pencil

Tuntunan Ringkas Berkurban

            Berikut beberapa tuntunan dalam berkurban yang seyogyanya diperhatikan :

  • Hukum berkurban

Berkurban bagi kaum muslimin hukumnya sunnah mu’akkadah, sedang bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hukumnya wajib. (Lihat Mughni al-Muhtaj, 4/376)

al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Telah sampai kepada kami kabar, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar radhiallahu ‘anhuma tidak berkurban karena mereka berdua khawatir akan dijadikan panutan oleh manusia (jika keduanya senantiasa berkurban), sehingga orang-orang menganggap bahwa hal tersebut adalah wajib.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra)

  • Anjuran Bagi Yang Berkurban

Tidak diperbolehkan bagi mereka yang ingin berkurban untuk mengambil sesuatu dari rambut ataupun kukunya, sejak hilal pertama bulan Dzulhijjah hingga kurbannya disembelih.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam telah bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلَالُ ذِي الْحِجَّةِ فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ

Barangsiapa memiliki sembelihan yang akan ia kurbankan (di hari raya Iedul Adha), maka sejak hilal pertama bulan Dzulhijjah tidak boleh baginya untuk mengambil sesuatu dari rambutnya, tidak pula kukunya hingga (kurbannya) disembelih.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Dan dianjurkan baginya untuk menyembelih kurbannya sendiri jika ia mampu. Jika tidak mampu, maka dianjurkan baginya untuk menyaksikan langsung tata cara penyembelihan tersebut. (Lihat Mughni al-Muhtaj, 4/378)

  • Syarat Hewan Kurban

Hewan kurban hanya boleh dari jenis unta, sapi dan kambing, berdasarkan firman Allah QS. al-Hajj : 34. Dan belum pernah dinukilkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, bahwa mereka pernah berkurban dengan selainnya. (Lihat Mughni al-Muhtaj, 4/379)

Untuk unta harus berumur minimal 5 tahun dan masuk tahun keenam, untuk sapi dan kambing Jawa harus berumur minimal 2 tahun dan masuk tahun ketiga, untuk biri-biri harus berumur minimal 1 tahun dan masuk tahun kedua. Boleh jantan atau betina. Ini pendapat yang mu’tamad dalam madzhab asy-Syafi’i. (Lihat al-Minhaj hal. 537)

Diperbolehkan tujuh orang atau kurang dari itu, untuk berserikat dalam kurban unta ataupun sapi. Tidak boleh berkurban dengan hewan yang cacat fisiknya, berpenyakit, dan sangat kurus.

 

  • Waktu Penyembelihan

Waktu menyembelih ialah setelah khutbah Iedul Adha hingga matahari tenggelam di akhir hari tasyrik. (Lihat al-Minhaj, 537)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

وَمَنْ نَحَرَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسْكِ فِي شَيْءٍ

 

Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka sesungguhnya sembelihan tadi hanyalah daging biasa yang ia sediakan bagi keluarganya, dan tidak termasuk daripada kurban.” (HR. al-Bukhari)

 

  • Tata Cara Penyembelihan

Menggunakan alat potong yang tajam, semisal golok. Tidak menggunakan alat potong yang terbuat dari gigi ataupun kuku. Tidak menajamkan alat potong di depan hewan kurban. Membaringkan hewan diatas lambung kiri, dan menghadapkannya ke kiblat.

Disunahkan menginjakkan kaki di leher kurban, untuk memudahkan sembelihan. Wajib mengucapkan basmalah sebelum menyembelih. Sembelih dengan cepat dan kuat tanpa menyiksa, dengan  memotong kerongkongan dan al-wadjan, yakni dua urat nadi yang ada di sisi kiri dan kanan leher.

Adapun bacaan yang dianjurkan ketika menyembelih ialah, “Bismillah Allahu Akbar, Allahumma Taqabbal min -sebutkan nama shohibul kurban- wa Ali -sebutkan lagi namanya-”.

 

  • Pembagian Kurban

Daging kurban boleh dibagi menjadi tiga bagian; sepertiga untuk dikonsumsi sendiri, sepertiga disedekahkan bagi orang-orang miskin, dan sepertiga dihadiahkan bagi orang-orang mampu. Ini merupakan al-qaul al-jadid menurut riwayat yang lebih shahih dari al-Imam asy-Syafi’i.

Namun yang lebih utama ialah menyedekahkan semuanya, kecuali hanya beberapa suap saja untuk kita makan guna mendapatkan keberkahan dari daging kurban tersebut. (Lihat Mughni al-Muhtaj, 4/387-388. Kifayatu al-Akhyar hal. 636)