pencil

Warisan Dalam Perspektif Negara, Adat Dan Islam

Dilema. Mungkin itulah ungkapan yang tepat dalam mengatasi polemik masalah kewarisan
Indonesia. Jika kita –sebagai ahli waris maju, maka salah-salah malah dapat hukuman berat. Kita bisa
dikenai Pasal 1365 Hukum Perdata , dengan tuduhan menguasai hak milik orang lain. Bukan hanya itu,
kita juga terkena Pasal Pidana 372 KUHP dengan tuduhan penggelapan. Terancam 4 tahun penjara atau
denda sembilan ratus rupiah.

Itu baru hukum negara; artinya masih hukuman di dunia. Kalau di akhirat, maka jangan tanya. Di
dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang durhaka kepada-Nya dengan tidak memakai
hukum Islam dalam kewarisan :

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-
Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa
yang menghinakan.” (QS. An-Nisaa’: 17 )

Di dalam ayat tersebut setidaknya Allah memberikan tiga ancaman terhadap orang-orang yang
tidak memakai hukum Islam dalam kewarisan :

  1. Dimasukkan ke neraka
  2. Kekal di dalamnya
  3. Disiksa dengan siksaan yang menghinakan

Ditambah lagi dengan firman Allah :

“Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah
itu , niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar .“ (QS.
Al-Anfaal: 73)

Yang dimaksud ayat ini sebagaimana tafsiran Ibnu Abbas : “Jika kalian tidak
melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dalam hal kewarisan”. (Lihat Tafsir At-
Thabari, jilid 5 hal. 3908, cet. Dar As-Salam). Artinya kita akan dituduh sebagai biang kerok
kerusakan dan kekacauan di muka bumi.

Lengkap sudah penderitaan kita, terkena pidana, dimasukkan neraka, disiksa dengan
siksaan menghinakan, tercoreng nama baik kita, dengan cap sebagai biang kerok kerusakan dan
kekacauan di muka bumi.

Jika kita mundur, dengan tidak mengambil hak kita, maka kita akan dianggap tidak
menghargai almarhum, atau malah dianggap menyakiti hati almarhum. Ini jika dalam hukum
adat.

Jika dalam hukum Islam, maka kita tidak diperbolehkan mundur sebelum kita
mengetahui hak kita dalam harta waris tersebut. Jika tidak, maka kita dianggap sebagai orang
yang membiarkan kemungkaran, karena kita membiarkan sanak keluarga kita memakan harta
yang haram , dan kita mengetahui itu.

Tidak tanggung-tanggung, Allah langsung mengancam orang-orang yang membiarkan
kemungkaran dan tidak mencegahnya :

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang
yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS.
Al-Anfaal: 25)

Hukum Perdata Kewarisan (Burgerlijk Wetboek voor Indonesie) pada hakikatnya berlaku
bagi golongan timur asing bukan Tionghoa, dan bagi golongan Tionghoa (Lihat: Hukum
Perdata Pasal 830). Dalam artian, hukum perdata sepenuhnya mengacu kepada barat. Maka,
bagaimana syariat menghukumi dalam masalah kewarisan untuk golongan-golongan tersebut?.
Jika mereka merupakan keluarga muslim, maka wajib bagi mereka untuk memakai hukum islam.
Tapi bagaimana jika mereka non muslim? Disini perlu diteliti lagi.

Kalau kita lihat dalam hukum adat, maka ada banyak sekali hukum adat di Indonesia ini.
Sebagai contohnya di daerah minangkabau, yang menjadikan harta pusaka untuk kaum
matrilineal (perempuan). Walaupun kalau dalam Islam, hukum-hukum tersebut masih tergolong
jahiliyah, karena pada faktanya, hukum adat arab yang menjadikan harta warisan hanya untuk
golongan patrilineal (laki-laki) dihapus dan diganti dengan hukum Islam.

Kalau kita melihat dalam hukum Islam, maka kewarisan akan kita peroleh dari Al-
Qur’an, Al-Hadits, dan Ijma’ para sahabat. Sangat sedikit kita menemukan ijtihad para ulama di
dalamnya. Kalau kita lihat ayat-ayat tentang hukum-hukum, baik itu dalam hal ibadah ataupun
mu’amalah, maka akan kita dapati ayat-ayat tersebut masih tergolong mujmal (global) seperti
halnya ayat tentang shalat. Allah Ta’ala hanya menyuruh kita untuk shalat, tanpa memberikan
rincian tata cara shalat tersebut. Akan tetapi, kita akan mendapatinya dalam Al-Hadits. Begitu
pula hukum-hukum ibadah dan mu’amalah lainnya.

Berbeda halnya kewarisan. Akan kita dapati ayat-ayat Al-Qur’an sangat jelas dan sangat
rinci dalam menjelaskan. Bisa kita lihat dalam surat An-Nisaa ayat 11, 12 dan 176. Adapun
hadits tentang kewarisan, dan ijma’ serta ijtihad maka kita akan dapati hanya sedikit yang
menjelaskan tentang kewarisan. Ini dikarenakan Al-Qur’an sudah sangat jelas dalam
menjelaskan hukum kewarisan.

Oleh karena itu, ketika Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tentang pengertian kalaalah, maka Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam
hanya bersabda kepadanya :

تكفيك آية الصيف التي في آخر سورة النساء

“Cukuplah bagimu ayat shaif (ayat yang diturunkan di waktu musim panas) yang
terdapat di akhir surat An-Nisaa’ .“ (HR. Muslim: no. 2035)

Yang jadi permasalahan di Indonesia adalah, bahwa yang dipakai di peradilan agama
adalah hukum kompilasi Islam. Memang sebagian besar sesuai syariah, tapi ada satu atau dua
yang bertentangan syariah. Seperti halnya seorang ayah yang mendapatkan sepertiga jika tidak
ada anak (Lihat: KHI (Kompilasi Hukum Islam) Pasal 177, Bab 3). Padahal, Rasulullah
shallallhu ‘alahi wa sallam bersabda :

ألحقوا الفرائض بأهلها فما بقي فلأولى رجل ذكر

“Serahkanlah bagian-bagian waris kepada ahlinya yang berhak. Maka selebihnya bagi
laki-laki yang paling dekat (hubungan darahnya dengan pewaris).” (HR. Bukhari: no. 6351
dan Muslim: no. 6354)

Artinya, ayah akan mendapatkan sisa (ashobah) jika tidak ada keturunan. Dalam artian
bagian sang ayah tidak dapat dipastikan. Berbeda halnya jika ada keturunan, maka posisi ayah
akan sama dengan ibu jika keturunan tersebut laki-laki. Jika perempuan, maka sisa dari harta
waris tetap diberikan kepada ayah.

Yang lebih bermasalah lagi, jika keputusan pengadilan agama tidak sesuai dengan
yurisprudensi Mahkamah Agung. Ibarat punya lubang dirumah, hendak diperbaiki, malah
muncul lubang lain.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempelajari dengan sungguh-sungguh ilmu
kewarisan Islam, agar jangan sampai ketika keluarga kita ada yang meninggal, dan terjadi
sengketa waris, maka berhati-hatilah, yang menang akan menjadi arang dan yang kalah akan
menjadi abu!

Semoga bermanfaat!

و صلى الله على نبينا محمد، وعلى آله و أصحابه أجمعين، والحمد لله رب العالمين.

Sumber Rujukan :
1. Al-Quran
2. Al-Hadits (Shahih Bukhari dan Muslim)
3. Tafsir Ath-Thabari
4. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek voor Indonesie)
5. Kompilasi Hukum Islam