pencil

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah (Bag. Kedua)

lanjutan ………

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Bag Pertama

  • Pahala Dilipatgandakan

Berkata Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah setelah menjelaskan hadits tentang keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah, “Dan (semua) ini menunjukan bahwa amalan mafdhul (yang nilai keutamaannya kurang) jika dikerjakan pada zaman yang istimewa, akan setara (nilai keutamaannya) dengan amalan fadhil (yang keutamaannya besar) yang dikerjakan di hari lain, bahkan amalan tadi lebih dilipatgandakan pahala serta ganjarannya.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 581)

 

  • Amalan Biasa Menjadi Luar Biasa

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Dan jika amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah amalan yang paling afdhal dan paling dicintai Allah, jika dibandingkan dengan amalan-amalan yang dikerjakan di hari-hari lain, maka amalan yang dikerjakan di hari-hari tersebut meskipun asalnya adalah mafdhul (nilai keutamaannya kurang) nilainya akan tetap lebih tinggi dibanding amalan fadhil yang dikerjakan di hari lain. Oleh karenanya para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan jihad fisabilillah (yang dikerjakan di hari lain)?.” Beliau menjawab, “Termasuk juga jihad fisabillah…(Lathaiful Ma’arif, hal. 579-580)

 

Sehingga menjadi jelaslah, bahwa amalan-amalan yang nilai keutamaannya biasa sekali pun, jika dikerjakan di sepuluh hari ini, amalan tersebut akan menjadi amalan yang luar biasa.

 

  • Terdapat Hari Arafah

Salah satu keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ialah, bahwa di dalamnya terdapat hari Arafah. Dimana hari Arafah merupakan hari dimana para jama’ah haji melakukan wukuf, yang merupakan inti dari manasik haji. Di hari ini pula orang-orang disunahkan untuk berpuasa yang dapat menebus dosa setahun lalu dan yang akan datang. Di hari ini pula Allah akan membanggakan hamba-hamba-Nya yang wukuf di padang Arafah kepada para malaikat.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي مَلَائِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي أَتَوْنِي شُعْثًا غُبْرًا

 

 

Sesungguhnya Allah azza wa jalla, merasa bangga di hadapan para malaikatnya, dengan orang-orang yang wukuf di padang Arafah, di sore harinya, Allah berfirman, ‘Lihatlah kepada para hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu’.” (HR. Ahmad dan ath-Thabrani dalam al-Kabir)

 

  • Allah Sempurnakan Agama-Nya di Hari ini

Di hari Arafah ini pula Allah azza wa jalla menyempurnakan agama-Nya. Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu berkata mengomentari kapan turunnya ayat ketiga dari QS. al-Maidah, “Sungguh demi Allah, aku benar-benar tahu di hari apa ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di waktu kapan. Ayat ini turun di waktu sore pada hari Arafah, bertepatan dengan hari Jum’at.” (Lihat ad-Dur al-Mantsur, 5/182-183)

 

  • Sebaik-baik Doa Ada di Hari ini

Sebaik-baik doa, ialah doa yang dipanjatkan di hari Arafah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

 

Sebaik-baik doa ialah doa pada hari Arafah.” (HR. at-Tirmidzi)

 

  • Banyak yang Dibebaskan dari Neraka

Pada hari Arafah ini, Allah azza wa jalla banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

 

Tidak ada hari dimana Allah lebih banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka dibandingkan hari Arafah.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan an-Nasa’i)

 

  • Hari Pelaksanaan Haji

Salah satu keistimewaan bulan Dzulhijjah yang tidak ada pada bulan selainnya ialah, bahwa pelaksanaan manasik haji yang merupakan rukun Islam yang kelima ada di dalamnya.

 

  • Bulan Berkumpulnya Delegasi Allah

Di bulan ini delegasi Allah dari pelbagai penjuru dunia, berkumpul di satu tempat yang sama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

وَفْدُ اللَّهِ ثَلَاثَةٌ الْغَازِي وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ

 

Delegasi Allah ada tiga kelompok; mujahid, jama’ah haji dan jama’ah umrah.” (HR. an-Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah)

 

  • Seluruh Ibadah Induk Terkumpul di Dalamnya

Ibnu Hajar al-Atsqalani rahimahullah berkata, “Adapun yang nampak, bahwa sebab keistimewaan sepuluh awal Dzulhijjah ialah karena ibadah-ibadah induk terkumpul di dalamnya, yakni shalat, puasa, sedekah dan haji, yang tidak mungkin terkumpul di hari-hari selainnya..” (Fathul Bari, 3/291)

 

  • Bulan Jihadnya Wanita

Tidak ada jihad mengangkat senjata bagi wanita, namun jihad mereka adalah dengan melaksanakan ibadah haji.

 

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Aku pernah bertanya, wahai Rasulullah, apakah kaum perempuan wajib jihad?. Beliau menjawab

نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

 

Iya, mereka memiliki kewajiban jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya; yakni haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah)

 

  • Berkumpul Dua Jenis Ibadah Terbaik

Dua jenis ibadah terbaik berkumpul di hari yang kesepuluh. Yakni shalat Iedul Adha dan menyembelih kurban. Ketika menafsirkan firman Allah azza wa jalla dalam QS. al-Kautsar ayat kedua, “…maka laksanakanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)...” Qatadah rahimahullah berkata, “Maksudnya ialah shalat Iedul Adha dan menyembelih kurban unta.”

 

Disebut jenis ibadah terbaik karena shalat merupakan jenis ibadah badan terbaik, dan berkurban merupakan jenis ibadah harta terbaik. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “…ibadah harta yang paling mulia adalah an-nahr (berkurban) dan ibadah badan yang paling mullia adalah shalat..” (Daqaiqu at-Tafsir, 6/314)