pencil

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah (Bag. Pertama)

Segala puji syukur bagi Allah Rabb sekalian alam, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan bagi suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya, amma ba’du.

Allah azza wa jalla telah menyediakan bagi kita dalam setahun hijriyah musim-musim kebaikan, dimana pahala ibadah pada musim-musim tersebut dilipatgandakan; diantara musim tersebut ialah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah. Agar jiwa kita lebih tergugah, dan bersemangat untuk memperbanyak amalan di dalamnya insyaallah, maka berikut kami ketengahkan pembahasannya.

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Banyak sekali keutamaan – keutamaan yang terkumpul pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, yang dapat kita rangkumkan pembahasannya sebagai berikut :

  • Dzulhijjah Termasuk Bulan Haram

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu diantara empat bulan haram (suci) yang disebutkan oleh Allah azza wa jalla dalam firman-Nya QS. at-Taubah ayat 36.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah menjelaskan keempat bulan tersebut di dalam sabda beliau,

الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Waktu senantiasa berputar sebagaimana tabiatnya, sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan, empat diantaranya adalah bulan haram (suci); 3 bulan berurutan letaknya; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Serta (satu lagi) bulan Rajab (milik) Mudhar, yang berada diantara Jumada dan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari)

 

  • Dzulhijjah Bulan Haram Terbaik

Bukan hanya sebatas bulan haram (suci), namun Dzulhijjah juga merupakan bulan haram yang terbaik.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam khutbah beliau di haji wada’,

أَلَا إِنَّ أَحْرَمَ الْأَيَّامِ يَوْمُكُمْ هَذَا وَإِنَّ أَحْرَمَ الشُّهُورِ شَهْرُكُمْ هَذَا

Ketahuilah, sesungguhnya hari-hari kalian yang paling haram (suci) adalah hari ini, dan bulan-bulan kalian yang paling haram (suci) adalah bulan ini...” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

 

Berkata Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah, “Dan semua (dalil-dalil) ini, menunjukan bahwa bulan Dzulhijjah adalah bulan haram terbaik, karena kesuciannya lebih besar daripada bulan-bulan haram yang lain.” (Lathaiful Ma’arif hal. 594)

 

  • Bulan Terbaik Sepanjang Tahun

Karena bulan Dzulhijjah merupakan bulan haram (suci) terbaik, maka bulan Dzulhijjah juga merupakan bulan terbaik sepanjang tahun. Sebab bulan-bulan terbaik sepanjang tahun jatuh di bulan-bulan haram (suci).

 

Diriwayatkan dari sebagian salaf, “(Sesungguhnya) Allah telah memilih zaman (terbaik); adapun zaman yang paling dicintai oleh Allah adalah bulan-bulan haram, dan bulan yang paling dicintai oleh Allah dari bulan-bulan tersebut adalah Dzulhijjah, dan hari yang paling dicintai di bulan (Dzulhijjah) adalah sepuluh hari pertama.” (Lihat Lathaiful Ma’arif hal. 591)

 

  • 10 Hari Terbaik Sepanjang Tahun

Sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari terbaik sepanjang tahun, dimana nilai amalan yang dikerjakan di hari-hari ini mengalahkan nilai amalan yang dikerjakan di hari-hari selainnya.

 

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أفضل أيام الدنيا العشر يعني عشر ذي الحجة

Hari-hari terbaik sepanjang masa ialah, hari yang sepuluh dari bulan Dzulhijjah.” (Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, 2/32)

 

  • Allah Bersumpah dengan 10 Hari ini

Mujahid rahimahullah berkata bahwa maksud dari “Demi fajar” pada ayat pertama QS. al-Fajr adalah fajar pada hari Iedul Adha. (Lihat ad-Dur al-Mantsur, 15/393)

 

Dan ketika menafsirkan firman Allah azza wa jalla dalam QS. al-Fajr ayat 2, yang artinya, “..dan demi malam yang sepuluh.” Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Yakni sepuluh malam pertama di bulan Dzulhijjah.” (Lihat ad-Dur al-Mantsur, 15/399)

 

Sedang dalam riwayat disebutkan bahwa maksud dari, “…demi  yang genap dan yang ganjil…” pada ayat ketiga dari QS. al-Fajar ialah, yang ganjil maksudnya hari Arafah, dan yang genap ialah hari raya Iedul Adha. (Lihat ad-Dur al-Mantsur, 15/398-399). Sehingga lengkaplah keutamaan 10 hari ini, berdasarkan isyarat dari sumpah Allah azza wa jalla pada QS. al-Fajar 1-3.

 

  • Penyempurna Munajat Nabi Musa

10 hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan hari penyempurna munajat Nabi Musa ‘alaihissalam di bukit Thur, yang sebelumnya telah berlangsung selama tiga puluh hari di bulan Dzulqa’dah, sehingga genap semuanya berjumlah empat puluh hari, sebagaimana Allah azza wa jalla isyaratkan dalam QS. al-A’raf ayat 142. Di sepuluh hari ini pula Allah azza wa jalla menguji bani Israil dengan penyembahan berhala, untuk mengetahui siapa diantara mereka yang taat kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan siapa yang membangkang.

 

Berkata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Musa ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya Rabbku telah menjanjikan kepadaku tiga puluh malam agar bermunajat kepada-Nya, dan aku tinggalkan bagi kalian Harun’. Ketika Musa ‘alaihissalam datang bermunajat kepada Rabbnya, maka Allah tambahkan sepuluh hari lagi, dan fitnah yang menimpa mereka mereka (bani Israil) terjadi di sepuluh hari ini…” (ad-Dur al-Mantsur, 6/539)

 

Masruq rahimahullah berkata mengenai kepastian sepuluh hari ini berada di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah saat menafsirkan firman Allah, “..dan demi malam yang sepuluh..” “Yakni sepuluh hari (pertama) bulan Idhul Adha, yang telah Allah azza wa jalla janjikan bagi Musa ‘alaihissalam dalam firman-Nya, “..dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi..” QS. al-A’raf : 142. (Lihat ad-Dur al-Mantsur, 15/400). Ibnu Abbas, Mujahid, Abul ‘Aliyah juga berpendapat demikian.

 

  • Amal Terbaik Dalam Setahun

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

 

Tidak ada hari-hari, dimana amal shalih yang dikerjakan di hari tersebut lebih dicintai oleh Allah dibandingkan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan jihad fisabilillah (yang dikerjakan di hari lain)?.” Beliau menjawab, “Termasuk juga jihad fisabillah, kecuali (jihadnya) seorang lelaki yang keluar dengan jiwa dan hartanya, dan tidak kembali darinya satu pun (alias syahid).” (HR. al-Bukhari, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)