DEFENISI

Secara etimologi istiqomah berasal dari bahasa arab استقام – يستقيم- استقامة  yang semakna dengan kata  اعتدل – يعتدل- اعتدال yang berarti lurus dan seimbang.[1]

Adapun secara terminologi Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan istiqomah adalah :

سلوك الصراط المستقيم، وهو الدين القيم من غير تعريج عنه يمنة ولا يسرة، ويشمل ذلك فعل الطاعات كلها، الظاهرة والباطنة، وترك المنهيات كلها كذلك

“Menempuh  jalan yang lurus – agama yang benar- tanpa berbelok kekanan ataupun kekiri (penyimpangan), dan hal itu mencangkup segala bentuk ketaatan – entah itu zhahir ataupun batin – dalam mengerjakan perintah dan juga dalam meninggalkan segala bentuk larangan.” [2]

Selain itu Ibnu Hajar rahimahullah juga menyebutkan :

الاستقامة هي كناية عن التمسك بأمر الله تعالى فعلا وتركا

“Istiqomah adalah senantiasa berpegang teguh pada perintah Allah Ta’ala baik itu dalam mengerjakan ketaatan ataupun dalam meninggalkan larangan.” [3]

 

URGENSI ISTIQOMAH

Tidak diragukan lagi bahwa istiqomah dalam beragama adalah suatu hal yang sangat penting. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ayat ayat di dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk senantiasa istiqomah, diantaranya:

قال تعالى : {فاستقم كما أمرت ومن تاب معك ولا تطغوا إنه بما تعملون بصير}

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [4]

وقال : {قال قد أجيبت دعوتكما فاستقيما ولا تتبعان سبيل الذين لا يعلمون}

“Dia Allah berfirman, ‘sungguh telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan jangan sekali-kali kamu mengikuti jalan orang yang tidak mengetahui.” [5]

وقال أيضا : {فلذلك فدع واستقم كما أمرت ولا تتبع أهواءهم}

“Karena itu serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka.” [6]

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shahabat Sufyan bin Abdullah datang meminta wasiat kepadanya :[7]

يا رسول الله قل لي في الإسلام قولا لا أسأل عنه أحدا غيرك

“Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku dalam Islam suatu perkataan yang mana aku tidak menanyakannya kepada seorangpun tentangnya setelahmu.”

Ibnu Daqiq al-‘Ied menjelaskan bahwa maksud dengan ucapan  (قولا  ) adalah: ucapan yang jelas yang mencangkup seluruh makna dari Islam.[8]

Beliau menjawabnya dengan bersabda :

(قل آمنت بالله ثم استقم)

“Katakanlah, aku beriman kepada Allah kemudian istiqomahlah.”

Abu al-Qosim al-Qusyairi rahimahullah berkata :

(الاستقامة درجة بها كمال الأمور وتمامها وبوجودها حصول الخيرات ونظامها ومن لم يكن مستقيماً في حال سعيه ضاع سعيه وخاب جده)

“Istiqomah adalah suatu tingkatan yang dengannya sempurnalah segala perkara dan dengan keberadaannya tercapai dan teraturlah segala kebaikan itu. Dan barang siapa yang tidak istiqomah dalam berjuang maka sia-sialah usahanya dan hilanglah sudah kedudukannya.” [9]

Al Wasithi rahimahullah berkata :

(الخصلة التي بها كملت المحاسن وبفقدها قبحت المحاسن)

“Istiqomah adalah suatu sifat yang dengannya sempurnalah segala kebaikan dan dengan ketiadannya segala kebaikan menjadi buruk.” [10]

Adapun hal lain yang menjadi tambahan bukti bahwa istiqomah dalam ketaatan merupakan hal yang penting adalah banyaknya faedah-faedah yang dapat diraih bagi mereka yang senantiasa beristiqomah diantaranya :

  1. Meraih cinta Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah azza wa jalla mencintai kebaikan yang dilakukan dengan istiqomah sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha :

(أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أن أحب الأعمال إلى الله أدومها وإن قل)

“Dari ‘Aisyah radhiyaallahu ta’ala ‘anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : bahwa amalan yang dicintai Allah adalah yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit.” [11]

  1. Mendapatkan keluasan rezeki.

Allah jalla wa ‘ala berfirman :

{وأن لو استقاموا لأسقيناهم ماء غدقا}

“Dan jika sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam) niscaya Kami akan curahkan kepada mereka air yang cukup.” [12]

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ماء غدقا  (air yang banyak/ cukup) adalah rezeki yang luas.[13]

  1. Tenang dalam menghadapi kematian.

Allah ta’ala berfirman :

{إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملئكة ألا تخافوا ولا تحزنوا}

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka ketika maut menjemput (dengan berkata) janganlah kamu merasa takut terhadap perkara akhirat dan janganlah kamu bersedih hati atas dunia yang kalian tinggalkan.” [14]

  1. Allah azza wa jalla menjanjikan syurga bagi mereka yang senantiasa istiqomah dijalan-Nya.

Allah berfirman :

{وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون}

“Dan bergembiralah kamu dengan syurga yang telah dijanjikan kepadamu.” [15]

 

Beberapa Jalan yang Dapat Ditempuh Agar Menjadi Pribadi yang Istiqomah:

  1. Senantiasa bermujahadah dalam melatih serta membiasakan diri untuk melakukan berbagai macam ketaatan.

Bermujahadah dalam melatih diri untuk selalu taat adalah salah satu sebab turunnya hidayah dan taufiq serta penjagaan Allah ta’ala terhadap hambanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

{والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين}

“Dan orang-orang yang berjuang (untuk mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang baik.” [16]

(ليس الجهاد فى الآية قتال الكفار فقط، بل هو نصر الدين، والرد على المبطلين، وقمع الظالمين، وعظمه الأمر بالمعروف، والنهى عن المنكر، ومنه مجاهدة النفوس فى طاعة الله، وهو الجهاد الأكبر).

Abu Sulaiman al-Darani berkata :

“Kata jihad dalam ayat tidak terbatas pada makna memerangi orang-orang kafir, akan tetapi (termasuk pula) menolong agama dan menolak ahlul bathil, menghancurkan kezhaliman, serta beramar makruf dan nahi munkar, dan termasuk didalamnya bersungguh- sungguh (dalam membiasakan) diri terhadap ketaatan kepada Allah dan itulah jihad terbesar.” [17]

Berkata Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantani rahimahullah :

 (والذين جاهدوا في طاعتنا لنهدينّهم سبل ثوابناَ وإن الله لمع المحسنين أي لمعينهم في القول والفعل بالتوفيق والعصمة.)

“Dan orang-orang yang senantiasa berjuang dalam mentaati Kami akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan (untuk menggapai) pahala Kami. “Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik”, yakni Allah akan senantiasa membimbing perkataan dan perbuatan mereka dengan taufiq dan penjagaan-Nya.” [18]

  1. Senantiasa menyibukkan diri dengan menuntut ilmu syar’i.

Tidak diragukan lagi bahwa menuntut ilmu adalah salah satu jalur utama dalam  menuju kebaikan di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

(من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة)

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga.” [19]

  1. Bersahabat dengan orang- orang shaleh.

Tidak diragukan lagi bahwasanya teman bergaul akan sangat mempengaruhi perkembangan seseorang. Olehnya  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita untuk memperhatikan teman bergaul kita dalam sabdanya :

(المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل)

“Seseorang tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang dia jadikan teman dekat.” [20]

Demikian halnya lingkungan tempat tinggal dan bergaul seseorang juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Oleh sebab itu seorang alim dari umat terdahulu pernah memberi nasehat kepada seorang pemuda yang telah membunuh seratus jiwa untuk berhijrah menuju tempat yang baru agar bisa bersama sama orang-orang yang istiqomah menyembah Allah dan berbuat baik serta meninggalkan kampung halamannya karena banyaknya keburukan di sana.[21]

  1. Senantiasa berdoa kepada Allah agar selalu diberi keistiqomahan

Sudah menjadi bagian dari aqidah seorang muslim bahwa segala sesuatu selalu kembali kepada kehendak Allah. Sekuat apapun usaha seorang hamba takan pernah lepas dari kuasa Allah. Dalam hal ini berdoa kepada Allah menjadi salah satu yang terpenting dalam setiap usaha dan upaya kita dalam mewujudkan segala harapan dan keinginan kita. Demikian pula dalam upaya menjadi pribadi yang istiqomah, hendaknya seorang muslim selalu meminta kepada Allah ‘azza wa jalla agar selalu dalam bimbingan-Nya. Sebagaimana Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa meminta hal tersebut dalam salah satu doanya :

(يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك)

“Wahai Dzat yang membolak balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu.” [22]

Demikianlah uraian singkat seputar istiqomah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga dan membimbing kita semua untuk selalu istiqomah di jalan yang benar hingga tiba waktu untuk kembali kepada-Nya.

 

Jakarta, 16 juli 2018

Alfaqir ila ‘afwi Rabbihi Ahmad Fitriawan al-Munawiy

 

catatan kaki


 

[1] Kamus Al-Wasith, hal. 796.

[2] Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab: 1/510.

[3] Fathu al-Baari, Ibnu Hajar: 13/257.

[4] Q.S. Hud : 112

[5] Q.S. Yunus : 89

[6] Q.S. Al-Syura : 15

[7] H.R. Muslim : 38

[8] Ibnu Daqiq al-‘Ied, Syarah Hadist al-Arba’in, hal. 80

[9] Ibnu Daqiq al-Ied, hal 81, Syarh Shaih Muslim, hal 2/9

[10] bnu Daqiq al-Ied, hal 81, Syarh Shaih Muslim, hal 2/9

[11] H.R Al-Bukhari : 6464

[12] Q.S. Al-Jin : 16

[13] Lihat Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi al-Bantani, Marah al-Labid li Kasyfi Ma’ani al-Qur,an al-Majid, hal. 2/571, Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur,an al-‘Azhim, hal. 8/216.

[14] Q.S. Fushilat : 30, lihat Tafsir Ibnu Katsir, Hal. 7/176.

[15] Q.S. Fushilat : 30.

[16] Q.S. Al-Ankabut : 69

[17] Tafsir al-Maraghi, hal. 21/ 24

[18] Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi al-Bantani, Marah al-Labid li Kasyfi Ma’ani al-Qur,an al-Majid, hal. 2/223.

[19] H.R. Tirmidzi : 2646

[20] H.R. Ahmad : 8417

[21] Silahkan lihat Hadits Muslim (2766), dari sahabat  Abi Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

[22]