pencil

Orang-orang yang Terjebak Pailit di Akhirat

Apabila masing masing diantara kita ditanya tentang definisi pailit, maka tentu jawaban masing di antara kita tidak akan berjauhan yang intinya adalah orang yang sudah tidak lagi memiliki harta kekayaan yang berarti, jatuh miskin, terjerat utang, dan sebagainya. Definisi ini memang tidak keliru, namun pailit yang dimaksud di situ adalah pailit di dunia yang masih bisa diatasi dengan mudah.

Namun tahukah kita bahwa ada jenis-jenis pailit yang lebih berbahaya daripada pailit model di atas? Ya, itulah pailit yang dahulu pernah diingatkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar jangan sampai kita terjerembab di dalamnya sehingga hanya menimbulkan kesengsaraan tiada kira –melainkan jika Allah berkehendak lain-.

Adalah suatu saat Rasululullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bertanya kepada para shahabatnya, sebagaimana yang dilaporkan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan pailit itu?” Para shahabat menjawab, “Pailit menurut kami ialah orang yang sudah tidak lagi memiliki dirham dan harta benda.” Lantas beliau bersabda:


إِنَّ المُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَ صِيَامٍ وَ زَكَاةٍ، وَ يَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَ قَذَفَ هَذَا وَ أَكَلَ مَالَ هَذَا، وَ سَفَكَ دَمَ هَذَا، وَ ضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya pailit di kalangan umatku adalah seseorang yang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang pada saat kondisinya dahulu manakala di dunia pernah mencaci si A, menuduh si B, memakan harta si C tanpa alasan yang dibenarkan, telah menumpahkan darah si D, dan telah memukul si E. Maka amal kebaikannya diberikan kepadanya, dan yang ini juga diberikan kebaikan dari orang tadi. Maka apabila amal kebaikannya sudah habis padahal dosanya belum lagi terbayarkan, maka dosa-dosa orang yang bernah ia zhalimi itu diambil lalu diberikan kepada orang tadi, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” [HR Muslim]

Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi –rahimahullah- menjelaskan dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj (XVI/135-136), “Maknanya ialah bahwa inilah pailit yang sesungguhnya. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta atau orang yang memiliki sedikit harta, maka orang-orang memang menyebutnya pailit, namun bukan pailit yang sejatinya. Sebab pailit yang demikian itu akan berakhir dan berkesudahan setelah kematian menjumpainya, dan boleh jadi akan berkesudahan dengan datangnya kemudahan yang ia peroleh dalam hidupnya setelah sebelumnya mengalami pailit.”

Kenapa pailit yang tersebut dalam hadits ini dikatakan sebagai pailit yang sejatinya lantaran dialah kecelakaan yang sesungguhnya. Bagaimana tidak? Pahala ibadahnya yang ia lakukan di dunia, mulai dari shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, dan lain sebagaimana akan diambil dan diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zhalimi ketika di dunia untuk melunasi kecerobohannya tersebut. Sedangkan jika kebaikannya habis sementara kezhalimannya belum terlunasi, maka dosa-dosa orang-orang yang pernah ia zhalimi akan diangkut untuk kemudian diberikan kepadanya (orang yang menzhaliminya tadi), kemudian ia akan dicampakkan ke dalam api neraka sampai waktu yang Allah kehendaki, yaitu dirinya suci dari kesalahan-kesalahannya.

Inilah kenapa Rasululullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam suatu kesempatan lain bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallahu ‘anhu-:


اِتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Waspadalah terhadap kezhaliman. Sebab, kezhaliman merupakan kegelapan pada hari kiamat.” [HR Muslim no. 2578]

Oleh karena itu, sebelum kegelapan itu benar-benar datang, mari kita bersama-sama menjauhi sebisa mungkin perbuatan yang dapat merugikan orang lain serta menyudahinya. Apabila perbuatan-perbuatan kezhaliman itu sudah terlanjur kita perbuat, maka sudah supantasnya kita meminta kepada orang yang sudah kita zhalimi tersebut agar menghalalkan dan memaafkan kesalahan tersebut. Dan apabila kezhaliman itu ada kaitannya dengan harta, maka boleh jadi kita kembalikan kepada empunya atau minta agar dihalalkan saja.

Abu Hurairah –radhiyallallahu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Rasululullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:


مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيْهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَ لَا دِرْهَمٌ، مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذّ لِأَخِيْهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ، أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيْه فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang memiliki suatu kezhaliman pada saudaranya, maka sepantasnya ia meminta kepadanya agar dihalalkan. Sebab, kelak di akhirat sudah tidak ada lagi dinar dan tidak pula dirham; sebelum kebaikan-kebaikannya diambil untuk kemudian diberikan kepada suadaranya yang dizhalimi tadi. Kalua ia tidak memiliki kebaikan, maka dosa-dosa saudaranya yang terzhalimi tersebut akan diambil kemudian dilimpahkan kepadanya.” [HR Al-Bukhari no. 2317]

Beberapa poin yang dapat kita petik dari hadits di atas:

  • Ancaman berat bagi siapa saja yang menyakiti dan merugikan orang lain
  • Tidak ada toleransi berkaitan dengan hak-hak kemanusiaan, segala bentuk kezhaliman harus dikembalikan kepada empunya atau diganti.
  • Seberapapun besarnya kebaikan, tidak bisa menggugurkan hak kemanusiaan. Lain halnya dengan hak Allah Ta’ala. Dosa antara Allah dan hamba-Nya, akan lebih mudah diampuni oleh-Nya kelak di akhirat, karena toleransi-Nya lebih luas.
  • Segala amal perbuatan seorang hamba sudah tercatat rapi, sedang perhitungan akan ditegakkan pada hari kiamat.

Wallahua’lam. []