pencil

Masuk Surga Karena Rahmat Allah, Bukan Karena Amal

Terjemah matan hadits:

“Dari Aisyah Ummil Mukminin radhiyallahu’anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Tepatlah kalian, mendekatlah, dan bergembiralah, karena sesungguhnya amal tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” Para sahabat bertanya: Termasuk juga engkau wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Ya, termasuk aku juga, kecuali jika Allah menganugerahkan ampunan dan rahmat kepadaku.”

Takhrij Hadits

Hadits di atas dan yang senada dengannya diriwayatkan dalam kitab berikut:

  • Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-‘amal 6463, 6464, 6467.
  • Shahih Muslim kitab shifat al-qiyamah wal jannah wan-nar bab lan yadkhula ahadun al jannah bi ‘amalihi 7289, 7302.
  • Sunan Ibn Majah kitab az-zuhd bab at-tawaqqi’ ‘alal-‘amal 4201.
  • Musnad Ahmad bab hadits Abi Hurairah 8233, 9830, 10011, 14944, dan bab hadits Aisyah no. 24985, 26386.

Syarah Mufradat (Penjelasan Perkata)

(سدّدوا): asal kata sadad yang berarti ketepatan, sesuatu yang tepat

Maknanya menurut Ibn Hajar, ashshawab yang berarti benar. Artinya, beramallah dengan tepat, benar, mengikuti sunnah dan penuh keikhlasan.

(قاربوا): yang bermakna mendekatlah

Maknanya ada dua; pertama, jangan menjauhi amal seluruhnya ketika tidak mampu. Kedua, jangan berlebihan dalam beramal sehingga merasa kelelahan dan bosan.

Itu berarti ambillah pertengahan dalam beramal. Ketika malas tiba, bertahan dengan tidak meninggalkan amal seluruhnya, beramallah sedekat-dekatnya. Dan ketika semangat tiba beramallah dengan tidak berlebihan karena akan menyebabkan kelelahan dan kejenuhan.

 

(أن يتغمّدني الله): taghammada diambil dari kata ghimd yang berarti sarung pedang.

Taghammada berarti menyarungkan, atau dengan kata lain menutup. Jika dilekatkan dengan kata rahmat dan ampunan, berarti menganugerahkan sepenuhnya. (Ibn Hajar, Fathul Baari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-‘amal).

Syarah Ijmali (Penjelasan Hadits Secara Umum)

Hadits di atas secara zhahir menunjukan bahwasannya yang membuat seseorang masuk ke dalam surga semata-mata karena karunia dan rahmat Allah, bukan karena amalannya semata. Dengan kata lain amal tidak ada pengaruh dan efek yang berarti, melainkan ia hanya sebatas wasilah untuk menggapai keridhoan Allah Ta’ala.

Muncul diskusi di kalangan para ulama terkait hadits di atas, benarkah masuk surga itu bukan karena amal? Jika demikian apa gunanya kita beramal? Bagaimana pula kaitannya dengan firman-firman Allah berikut:

ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمُ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ [سورة النحل: 32]

(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun´alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (QS. An-Nahl: 32)

وَنُودُوٓاْ أَن تِلۡكُمُ ٱلۡجَنَّةُ أُورِثۡتُمُوهَا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ [سورة الأعراف: 43]

“Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Araf: 43)

وَتِلۡكَ ٱلۡجَنَّةُ ٱلَّتِيٓ أُورِثۡتُمُوهَا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ [سورة الزخرف: 72]

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

Ayat-ayat di atas menunjukan pada kita bahwasannya penduduk surga masuk ke surga disebabkan amalan-amalan shaleh mereka.

Satu hal yang perlu dicatat, semua ulama hadits tidak ada yang menyatakan bahwa hadits di atas bertentangan dengan ayat-ayat tersebut. Semua dari mereka menempuh metode “al-Jam’u” (menyatukan,mengkompromikan), karena memang hadits di atas jelas keshahihannya. Sebuah pertanda juga bahwa hadits yang shahih haram ditolak meskipun tampaknya bertentangan dengan al-Qur’an. Sedapat mungkin carikan komprominya, karena tidak mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menentang al-Qur’an. Dan itulah yang ditempuh oleh para ulama hadits sebagaimana akan diuraikan berikut ini.

Al-Imam Ibn Bathal, sebagaimana yang dikutip Ibn Hajar dalam Fath al-Baari, menjelaskan bahwa surga itu ada beberapa tingkatan. Ayat-ayat yang menjelaskan masuk surga karena sebab amal, itu maksudnya adalah menempati tingkatan-tingkatannya itu. Sementara masuk surganya sendiri, itu mutlak hanya berdasarkan rahmat Allah. Jadi, dengan rahmat Allah, seseorang ditentukan masuk surga dan tidaknya. Sesudah ada keputusan masuk surga, maka ketentuan masuk surga tingkatan mananya yang akan ia dapat itu ditentukan berdasarkan amal.

Selanjutnya, Ibnu Bathal menjelaskan, bisa juga maksud dari ayat-ayat di atas dan hadits di atas adalah saling menguatkan. Artinya, masuk surga itu tergantung rahmat Allah juga amal-amal kita. Demikian juga, penentuan tingkatan yang mananya di dalam surga itu tergantung rahmat Allah dan amal-amal kita.

Imam al-Karmani, Jamaluddin ibn as-Syaikh, dan Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa huruf ba’ pada ayat-ayat di atas bukan bermakna sebab (sababiyah), melainkan bersamaan (ilshaq, mushahabah). Jadi bukan berarti masuk surga itu dengan sebab amal, melainkan bersamaan adanya amal, karena sebab yang paling utamanya adalah rahmat Allah. Pendapat seperti ini bisa dipakai untuk membantah pendapat Jabariyyah (sekte sesat) yang menyatakan bahwa masuk surga itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan amal, melainkan mutlak hanya rahmat Allah saja. Juga membantah pendapat Qadariyah (sekte sesat kebalikan sekte Jabariyyah) yang menyatakan bahwa masuk surga itu murni karena amal saja, tidak ada kaitannya dengan rahmat Allah.

Imam Ibn Hajar memberikan penjelasan yang sedikit berbeda. Amal seseorang walau bagaimanapun tidak mungkin menyebabkannya masuk surga jika pada kenyataannya amal itu tidak diterima oleh Allah. Jadi, persoalan amal itu diterima atau tidaknya, ini jelas wewenang Allah, dan ini mutlak berdasarkan rahmat Allah Ta’ala.

Sementara itu, Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah ikut memberikan komentar dan jawaban akan permasalahan ta’arudh ini, dalam salah satu risalah (tulisan ringkas) yang ditahqiq oleh Syeikh Muhammad Rasyad Salim dalam Jami’ur-Rasa’il yang berjudul “Risalah fi dukhulil-jannah, hal yadkhulu ahadun al-jannata bi ‘amalihi am yanqudluhu qauluhu shallallahu ‘alaihi wa sallam la yadkhulu ahadun al-jannata bi ‘amalihi”, sebuah risalah tentang masuk surga, apakah seseorang masuk surga itu disebabkan amalnya, ataukah terbantahkan dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seseorang tidak masuk surga dengan sebab amalnya.

Hal pertama yang ditekankan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah adalah tidak mungkin hadits Nabi yang shahih bertentangan dengan al-Qur’an. Selanjutnya Ibn Taimiyyah juga menyatakan huruf ba’ yang ada di dalam ayat-ayat di atas memang menyatakan sebab. Hanya saja, menurut beliau ketika sesuatu dinyatakan sebagai sebab, bukan berarti sebab tersebut adalah satu-satunya sebab dengan yang meniadakan yang lainnya. Contoh sederhananya adalah air hujan yang dinyatakan sebagai sebab tumbuhnya tumbuh-tumbuhan di bumi (lihat QS. Al-Baqarah: 164). Tentu yang dimaksud bukan hanya air hujan saja yang dapat menyebabkan tumbuhnya tumbuhan itu, melainkan juga ada sebab lain seperti angin, tanah, sinar matahari, yang semua itu sangat tergantung pada rahmat Allah dan anugerah dari Allah Ta’ala.

Hadits yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, menurut Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah menjelaskan kepada kita untuk tidak memahami hubungan amal dan surga sebagai hubungan mu‘awadhah (timbal balik, balas jasa, atau ganti rugi). Hal tersebut ditimbang oleh beberapa sebab, diantaranya:

Pertama, Allah Ta’ala sama sekali tidak butuh terhadap amal kita, tidak seperti halnya seorang majikan yang butuh kepada para pekerjanya. Amal manusia untuk manusia sendiri, karena kalaupun semua manusia tidak beramal Allah Ta’ala tidak peduli, Dia tetap sebagai yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa.

Kedua, amal seorang manusia setinggi-tingginya tidak akan senilai dengan pahala yang diberikan Allah kepadanya, karena dalam pahala itu Allah sudah melipatgandakan dari mulai 10 kali lipat, 700 kali lipat, bahkan sampai kelipatan yang tidak dapat terhitung nilainya.

Ketiga, nikmat dan kesenangan yang telah diberikan Allah kepada manusia selama di dunia, walau bagaimanapun tidak akan mampu dibayar oleh manusia. Seandainya manusia diharuskan membayarnya dengan amal, pasti tidak akan mampu beramala untuk membayarnya. Padahal jelas, manusia bisa beramal itu dikarenakan nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya.

Keempat, manusia selalu diliputi oleh dosa dan kesalahan. Seandainya saja tidak ada ampunan Allah Ta’ala dan kebijaksanaan-Nya untuk hanya mempertimbangkan amal-amal yang baik saja, dengan mengenyampingkan amal jeleknya, tentu manusia tidak akan mungkin masuk ke dalam surga. Allah berfirman:

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّ‍َٔاتِهِمۡ فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِي كَانُواْ يُوعَدُونَ [سورة الأحقاف: 16]

“Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka” (QS. Al-Ahqaf: 16).

Inilah diantara maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ya, termasuk juga aku, kecuali jika Allah menganugerahkan ampunan dan rahmat kepadaku.”

Dari uraian panjang yang dipaparkan di atas bisa ditarik kesimpulan, bahwa amal tetap ia sebagai penyebab adanya balasan surga. Hanya saja berdasarkan pelajaran yang terkandung di dalam hadits ini seseorang tidak boleh ta’ajjub (berbangga diri) dengan amalannya sendiri, karena di sana ada peran rahmat Allah Ta’ala. Kalaulah bukan karena rahmat dan taufik-Nya kita tak mungkin mampu untuk beramal shaleh yang merupakan jembatan menuju surga-Nya yang diperuntukan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh.

Wallahu a’lam bis showwab.

 

Maraji’:

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Al-‘Asqolani, Ibn Hajar. 1996. Fathul Baari bi Syarhi Shahihil-Bukhari. Kairo: Daar Abi Hayan.
  3. Al-Harrani, Ibn Taimiyyah. 1984. Jami’u-Rasail. Jeddah: Daarul-Madani.