat ke pengadilan oleh Datuk Sangguno Dirajo dengan tuduhan telah mengutip isi buku “Curai” tanpa izin.

Pengadilan memutuskan untuk mendenda HAKA sebesar 300 Gulden dan Sumatera Thawalib sebesar 400 Gulden serta memerintahkan penarikan atas buku-buku yang telah beredar serta larangan mencetak ulang buku tersebut. HAKA dan Sumatera Thawalib – saat itu diwakili oleh Haji Jalaluddin Thaib – naik banding. Pada 1923 keluar putusan banding yang menetapkan bahwa Sumatera Thawalib tetap didenda 400 Gulden, sedangkan HAKA didenda 100 Gulden karena menghina. Namun pengadilan banding tidak memutuskan penarikan atas buku-buku yang telah beredar serta membolehkan untuk mencetak ulang.

Kitab tentang polemik lainnya adalah kitab berjudul “Pedoman Guru, Pembetulkan Qiblat Faham Keliru” (1930). Dalam karya ini HAKA membela amal organisasi Muhammadiyah dalam 10 macam masalah. Kesepuluh macam masalah tersebut adalah tentang melafazhkan niat, menghadirkan niat, menutup aurat laki-laki, membaca Al Qur’an tanpa memahaminya, menyentuh Al Qur’an tanpa berwudhu, masalah talqin mayat, masalah muka perempuan boleh dibuka (bukan aurat), batal tidaknya puasa karena memasukkan obat melalui qubul atau dubur, tentang qiyas dan ijma’, serta terakhir tentang tidak bermanfaatnya bacaan untuk mayat. Karya ini juga memuat bantahan HAKA terhadap seorang Tuan Guru dari Borneo (Kalimantan) yang berkaitan dengan perkara bid’ah.

Polemik lainnya adalah bantahan Beliau terhadap sekte Ahmadiyah. Dalam hal ini HAKA menulis kitab berjudul “al Qaul ash Shahih” (1926). Paham Ahmadiyah yang telah mulai masuk ke tanah Minangkabau sejak tahun 1930 – an juga telah membuat HAKA bangkit untuk menentangnya, baik secara lisan dalam pengajian-pengajian dan tabligh-tablighnya, maupun dalam tulisan-tulisannya.

Selanjutnya dalam membantah dan membendung praktik nikah muhallil (saat itu dikenal dengan istilah “cina buta”) HAKA menulis karya berjudul “Pembuka Mata (Menerangkan Nikah Bercina Buta)” (1923). Secara umum karya ini menerangkan hukum-hukum syara’ terkait dengan masalah perceraian (thalaq) dan ruju’. Melalui karya ini HAKA berusaha untuk membasmi praktik nikah muhallil dengan pertimbangan bahwa praktik pernikahan semacam itu bertentangan dengan tujuan pernikahan dalam ajaran Islam yang menghendaki agar pernikahan dapat berlangsung seumur hidup.

Polemik selanjutnya adalah tentang penggunaan bahasa Indonesia/Melayu dalam khutbah Jum’at. Dalam hal ini HAKA menulis karya berjudul “al Kawakibud Durriyah” (1940). Dalam karya ini HAKA menyatakan bolehnya berkhutbah Jum’at dengan menggunakan bahasa Indonesia/Melayu bila pendengarnya merupakan orang-orang Indonesia. Karya ini juga merupakan bantahan terhadap pendapat Syaikh Muhammad As’ad al Bugisiy dalam bukunya berjudul “al Barahinul Jaliyyah” yang mengatakan bahwa khutbah Jum’at dengan bahasa Indonesia, walaupun para pendengarnya semuanya orang-orang Indonesia, adalah bid’ah hukumnya.

Polemik selanjutnya adalah ketika HAKA diminta oleh Kolonel Hori dari Kantor Urusan Agama Pemerintah Jepang di Jakarta untuk memberikan pandangannya secara tertulis terhadap isi buku berjudul “Wajah Semangat” yang ditulis oleh seorang ahli kebudayaan Jepang yang bernama S. Ozu. Dalam buku tersebut S. Ozu menerangkan kepercayaan Bangsa Jepang sesuai dengan ajaran agama mereka (Buddha dan Shinto), semangat Bushido serta keyakinan tentang Ameterasu Omikami.

HAKA saat itu meminta jaminan dari pihak Jepang untuk membolehkannya berterus terang dalam memberikan tanggapannya atas isi buku tersebut ditinjau dari segi Islam. Setelah mendapat jaminan yang dimintanya tersebut, HAKA kemudian menulis buku yang berjudul “Hanya Allah” (1943), yang menjelaskan didalamnya perbedaan yang mendasar antara kepercayaan Bangsa Jepang dengan ajaran Islam yang membuat umat Islam tidak mungkin dapat menerima kepercayaan Bangsa Jepang tersebut. Setelah buku itu selesai, HAKA menyerahkannya kepada Kolonel Hori. Dan ternyata pihak Jepang cukup menyadari adanya perbedaan-perbedaan itu dan sangat menghargai sifat terus terang dan kejujuran HAKA. Buku yang sangat berani itu sendiri dikemudian hari disalin oleh HAMKA dan menjadikannya sebagai lampiran dari buku “Ayahku”.

Polemik klasik tentang apakah disunnahkan atau tidak qunut dalam shalat subuh, juga menjadi perhatian dari HAKA. Kali ini HAKA lebih condong kepada pendapat Kaum Tua. Beliau menyatakan bahwa qunut dalam shalat subuh adalah sunnah, begitu juga dengan mengeraskan bacaan basmalah sebelum membaca Surah al Fatihah dalam shalat. Pendapat ini dituliskan dalam karya Beliau berjudul “Asy Syir’ah” (1938). Dalam karya ini HAKA mengecam pendirian organisasi Muhammadiyah yang menyatakan bid’ahnya qunut subuh dan mengeraskan basmalah.