pencil

Bermadzhab Syafi’i Tapi Beraqidah Asy’ari (Bag. 2)

Sebab Ulama Syafi’iyyah Terpengaruh oleh Madzhab Asy’ari

Telah maklum bagi kaum muslimin bahwa ulama-ulama besar madzhab Syafi’i di awal-awal ialah ulama penjaga aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahkan merekalah imam. Namun seiring berjalannya waktu, tidak sedikit ulama Syafi’iyyah belakangan yang kemudian mulai meninggalkan aqidah imam-imam Syafi’iyyah terdahulu.

Apa sebabnya?  Dr. ‘Izzat Al-Kalbani menyebutkan dalam Al-Masail al-‘Aqadiyyah Allati Khalafa Fiha Ba’dh Asy-Syafi’iyyah Aimmah Al-Madzhab setidaknya ada 3 sebab utama kenapa ulama Syafi’iyyah belakangan meninggalkan ‘aqidah ulama-ulama Syafi’iyyah mula-mula, di antaranya yang paling memungkinkan ialah hidup di tengah para ahli bid’ah Asy’ariyyah dan berguru kepada mereka.

Dr. ‘Izzat kemudian menjelaskan, “Sesungguhnya ulama-ulama terdahulu dari kalangan Syafi’iyyah dan lainnya benar-benar mengetahui efek buruk yang menimpa ‘aqidah seseorang manakala berbaur dengan para ahli bid’ah dari kalangan ahli kalam. Oleh karena itu mereka sangat mewanti-wanti dan melarang mempergauli mereka.”

Abul Hasan Al-Asy’ari, misalnya, hidup di tengah masyarakat berfaham muktazilah. Bahkan ayah tirinya, Al-Juba’i, merupakan imamnya para pengikut sekte muktazilah. Oleh karena itu pagam muktazilah benar-benar mengakar pada diri Al-Asy’ari sehingga meskipun beliau di akhir hayatnya bertaubat dari pemahaman sesat, sebagaimana yang beliau tegaskan di muka kitabnya yang berjudul Al-Ibanah wi Ushul Ad-Diyanah, namun beliau masih sulit melepaskan beberapa pokok-pokok faham muktazilah. (Siyar A’lam An-Nubala’ XV/85)

Abu Bakar Ash-Shabaghi dan Abu ‘Ali Ats-Tsaqafi merupakan dua ulama besar yang termasuk murid istimewa Imam Ibnu Khuzaimah, ulama besar yang tegas menyanggah ahli bid’ah. Namun setelah kedua ulama di atas, Ash-Shabaghi dan Ats-Tsaqafi, bergaul dengan ulama-ulama dari kalangan sekte Kullabiyyah, mereka pun akhirnya terpengaruh oleh mereka dan dampak buruknya mereka berani menyelisihi ‘aqidah yang sebenarnya. (Siyar A’lam an-Nubala’ XV/282)

Demikian pula Abu Bakar Al-Baihaqi, seorang ulama syafi’i yang juga ahli di bidang hadits. Meskipun hafal ribuan hadits namun posisinya sebagai murid ulama-ulama bid’ah Asy’ariyyah semisal Ibnu Faurak, ia kemudan justru menggunakan apa yang telah Allah berikan kepadanya untuk kepentingan membela dan menguatkan madzhab Asy’ari. (Siyar A’lam an-Nubala’ XIX/163)

Oleh karena kenyataan di atas, sudah sepantasnya bagi setiap muslim yang menyayangi keselamatan dirinya di dunia dan di akhirat agar menjauhi majelis-majelis ahli bid’ah agar tidak terpengaruh oleh mereka. Demikian pula jangan ia terlalu menggemari buku-buku yang memaparkan aqidah bid’ah tersebut. Dan berdebat dengan ahli bid’ah juga hendaknya tidak dilakukan. Karena dikhawatirkan ada sisa-sisa pemikiran yang tersangkut dalam benak pikirannya dan terbawa hingga menjadi keyakinan.

Meskipun sebenarnya aqidah ahli bid’ah Asy’ariyyah itu jelas-jelas saling bertabrakan antara satu dengan yang lainnya, namun banyak pengikutnya yang bertekuk lutut di hadapan ‘aqidah menyimpang tersebut. Sebagai contoh ialah ungkapan penulis kitab Jauharah At-Tauhid yang merupakan kitab kebanggaan semua pengikut sekte Asy’ariyyah. Di awal-awal kitab ia sangat menjunjung tinggi madzhab khalaf dan menelantarkan madzhab salaf. Namun anehnya di akhir kitab mengatakan:

“Kebaikan seluruhnya itu ada pada mengikuti Salaf, sedangkan keburukan semuanya ada pada bid’ah-bid’ah Khalaf.”

Ia juga mengatakan:

“Oleh karena itu, ikutilah Salafush Shalih, dan jauhilah bid’ah orang-orang yang hidup di kemudian hari.”

Saksikanlah betapa kacau dan kontradisksinya ‘aqidah Asy’ariyyah, tetapi anehnya banyak orang-orang cerdas yang tertipu akan ‘aqidah menympang tersebut.

‘Aqidah Salaf yang disinggung di atas maksudnya ialah bahwa dalam memahami ayat-ayat serta hadits-hadits yang mengabarkan sifat-sifat Allah Ta’ala seperti bersemayam di atas ‘Arsy, Tangan, Wajah, turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir, Mata, rahmat, marah, tertawa, dan lain sebagainya mereka memahaminya sebagai sifat-sifat yang wajib diimani makna lahiriahnya dan diserahkan hakekat bentuk dan caranya kepada Allah Ta’ala.

Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii berkata menjelaskan:

 

“Dan sesungguhnya Allah tertawa karena hamba-Nya yang beriman berdasarkan sabda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Sungguh orang yang terbunuh di jalan Allah akan menjumpai Allah dengan keadaan Dia tertawa atasnya.’ [HR Al-Bukhari no. 2826 dan Muslim no 1890]

Bahwasanya Allah memiliki dua tangan berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Bahkan dua tangan-Nya terbentang.’ [QS Al-Maidah: 64].

Dan bahwasanya Dia memiliki tangan kanan mengingat firman-Nya, ‘Dan langit-langit terlipat di tangan kanan-Nya.’ [QS Az-Zumar: 67].

Dia juga memiliki beberapa jemari berdasarkan sabda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Semua hati berada di antara dua di antara jari-jemari Ar-Rahman.’ [HR Imam Ahmad IV/182, Ibnu Majah no. 199, Al-Hakim I/525, dan Ibnu Mandah dalam Ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah hlm. 87]

Dia memiliki  kaki berdasarkan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Sampai kemudian Rabbi Ta’ala meletakkan kaki-Nya di dalamnya.’ [HR Al-Bukhari no. 4848 dan Muslim no. 2848] Maksudnya ialah di dalam neraka.

Dan Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy berdasarkan firman-Nya, ‘Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.’ [QS As-Sajdah: 4]. Dan firman-Nya, ‘Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsy.’ [QS Ar-Rahman: 5]

Dia Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap (sepertiga) malam (terakhir) sebagaimana yang Dia maui berdasarkan kabar yang disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. [HR Al-Bukhari no. 1145, 6321, 7494 dan Muslim no. 758]

Aku pun mengimani bahwa Allah dapat dilihat di akhirat sebagaimana yang diterangkan dalam hadits. [HR Al-Bukhari no. 806 dan Muslim no. 182]

Kami menetapkan semua sifat ini dan menafikan ada makhluk yang menyerupai-Nya atau Dia menyerupai makhluk (baca: tasybih), sebagaimana Dia telah menafikan hal tersebut dari diri-Nya Ta’ala. Dia berfirman, ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Mahamendengar Mahamengetahui.’ [QS Asy-Syura: 11].” [Lihat ‘Aqidah Asy-Syafi’i hlm. 90-91]

Sementara itu Imam Malik bin Anas Al-Ashbahi menjelaskan:

الاستواء معلومٌ ، والكيف مجهولٌ ، والإيمان بـــه واجبٌ ، والسؤال عنه بدعةٌ

“Bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy (baca: istiwa) telah maklum diketahui. Begaimana cara bentuknya itulah yang tidak diketahui. Mengimani akan istiwa itu wajib. Sedangkan bertanya-tanya tentangnya termasuk bid’ah!” [HR Al-Lalikai dalam Syarh I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah III/441 dan  dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma wa Ash-Shifat hlm. 408]

Penjelasan Imam Malik ini juga diriwayatkan dari salah seorang shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bernama Ummu Salamah –radhiyalllahu ‘anha-.

Inti daripada penjelasan tersebut ialah bahwa dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengabarkan tentang shifat-shifat Allah wajib bagi seorang mukmin menghimpun dua hal, yaitu:

Pertama, menetapkan dan mengimani akan hal-hal tersebut sesuai makna lahiriah yang terkandung dalamnya menerut ketentuan Bahasa Arab. Sebab Allah menurunkan wahyu-Nya dengan Bahasa Arab. Oleh karena itu harus difahami menurut Bahasa Arab di saat wahyu tersebut turun.

Bagian pertama ini sekaligus sebagai sanggahan terhadap ahli tajhil muwaidh, yaitu mereka yang meyangka bahwa shifat-shifat Allah yang tersebut dalam Al-Quran dan hadits itu tidak ada yang mengetahui maknanya selain Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu maknanya pun harus diserahkan kepada-Nya dengan berkeyakinan bahwa tidak mungkin makna lahiriah yang terkandung dalam shifat-shifat tersebut. Sekte ini secara tidak langsung menyangka Allah tidak bisa menyampaikan pesan dengan baik kepada makhluk-Nya sehingga maknanya pun tidak bisa difahami! Mahatinggi Allah dari segala apa yang mereka tuduhkan.

Kedua, menafikan adanya segi persamaan antara Allah dengan makhlik-Nya mengingat firman Allah Ta’ala, “Tidak ada sesuatu pun yang seperti Diri-Nya. Dia Mahamendengar Mahamengetahui.” Walaupun mungkin Allah memiliki nama dan sifat yang juga dimiliki oleh makhluk, tapi yakinilah bahwa antara sifat Allah dengan makhluk jauh sangat berbeda, tidak bisa dibanding-bandingkan. Allah memiliki sifat hidup, makhluk pun bersifat hidup. Tapi tentu hidupnya Allah dengan hidupnya makhluk berbeda. Allah mendengar, makhlik pun mendengar. Tapi mendengarnya Allah dengan mendengarnya makhluk tentu tidak sama. Demikian juga, misalnya, Allah memiliki tangan-tangan, makhluk pun bertangan. Namun sudah barang tentu antara tangan Allah dengan tangan makhluk berbeda hakekatnya.

Ini pun sebagai bantahan ahli ta’thil, yaitu mereka yang menafikan shifat-shifat itu dari Allah Ta’ala dengan cara mengubah-ubah makna yang terkandung dalamnya. Inilah jalan yang ditempuh oleh sekte Jahmiyyah, Muktazilah, dan yang sefaham dengan mereka.

Demikianlah i’tiqad yang diyakini dan dianut oleh ulama-ulama salaf mulai dari kalangan shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang mereka terima dari beliau, tabi’in, atba’ tabi’in, imam madzhab yang empat, dan imam-imam senior lainnya.

Akan tetapi kalangan Khalaf yang hidup belakangan memilih jalan yang menyelisihi I’tiqad ulama-ulama Salaf. Mereka telah merobah-robah (baca: tahrif) makna sifat yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Quran dan melalui lisan Rasulullah –shallallalahu ‘alaihi wa sallam-. Dan inilah yang juga layak disebut dengan ta’thil, yakni mengosongkan Allah dari sifat-sifat di atas. Alasan yang biasa mereka kemukakan kenapa mereka menempuh jalan ini ialah karena akal tidak mungkin memahami pemahaman Salaf. Oleh karena itu, apabila Anda membaca buku-buku aqidah Asy’ariyyah, banyak di antaranya yang pembahasannya didahului dengan pembahasan hukum-hukum akal yang tiga, yaitu wajib, boleh, dan mustahil. Tiga hukum ini yang mereka sebagai sandaran memahami Al-Quran dan As-Sunnah.

Lebih parah lagi sebagian penganut faham Asy’ariyyah, atau justru semuanya, meyakini bahwa dalil-dalil Al-Quran dan Hadits tidak berstatus zhanni, yaitu memiliki beberapa kemungkinan makna. Sedangkan dalil-dalil akal itulah yang statusnya qath’i, yaitu hanya ada satu kemungkinan makna. Karenanya apabila ada pernyataan Al-Quran dan As-Sunnah bertentangan dengan akal, maka akallah yang harus diunggulkan! Untuk membuktikan kebenaran fakta ini, silakan lihat, misalnya, Tafsir Fakhruddin Ar-Razi yang berjudul Mafatih Al-Ghaib (II/62).

Jalan Khalaf inilah yang ditempuh oleh sekte Asy’ariyyah dan sekte-sekte dalam Islam lainnya yang sependapat dengan mereka, termasuk Muktazilah, Jahmiyyah, Maturidiyyah. Wallahua’lam.