pencil

Dengki, Penyakit Cancer Yang Melumpuhkan Hati, Mengapa Harus Dengki?

Dengki atau dalam bahasa Arab disebut al-Hasad ibarat penyakit kanker berbahaya yang dapat menggerogoti hati. Seorang Muslim yang hanif sadar bahwa penyakit dengki harus diatasi mengingat bahaya yang ditimbulkannya amat besar.

Kedengkian telah mengeluarkan Iblis dari Surga. Kedengkian pula yang menjadi motif pembunuhan manusia pertama yang dilakukan oleh Qabil terhadap saudaranya Habil. Dan hingga hari ini, kedengkian telah merusak persaudaraan sesama muslim, padahal sebelumnya mereka terikat dengan ikatan iman.

Banyak orang yang menolak kebenaran lantaran dengki pada kelompok tertentu. Banyak para ustadz yang saling dengki karena berebut anggota pengajian. Dan banyak para ikhwan yang saling dengki berani memutus persaudaraan karena perbedaan paham dalam beberapa masalah.

Memang betapa sulitnya untuk tidak dengki. Apalagi setiap orang memiliki harapan. Harapan untuk menjadi orang yang terkenal dan populer, menjadi ustadz yang disegani serta harapan-harapan lainnya. Maka wajar dan manusiawi jika kemudian ia merasa iri karena ketenaran yang ia harapkan, banyaknya pengikut dalam dakwah, justru didapat orang lain. Dan siapa pula yang bisa terbebas dari rasa dengki?

Membebaskan hati dari rasa dengki adalah perkara yang sangat berat. Tidak akan terbebas darinya kecuali mereka yang dijaga dan dirahmati Allah. Maka sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah: “Setiap jasad tidaklah bisa lepas dari yang namanya hasad. Namun orang yang berpenyakit (hati) akan menampakannya. Sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya.” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid. 10, Hal. 124-125).

Lalu adakah obat untuk mengobati penyakit yang bernama al-Hasad ini?

Saudaraku yang dirahmati Allah, tidaklah terjadi suatu masalah di kehidupan ini melainkan di sana telah disediakan solusi atau jalan keluarnya, tidak pula ada penyakit melainkan di sana terdapat obatnya. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan sebaik-baik asy-Syifa (obat) bagi orang-orang yang beriman, di dalamnya dimuat berbagai macam mau’idzah, ‘ibroh, tadzkirah dan taujihaat bagi orang yang mau mengambil pelajaran darinya. Allah Ta’ala berfirman:

[يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ [سورة يونس: 57

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Qs. Yunus: 57)

Yaitu Al-Qur’an dan untaian ayat di dalamnya yang mengandung jenis nasehat dan petunjuk untuk memperbaiki akhlak dan amalmu, di dalamnya terdapat obat penyembuh bagi penyakit di dalam dada dari penyakit kebodohan, syirik, dan segala jenis penyakit…(At-Tafsiir Al-Muyassar qs. Yunus , Hal. 215).

Ada beberapa upaya yang dapat menghilangkan rasa hasad dari hati:

Pertama: Menyadari bahwa hasad merupakan penyakit akut yang harus dihilangkan.

Ada dua hal yang harus dipahami agar seseorang terjauh dari penyakit hasad.

Pertama, meyakini bahwa segala sesuatu telah ditentukan berdasarkan qadha dan qadar-Nya. Segala sesuatu yang dikehendaki-Nya akan terjadi, dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi. Selain itu, menanamkan dalam hati bahwa rezeki yang telah ditetapkan Allah kepada para hamba-Nya, tidak akan berubah dan dikurangi karena ketamakan dan kedengkian seseorang.

Kedua, menyadari bahwa hasad akan mencemari mata air keimanan yang dimilikinya. Hasad merupakan bukti penentangan terhadap keadilan Allah. Hasad juga bukti pengkhianatan kepada saudara sesama muslim. Hasad akan menjadi siksa, kesedihan, kegalauan yang berkepanjangan. Hendaklah seseorang menanamkan pada dirinya bahwa hasad justru akan membawa berbagai dampak negatif bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, orang yang dihasadi justru memperoleh keuntungan berupa limpahan pahala akibat hasad yang dimilikinya.

Ibnu Sirin Rahimahullah mengatakan: “Aku tidak pernah dengki kepada orang lain dalam perkara dunia, karena apabila ia ditetapkan sebagai ahli jannah, bagaimana aku bisa mendengkinya dalam perkara dunia, sementara ia berjalan menuju jannah. Sebaliknya, jika ia ahli naar, bagaimana bisa aku dengki kepadanya dalam perkara dunia, sementara ia berjalan menuju naar.”
(Mukhtasar Minhajil Qashidin, Hal. 177)

Kedua: Meminta kepada Allah agar hasad itu dihilangkan dari hati.

Doa dapat menjadi senjata dalam melawan hasad yang ditanamkan oleh setan dalam hati. Salah satu doa yang diajarkan di dalam al-Qur’an adalah:

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ [الحشر: 10

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Ketiga: Ridha dengan takdir yang telah Allah tetapkan atas diri kita.

Setiap manusia yang lahir ke dunia telah Allah tetapkan rezekinya masing-masing. Allah memberi kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dengan keadilan-Nya pula Dia tidak memberikan rezeki tersebut kepada yang Dia kehendaki. Allah menetapkan dan membagi rezeki berdasarkan ilmu dan keadilan-Nya. Dia berbuat sekehendak-Nya tanpa pernah mendzalimi hamba-Nya.
Mari kita pupuk rasa qona’ah dan syukur dalam diri kita. Tak perlu resah dengan sesuatu yang memang bukan untuk kita. Apa yang diberikan Allah, itula yang terbaik untuk kita. Dan apa yang tidak diberikan-Nya, bisa jadi itu bukan hal yang kita butuhkan, bahkan bisa menimbulkan kemudharatan bagi kita. Kita memohon kepada Allah agar hati, lisan dan badan kita senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya.

Kita memohon pula agar Allah menjadikan hati kita ridha dengan takdir-Nya.

Keempat: Berbuat ma’ruf kepada orang yang kita dengki.

Berbuat baik atau ma’ruf kepada orang yang kita dengki memang perkara yang sulit, tetapi in sha Allah ini adalah salah satu obat mujarab untuk mengobati penyakit hasad dari hati kita.

Semakin kita merasa penyakit hasad bertambah parah, maka berusahalah untuk semakin bersikap baik kepadanya. Awalnya memang terasa sulit dan harus dipaksakan. Tapi meski pahit, ia menyembuhkan.

Tanamkan dalam hati akan kewajiban menginginkan kebahagiaan bagi saudara kita sebagaimana kebahagiaan itu kita rasakan, supaya turut merasakan nikmat yang Allah anugerahkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتّى يحبّ لأخيه ما يحبّ لنفسه. )متفق عليه)

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Anas bin Malik).
Ibnu Rajab al-Hanbali Rahimahullah berkata: ”Dan yang demikian itu termasuk tingkatan iman yang tertinggi, dan pelakunya adalah orang yang sempurna imannya, yang mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya.”

Kelima: Jadikanlah surga dan ridha Allah sebagai cita-cita tertinggi.

Salah satu penyebab timbulnya rasa hasad adalah karena kesempitan hati yang lebih memandang dunia. Karena itu, cara mengobatinya adalah berusaha zuhud dengan dunia dan membawa diri ke alam akhirat. Ambilah dunia hanya sebatas kebutuhan, serta hanya digunakan dalam rangka berbuat ketaatan. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ زَهۡرَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا لِنَفۡتِنَهُمۡ فِيهِۚ وَرِزۡقُ رَبِّكَ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰ [طه: 131]

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Thaha: 131)
Ketika seorang muslim telah menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya, maka buat apalagi ia hasad terhadap nikmat yang didapat orang lain. Karena pikiran, hati dan tubuhnya telah tersibukkan dengan upaya untuk mendapatkan ridha Allah, mendapatkan keselamatan di akhirat serta mendaptkan kenikmatan Surga. Sesungguhnya memelihara hasad hanya akan merugikan diri kita sendiri. Ia hanya akan menjadi penambah beban hati. Maka, buanglah ia jauh-jauh dari hati. Hidup dengan hati yang qona’ah dan selalu bersyukur dengan nikmat Allah inilah yang lebih indah dan menentramkan.

Setiap kita pasti sangat menginginkan Surga. Maka, jadikanlah usaha kita untuk membebaskan diri dari hasad sebagai satu usaha untuk menggapainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah riwayat menyebut-nyebut seorang sahabat sebagai penghuni surga. Ternyata, kedudukan mulia itu didapat karena kebersihan hatinya dari hasad terhadap nikmat orang lain.

Demikian artikel yang kami tulis. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menjauhkan kita dari sifat hasad dan menganugerahkan kepada kita rasa kasih sayang terhadap sesama muslim. Semoga tulisan pena yang sederhana ini bermanfaat bagi penulis khususnya, bagi saudara semua pada umumnya, dan menambah iman serta taqwa kita kepada Allah Ta’ala.
Wallahu a’lam bis shawab