pencil

TGH Ahmad Husni Khalil, Pengibar Cahaya Sunnah di Pulau Seribu Masjid

 Kebenaran akan terus ditegakkan oleh pejuang-pejuang Islam meskipun tidak sedikit diantara mereka yang terus berusaha meredupkan cahaya Allah Ta’ala atau berusaha mencemari murninya Islam dengan berbagai amalan kebid’ahan. Hal ini akan terus berlaku hingga datang hari kiamat di seluruh seantero alam. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق حتى تقوم الساعة

“Akan terus ada sekelompok umatku yang akan menampakkan kebenaran hingga datangnya hari kiamat.”

Termasuk di Indonesia, pemurnian Islam dari berbagai warna-warni ajaran asing terus digalakkan oleh ulama-ulama Islam sepanjang zaman. Sebagaimana diketahui bersama bahwa Islam masuk ke Indoneisa sudah sejak lama, bahkan sejarawan muslim Indonesia menetapkan sejak abad pertama hijriah. Namun sayangnya praktik keagamaan lama di Indonesia masih belum bisa dihapuskan dari amalan mereka yang sudah memeluk Islam. Sehingga generasi berikutnya sampai tidak mampu membedakan mana praktik Islam yang betul-betul murni dan mana amalan-amalan ajaran asing yang melumurinya. Kenyataan semacam ini terjadi di seluruh penjuru Indonesia.

Termasuk dalam konteks pembicaraan ini ialah Lombok, Pulau Seribu Masjid. Di sana tidak sedikit dijumpai amalan-amalan yang diatasnamakan Islam namun sejatinya jauh dari ajaran Islam yang murni. Tarekat-tarekat kesufiyan subur di mana-mana. Pengkultusan tempat, makam, dan sosok tuan guru tidak lagi dapat dipungkiri banyaknya. Sehingga sangat diperlukan usaha pemurnian Islam dari ajaran-ajaran bid’ah tersebut.

Untuk itulah, Allah Ta’ala telah memunculkan salah satu hamba-Nya yang memang ditakdirkan melakukan usaha mulia tersebut. Perjuangan yang beliau lakukan dalam menjelaskan kebenaran kepada masyarakat sangat manis buahnya. Sehingga kini kajian-kajian Sunnah digalakkan dimana-mana dan kebenaran mulai menyinari bumi Lombok dan sekitarnya. Namun sayang, mayoritas kaum muslimin di luar Lombok tidak mengetahui prestasi gemilang ini. Padahal ini merupakan sejarah yang wajib diabadikan sebagai pelajaran berharga. Siapakah sosok tersebut? Beliau adalah Tuan Guru Syaikh Husni –rahimahullah– yang terus dikenang oleh kaum muslimin di Lombok. Sebagai pengenalan singkat berikut sajiannya.

Nama beliau Ahmad Husni Khalil. Bapaknya bernama ‘Abdul Mannan, kakeknya bernama Jamaluddin. Konon katanya Jamaluddin adalah seorang pahlawan dan tokoh yang ikut menjadi panglima perang melawan penjajah Jepang dan Belanda. Dari sanalah dia menjadi tokoh masyarakat. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh anaknya, yaitu ‘Abdul Mannan. Dia kemudian menjadi tokoh masyarakat di sana. Dan alhamdulillah Tuan Guru Syaikh Ahmad Husni Khalil tidak sulit untuk menjadi tokoh masyarakat karena secara otomatis mendapat efek positif dari ayahnya tersebut.

Mengenai tanggal lahirnya, tidak ada data pasti mengenai hal tersebut. Namun di saat beliau meninggal, yaitu sekitar  akhir tahun 2003, usia beliau sudah 63 tahun.

Tuan Guru Husni mulai mengenyam pendidikan dari SR di Lombok yang setara dengan SD sekarang. Belum lagi merampungkan pendidikannya di SR itu beliau memutuskan untuk melawat ke Makkah dalam rangka menuntut ilmu atas perintah ayahnya, Tuan Guru ‘Abdul Mannan. Di Tanah Suci tersebut beliau melanjutkan pendidikannya yang telah beliau mulai di tanah kelahirannya. Sampai kemudian beliau berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan setara SMP dan SMA.

Setamatnya dari SMA, rasa dahaganya terhadap ilmu tak juga terpenuhi. Untuk itulah ia kemudian memutuskan mengembara di negeri Kinanah, Mesir, untuk menyambung belajarnya. Tepatnya ialah Universitas Al-Azhar dengan mengambil konsentrasi Bahasa Arab. Oleh sebab ketekunannya belajar setelah pertolongan dari Allah Ta’ala, TG Husni berhasil merampungkan studinya tersebut dengan hasil yang memuaskan.

Selesai studi di Al-Azhar, TG Husni kembali ke Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Tersebab konsentrasi belajar yang beliau ambil kala itu jarang ada orang yang mengambilnya, ia pun ditawari mengajar di salah satu madrasah di Makkah, yaitu Madrasah Al-Falah. Madrasah ini tentunya memiliki citra yang sangat baik di tengah masyarakat Makkah, bahkan hingga manca negara. Tak heran jika sebagian muridnya datang dari negeri-negeri Melayu, termasuk Indonesia. Tidak ada data pasti berapa tahun TG Husni mengajar di madrasah bergengsi tersebut. Namun yang jelas di tahun 89 beliau memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya dan mulai menancapkan bendera tauhid di Bumi Seribu Masjid tersebut.

Sebagaimana disampaikan di muka bahwa TGH Husni ialah anak daripada tokoh masyarakat. Tidak sulit bagi beliau untuk kemudian menarik jamaah. Karena menurut cerita TGH ‘Abdul Mannan dahulu di masa hidupnya pernah berwasiat kepada jam’aahnya, walaupun sebetulnya beliau berlatar belakang ulama tradisional yang berpengikut banyak, bahwasanya yang akan meneruskannya kelak menjadi tuan guru ialah TGH Husni. Dialah yang akan melanjutkan perjuangan TGH ‘Abdul Mannan. Sehingga begitu dia pulang ke tanah kelahirannya, secara otomatis seluruh jama’ah TGH ‘Abdul Mannan belajar ke TGH Husni yang kala itu masih diselenggarakan di rumah. Terutama ketua-ketua pengajian dari tiap-tiap kampung dikumpulkan oleh TGH Husni di rumah untuk pengajian khusus yang tinggi muatannya, tidak seperti umumnya jama’ah pengajian biasa.

Karena latar belakang jama’ah kajiannya adalah tradisional, maka dakwah yang paling digalakkan oleh TGH Husni ialah dakwah tauhid dan sunnah. Dari sanalah mulai terjadi gesekan. Apalagi saudaranya yang bernama TGH Lutfi juga merasa ada perbedaan antara apa yang pernah diajarkan oleh TGH ‘Abdul Mannan dengan apa yang diajarkan sekarang oleh TGH Husni. Sehingga adiknya tadi, TGH Lutfi lebih memilih ajaran yang pernah diajarkan oleh TGH ‘Abdul Mannan, yaitu ajaran tradisional (Asy’ariyyah). Lantaran hal tersebutlah terjadi gesekan dan mulai terjadi pemisahan. Sebagian jama’ah belajar ke TGH Lutfi sedangkan jama’aah lainnya belajar kepada TGH Husni mengingat apa yang diajarkan oleh beliau hanya قال الله و قال الرسول صلى الله عليه وسلم, yaitu firman Allah dan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga jama’ah lebih yakin ke sana. Adapun jama’ah yang mengikuti TGH Lutfi ini hanya karena peninggalan guru saja. Inilah ajaran peninggalan guru kita. Tapi secara keyakinan yang lebih diyakini yaitu yang diajarkan oleh TGH Husni karena beliau selalu melandaskannya kepada Al-Quran dan kepada hadits. Sehingga mereka lebih yakin. Intinya mereka yang lebih berpendidikan, yang lebih mau menggunakan akalnya, akan mengikuti TGH Husni. Adapun orang yang lebih kepada kefanatikan, dia akan mengikuti TGH Lutfi.

Terjadinya perpecahan ini tidak menyurutkan semangat TGH Husni untuk berdakwah. Justeru sebaliknya, malah tambah semangat berdakwah. Bahkan beliau mulai menampakkan dakwahnya secara terang-terangan. Kajiannya tidak hanya diselenggarakan di rumah saja, akan tetapi beliau malah lebih sering keluar, ke berbagai masjid. Sehingga masyarakat umum semakin mengetahui perbedaan antara dakwah tauhid ini dengan dakwahnya kaum tradisional. Semakin jelas perbedaannya.

Semakin lama TGH Husni berdakwah tentu semakin banyak yang mengikutinya. Semakin hari semakin bertambah. Melihat hal tersebut, terlebih di tahun 1995, yaitu sejak 6 tahun beliau mulai berdakwah, diadakanlah tabligh akbar di lapangan sepakbola kecamatan. Dalam tabligh akbar tersebut ternyata dipadati oleh para jama’ah yang kira-kira berjumlah 50.000 jiwa. Menunjukkan dakwah ini sudah mulai terdengar dan sudah mulai bisa diterima oleh masyarakat Lombok Timur. Ini tentunya menjadikan orang yang tidak suka dengan dakwah ini semakin kebakaran jenggot, semakin marah terhadap dakwah tauhid ini.

Usaha orang-orang yang tidak senang dengan dakwah yang dibawa TGH Husni pun mulai dilancarkan. Mereka mulai menampakkan sikap-sikap kasar. Misalnya disaat kajian TGH Husni di masjid umum, tiba-tiba ada yang melempari masjid dengan bebatuan, teriak-teriak minta agar kajian dihentikan. Karena hal tersebut dilakukan di belakang tembok, maka tidak diketahui siapa pelakunya. Yang jelas ada batu yang jatuh dan ada suara yang terdengar. Jadi sudah mulai main kekerasan. Kemudian mereka juga sudah mulai mengadu kepada pemerintah, bahwasanya ajaran yang dibawa oleh TGH Husni adalah ajaran sesat, ajaran yang tidak benar, dan ajaran yang meresahkan masyarakat. Di antara ajaran yang mereka tolak kala itu, misalnya, ajaran berjilbab bagi wanita muslimah. Mereka menganggap jilbab itu terlalu keras, belum saatnya diterapkan di Indonesia, belum saatnya diterapkan di Lombok. Tiba-tiba sekarang diwajibkan wanita muslimah berjilbab. Termasuk juga diantara yang mereka cela ialah syariat shalat berjama’ah. Menurut mereka shalat berjama’ah hanya akan memberatkan orang. Tentunya juga, yang mereka tolak, ialah masalah-masalah ‘aqidah, seperti meminta kepada ahli kubur. Mereka mengatakan TGH Husni membatalkan keyakinan orang-orang terdahulu dan sebagainya. Tapi tentunya semua itu dapat dijawab oleh TGH Husni di hadapan pemerintah dengan jawaban yang ilmiah berdasarkan Al-Quran dan Hadits. Sehingga karena pemerintah berpendidikan, mereka memiliki iman, pemerintah pun tidak bisa menghentikan dakwah yang dikibarkan oleh TGH Husni.

Bahkan sempat TGH Husni diancam akan dibunuh kalau tidak mau meninggalkan dakwah tauhid ini. Bahkan ceritanya si pembunuh sudah masuk ke dalam rumah.  Namun qaddarullah kamar TGH Husni tidak bisa dimasuki oleh si pembunuh ini. Tapi karena sudah terlanjur masuk rumah, akhirnya dia mengambil beberapa barang yang ada di dalam rumah itu. Barang yang berhasil dia ambil saat itu ialah TV, video player dan tape. Laporan yang diterima, awalnya dia berniat ingin membunuh. Karena dia tidak bisa memasuki kamar TGH Husni, hanya bisa memasuki kamar tengah, daripada keluar dengan tangan kosong, maka itulah yang dia bawa. Kenapa kita tahu dia akan membunuh? Karena ada yang mendengar pembicaraannya dengan orang yang menyuruhnya. Orang yang mendengar tersebut akhirnya melapor kepada TGH Husni.  Dia memastikan ada tidak begini dan begini. Ditanya demikian, tentu TGH Husni pun membenarkan. Namun demikian, beliau tidak mau mengangkat kasus tersebut dan jangan sampai hal tersebut membuat takut dalam berdakwah. “Kita tutup kasus ini dan tetap berdakwah”, pesan TGH Husni kepada orang tadi.

Semakin lama berdakwah, semakin banyak jama’ah yang menyambut dakwah tauhid yang disuarakan TGH Husni, sehingga terdengarlah aktifitas dakwah TGH Husni oleh Ustadz Zawawi yang ada di Jakarta sebagai cabang dari Ihya’ Turats Kuwait, beliaupun menawarkan untuk membangunkan masjid. Karena dahulu kajian digelar di lapangan. Memang ada Pesantren Jamaluddin –namanya-, diambil dari nama kakeknya yang disinggung di muka, yang pernah dipakai untuk mengaji. Akan tetapi karena  mushallanya yang berukuran 12×12 tidak muat menampung jama’ah kajian sehingga kajian pun dipindahkan ke lapangan. Karena itu Ustadz Zawawi menawarkan memabangunkan masjid. Dengan senang hati TGH Husni menerima masjid tersebut.

Pesantren Jamaluddin yang disinggung tadi sejarahnya didirikan di atas tanah wakaf TGH ‘Abdul Mannan, maka TGH Husni khawatir kalau membangun masjid di sana jangan-jangan kelak TGH Lutfi ikut campur dalam dakwah tauhid ini sehingga dakwah pun tidak lagi murni. Oleh karena itu TGH Husni mencari jalan keluar bagaimana cara agar masjid baru ini dibangun di tanah sendiri. Dari sana sang istri, Hajah Fatmah Bafin Zen, menawarkan tanahnya seluas 50 HA untuk dibangun masjid di atasnya. Namun sayangnya tanah ini agak di tengah, tidak di pinggir jalan. Karena itu TGH Husni berinisiatif mengajak para jama’ahnya untuk membebaskan tanah yang ada di depan tanah sang istri. Jam’ah pun siap membeli tanah tersebut namun qaddarullah tidak terkumpul seluruh uang sejumlah harga tanah. Namun alhamdulillah ada saudagar atau orang kaya di Mataram bernama ‘Abdurrahman Hizam yang memperkenalkan TGH Husni kepada Khalid Bawazir Surabaya. Kemudian melalui ‘Abdurrahman Hizam inilah Khalid Bawazir membantu membebaskan tanah seluas 1 hektar lebih yang ada di depan tanah istri TGH Husni. Sebebasnya tanah itu, dibangunlah masjid di atas tanah tersebut yang disumbangkan oleh seseorang bernama Sulaman Fauzan Al-Fauzan dari Kuwait melalui Jam’iyyah Ihya’ At-Turats Al-Kuwaitiyyah pada tahun 2000. Selain itu, dibangunkan pula perpustakaan, bangunan dua lokal, dan rumah imam. Tidak lama dari itu dibangun pula 5 asrama untuk santri-santri yatim-piatu, 5 kelas, dapur, serta tempat makan. Semua itu berhasil dibangun lengkap pada tahun 2001 di atas tanah seluas 1 hektar.

Karena masjid sudah selesai dibangun, pengajian dakwah TGH Husni pun mulai berpindah di masjid baru itu, tepatnya pada tahun 2001. Mulai dari kajian, shalat jum’ah, dan lain sebagainya. Kecuali kepondokan yang ada di Pesantren Jamaluddin belum dipindahkan ke markaz yang baru. Mereka tetap di tempat yang lama, namun pelaksanaan shalat jum’at, kajian, dan sebagainya tetap di markaz yang baru.

Sekitar 1,5 tahun TGH Husni berdakwah di markaz yang baru ini, beliau berhaji menjadi pembimbing jam’aah haji. Karena memang setiap tahun beliau selalu membimbing jama’ah haji. Akan tetapi di tahun 2003 ini adalah kali terakhir beliau membimbing jama’ah haji. Dan di saat beliau hendak menuju Masjidil Haram, sekitar tanggal malam ketujuh Dzulhijjah, beliau terkena serangan jantung. Disaat beliau merasa mendapat serangan jantung sehingga akan jatuh, tiba-tiba ada anak kecil yang membawa kursi roda sehingga bisa langsung disewa kursi tersebut. Namun tatkala beliu duduk di atasnya, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Semoga Allah merahmatinya. Akhirnya beliau dimakamkan di pekuburan Makkah.

 

Sifat dan Akhlak TGH Husni

Sifat yang paling menonjol yang terlihat dari TGH ‘Abdullah Husni ialah sifat sabar yang luar biasa. Karena memang bapaknya, yaitu ‘Abdul Mannan, adalah salah seorang praktisi poligami hingga mencapai tingkat sempurna, yaitu beristrikan empat. Tidak lama setelah TG Husni lahir, ia bersama kakaknya bernama Lutfi sudah ditinggal wafat oleh ibu kandungnya jadilah sebagai anak piatu yang hidup di tengah ibu-ibu tirinya. Dan perjuangannya disaat masih kecil sangat luar biasa, semasa duduk di bangku SR. Dialah yang bertindak sebagai menggembala kambing dan macam-macam pekerjaan lainnya. Dan sudah lumrah diketahui bahwa ibu tiri biasanya tidak sesayang ibu kandung kepada anaknya. Bahkan beliau sendiri pernah bercerita bahwa terkadang ibu tirinya tersebut menyakitinya dan bertindak yang tidak enak kepada anak piatu tersebut. Namun demikian Husni kecil tetap sabar. Sehingga sampai beliau tua pun sifat sabarnya tersebut nampak sekali bahkan menjadi ciri khas pada diri beliau.

Di antara sifat mulia yang ada pada diri TGH Husni lainnya ialah memperbanyak membaca hamdalah. Beliau selalu membaca Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, dan seterusnya demikian. Bahkan para tamu mengetahui akan hal tersebut. Karena sampai pun ada tamu, kalau memang pembicaraan telah usai, atau di sela-sela pembicaraan, beliau akan berzikir alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah…

Sifat TG Husni lain yang sangat berkesan lainnya ialah cara beliau dalam menjawab soal. Sehingga kalau ada soal dari para jama’ah, beliau akan menjawab langsung pada inti masalah dan menjadikan si penanya ini tidak akan bertanya kepada ulama lain. Artinya jawaban yang beliau berikan kepada jama’ah-jama’ah yang bertanya selalu memuaskan. Dan para jama’ah yang mendengarkan jawaban tersebut tidak ada pilihan lain selain melaksanakan jawaban itu. Entah namanya apa ini. Malahan kalau ada orang yang bertanya dengan maksud menguji kredibilitas keilmuaan atau membanding-bandingkan dengan ulama lain, TG Husni dapat menjawab pertanyaan penanya itu dengan suatu jawaban yang membuatnya tidak bisa berkutik dan tidak aka nada lagi pertanyaan yang muncul berikutnya.

 

Kesaksian Tokoh Ulama

Dr. Agus Hasan Basori ketika penulis Tanya tentang sosok TGH Husni, beliau menjawab, “Saya pernah bertamu kepada beliau beberapa waktu sebelum wafat. Beliau masya Allah, tawadhu’. Saya yang masih muda saja dipuji-puji di hadapan tamu yang lain, sampai aku malu.

Tentang akhlak dan kepribadian beliau yang mulia diakui oleh siapapun. Apa yang saya lihat pada beliau, juga disaksikan oleh saudara saya, Dr. Nurul Mukhlisin. Beliau bercerita kepada saya, “Sekitar tahun 95-99 ana sering ke rumah beliau di Bagek Nyake Lombok Timur. Bahkan beberapa kali menginap di sana. Beliau sangat rajin muthala’ah dan senang sekali bila diberi kitab baru berbahasa Arab. Pengetahuan agamanya sangat luas. Bahasa Arabnya fasih namun tawadhu’. Di antara pesan dakwah beliau, “Dakwah itu ibarat benih. Tabur saja  jangan takut kepada siapapun. Benih itu ada yang tumbuh (menerima dakwah), ada yang mati (menolaknya). Wallahua’lam.”

 

Sumber:

Wawancara dengan TGH ‘Abdullah حفظه الله تعالى و جزاه عني كل خير Husni via WA bertanggal 2 November 2017

Wawancara dengan Dr. Agus Hasan Basori, MA حفظه الله تعالى و جزاه عني كل خير via WA bertanggal 26 Oktober 2017-2 Januari 2018