pencil

Bermadzhab Syafi’i Tapi Beraqidah Asy’ari (Bag. 1)

Di antara rahmat Allah yang dilimpahkan kepada umat Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ialah manusia-manusia yang Allah pilih untuk menegakkan agama-Nya dan menjaganya dari berbagai campur tangan asing yang hanya akan memperkeruh suasana. Semenjak wafatnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para shahabat mengambil tanggungjawab menyampaikan agama Islam ke berbagai penjuru dunia. Usaha mereka kemudian diteruskan oleh generasi tabi’in, dan kemudian atba’ tabi’in, dan terus akan diganti oleh manusia-manusia pilihan Allah ‘Azza wa Jalla.

Di antara sekian banyak hamba pilihan Allah tersebut ialah Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i –radhiyallahu ‘anhu– (150-204 H), seorang ulama mujtahid yang tidak ada tidak tahu siapa beliau. Beliaulah mujaddid umat Islam di zamannya, pengasas madzhab Syafi’i, pelopor penulisan ushul fiqih, dan penjaga syariat Islam dari ajaran-ajaran bid’ah dan sesat. Beliau tidak hanya mengajarkan masalah-masalah furu’, namun juga mengajarkan masalah-masalah ushuluddin yang terlebih penting daripada furu’. Sebab seluruh amal perbuatan hamba dibangun di atas ushuluddin. Apabila ushuluddinnya baik, maka amalan yang lain pun akan diterima. Namun jika ushuluddinnya rusak, maka sudah barang tentu sebanyak apapun ibadah yang dilakukan seseorang akan tertolak pula.

Alhamdulillah, aqidah yang beliau perjuangkan ialah aqidah yang diwariskan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kepada shahabat, tabi’in, hingga sampai kepada Imam Asy-Syafi’i. Aqidah semacam itulah yang juga diperjuangkan oleh imam-imam madzhab lainnya, Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad. Tidak ada perbedaan di antara mereka dalam masalah aqidah ini.

Dengan demikian, sejatinya madzhab yang diajarkan oleh Imam Asy-Syafii tidak saja terbatas pada bidang fiqih, namun juga mencakup bidang aqidah tauhid. Maka sangat mengherankan apabila ada orang-orang yang mendakwa bahwa aqidahnya berlainan dengan aqidah Imam Asy-Syafii padahal fiqihnya mengikuti beliau. Seolah-olah Imam Asy-Syafii tidak pernah mengajarkan aqidah tauhid kepada pengikutnya sehingga beliau tidak dianggap imam dalam masalah ini. Tentu ini termasuk penghinaan dan pelecehan terhadap imam besar kaum muslimin. Atau kemungkinan lain, orang itu meyakini Imam Asy-Syafii mengajarkan pula aqidah tauhid namun meragukan kebenaran aqidah yang beliau ajarkan. Ini pun anggapan yang melecehkan beliau.

Kalau memang meyakini benar aqidah yang dibawa oleh Imam Asy-Syafii, apa sulitnya mengatakan madzhab fiqih dan aqidahku adalah syafii. Tapi kenyataan berkata lain. Banyak orang mengatakan, madzhab fiqih saya Syafii, madzhab aqidah saya Asy’ari, dan madzhab taswuf saya Al-Junaid atau Al-Ghazali. Padahal antara Imam Asy-Syafii dan madzhab Asy’ari sangat bertolakbelakang.

Kalau kita mau bercermin dengan ulama-ulama dahulu pengikut madzhab Syafii, mereka tidak akan membedakan antara madzhab fiqih maupun madzhab aqidah.

Imam Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya Al-Muzani, murid langsung Imam Asy-Syafi’i, ketika ditanya tentang pendapatnya dalam masalah Al-Quran, beliau menegaskan:

مذهبي  مذهب الشافعي

“Madzhabku adalah madzhabnya asy-Syafii.”

Tatkala ditanya apa madzhab Asy-Syafii itu, jawabnya, “Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk.”

Imam Abu Hamid Ahmad bin Abu Thahir Muhammad Al-Isfirayini (344-406 H) –rahimahullah-, misalnya lagi, berkata:

مذهبي و مذهب الشافعي و جميع علماء الأمصار أن القرآن كلام الله

“Madzhabku, madzhab Asy-Syafii, dan madzhab ulama-ulama kota ialah bahwa Al-Quran itu perkataan Allah…”

Sedangkan Asy’ariyyah berpendapat bahwa Al-Quran yang ada di tangan kita ini hanyalah sesuatu yang menunjukkan kalam Allah. Bahkan At-Taftazani dalam Syarah Al-‘Aqaid An-Nasafiyyah menegaskan akan hal tersebut.

Syaikh Ibrahim Al-Baijuri berkata dalam Syarah Jauharah At-Tauhid menegaskan:

و أما القرآن بمعنى اللفظ الذي نقرؤه فهو مخلوق، لكن  يمتنع أن يقال: القرآن مخلوق و يراد به اللفظ الذي نقرؤه إلا في مقام التعليم

“Sedangkan Al-Quran dengan makna teks yang kit abaca ini, maka ialah makhluk. Akan tetapi dilarang ditegaskan demikian kecuali untuk pengajaran.”

Artinya untuk orang awam, tetap dikatakan Al-Quran adalah firman Allah. Namun untuk para pelajar diajarkan bahwa Al-Quran adalah makhluk.

Contoh-contoh lain dalam masalah ini amat sangat banyak, kesemuannya memberikan pengertian pertentangan yang jelas antara madzhab Imam Asy-Syafi’i dan madzhab Al-Asy’ari. Oleh karena itu, keduanya tidak bisa dikompromikan, baik dari sisi dekat maupun jauh.

Oleh sebab itu jangan sampai heran apabila Imam Abul Muzhaffar Manshur bin Muhammad bin ‘Abdul Jabbar As-Sam’ani (426-489 H) –‘alaihi rahmatullah- menegaskan dalam Al-Intishar li Ashab Al-Hadits:

فلا ينبغي لاحد أن ينصر مذهبه في الفروع، ثم يرغب عن طريقته في الأصول

“Maka tidak sepantasnya bagi siapa pun yang berusaha membela madzhab Asy-Syafi’i dalam masalah fiqih, kemudian ia membenci manhaj Asy-Syafi’i dalam perkara ushuluddin.”

Sebelum itu, Imam Abul Hasan Muhammad bin ‘Abdul Malik Al-Karaji –rahimahullah– berkata:

فمن قال أنا شافعي الشرع أشعري الاعتقاد، قلنا هذا من الأضداد، لا بل من الارتداد، إذ لم يكن الشافعي أشعري الاعتقاد. و من قال أنا حنبلي في الفروع، معتزلي في لأصول، قلنا: قد ضللت إذا عن سواء السبيل فيما تزعمه، إذ لم يكن أحمد معتزلي في الدين و الاجتهاد

“Oleh karena itu apabila ada orang berkata, ‘Dalam fiqih saya bermadzhab Syafii namun dalam ‘’tiqad bermadzhab Asy’ari,’ maka kami katakan bahwa hal ini kontradiktif. Tidak, bahkan termasuk ‘pemurtadan’. Sebab Asy-Syafi’i tidak pernah bermadzhab Asy’ari!

Dan orang yang berkata, ‘Madzhab fiqih saya Hanbali sedangkan dalam ushuluddin bermadzhab mu’tazilah,’ kami katakan, kalau begitu kamu sesat dari jalan yang lurus atas apa yang kamu dakwakan tersebut. Sebab Ahmad tidak pernah menganut faham mu’tazilah dalam perkara ushuluddin maupun ijtihad.” [Dikutip oleh Ibnu Taimiyyah dalam Naqdh Al-Manthiq]

Syaikh Abul Hasan Al-Karaji juga menjelaskan:

Adalah Syaikh Abu Hamid Al-Isfirayini sangat mengingkari Al-Baqillani dan para ahli kalam. Imam-imam madzhab Syafi’i masih saja terus-menerus menafikan dan enggan dinisbatkan pada madzhab Asy’ari dan mereka pun berlepas dari dari pokok-pokok yang menjadi pijakan madzhab Asy’ari. Mereka juga melarang handai taulan dan fants-fans mereka mendekati sekitar hal tersebut. Sebagaimana yang pernah saya dengar dari sejumlah imam, termasuk Al-Hafizh Al-Mu’taman bin Ahmad bin ‘Ali As-Saji, bahwa mereka mengatakan, “Kami telah mendengar banyak ulama yang terpercaya, mereka berkata, Abu Hamid Al-Isfirayini seorang imamnya para imam, ulama yang telah memenuhi dunia dengan ilmu dan muridnya, apabila beliau pergi untuk menunaikan shalat Jum’at di bilangan Karkh, Masjid Jami’ Al-Manshur, beliau akan masuk ke sebuah madrasah yang terkenal dengan sebutan Az-Zuzi yang terletak berhadapan dengan masjid tersebut, beliau akan menghadap hadirin dan berkata, “Saksikanlah diriku bahwa Al-Quran merupakan perkataan Allah, bukan makhluk, sebagaimana pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, tidak seperti pendapatnya Al-Baqillani.” Perbuatan tersebut beliau lakukan dalam beberapa jumat. Ketika beliau ditanya apa gerangan yang menyebabkan beliau mengulang-ulang tindakan tersebut, jawabnya, “Agar tersebar di tengah-tengah masyarakat dan di tengah-tengah orang shalih di negeri ini bahwa aku berlepas diri dari apa yang mereka katakana –yakni Asy’ariyyah- dan aku berlepas dari madzhabnya Abu Bakar bin Al-Baqillani. Sebab ada sebagian jama’ah penuntut ilmu asing yang menjumpai Al-Baqillani dengan cara sembunyi-bunyi, mereka belajar kepadanya, sehingga mereka pun terkena imbas fitnah (bencana) madzhabnya. Dan manakala mereka pulang ke masing-masing negeri mereka, mereka pun akan menampakkan bid’ah mereka itu, tidak mungkin tidak. Sehingga akan timbul perasangka bahwa mereka bagian dariku, mereka belajar sebelum itu. Padahal aku tidak berpendapat demikian itu. Aku berlepas diri dari madzhabnya Al-Baqillani dan ‘aqidahnya.”

Aku juga pernah mendengar guruku, Imam Abu Manshur Al-Faqih Al-Ashbahani, berkata, “Pernah suatu saat aku menghadiri pengajian Syaikh Abu Hamid Al-Isfirayini. Beliau berulang-ulang melarang murid-muridnya dari ilmu kalam dan menjumpai Al-Baqillani. Sampai suatu ketika sampilah berita kepada beliau bahwa ada beberapa muridnya yang diam-diam belajar ilmu kalam dari Al-Baqillani. Karena itu disangkalah bahwa mereka bagian dariku.”

Di akhir cerita, beliau berkata, “Sesungguhnya Syaikh Abu Hamid berkata padaku, ‘Anakku, telah sampai berita padaku bahwa kamu belajar kepada orang ini (maksudnya Al-Baqillani). Waspadailah orang tersebut, karena sesunggunya ia seorang ahli bid’ah. Ia mengajak orang-orang menuju kesesatan. Kalau kamu tidak mau meninggalkan Al-Baqillani, tinggalkan saja pengajianku!” Aku pun berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari apa yang dikatakannya itu dan aku bertaubat kepada Allah. Saksikanlah bahwa aku tidak akan menghadiri pengajiannya.”

Aku juga mendengar Imam Abu Manshur Sa’d bin ‘Ali Al-‘Ajali berkata, “Aku mendengar beberapa imam ulama di Baghdad, salah satunya mungkin Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi, berkata, Abu Bakar Al-Baqillani keluar menuju pemandian dengan menutupi wajahnya karena ketakutan Syaikh Abu Hamid Al-Isfirayini.”

Ketegasan Syaikh Abu Ishaq Al-Isfirayini memang terkenal. Sampai-sampai beliau berusaha membedakan mana ushul fiqih Syafi’i dan mana ushul fiqih Asy’ari. Abu Bakar Az-Zadzqani menambahkan –dan beliau berada di dekatku-, dan demikian Abu Ishaq Asy-Syirazi mengikutinya dalam kitab Al-Luma’ dan At-Tabshirah. Bahkan kalau ada pendapat Asy’ari yang bersepakatan dengan pendapat ulama Syafi’iyyah, beliau akan membedakannya dengan berkata, “Ini merupakan pendapat sebagian ulama Syafi’iyyah. Pendapat ini juga dianut oleh Asy’ariyyah. Sehingga beliau tidak menganggap kalangan Asy’ariyyah bagian dari penganut madzhab Asy-Syafi’i. Ulama-ulama Syafi’iyyah memang telah enggan menggabungkan diri dengan mereka dan dengan madzhab mereka dalam masalah ushul fiqih, apalagi dalam masalah ‘aqidah.” [Al-Quthuf Al-Majmu’ah min Kitab Al-Fushul fi Al-Ushul ‘An Al-Aimmah Al-Fuhul hlm. 39-41]

Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Al-Harrani mengatakan:

“Bahkan tidak ada seorang imam pun melainkan ada sekelompok orang yang menisbatkan diri mereka kepada imam-imam tersebut padahal mereka (imam-imam) berlepas diri dari mereka. Ada sejumlah manusia yang menisbatkan diri kepada Malik, padahal Malik sendiri berlepas diri dari mereka. Sebagian orang ada yang menisbatkan diri kepada Asy-Syafii, padahal beliau berlepas diri dari mereka. Dan beberapa manusia telah menisbatkan diri kepada Abu Hanifah, padahal beliau berlepas diri dari mereka.” [Majmu’ Fatawa III/185]

Di lain tempat, Syaikh Taqiyyuddin juga menerangkan:

“Demikian pula para pengikut madzhab yang empat dan lainnya. Apalagi banyak di antara mereka yang tenggelam dalam beberapa pendapat-pendapat yang menyangkut prinsipil dan mencampuradukkan antara ini dan itu. Maka orang bermadzhab Hanbali, Syafii, dan Maliki mencampuradukkan dalam madzhab Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad dengan sesuatu yang berasal dari prinsip madzhab Asy’ariyyah, Salimiyyah, dan lainnya. Dan menambahkannya ke dalam madzhab Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad. Pula orang yang bermadzhab Hanafi, ia membaurkan madzhab Abu Hanifah dengan sesuatu yang berasal dari prinsip sekte Muktazilah, Karramiyyah, Kullabiyyah, dan menambahkannya ke dalam madzhab Abu Hanifah.” [Minhaj As-Sunnah Al-Muhammadiyyah V/261]

Apa yang diungkapkan di atas membuat kita teringat dengan sebuah untaian indah penyair yang bersenandung:

وكل يدَّعي وصلاً بليلى …. وليلى لا تقر لهم بذاكا

“Semua orang mengaku punya hubungan dengan si Laila, padahal Laila tidak mengakui akan hal tersebut.”

Inilah yang kemudian kenapa ada pengikut madzhab Syafi’i yang mengira bahwa ia tidak bisa dilepaskan dari madzhab Asy’ari. Ternyata sebabnya ada beberapa oknum yang menisbatkan diri dalam madzhab Syafi’i kemudian menyusupkan beberapa pemahaman-pemahan yang berasal dari luar madzhab Syafi’i sehingga lambat laun generasi yang datang di kemudian hari tidak mengerti bahwa ternyata ada pemikiran asing yang asal muasalnya bukan dari madzhab Asy-Syafi’i namun diseludupkan ke dalam madzhab sedangkan Imam Asy-Syafi’i berlepas diri dari semua seludupan tersebut itu.