pencil

Penasehat Ulung Itu Kini Telah Pergi, Biografi Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

Yogyakarta, Juni 2007 M. Awal tahun ajaran baru ini saya mengajak bapak saya mencari beberapa buku penting di Shopping, Taman Pintar. Salah satu buku yang ingin saya beli adalah kitab Minhaj Al-Muslim, kitab akhlaq, ‘aqidah, ibadah, dan mu’amalat yang cukup padat pembahasaannya yang ditulis oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi –athalallah ‘umrah-. Alasan kenapa saya mencari kitab ini karena memang kitab ini banyak dikaji di pesantren saya.

Saya pun mulai berkeliling bersama bapak menelusuri lorong di antara kios-kios sembari mencari-cari beberapa buku. Sebagaimana kebiasaan pedagang pada umumnya, di sini pun para pedagang berlomba-lomba menawarkan barang dagangannya dan menanyakan apa yang dicari calon pembeli.

“Cari apa, mas?,” tanya salah seorang penjaga kios buku kepada kami.

“Ada Minhajul Muslim, pak?,” sahutku padanya.

“Ada, mas.”

“Yang bahasa Arab, pak?”

“Wah, nggak ada, mas. Cuma terjemahan bahasa Indonesia.”

Ternyata hanya ada edisi terjemahan. Versi ‘Arabnya tidak ada. Karena ternyata di kemudian hari saya baru tahu kalau di kios-kios ini tidak menjual buku-buku asli, hanya edisi terjemahan saja. Dan saya juga baru tahu jika ingin mencari buku-buku ‘kuning’, bisa mengunjungi TB Kauman, Toko Ihya’, TB Sarana Hidayah, dan TB Beirut.

Tiba-tiba ada salah satu penjaga kios yang mendengar percakapan saya dengan pembeli tadi nyeletuk sambil ketawa bilang, “Diterjemahkan ke bahasa Arab sendiri, mas!”

Wuaduh!!! Segitunya.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.

Penulis buku Minhaj Al-Muslim ini begitu sangat akrab di telinga. Tulisan-tulisannya banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa manusia di muka bumi. Di Indonesia saja, buku Minhaj Al-Muslim ini telah diterjemahkan sedari lama oleh banyak penerjemahkan dan dicetak dalam sekala besar. Umumnya sudah mengalami cetak ulang dan bahkan mencapai bets saller. Ini baru satu karyanya, belum lagi karya-karyanya yang lain yang juga sangat bermanfaat. Hal ini menjadi tanda ikhlasnya sang penulis dan keilmuannya yang mumpuni sehingga tidak hanya bisa menyusun buku tapi juga mampu memilih metode penulisan sehingga mudah difahami oleh tidak hanya kalangan terpelajar, namun juga kalangan umum pun tidak perlu berletih memahami tulisan-tulisannya.

Suatu saat ada salah seorang murid ngaji Imam Malik bin Anas, penulis kitab Al-Muwaththa’, melaporkan bahwa si A juga menyusun kitab dengan judul yang sama dengan kitab beliau yang begitu terkenal dan banyak dipelajari banyak kalangan, yaitu  Al-Muwaththa’. Mendengar laporan santrinya itu, beliau pun menimpalinya dengan santai, “Sesuatu yang diperuntukkan Allah, bakal abadi.” Dan benar saja. Ternyata setelah barlalunya waktu, hanya ada satu kitab Al-Muwaththa’ yang dikenal luas masyarakat, yaitu Al-Muwaththa’ yang ditulis oleh Imam Malik bin Anas Al-Ashbahi –rahimahullah– padahal kitab dengan judul yang sama terhitung banyak.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah– ketika menjabarkan sebuah kitab yang dikenal secara luas sejak ditulisnya hingga detik ini bertajuk Riyadh Ash-Shalihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin susunan Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi –rahimahullah-, mengatakan bahwa hal ini menjadi tanda keikhlasan penulisnya sehingga hampir tidak ada rumah seorang muslim pun di seluruh belahan dunia kecuali menyimpan kitab ini.

Nampaknya keikhlasan dalam menulis kitab juga terjadi pada Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi –dan saya tidak mensucikan seorang pun di sisi Allah- melihat buku-bukunya yang banyak diminati secara luas oleh banyak kalangan sebagaimana di atas. Sebelum ini saya juga telah menyinggung kisah awal kalinya saya ‘bertemu’ dan mengenal ulama kenamaan ini sehingga membuat saya begitu takjub kepada beliau seiring doa, semoga Allah Jalla wa ‘Ala memanjangkan dan memberkahi umur beliau.

Dalam pada itu, saya akan meriwayatkan seklumit perjalanan ilmiah beliau.

Awal mula saya mempelajari buku ini, saya hanya tahu bahwa beliau adalah salah seorang penasehat dan guru di Masjid Nabawi. Selebihnya, saya tidak tahu. Tentu saja hal itu tidak membuat jiwa ini puas. Rasanya kurang bijak jika seseorang mempelajari suatu kitab dan banyak mengambil faedah dan manfaat darinya tidak mengenal penulisnya dengan baik. Demikianlah yang saya rasakan. Sehingga saya berusaha menelusuri berbagai litelatur yang kemungkinan merekam perjalanan hidup beliau. Tidak hanya itu, saya pun tidak tertinggal menelusuri dan bertanya kepada ‘syaikh’ google. Berangsur-angsur saya mulai bisa menyingkap perjalanan hidup Syaikh Abu Bakar. Salah satunya saya jumpai di buku ‘Ulama Mufakkirun ‘Araftuhum di jilid pertama halam ke-27 hingga ke-39 buah karya Al-Ustadz Muhammad Al-Majdzub –semoga Allah membalasnya kebaikan-.

Buku yang juga memuat salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesa ini, ‘Abdurrahman Baswedan atau yang lebih akrab disapa AR Baswedan –rahimahullah-, juga menjadi salah satu rujukan biografi ualama kontemporer semacam Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Al-Jikani Asy-Syinqithi, Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim, Syaikh ‘Abdurrahman Al-Ifriqi, dan banyak lainnya. Menariknya buku ini ditulis dengan gaya bahasa Adab yang memukau dan kebanyakan diriwayatkan secara langsung oleh penulisnya.

Dalam kesempatan ini saya juga ingin mengutarakan usulan saya kepada siapa pun yang mengajarkan suatu buku untuk mengawalinya dengan menyebutkan biografi penulis buku meski secara ringkas. Sehingga dengan demikian, sang pengajar telah menunaikan kewajibannya denga lebih sepurna dan sebagai penyempurna faidah yang disampaikannya. Hal semacam ini pula lah yang ditempuh oleh para ulama dari masa silam hingga detik ini dan akan terus berjalan, in sya Allah. Lihat saja, misalnya, buku-buku komentar (baca syarah). Sebelum mengomentari suatu kitab, pengomentar (baca : pensyarah) biasanya memulai dengan membawakan biografi penulis kitab yang dikomentarinya. Misal lain juga dilakukan para editor (baca : muhaqqiq) suatu buku, biasanya mendahului dengan penuliskan biografi si empunya buku. Jika saudara pernah menyimak pelajaran Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi, saudara bakal menjumpai beliau selalu mendahuli pelajarannya dengan beberapa muqaddimah, salah satunya adalah biografi penulis kitab yang tengah dipelajari.

    Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi. Kun-yahnya lebih akrab ditelinga ketimbang nama aslinya, apalagi nama bapaknya. Ya, beliau lebih tenar dengan sapaan Abu Bakar Al-Jazairi. Ketika sudah disebutkan nama seperti itu, orang yang mendengar langsung memahami bahwa yang dimaksud adalah seorang ulama yang mencurahkan waktunya untuk mengajar di Masjid Nabawi. Padahal nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Al-Jazairi.

    Syaikh Abu Bakar dilahirkan pada tahun 1921 M di sebuah desa  pertanian yang bernuansa indah bernama Liwah yang terletak 40 km dari kota بسكرة. Kedua orangtuanya berbangsa Jazair yang berasal dari dua keluarga yang terkenal komitmen dengan keshalihan dan banyak mengahafal Al-Quran Al-Karim. Hal itu pun selalu diwariskan dan dijadikan sebagai semacam adat di tengah-tengah mereka. Akan tetapi bapaknya, Pak Musa bin ‘Abdul Qadir, menyendiri menekuni tasawwuf.

    Jabir kecil hidup dalam keadaan yatim karena sang bapak wafat saat usianya baru menginjak tahun pertama. Oleh karena itu ia diasuh oleh sang ibu dengan jaminan dari paman-pamannya dari pihak bapak dan ibunya.

    Ia mulai perjalanan belajarnya di desanya tersebut. Keberhasilannya dalam menghafalkan Al-Quran Al-Karim –yang ia selesaikan sebelum menginjak usia baligh- dijadikannya sebagai bekal ilmu ditambah dengan hafalan Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiyyah dalam ilmu gramatika bahasa Arab (baca : nahwu) dan Manzhumah Ibnu ‘Asyir dalam fiqih ala madzhab Maliki. Dari sini, ia pindah ke Basakrah dan ngaji kepada salah seorang ulamanya, Syaikh Nu’aem An-Nu’aemi.

Di saat itu ternyata desanya kedatangan seorang ulama kenamaan bernama Syaikh ‘Isa Ma’thuqi. Hal itu menjadikannya kembali ke kampung halamannya untuk kemudian mengaji bahasa Arab, fiqih, manthiq, mushthalah hadits, dan ushul fiqih kepada ulama tersebut. Di saat itu ia sudah menginjak usia remaja.

    Dalam pada itu, Jabir melawat ke ibu kota untuk mengajar di salah satau sekolah suwasta. Di sinilah ia memulai kehidupan barunya. Di tengah kesibukannya mengajar, ia juga melanjutkan belajarnya kepada Syaikh Ath-Thayyib Al-‘Uqbi, salah satu rekan pejuang besar, Al-‘Allamah Ibnu Badis, yang telah menerima dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah Salafiyyah di Masjid Nabawi dari sejumlah ulama Sunnah di sana. Kepadanya, Jabir menekuni pengajian-pengajiannya dalam bidang tafsir untuk beberapa tahun lamanya. Hal ini menjadi suatu pengaruh besar dalam kepribadian Jabir, dan bahkan ia menganggapnya sebagai salah satu guru utamanya yang telah berjasa –setelah Allah- mengarahkannya kepada manhaj yang benar dalam beragama.

    Selanjunta Jabir memutuskan melawat ke Hijaz. Di sini ia kembali memulai kegiatannya, yaitu belajar dan mengajar. Di Madinah ia menekuni beberapa pengajian ulama, di antaranya Syaikh ‘Umar Birri, Syaikh Muhammad Al-Hafizh, Syaikh Muhammad al-Khayal, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih, ketua para hakim kota Madinah dan khathib Masjid Nabawi.

    Selang satu tahun kemudian, Jabir memperoleh izin mengajar di Masjid Nabawi dari komite kehakiman Makkah Al-Mukarramah. Hal semacam ini beliau tekuni hingga ditulisnya tulisan ini. Di saat itu beliau mendaftar diri ke fakultas syari’ah di Riyadh dan berhasil memperoleh gelar “Lc”. Sejak itulah beliau mencurahkan waktu dan tenaganya mengajar di Masjid Nabawi, masjid yang didatangi dan dirindukan oleh ribuan kaum muslimin dari penjuru dunia, seperti halnya penulis tulisan ini.

    Kehidupan Syaikh Abu Bakar Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir al-Jazairi yang penuh dengan nilai pendidikan dan dakwah sebagaimana telah diketahui di atas, tentu tidak mungkin bisa lepas dari kegiatan tulis-menulis. Melihat hal ini, maka tidak perlu heran sekiranya karya-karya ilmiahnya begitu banyak.

    Memang kegiatan tulis-menulis tidak bisa dipisahkan dari dunia belajar-mengajar. Ini pun menjadi sebuah tradisi di tengah para ulama di seantero jagad raya ini. Bahkan di kondisi tertentu menjadi sebuah kewajiban. Boleh jadi menulis faidah-faidah yang didengarnya dari gurunya waktu masing ngaji, mencatat hal-hal penting yang diperolehnya dari buku-buku yang ditelaahnya, menuliskan diktat untuk para santrinya, menulis bantahan untuk suatu pemikiran tertentu, atau alasan-alasan lainnya. Di kemudian hari tulisan-tulisan itu ada sebagiannya dicetak dan diterbitkan sehingga bisa dilahap oleh banyak orang.

Misal kongkrit untuk kasus ini adalah Al-Fawaid oleh Ibnul Qayyim yang awalnya ‘hanya’ sebuah catatan faidah ‘direkamnya’ dalam buku catatannya, At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang pada awalnya merupakan catatan-catatan yang beliau tuliskan di pinggir kitab yang di kemudian Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabi mengusulkan untuk dinaikkan ke percetakan agar bisa dinikmati oleh banyak kalangan, Al-Istidzkar fi Taqyid Ma La Budda min Thal’ah Al-Anwar yang pada asalnya sebuah diktat yang disusun oleh Syaikh Muhammad Muhadjirin bin Amsar Ad-Dari untuk para muridnya, dan masih banyak lagi lainnya.

Demikian pula dengan Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi –semoga Allah menjaganya-. Beliau pun memiliki beberapa buku diktat yang disusunya saat mengajar di Jazair, yaitu sebuah risalah dalam fiqih Maliki bertajuk Adh-Dharuriyat Al-Fiqhiyyah dan Ad-Durus Al-Jughrafiyyah.

Syaikh Abu Bakar pernah mengisyaratkan beberapa karya-karya ilmiahnya dalam ukuran-ukuran kecul yang lazim disebut “Rasail Al-Jazairi”, di antaranya Rislah Laa Ilaaha Illallaah, Ash-Shiyam, Al-Hajj Al-Mabrur, Al-Akhlaq, dan Ad-Dustur Al-Islami. Buku-buku ini telah dicetak dalam satau jilid.

Ada pula karangan-karangannya yang dicetak tersendiri, semacam:

    • Kaifa Yatathahhar Al-Mu’min wa Yushalli
    • Ittaqullah fi Hadzih Al-Ummah
    • Ilal Al-Fatah As-Su’udiyyah
    • Haula Al-Yahudi
    • Nashihati Ila Kulli Akhkh Syi’i
    • Al-Qadha’ wa Al-Qadar
    • Ad-Daulah Al-Islamiyyah
    • Kamal Al-Ummah fi Shalah ‘Aqidatiha

 

  • Al-Mar’ah Al-Muslimah

 

    • Haula Hum Al-Yahud

 

  • Al-Hajj Al-Mabrur
  • Al-Masjid wa Bait Al-Muslim
  • Al-Inshaf fima Qila ‘an Al-Maulid min Al-Ghuluw wa Al-Ijhaf

 

  • Hadzihi Nashihati ila Kulli Akh Syi’i
  • Al-Jannah Dar Al-Abrar wa Ath-Thariq Al-Mushil Ilaiha
  • Adh-Dharuriyyat Al-Fiqhiyyah
  • Ad-Durus Al-Jughrafiyyah

Di samping itu, ada beberapa kitab fonumental yang sudah akrab di masyarakat muslim, yaitu:

 

  • Minhaj Al-Muslim. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas. Belum lagi penerbit-penerbit Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya berlomba-lomba menerbitkannya dengan edisi mereka masing-masing. Oleh karena itu apabila Anda mengunjungi ke beberapa took buku Arab, akan Anda jumpai beberapa versi kitab yang bahasannya cukup komperhensif, meliputi ‘aqidah, akhlak, adab, fiqih ibadah, dan fiqih mu’amalah ini ada beberapa naskah. Dan memang inilah kitab yang paling disayang oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.

 

Seketika saya masih belajar di Pondok Gunung Sempu –atau kini Hamalatul Quran Yogyakarta- dan sebelumnya di Pesantren Asy-Syifa Bantul, kitab inilah yang disuapkan ke saya. Teringat betul siapa-siapa guru yang mengampu pelajaran kitab ini. Dimulai dari Ustadz Subki Tegal yang setia mengajarkan kitab dari huruf ke huruf di kelas, Ustadz Rohmanto Abu Mujahid, Lc yang gigih mengajar kitab adab dari kitab tersebut di Masjid Istiqamah yang merupakan masjid pesantren, dan Ustadz Anto Ma’mur, Lc. Yang mengajar hingga ibadah haji sewaktu di Gunung Sempu.

 

  • Aisar At-Tafasir li Kalam Al-‘Aliyy Al-Kabir dalam 5 jilid besar. Kitab tafsir ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan Darussunnah Jakarta dalam 8 jilid. Seperti halnya kitab Minhaj, tafsir ini juga telah diterbitkan oleh beberapa penerbit Timur Tengah, seperti Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam Madinah, Darul Hadits Cairo, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah Beirut, Darul Fikr, Darussalam Cairo, dan lain sebagainya.

 

Tafsir ini, sebagaimana menurut penjelasan penulisnya, memeliki beberapa keistimewaan, yaitu:

  • Pertengahan, tidak terlalu panjang yang bertele-tele sehingga membuat bosan pembaca, dan tidak terlalu ringkas sehingga menyebabkan muatannya tidak komperhensif.
  • Dalam bab ‘aqidah dan asma’ wa shifat, berkometmen berpegang teguh dengan ajaran Salafush Shalih.
  • Dalam bab fiqih, beliau tidak akan keluar dari madzhab yang empat, Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Asma wa Shifat.
  • Tidak membawa-bawa kisah-kisah israiliyyat kecuali yang memang harus untuk memahami suatu ayat.
  • Tidak menyinggung perbedaan ulama dalam menafsirkan suatu ayat.
  • Ketika terjadi silang pendapat antara ulama tafsir, beliau akan mengunggulkan pendapat Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari, namun pada beberapa hal beliau tidak mengambil pendapat Ath-Thabari karena alasan tertentu.
  • Tidak menyinggung masalah-masalah yang berkaitan dengan nahwu, balaghah, dan dalil syair Arab.
  • Tidak menyinggung permasalahan qiraat kecuali sedikit.
  • Tidak menyebutkan pendapat-pendapat ulama, sehingga hanya mencukupkan dengan pendapat yang kuat yang dipegangi oleh mayoritas ulama Salaf.
  • Komitmen dengan kerangka tafsir yang telah beliau sebutkan sebelumnya.

Kemudian saya sendiri memiliki hubungan baik dengan tafsir ini sejak tahun 2006 silam. Tepatnya ketika penulis diterima belajar di pesantren yang diasuh oleh Al-Fadhil Syaikh Muhammad Humaedi bin ‘Abdul Karim, Lc. Karena memang kitab panduan belajar tafsir saat itu ialah tafsir juz 30 dari kitab Aisar. Hingga kini naskah kitab tersebut masih ada pada penulis dengan coret-ceretannya meski dalam bentuk photocoppy. Di sebagian pesantren Islam di negeri ini, penulis juga menjumpai bahwa tafsir tersebut juga dijadikan buku panduan pada mata pelajaran tafsir.

    • Nahr Al-Khair ‘ala Aisar At-Tafasir, yaitu sebuah kitab yang merupakan lampiran kitab Aisar di atas.
    • Nida’at Ar-Rahman li Ahl Al-Iman, yaitu tafsir ayat-ayat yang diawali dengan “يا أيها الذين آمنوا”. Dahlulu saya mendengarkan kajian kitab ini di Masjid Istiqamah yang diampu oleh guru kita, Ustadz Abu ‘Ubaidillah Amri Suaji, Lc. (kini rector Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta). Kitab ini juga dikaji oleh guru kita yang lain, Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar, SS., MPi, di Masjid Jogokaryan Yogyakarta.

 

  • ‘Aqidah Al-Mukmin. Buku ini pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh salah satu penerbit di Jakarta.
  • Hadza Al-Habib –shallallahu ‘alaihi wa sallam- Ya Muhibb. Buku sirah nabawiyyah ini telah diterjemahkan pula dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Daar Ibn Katsir.

 

Kini, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi telah meninggalkan kita semua setelah mewakafkan dirinya untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Di manapun kita berada, di situ akan kita jumpai buku beliau baik versi Arab maupun terjemahan. Semoga Allah menyelimutinya dengan rahmat-Nya yang amat luas…

Semasa hidupnya, beliau telah memperoleh banyak pujian dari sejumlah ulama dunia. Syaikh Hammad Al-Anshari pernah berkata, “Aku telah bermimpi melihat Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berjalan dengan mengenakan suatu pakaian yang tidak pernah aku lihat ada orang lain yang mengenakan sepertinya. Bersamanya ada seseorang yang mengenakan pakaian yang kwalitasnya di bawah pakaian Syaikh. Aku menafsirkan bahwa pakaian itu ialah pakaian taqwa.”

Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad berkata, “Setelah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berhenti mengepalai Universitas Islam Madinah dan menjabat ketua Komite Riset dan Fatwa di Riyadh, jika beliau menjumpaiku akan selalu bertanya tentang pengajian-pengajian yang ada di Masjid Nabawi dan para pengampunya, khususnya tentang Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi.”

Sedangkan murid-murid Syaikh Al-Jazairi, maka sudah barang tentu sangat banyak. Posisinya sebagai dosen di Universitas Islam Madinah dan Masjid Nabawi (selama lebih dari 60 tahun) menyebabkan banyak para penuntut ilmu yang berkesempatan duduk di pengajian beliau, antara lain:

  1. Ustadz Muhammad Humaedi bin ‘Abdul Karim bin Syaibah Cirebon, Lc., seorang ulama senior Indonesia yang telah bertahun-tahun menegakkan sunnah di bumi pertiwi, seperti Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Pesantren Asy-Syifa Bantul, Pesantren Taruna Al-Quran, Pesantren Ibnu Taimiyyah Bogor.
  2. Ustadz Dr. Radzi Osman Malaysia
  3. Syaikh ‘Adnan bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Khuthairi
  4. Syaikh ‘Abdurrahman bin Shaduq Al-Jazairi
  5. Syaikh Idris bin Ibrahim Al-Maghribi
  6. Syaikh Hamzah bin Hamid bin Basyir Al-Qar’ani
  7. Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi
  8. Syaikh Dr. Mukhtar bin Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi
  9. Syaikh Dr. ‘Umar bin Hasan Fallatah
  10. Syaikh ‘Awwad bin Bilal bin Mu’aidh
  11. Syaikh ‘Abdullah Fayiz Al-Juhani
  12. Syaikh ‘Abdul Halim Nashshar As-Salafi
  13. Syaikh Wahid ‘Abdussalam Bali
  14. Dan masih banyak lainnya.

Akhirnya, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kasih sayang-Nya kepada arwah beliau…