pencil

Haji Abdul Karim Amrullah dan Polemik-Polemiknya (Bag. 2)

Polemik HAKA dengan Muhammadiyah juga pernah terjadi dalam kasus boleh tidaknya seorang wanita berpidato di podium di hadapan laki-laki, juga tentang boleh tidaknya seorang wanita bepergian sendirian tanpa mahram. Muhammadiyah saat itu membolehkannya, sedangkan HAKA melarangnya dengan keras. Polemik ini memuncak saat Muhammadiyah mengadakan kongres di Bukittinggi pada tahun 1930. Dalam kongres tersebut Muhammadiyah menyisipkan satu mata acara dimana salah seorang pengurus Aisyiyah akan berpidato di atas podium. Hal tersebut membuat murka HAKA yang juga hadir sebagai tamu undangan spesial.  Beliau mengingkarinya dengan keras. KH. Mas Mansur mencoba melobi HAKA, namun gagal. Pertikaian akhirnya berhasil ditengahi oleh Syaikh Muhammad Djamil Djambek. Rencana pengurus Aisyiyah berpidato pun batal. Kisah ini ditulis dengan sangat apik oleh HAMKA dalam buku “Ayahku”.

Setelah peristiwa di Bukittinggi tersebut HAKA kemudian menegaskan pendiriannya dengan menulis buku berjudul “Cermin Terus, Berguna untuk Pengurus, Penglihat Jalan yang Lurus” (1930). Lebih jauh lagi, dalam buku tersebut HAKA mencela kebaya pendek, dan menyebutnya sebagai “pakaian wanita lacur”, karena lebih menonjolkan bentuk dan lekuk-lekuk tubuh wanita, dan ini bertentangan dengan syara’.

Buku “Cermin Terus” kemudian menuai polemik berkelanjutan. Rangkayo Rasuna Said – seorang pahlawan nasional yang juga merupakan murid HAKA – membantah pendapat HAKA dalam buku “Cermin Terus” tersebut dalam tulisannya yang dimuat di Harian Mustika Yogya yang dipimpin oleh Haji Agus Salim.

Salah seorang putra Minang yang menetap di Jakarta bernama Nur Sutan Iskandar juga tidak ketinggalan dalam membantah HAKA. Beliau menilai HAKA saat itu sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang berlaku di daerah asalnya sendiri, dimana kaum ibu di sana umumnya memakai baju kurung atau kebaya panjang yang dibuat agak longgar.

Photo Dr. Haji Abdul Karim Amrullah

HAKA tidak tinggal diam. Beliau bantah sanggahan-sanggahan tesebut di atas dengan menulis buku berjudul “Pelita Jilid 1” (1930) . Dalam buku ini, sekali lagi dan dengan nada yang lebih keras lagi, HAKA mengecam dan mengharamkan kebaya pendek bagi kaum wanita Islam.

HAKA kemudian melanjutkan dengan menulis buku “Pelita Jilid 2” (1934) untuk membantah sanggahan lain atas buku “Cermin Terus” dari seseorang bernama Kamaluddin Datuk Rajo Pahlawan, seorang guru di kota Padang, yang tidak menyetujui pendapatnya tersebut.

Kamaluddin membantah HAKA dalam sebuah surat yang panjang dengan nada yang keras. Kamaluddin menyebut bahwa uraian HAKA dalam buku “Cermin Terus” dengan tidak langsung berarti telah menuduh bahwa ajaran Islam hanya memberikan hak yang sangat sedikit kepada kaum wanita. Jika demikian, lalu dimana  bukti bahwa agama Islam memuliakan kaum wanita ? Demikian bantahan dari Kamaluddin.

Bantahan Kamaluddin ini tentu saja tidak bisa diterima oleh HAKA, yang kemudian bangkit untuk membantah lebih keras lagi dalam buku “Pelita Jilid 2”.

Polemik berlanjut, ketika tulisan HAKA dalam “Pelita Jilid 2” dinilai telah mengandung beberapa kelemahan/kesalahan yang memberikan peluang kepada musuh-musuhnya untuk menyerang balik. Salah satunya adalah uraiannya yang menyebutkan riwayat tentang adanya tujuh orang wanita yang pernah dinikahi oleh Rasulullah, tetapi kemudian diceraikan oleh Beliau. Riwayat tersebut menyebutkan bahwa salah seorang dari mereka itu ada yang berasal dari Bani Ghifar. Ketika Nabi bergaul dengannya setelah aqad nikah dilaksanakan, Nabi melihat warna putih bekas luka pada kulit wanita tersebut. Nabi lalu menyuruh wanita tersebut berpakaian kembali dan mengembalikannya kepada orang tuanya. Ini berarti Nabi telah menceraikannya dengan jalan fasakh (pembatalan nikah karena tidak memenuhi persyaratan atau karena adanya cacat).

Uraian HAKA tersebut di atas menuai kontroversi hebat, HAKA dituduk melakukan penghinaan terhadap Nabi, karena riwayat yang dinukil oleh HAKA tersebut menggambarkan Nabi sebagai seorang lelaki yang doyan nikah-cerai dan menyia-nyiakan kaum wanita. HAKA juga dituduh telah menghina kaum wanita pada umumnya. Sebagian kalangan menilai HAKA telah teledor dengan menukilkan riwayat tersebut tanpa melakukan kroscek sanadnya, padahal sanad riwayat tersebut tidak sah.

Polemik mengenai buku “Pelita Jilid 2” ini melibatkan banyak pihak, baik dari kalangan yang mengecam – terutama dari kalangan Kaum Tua – maupun dari pihak yang membela, terutama HAMKA.

Siradjuddin Abbas, tokoh Perti, ikut urun membantah HAKA melalui tulisan-tulisannya di Majalah Soearti pada sekitar tahun 1938. Majalah Pandji Islam, yang bercorak aliran Kaum Muda, tidak ketinggalan juga memuat tulisan-tulisan yang berkaitan dengan buku HAKA tersebut. Pada edisi No. 1 tanggal 21 Januari 1939, Majalah Pandji Islam memuat laporan rapat yang membahas isi buku HAKA tersebut yang diprakarsai oleh Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau yang diadakan di Surau Inyiek Jambek Bukittinggi pada tanggal 25 Desember 1938 dan dihadiri oleh sekitar 500 orang. Rapat dipimpin secara bergantian oleh Datuk Simarajo dan Datuk Singo Makuto. Keduanya saat itu dipandang sebagai Penghulu Nan Gadang Basa Batuah di Minangkabau.

Dalam rapat itu, Mahmud Yunus (penulis Kamus dan Tafsir yang terkenal itu) mengemukakan pendapat-pendapatnya yang pada intinya membatalkan semua riwayat yang dikemukakan HAKA dalam buku “Pelita Jilid 2” dengan dalil-dalil dan referensi yang sangat lengkap. Meski begitu, Mahmud Yunus tetap menghormati HAKA sebagai seorang ulama besar. Beliau juga menegaskan bahwa sanggahan-sanggahan yang ditujukan kepada HAKA tidaklah akan mengurangi martabat dan kedudukan HAKA, karena manusia tidak bisa lepas dari kekhilafan. Mahmud Yunus juga menyebut bahwa HAKA sama sekali tidak bermaksud untuk menghina Nabi seperti yang dituduhkan orang-orang kepadanya.

Polemik meluas. Di beberapa tempat di Nusantara, seperti di Aceh, Medan, dan Bandung muncul panitia-panitia yang berusaha mengkaji riwayat yang dikemukakan oleh HAKA tersebut dan membahasnya secara ilmiyah dengan menelaah kitab-kitab hadits, fiqih, tafsir, dan sirah. Salah satunya adalah yang digagas oleh Zainal Abidin Ahmad di Medan pada 25 Juni 1938 yang berkesimpulan tidak jauh berbeda dengan kesimpulan Mahmud Yunus.  Kaum Adat ikut-ikutan mengomporinya, apalagi inilah kesempatan mereka untuk mencurahkan pembalasan mereka terhadap HAKA yang dimasa-masa sebelumnya sering mengecam pendapat-pendapat Kaum Adat.

HAKA sendiri sempat membuat bantahan atas sanggahan-sanggahan yang ditujukan kepada buku “Pelita Jilid 1” dan “Pelita Jilid 2”. Bantahan tersebut Beliau tuangkan dalam buku berjudul “Al Basha-ir” dalam 2 jilid yang ditulis pada sekitar periode tahun 1938 dan 1939. Namun buku inipun mendapat bantahan lagi dari Siradjuddin Abbas dalam tulisannya di Majalah Soearti edisi nomor 21 tahun 1939.

Akhirnya Pemerintah Kolonial Belanda turun tangan. Buku “Pelita Jilid 2” dilarang untuk diedarkan dan dicetak ulang. Namun di kalangan murid-murid HAKA ada rasa lega dan puas karena masalah yang dikemukakan oleh HAKA itu telah dibicarakan dan diteliti secara ilmiyah oleh para ulama, dan bukan hanya menjadi pembahasan simpang siur dalam masyarakat awam. Selain itu, sikap tegar yang ditunjukkan HAKA selama masa-masa sulit tersebut membuat murid-murid Beliau lebih menghormati Beliau daripada sebelumnya.

Satu lagi polemik yang perlu dicatat disini. Kali ini mengenai pendapat HAKA yang melarang kaum wanita untuk ikut shalat ‘id berjamaah di tanah lapang pada saat Hari Raya. Dalam polemik ini HAKA menulis buku berjudul “al Mishbah” (1938). Pendapat HAKA ini lagi-lagi menimbulkan kontroversi. Muncul bantahan-bantahan terhadapnya.

Bantahan pertama muncul dari ahli fiqih papan atas yang berasal dari Aceh, Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy.

Bantahan kedua muncul dari seorang tokoh yang setipe dengan HAKA, sama-sama jago berdebat, gemar berpolemik, tajam lisan dan tulisannya, teguh, berani, keras kepala, dan “ngeyel”. Tokoh itu tak lain dan tak bukan adalah Ustadz A. Hassan, ulama Persis.

Kali ini HAKA benar-benar mendapat lawan polemik yang seimbang.

  1. Hassan turun tangan membantah pendapat HAKA tersebut melalui tulisan-tulisan Beliau di Majalah Al Lisan yang dipimpin oleh Beliau sendiri.

HAKA tidak mau kalah ngotot. Beliau menyerang balik A. Hassan melalui buku berjudul “al Ihsan” (1941) yang ditulisnya ketika Beliau berada di pengasingan di Sukabumi, Jawa Barat. Menurut informasi yang kami terima, buku tersebut belum pernah diterbitkan. Juga tidak diketahui apakah ada respon balik dari A. Hassan atau tidak. Kami sendiri belum berkesempatan untuk mendokumentasikan polemik ini.

Polemik-polemik di atas menggambarkan karakter HAKA yang sangat mencolok sebagai seorang ulama yang sangat teguh, gigih, dan mempertahankan pendiriannya meski harus berhadapan dengan kecaman dari banyak orang, sebagaimana juga yang disaksikan sendiri oleh putera Beliau. Beliau tak kenal takut untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masyarakat, meskipun hal tersebut membuat Beliau harus berhadapan dengan guru, murid, keluarga, dan sahabatnya sendiri. Inilah yang membuat Beliau sangat disegani, baik oleh kawan maupun oleh lawan.

Beliau wafat pada 2 Juni 1945 M, di Jakarta, jauh dari tanah tempat lahirnya. Semoga Allah merahmati Beliau.

 

Referensi :

Ayahku, HAMKA

Studi tentang Karya Tulis Dr. H. Abdul Karim Amrullah, Drs. Sanusi Latief, dkk.