pencil

Hakikat Madzhab Dalam Ilmu Fiqh

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن سار على نهجه واقتفى أثره إلى يوم القيامة وبعد:

Madzhab merupakan sebuah kata yang sudah tidak asing lagi di tengah-tengah kaum muslimin, terutama sekali bagi mereka yang bergelut dan sibuk dalam bidang ilmu syariah. Bahkan jika diperhatikan, akhir-akhir ini kata “madzhab” menjadi tema perbincangan masyarakat kalangan awam yang sama sekali tidak memiliki kompetensi untuk berbicara tentang masalah tersebut.

Pada artikel ini, dengan memohon pertolongan serta taufik dari Allah, saya akan mengangkat tema tentang madzhab fikih. Dengan izin Allah tema tersebut akan saya jadikan dalam beberapa artikel yang bersambung, dengan harapan rangkaian artikel tersebut bisa menjadi ringkasan pengantar sebelum mendalami madzhab fikih atau yang sering diistilahkan dengan Al Madkhal ila Dirasatil Madzahib. Selain itu, tujuan saya mengangkat tema ini adalah untuk memberikan sedikit gambaran yang lebih sederhana bagi kaum muslimin terkait permasalah madzhab dan bermadzhab, hal ini disebabkan karna banyak dari kaum muslimin yang masih belum memahami dengan benar permasalahan ini. Pada bagian pertama dari silsilah artikel ini, saya akan membahas hakikat madzhab dalam ilmu fikih.

Untuk sampai pada kesimpulan dari hakikat madzhab dalam ilmu fikih, maka kita harus memahami terlebih dahulu arti kata madzhab secara bahasa dan istilah, baik istilah secara umum maupun secara khusus. Jika telah jelas bagi kita hal tersebut, maka dengan izin Allah akan tampak jelas juga hakikat madzhab yang sebenarnya dalam ilmu fikih.

Secara Bahasa Kata Madzhab (مذهب) berasal kata (ذَهَبَ) yang memiliki beberapa makna diantaranya: pergi/menuju ke suatu tempat atau memandang/berpendapat pada suatu masalah.

Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar -salah seorang pakar dalam bidang fikih perbandingan- menjelaskan bahwa madzhab dalam bahasa arab berarti jalan yang dilalui atau dilewati dan juga kata madzhab bisa dimutlaqkan untuk sesuatu yang dituju oleh seseorang, baik hal tersebut bersifat hissi (fisik) maupun maknawi.
Kemudian beliau menukil perkataan Asy-Syaikh Ahmad Ash-Shawi yang mengatakan bahwa:

“Madzhab pada hakikatnya adalah tempat pergi (محل الذهاب), seperti jalan yang bersifat hissi (fisik).” (al-Madkhal ila Dirasati al-Madzahib wa al-Madaris al-Fiqhiyyah, hal. 48)

Berdasarkan keterangan di atas, maka kata madzhab secara bahasa memiliki 2 makna, yaitu:

  1. Jalan yang dapat dilewati atau dilewati.
  2. Tempat yang dituju oleh seseorang, baik bersifat hissi (fisik) maupun maknawi.

Sedangkan secara istilah, telah banyak perkataan para ulama yang menjelaskan definisi dari madzhab. Berikut saya nukilkan perkataan Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar ketika menjelaskan definisi madzab secara istilah. Beliau berkata:

“Madzhab dalam istilah setiap kaum adalah jalan/metode yang digariskan oleh seseorang atau sekelompok orang baik dalam bidang i’tiqad (keyakinan), suluk, hukum-hukum atau selainnya.” (al-Madkhal ila Dirasati al-Madzahib wa al-Madaris al-Fiqhiyyah, hal. 49)

Dari perkataan beliau di atas, jelas bagi kita bahwa pada hakikatnya kata madzhab memiliki makna yang jauh lebih luas dari apa yang dipahami oleh banyak orang saat ini, yang mana ketika mereka mendengar kata madzhab yang terbayang adalah permasalahan-permasalahan fikih, perbedaan ulama dalam masalah-masalah furu’ (cabang) dan sejenisnya. Padahal, sesungguhnya kata madzhab itu sendiri mengandung makna yang jauh lebih luas dari sekedar permasalahan fikih.

Namun tidak bisa dipungkiri, saat ini memang kata madzhab lebih sering digunakan -baik dalam tulisan maupun ceramah-ceramah- pada permasalahan yang berkaitan dengan fikih atau masail furuiyyah, sehingga terbangunnya pemahaman sebagian orang terhadap kata madzhab lebih sempit dari hakikat sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Dan pada tulisan ini, pembahasan tentang madzhab memang akan difokuskan pada hakikat madzhab menurut fuqaha atau ahli fikih.

Adapun secara istilah dalam ilmu fikih, jika kita melihat pernyataan dari para fuqaha maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kata madzhab juga memiliki 2 definisi sebagaimana halnya definisi madzhab secara bahasa.
Adapun definisi pertama, madzhab adalah metode yang dibangun dan ditempuh oleh seorang faqih/ mujtahid dalam mengambil kesimpulan hukum dari nash-nash syariat.

Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar berkata:
“Madzhab menurut ulama fikih adalah metode yang ditempuh oleh seorang faqih mujtahid -yang mana metode tersebut berbeda dari metode yang ditempuh fuqaha lainnya- dalam mengambil kesimpulan hukum pada ilmu furu’.” (al-Madkhal ila dirasati al-Madzahib wa al-Madaris al-Fiqhiyyah, hal. 50)

Sedangkan definisi kedua, madzhab adalah istilah untuk pendapat yang dipilih oleh seorang mujtahid dari hukum-hukum syariat yang bersifat ijtihadi.

Asy-Syaikh Ahmad Ash-Shawi berkata -sebagaiman dinukil oleh Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar-:

“Madzhab Malik adalah pendapat beliau dari hukum-hukum ijtihadiyyah.” (al-Madkhal ila dirasati al-Madzahib wa al-Madaris al-Fiqhiyyah, hal. 50)

Dan definisi yang disebutkan oleh syaikh Ahmad As-Shawi adalah definisi madzhab sebagai sebuah istilah dalam kajian fikih, sehingga tidak terbatas pada madzhab Imam Malik saja.

Dari penjelasan di atas, tampak jelas bahwa kata madzhab dalam istilah fuqaha merujuk pada 2 hal yaitu “metode” dan “pendapat”. Oleh karna itu Al-Imam Al-Qarafi ketika mendefiniskan madzhab Imam Malik beliau menyebutkan 2 poin tersebut secara tersirat, beliau berkata:

“Madzhab Malik adalah apa-apa yang menjadi kekhususan beliau dari hukum-hukum syariat yang bersifat far’iyyah ijtihadiyah serta apa saja yang menjadi kekhususan beliau dari sebab-sebab hukum, syarat-syaratnya, penghalangnya dan hujjah yang menetapkannya.” (al-Madkhal ila dirasati al-Madzahib wa al-Madaris al-Fiqhiyyah, hal. 50)

Meskipun demikian, saat ini penggunaan kata madzhab sebagai istilah dalam ilmu fikih lebih sering digunakan untuk makna yang kedua dari 2 definisi yang telah disebutkan, yaitu pendapat seorang mujtahid dalam hukum syariat yang bersifat ijtihadi. Oleh karna itu, ketika kita membaca atau mendengar kata madzhab disebutkan besar kemungkinan yang dimaksud adalah pendapat dari pendiri atau ulama madzhab bukan metode mereka. Dan hal ini bukanlah sebuah kekeliruan; karena memang itu salah satu dari madlul kata madzhab.

Disini terdapat catatan penting yang harus dipahami oleh setiap orang berkaitan dengan istilah madzhab, yaitu sebuah pendapat atau metode tidak bisa dikatakan sebagai madzhab kecuali jika pendapat atau metode tersebut shalih (layak/bisa) menjadi kekhususan orang tertentu yang tidak dimiliki selainnya. Adapun jika pendapat atau metode tersebut bukan kekhususan orang tertentu, bahkan mungkin dimiliki oleh semua orang maka itu tidak bisa disebut sebagai madzhab. Oleh karna itu, masalah-masalah fikih yang di dalamnya telah ada ijma’ diantara ulama terhadap hukumnya tidak bisa dianggap sebagai madzhab ulama tertentu.

Dr. Umar sulaiman Al-Asyqar berkata:
“Seorang peneliti hendaknya juga memperhatikan bahwasanya masalah-masalah furu’ tidak seluruhnya bisa dimasukkan ke dalam bingkai yang dinamakan madzhab fiqhi. Hukum-hukum yang tidak ada ruang untuk perselisihan di dalamnya karna dalilnya yang qath’i dalalah dan qath’i tsubut seperti wajibnya shalat 5 waktu, wajibnya puasa Ramadhan, wajibnya zakat, raka’at shalat dzuhur dan magrib dan yang semisalnya, tidak benar jika dinisbatkan kepada madzhab orang tertentu, maka tidak bisa dikatakan: madzhab Abu Hanifah shalat dzuhur wajib, madzhab Malik puasa Ramadhan wajib, madzhab Asy-Syafii khamar haram…” (al-Madkhal ila dirasati al-Madzahib wa al-Madaris al-Fiqhiyyah, hal. 51)

Berdasarkan pemaparan yang telah lalu, dapat diambil beberapa kesimpulan penting, diantaranya:

  1. Pada hakikatnya kata madzhab sebagai sebuah istilah memiliki makna yang lebih luas dari sekedar metode atau pendapat dalam masalah fikih; karna ia mencakup masalah akidah, suluk, fikih dan lainnya.
  2. Dalam istilah ilmu fikih, kata madzhab merujuk pada dua makna mendasar yaitu: “pendapat” dan “metode”. Sehingga sebuah kekeliruan jika kata madzhab hanya diartikan sebatas “pendapat” saja.
  3. Lebih seringnya kata madzhab digunakan untuk makna “pendapat” memang bukan sebuah kekeliruan; karna itu adalah salah satu dari maknanya. Namun membatasinya pada makna “pendapat” adalah sebuah kekeliruan.
  4. Permasalahan fikih yang hukumnya sudah disepakati oleh para ulama tidak bisa diklaim sebagai madzhab ulama tertentu.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik dan hidayahnya serta menerima segala bentuk amal kebaikan yang kita lakukan.

وصل الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

InsyaAllah pada bagian 2 dari silsilah ini saya akan membahas hakikat dari At-Tamadzhub (bermadzhab).