pencil

Perhatikan Langkahmu, Kesesatan Terus Mengintai

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ:

 

Diantara kenikmatan terindah yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah hidayah islam, iman, dan rasa cinta kepada Sunnah Rasulullah ﷺ. Dari kecintaan inilah kemudian akan tumbuh benih-benih pengagungan dan kemuliaan yang kelak berbuah amal-amal shalih. Kendati demikian, teramat banyak orang-orang yang kita saksikan berada jauh dari cahaya yang mulia ini. Mereka pun dicegah dari keindahan dan kehangatan berada dalam lingkaran hidayah.

Berbicara tentang hidayah, hakekatnya berbicara tentang perkara yang diidam-idamkan oleh semua orang. Namun tidak semua orang yang menginginkan hidayah mendapatkannya. Hal ini kembali kepada cara masing-masing orang dalam menjemput hidayah tersebut, dan tentunya izin dan kehendak Allah yang mendahului segala sesuatu.

Dalam tulisan kali ini, kami hendak menyebutkan beberapa perkara yang bisa menjadi penghalang seseorang dari hidayah Allah dan justru menjerumuskan pelakunya ke dalam kesesatan. Semoga Allah menjaga diri-diri kita dan menjadikan kita manusia-manusia yang istiqomah di atas jalan hidayah.

  1. Ghuluw terhadap tokoh-tokoh tertentu, dan menjadikan ucapan dan prilaku mereka sebagai parameter kebenaran.

Ketahuilah wahai saudaraku, diantara bagian dari matangnya keimanan seseorang bahwasanya ia bisa menempatkan segala sesuatu pada pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya. Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada ummat Beliau.

Betapa banyak kesesatan yang timbul hanya karena masing-masing kita terkadang terlalu ghuluw (berlebihan) dalam beribadah. Dan diantara fenomena ghuluw yang kerap berakhir dengan penyimpangan, bahwasanya seseorang bersikap berlebihan dalam memuliakan pihak tertentu yang mana hal tersebut tidak jarang sampai ke derajat pengkultusan. Tatkala hal ini terjadi, maka kebenaran tak akan lagi nampak pada ia yang Allah ta’ala uji dengan musibah ini. Kebenaran yang harusnya bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah yang merujuk pada konsep pemahaman generasi pendahulu ummat ini telah terganti. Jadilah ucapan dan perbuatan sosok yang dikultuskan tersebut sebagai patokan dan tolak ukur kebenaran, tanpa peduli apakah ucapan dan perbuatan tersebut telah sesuai dengan Al-quran dan As-Sunnah atau tidak. Di sinilah kesesatan itu berawal.  Nabi ﷺ bersabda:

))إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ.((

“Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”[1]

Beliau ﷺ juga bersabda:

))لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.((

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah bahwa aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”[2]

Ketahuilah saudaraku yang aku cintai, kebenaran mutlak hanyalah milik Allah Yang Maha Esa, dan ‘Ishmah (kema’shuman: terlindung dari dosa) hanya Allah berikan kepada para utusan-Nya. Maka tidak ada alasan untuk menjadikan kebenaran mutlak bagi tokoh tertentu, siapapun ia. Simaklah ucapan indah dari Imam-imam madzhab yang menunjukkan betapa tawadhu’nya mereka dalam menyikapi masalah ini. Lihatlah betapa besar kehati-hatian mereka demi menutup pintu berbahaya ini.

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata:

إذا قلت قولا يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه وسلم فاتركوا قولي

“Jika aku mengatakan sebuah ucapan yang menyelisihi Al-Quran dan hadits Nabi  ﷺ maka tinggalkanlah ucapanku.”[3]

Imam Malik bin Anas rahimahullah juga berkata:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“sesungguhnya aku hanyalah manusia (biasa) yang bisa salah dan juga benar, oleh karenanya lihatlah (timbanglah) pendapatku, maka ambillah semua yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, dan tinggalkanlah apa yang menyelisihnya”.[4]

Imam Asy-Syafi’I rahimahullah juga berkata:

أجمع المسلمون على أن من استبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يحل له أن يدعها لقول أحد

“Kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya siapa saja yang telah jelas Sunnah dari Rasulullah ﷺ atasnya, (maka) tidak halal baginya meninggalkan sunnah tersebut karena ucapan siapapun”.[5]

Dan imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga berkata:

لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah engkau mentaqlidku, dan jangan pula Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, Imam Al-Awza’I juga Imam Ats-Tsauri, (akan tetapi) ambillah dari mana mereka mengambil.”[6]

Beginilah para ulama mengajarkan kita untuk senantiasa merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah dalam kehidupan kita, dan melarang kita untuk bersikap berlebihan terhadap sosok tertentu selain Nabi ﷺ, apalagi jika sampai menjadikannya sebagai tolak ukur kebenaran tanpa melihat sudahkah dalil bersamanya atau tidak.

Jika sosok yang kebaikan dan keilmuannya telah mendunia saja melarang kita untuk mengikuti mereka tanpa dalil, maka adakah orang-orang yang datang setelah mereka berhak mendapatkan hal tersebut?!

  1. Beragama atas dasar adat istiadat dan tradisi nenek moyang yang diriwayatkan secara turun-temurun

Diantara penyebab utama terhalangnya seseorang dari hidayah ialah bahwasanya ia senantiasa mendahulukan adat istiadat dan tradisi yang ia warisi dari nenek moyangnya secara turun temurun atas Nash-nash yang datang dari Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ. Padahal mereka pun meyakini bahwasanya hal tersebut salah. Allah ta’ala telah menukilkan perkara ini dalam banyak tempat didalam Al-Quran, diantaranya firman Allah:

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ﴾

“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul (ikutilah apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir beliau menjelaskan:

“Yakni, mereka tidak mengetahui, tidak memahami dan tidak mengikuti kebenaran. Lantas mengapa mereka tetap mengikutinya padahal demikian keadaannya?! Tidak ada yang mengikuti mereka melainkan orang yang lebih bodoh dari mereka dan lebih sesat jalannya”[7]

Sungguh besar dan berbahaya perkara ini, bukan hanya celaan yang Allah berikan kepada mereka yang terjatuh ke dalamnya, akan tetapi ancaman pedih berupa siksa neraka pun akan menanti mereka dikarenakan hal tersebut. Allah ta’ala berfirman:

﴿يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Pada hari ketika wajah-wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata, aduhai, seandainya dulu kita mentaati Allah dan Rasul. Mereka berkata, wahai Rabb kami, sesungguhnya kami (dahulu) mentaati tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus), wahai Rabb kami, berikanlah kepada mereka siksaan dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar” (QS. Al-Ahzaab: 66-68).

Imam Asy-Syaukani rahimahullah  berkata, “Yang dimaksud dengan tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar adalah para pemimpin yang dipatuhi perintahnya di dunia dan diteladani.[8]

Saudaraku, tidak cukupkah bagi kita untuk mengambil pelajaran dari Abu Thalib, paman Nabi ﷺ, bagaimana ia terhalang dari hidayah hanya kerena kuatnya ia berpegang teguh kepada agama yang ia warisi dari ayahnya Abdul Muththalib?! Bagaimana ia jatuh dalam kesesatan yang tak berujung karena warisan yang tak ingin ia tinggalkan?![9]

Namun demikian, bukan berarti semua adat istiadat yang kita warisi dari nenek moyang akan menjadi pintu kesesatan bagi kita. Teramat sangat banyak adat istiadat dan tradisi yang kita warisi dari leluhur kita yang harus bahkan wajib kita lestarikan. Ia adalah adat-adat yang tidak bertentangan dengan syariat, bahkan syariat sangat mendukung dan menganjurkan kita untuk mealakukannya. Oleh karenanya, beramal haruslah berdasar kepada Al-Quran dan As-Sunnah diatas pemahaman generasi salaf. Adapun adat, maka tidak boleh dijadikan rujukan utama dalam beragama. Merujuk kepada pentingnya pembahasan ini, para ulama telah merumuskan sebuah Kaedah Fikih yang bisa kita jadikan pedoman dalam masalah ini:

العادة محكمة ما لم ثخالف الشرع

“Adat (kebiasaan) bisa menjadi (dasar) sebuah hukum selama tidak menyelisihi syariat”

  1. Menjadikan niat baik sebagai alasan untuk melegalkan perkara-perkara yang Allah ta’ala larang.

Niat dan tujuan yang baik kerap disalah gunakan oleh beberapa orang sebagai alasan untuk membolehkan perkara-perkara yang telah jelas keharamannya di dalam agama. Berdalih dengan hal tersebut, tidak sedikit dari kita yang tetap teguh berada dalam pelanggaran dan justru nyaman dengannya. Hal ini teramat sangat berbahaya, karena orang yang terjatuh kedalmnya akan merasa benar dengan alasan tersebut sehingga membuatnya angkuh dan menolak kebenaran. Dan sikap inilah yang akan menjadi dinding kokoh nan tinggi yang akan menjadi penghalang antara dirinya dan kebenaran.

Alasan ini bukanlah sesuatu yang baru dalam agama ini. Kaum musyrikin di era jahiliyah pun senantiasa bersembunyi di balik topeng baiknya niat untuk tetap mengamalkan kesesatan mereka. Allah ta’ala berfirman:

﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar: 3).

Lihatlah bagaimana mereka berdalih, dan lihatlah bagaimana Allah membantah hal tersebut dengan menamakan mereka sebagai pendusta dan sangat ingkar. Padahal jika saja baiknya niat bisa melegalkan suatu keharaman, maka pastilah Allah akan menyanjung mereka karena niat tersebut.

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah ﷺ juga membantah mereka yang berdalih dengan baiknya niat dalam menghalalkan sesuatu yang Allah larang atau mendatangkan perkara-perkara baru dalam agama ini dengan alasan baiknya niat. Disebutkan dalam sebuah hadits:

((جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا، فَقَالُوا : وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ أَحَدُهُمْ : أَمَّا أَنَا، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ : ”أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي))

“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. ٍSetelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku[10]

Jika kita berhenti sejenak memperhatikan hadits yang mulia ini, niscaya kita akan mendapati bahwasanya dasar yang membuat 3 orang tersebut bertekad untuk melakukan hal-hal tersebut ialah karena mereka merasa amalan mereka teramat sangat sedikit, sehingga mereka ingin menambah porsi ibadah dari apa yang telah Allah dan Rasul-Nya ﷺ syariatkan. Sungguh niat yang mulia, merasa ibadah yang kita lakukan kurang dan kita ingin menambahnya bahkan mengorbankan seluruh waktu kita yang tersisa untuk ibadah. Tapi lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ menanggapi hal tersebut. Bukannya senang, justru hal tersebut membuat beliau marah dan menakan yang demikian itu sebagai bentuk benci terhada ajaran beliau ﷺ. Maka adakah keberuntungan bagi mereka yang benci terhadap ajaran Rasulullah ﷺ?!

  1. Menjadikan banyaknya pelaku sebagai tolak ukur baik buruknya suatu amalan.

“Jika benar amalan ini buruk, kenapa banyak orang yang melakukannya?!” Ungkapan lawas yang terus dikumandangkan oleh sebagian diantara kita tatkala ada orang yang datang untuk menyampaikan nasehat.

Saudaraku, jika memang tolak ukur kebenaran suatu amalan adalah banyaknya orang yang melakoni amalan tersebut, akankah Allah melarang Nabi-Nya untuk mengikuti kebanyakan orang di Bumi ini dan mengatakan bahwa hal itu merupakan pintu kesesatan?! Allah berfirman:

﴿وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

Jika benar kebenaran diukur dengan kuantitas pelaku, akankah ada Nabi yang hanya memiliki 1, 2 atau bahkan tidak memiliki pengikut sama sekali?! Apakah sedikitnya jumlah pengikut menunjukkan bahwa apa yang dibawa oleh Nabi tersebut bukanlah kebaikan?! Nabi ﷺ bersabda:

((عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ))

 “Aku telah diperlihatkan (oleh Allah) beberapa golongan umat manusia. Aku lalu melihat seorang nabi yang bersamanya sekumpulan manusia, ada juga nabi yang bersama dengan satu atau dua orang lelaki saja, dan seorang nabi tanpa seorang pengikut pun”[11]

Saudaraku, jika parameter kebenaran adalah banyaknya pelaku, maka bagaimana kita menyikapi hadits Nabi ﷺ yang menjelaskan perpecahan yang akan terjadi dalam diri ummat islam, lantas beliau katakana bahwa hanya ada satu golongan yang akan selamat?! Nabi ﷺ bersabda:

(( اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ )) قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: ( اَلْجَمَاعَةُ ). وفي رواية: ((كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ)). الحديث

“Ummat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, maka hanya satu golongan yang masuk surga dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk neraka. Ummat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk neraka dan hanya satu golongan yang masuk surga. Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh akan berpecah-belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk neraka.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Wahai Rasûlullâh, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘al-Jamâ’ah.’”[12]

Dalam riwayat lain: “semua di Neraka kecuali satu: (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.”[13]

Oleh karenanya wahai saudaraku yang aku cintai, berhati-hatilah kita dalam menjalani kehidupan ini, semabri terus berdoa kepada Allah agar selalu diberikan ketepan hati dan istiqomah agar tetap berada diatas hidayah Allah. Sungguh, tidaklah seseorang berpaling dari jalan hidayah melainkan Allah akan memalingkannya sejauh-jauhnya.

﴿فَلَمَّا زَاغُوٓا۟ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ﴾ الآية

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka” (QS. Ash-Shaff: 5)

Dan sungguh tidak akan berpaling dari jalan hidayah kecuali mereka-mereka yang binasa. Nabi  ﷺ bersabda:

))تَرَكْتُكُمْ عَلَى بَيْضَاء نقية لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ((

“Aku tinggalkan kalian dalam suatu keadaan terang-benderang dan murni, siangnya seperti malamnya. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka.”[14]

Ketahuilah saudaraku, bahwasanya jalan keselamatan hanya ada pada Al-Quran dan As-Sunnah dengan merujuk pada pemahaman salaful ummah. Nabi ﷺ berasabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.[15]

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari kesesatan.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم، والحمد لله رب العالمين

والله تعالى أعلم

 

catatan kaki:


[1] HR. Ahmad (I/215, 347), an-Nasa-i (V/268), Ibnu Majah (no. 3029), Ibnu Khu-zaimah (no. 2867) dan lainnya, dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma. Sanad hadits ini shahih menurut syarat Muslim. Dishahihkan oleh Imam an-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[2] HR. Al-Bukhari (no. 3445)

[3] Kitab Al-Iqozh karya Imam Al-Fulany, (hal: 50)

[4] Kitab Al-Jami’ karya Imam Ibnu Abdil Bar, (hal: 32, jilid: 2)

[5] Kitab Al-Iqozh karya Imam Al-Fulany, (hal:68)

[6] Kitab I’lam Al-Muwaqqi’in ‘An Rabbil ‘Alamin karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi, (hal: 302,jilid: 2)

[7] Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, karya Imam Ibnu Katsir (hal: 108-109, jilid: 2).

[8] Tafsir Fathul Qadir (hal: 431, jilid: 4).

[9] HR. Al Bukhari: 1272 dan Muslim: 35

[10]  HR. Bukhari: 5063

[11] Diriwayatkan secara ringkas dari hadits Muslim: 323

[12] HR. Ibnu Majah: 3992

[13] HR. Tirmidzi: 2641, dan hadits ini dihasankan oleh Asy Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahîhul Jâmi’ (no. 5343)

[14] Hadits

[15] (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).