pencil

Berislam secara ”Kaaffah”

Para pembaca yang dirahmsti Allah, terkadang seseorang itu mudah menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak mengusik urusan pribadinya, namun ia tidak segan untuk menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu mengusik urusan pribadinya. Dan memang demikianlah hal yang sering terjadi pada kebanyakan dari kaum muslimin,padahal islam sendiri berarti tunduk dan patuh ,sebagaimana dijelaskan oleh syeikh Abdul Aziz bin baz –rohimahullah– :

الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، إذلالا وخضوعا

“berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, dan taat serta patuh kepada-Nya, dengan penuh ketundukan dan perendahan diri”

kita ambil sebuah contoh :

Seorang yang bekerja pada Bank Konvensional (Ribawi) mungkin akan setuju dan tunduk menerima sebuah hukum dalam islam akan haramnya khamr (minuman keras), akan tetapi belum tentu ia juga akan setuju ketika menerima sebuah fakta akan haramnya Riba dalam islam, mengapa yang demikian itu bisa terjadi ? karena keharaman minuman keras tidak mengusik urusan pribadinya sementara keharaman Riba telah mengusik urusan pribadinya.

Padahal, Allah –subhanahu wa ta’ala– berfirman di dalam Alqur’an :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”(QS. Al Baqarah: 208)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ta’ala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir 1/335).

Sementara pada ayat yang lain, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- juga menyebutkan tentang kebiasaan kaum Yahudi (Ahlul Kitab). Yaitu ketika Allah turunkan kepada mereka Kitab-Nya, Allah mengutus kepada mereka Rasul-Nya, mereka tidak mau mengimani,menjalankan, dan mengamalkan syari’at yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan secara kaffah. Ini adalah akhlak Yahudi. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan tentang mereka:

 

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللهبغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (85) [البقرة/85]

“ Apakah kalian ini mau beriman kepada sebagian Al Kitab(Taurot) sementara kalian tidak mau beriman, tidak mau mengamalkan dengan syari’at yang lainnya,tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat seperti ini diantara kalian,kecuali kehinaan di dunia. Dan pada Hari Kiamat nanti mereka akan dikembalikan ke sekeras-keras adzab. Tidaklah Allah sekali-kali lalai dari apa yang kalian lakukan. ” (Al-Baqarah : 85).

 

Alllah –subhanahu wa ta’ala– juga berfirman :

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا (36) }

 

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Al-ahzab :36)

 

 maka cukuplah ke-3 ayat diatas menjadikan kita yakin akan pentingnya berislam secara kaaffah , menerima semua hukum yang telah Allah tetapkan, tanpa memilah dan memilih mana yang enak menurut kita dan mana yang tidak enak menurut kita.

 Wallahu a’lam bisshowab.